
Hari itu hujan sangat deras, Mei terpisah dari teman-temannya. Entah apa yang ada di dalam pikirannya hingga dia bisa salah arah.
“Astaga, apa yang harus aku lakukan? Tidak ada sinyal digunung ini.” Mei menggerutu sambil terus berusaha berjalan ditengah derasnya hujan. ‘Aku harus mencari tempat berteduh, sebentar lagi hari akan gelap.” Mei memantapkan langkahnya, menapaki jalan setapak yang dikelilingi berbagai jenis pepohonan.
**
“Kita harus segera mencari tempat untuk berteduh, disebelah sana ada pos untuk istirahat.” Bimo memberi intruksi kepada teman-temannya. Sebelum mendaki, mereka sudah memastikan bahwa hari akan cerah, namun entah mengapa tiba-tiba saja mendadak turun hujan.
Bimo dan teman-temannya tiba di pos peristirahatan yang disebutkan Bimo tadi. Hujan yang deras memaksa mereka untuk menghentikan pendakian.
“semuanya baik-baik saja?” tanya Bimo sambil memperhatikan sekitar, takut kalau-kalau ada anggota teamnya yang tertinggal.
“Satu, dua, empat, kenapa cuma ada empat orang? Bukankah kita ada delapan orang?” tanya Bimo bingung.
“Mei, Mei dan Yoga tidak ada di sini” Ujar Siska setelah melihat ke sekitar.
“Paling mereka ada di belakang, biasalah, adik kakak itukan selalu senang menikmati pemandangan hutan.” Jawab Bobi sambil meletakkan tas ranselnya diatas meja bambu yang ada di ruangan itu.
“Semua sudah ada di sini?” tanya seorang pemuda begitu masuk kedalam rumah kecil itu, bajunya basah terkena air hujan
“Yoga? Kenapa kau sendirian? Mei mana?” tanya Bimo sambil melirik keluar melalui jendela, matanya mencari-cari dijalan setapak yang ada di depan rumah itu.
“Apa maksudmu? Bukankah Mei ada di depan bersama kalian?” Tanya Yoga bingung.
“Loh? kami kira Mei ada bersamamu.” Bobi ikut merasa cemas.
“Aku akan pergi mencarinya, kalian tunggu di sini.” Ujar Yoga bergegas ingin pergi, wajahnya terlihat sangat pucat, dia tidak dapat membayangkan jika terjadi sesuatu dengan adik kesayangannya itu.
“Sebentar Yoga, aku juga ikut denganmu” Bobi bergegas mengeluarkan mantel hujan yang di dalam tasnya. Keduanya berlari menembus hujan yang tak kunjung reda.
“Kalian harus pulang sebelum matahari terbenam, jalanan di sini tidak akan mudah pada malam hari.” Bimo berteriak agar suaranya di dengar oleh kedua temannya itu.
“Kenapa coba Bobi harus ikut mencarinya?” guman Siska kesal sambil duduk di kursi bambu yang ada di ruangan itu.
“Apa maksudmu?” tanya Bimo tidak mengerti dengan sifat Siska.
“Aku rasa Yoga sendiri juga bisa mencarinya, kenapa harus melibatkan Bobi?, palingan juga gadis itu tidak jauh dari sini.” Jelas Siska dengan raut wajah tidak suka.
“Apa kau tidak kuatir sedikitpun? Temanmu menghilang dihutan.” Ani yang sedari tadi diam ikut menimpali. Siska hanya memutar bola matanya dan menggumamkan sesuatu yang tidak jelas.
**
“Kenapa tidak ada tempat untuk berteduh?” guman Mei dengan cemas, jas hujan yang dipakainya tidak cukup untuk menjaga badannya tetap kering. Air hujan mulai merembes masuk kedalam bajunya, membuat badannya menggigil kedinginan.
“Aku tidak sanggup berjalan lagi,” Mei duduk dibawah pohon yang berukuran sangat besar, dengan badan yang menggigil kedinginan.
“Kak Yoga, kalian dimana? Aku takut sendirian disini.” Air mata sudah mengalir membasahi pipinya, bercampur dengan air hujan yang semakin lama semakin deras.
Mei memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya, menunggu di bawah pohon ini sendirian membuat bulu kuduknya merinding, apalagi sebentar lagi malam akan datang menggantikan sore yang tampak tidak bersahabat. Mei terus berjalan, tertatih-tatih dan sesekali tergelincir karena jalan yang licin. Setelah sekian lama berjalan dia melihat ada gubuk kecil tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan enggan Mei masuk ke gubuk itu, hujan yang semakin deras membuatnya tidak punya pilihan lain.
“Apa ada orang di dalam?” teriak Mei setengah suara, sebenarnya dia takut, banyangan tentang para penjahat yang sering muncul di dalam drama yang sering di lihatnya di televisi mulai mengisi kepalanya.
"Bagaimana kalau ada penjahat yang bersembunyi di gubuk ini? Bagaimana kalau mereka membawa senjata tajam? Bagaimana kalau mereka berbuat buruk kepadaku?, aku tidak takut kepada hantu, manusia bisa lebih menakutkan daripada hantu yang bisanya cuma terbang melayang-layang dan tertawa tidak jelas.” Gumam Mei di dalam hati. Dia terus melangkah masuk dengan perlahan. Matanya mengawasi sekitar. Mei mengeluarkan senter dari dalam tasnya, malam yang mulai mengambil alih tempatnya membuat gelap ruangan kecil itu. Mei berjalan mengitari ruangan dengan perlahan. Dia bisa melihat ada setumpuk kayu bakar di sudut ruangan, juga bekas pembakaran yang masih kelihatan baru.
“Mungkin beberapa orang juga pernah berteduh di gubuk ini.” Ujar Mei menenangkan dirinya. Mei bergegas meletakkan ranselnya di lantai dan mengeluarkan korek api yang sengaja di persiapkan dari rumah untuk keperluan mendaki. Mei mengambil beberapa potong kayu bakar dan mulai membuat api unggun, suasana jadi terasa lebih terang.Dengan cepat Mei melepaskan jas hujan yang dipakainya dan duduk di depan perapian itu untuk menghangatkan dirinya.
Kruuuk,,
Mei memegangi perutnya yang terasa lapar, dia menyesal hanya menyantap sepotong roti sebelum mendaki tadi pagi. Persediaan makanan ada di ransel kakaknya. Mei kembali mengamati sekitar, berharap ada sesuatu yang bisa di makan. Mei tertunduk lesu, sama sekali tidak ada yang bisa dimakan, dengan enggan dia bangkit berdiri, berjalan ke arah ranselnya
Kreetek!!
Suara yang berasal dari depan pintu gubuk itu mengagetkan Mei, spontan Mei menghentikan langkahnya, memasang pendengarannya dengan baik, berharap ada yang salah dengan pendengarannya barusan. Tak lama setelah suara itu terdengar seseorang masuk ke dalam gubuk itu, seseorang yang memakai mantel bulu besar dan tebal melangkah masuk kedalam gubuk, namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti menyadari bahwa dia tidak sendirian di dalam gubuk itu.
“Si,, siapa kau?” tanya Mei terbata-bata. Mei merasa ngeri melihat penampilan orang yang ada di depannya, dia tidak bisa melihat dengan jelas wajah orang itu. Yang bisa dia lihat hanyalah seorang manusia bertubuh besar, rambut panjang sebahu dan wajah yang juga di tumbuhi rambut dan Mei yakin satu hal, dia adalaah seorang pria. Mei bertambah takut setelah melihat dengan teliti orang yang yang ada di depannya. Bukannya menjawab pertanyaan Mei, pria itu malah terus melangkah maju, Mei bisa melihat kalau pria itu membawa karung goni namun Mei tidak yakin apa isinya.
__ADS_1
“Apakah di dalamnya ada manusia? Apakah dia baru saja membunuh seseorang? Di dalam drama, psikopat memasukkan manusia kedalam karung dan menyembunyikannya di suatu tempat.” Mei tidak bisa berhenti memikirkan hal buruk tentang pria itu.Tidak butuh waktu lama sekarang pria itu tepat berada di depannya, memandang wajah Mei dengan tatapan yang tidak bisa di jelaskan. Mei jatuh terduduk, dia bisa merasakan kedua kakinya lemas tidak berdaya
“Aku hanya ingin berteduh, aku tidak bermaksud masuk ke gubuk ini, tolong ampuni aku”suara Mei keluar di iringi tangisan, dia tidak berani memandang wajah pria yang ada di depannya, dia hanya bisa menatap ketanah.
“Kak Yoga, semoga kakak baik-baik saja, maaf aku tidak bisa menemani kakak lebih lama lagi, maaf karena aku selalu nakal dan tidak menuruti perkataan kakak, aku sayang kakak” lanjutnya lagi, Mei yakin bahwa ini adalah akhir hidupnya. Tidak ada jawaban dari pria yang ada di depannya. Pria itu berjalan menuju perapian dan membuka ikatan karung yang di bawanya, mengeluarkan sesuatu dari dalamnya, singkong dan pisang. Mei yang melihat hal itu bernafas lega. ”Bukan manusia” gumamnya sambil mengelus dadanya.Mei melipat kedua kakinya duduk bersila, menunggu apa yang akan di lakukan pria itu. Pria itu melepaskan mantel bulu yang di pakainya dan sepatu yang di kenakannya, keduanya basah karena hujan. Kini Mei dapat melihat dengan jelas bentuk badan pria yang ada didepannya. Pria dengan tinggi badan yang lumayan, Mei yakin kalau tinggi pria itu sama dengan tinggi badan kakaknya, kira-kira 180cm. Warna kulitnya kecoklatan, tidak gemuk dan juga tidak kurus, memakai kemeja hitam yang sudah robek dibagian bahu sebelah kanan. Mei ngeri melihat kukunya yang panjang tidak terawat. Cahaya yang di hasilkan dari api membuat pria yang berdiri di depannya tampak sangat menakutkan.“Jangan-jangan dia bukan manusia,siluman? Manusia serigala?” kembali pikiran-pikiran buruk terlintas di benaknya. Mei hanya bisa duduk dia di tempatnya, dia tidak ingin membuat gerakan yang akan membuat pria aneh yang ada di depannya merasa terganggu.
Pria itu duduk di depan perapian, mengambil beberapa singkong dan pisang yang tadi di bawanyake dalam api, lalu diam menunggu.
“Hei,” ujar Mei pelan, memberanikan diri memanggil pria itu. Pria itu tidak bereaksi
“Hei, apa kau manusia?” pertanyaan Mei membuat pria itu memalingkan wajahnya menatap ke arah Mei. Mei kaget dengan tatapan itu, dia yakin bahwa pria yang ada di depannya pasti tersinggung.
“Maaf bukannya lancang, aku hanya ingin memastikan, tapi jangan kuatir, aku yakin kau manusia, hahaha, kau pasti manusia.” Ujar Mei menjawab pertanyaannya sendiri, dia yakin dirinya sudah tidak waras. “dasar drama sialan!” umpatnya dalam hati. Keadaan sangat hening, hanya suara hujan yang tidak kunjung berhenti, lama Mei dan pria itu duduk sambil memandangi perapian. Sesekali pria itu membalik-balik singkong dan pisang yang di bakarnya, memastikan singkong dan pisang itu matang dengan sempurna.
Kruuuk!..
Suara keroncongan dari perut Mei kembali berbunyi, dengan cepat Mei memegang perutnya, dia sungguh merasa sangat lapar. Pria itu mengeluarkan singkong dan pisang yang sudah matang dari dalam api, membuang kulitnya dan menyodorkannya ke arah Mei. Mei terlihat ragu-ragu, namun perutnya yang terasa lapar membuatnya datang mendekat dan menerima singkong bakar dari pria tersebut, “Terimakasih” katanya kemudian dengan cepat kembali ketempat duduknya semula. Mei menyantap singkong rebus yang ada ditangannya dengan lahap
“Kenapa singkong ini terasa sangat lezat? Apa karena aku sedang lapar?” tidak butuh waktu lama singkong yang ada ditangannya habis seketika. Pria itu mengupas singkong yang lain dan berniat memakannya namun terkejut menyadari Mei sudah ada di sampingnya menatap kearah singkong yang ada di tangannya. Pria itu tidak jadi memakannya, dia memberikan singkong yang ada di tangannya kepada Mei dan tentu saja Mei menerimanya dan dengan cepat kembali ke tempat duduknyasemula. Perlahan hujan mulai reda, hanya terdengar rintik-rintik yang menandai hujan akan segera berhenti. Pria itu mengambil beberapa pisang bakar dan memakannya.
“Permisi, aku cuma mau bertanya, apa pisang itu rasanya enak?” tanya Mei datang mendekat, menatap pisang yang ada di tangan pria itu dengan penuh harap. Pria itu tidak menjawab hanya menatap ke arah Mei dengan tatapan kosong.
“Apakah aku boleh minta sedikit?” tanya Mei dengan tersenyum. Pria itu tidak juga menjawab, namun mengarahkan pandangannya ke tumpukan kulit pisang dan singkong yang ada didepannya, kemudian melihat ke arah Mei. Dia yakin bahwa pisang dan singkong yang di bakarnya semuanya masuk kedalam perut perempuan yang ada di depannya itu. Mei hanya diam dan duduk di depan pria itu.
“Jangan salah paham, aku bukan orang yang rakus, hanya saja aku tidak sarapan dengan benar tadi pagi. Lagi pula, aku hanya makan beberapa buah saja.” Ucapnya tanpa rasa malu sambil menatap langit-langit gubuk itu. Ketakutan yang di rasakannya saat pertama kali melihat pria itu hilang begitu saja.
Dengan enggan pria itu memberikan pisang terakhir yang dibakarnya kepada wanita yang ada didepannya itu. Mei menerima pisang itu dengan senyum bahagia, dia bermaksud kembali ketempat duduknya semula namun pria itu menarik tangannya memaksa Mei kembali duduk.
“Makan disini saja,” ujar pria itu sambil menambahkan kayu bakar kedalam api.
“Waah!, ternyata kau bisa bicara, aku pikir kau tidak bisa bicara” ujar Mei sambil memasukkan pisang yang ada ditangannya dengan cepat kedalam mulutnya. Pria itu tidak menjawab, dia hanya termenung memandang kayu bakar yang mulai habis dilahap api.
“Hangatnya,” ujar Mei sambil mengarahkan kedua tangannya mendekat ke arah api. “siapa namamu?” sambungnya lagi. Namun tidak ada jawaban.
“Namaku Mei, namamu?” tanya Mei tidak menyerah.
“Jika kau tidak mau menjawab aku akan pergi” ancam Mei, dia tidak yakin kata-kata itu akan membuat pria itu menjawab pertanyaannya. Mei bersiap untuk berdiri saat melihat tidak ada respon dari pria itu.
“Azuma.” Ujar pria itu pelan namun cukup jelas untuk sampai ketelinga Mei. Mei kembali duduk, dia lega karena tidak harus pergi dari gubuk itu. Jujur saja dia juga tidak serius dengan apa yang di katakannya barusan, bagaimana dia akan pergi ketengah hutan tanpa adanya sinar matahari.
“Azuma, hmm.. nama yang bagus. Dari mana kau berasal? Apa kau juga seorang pendaki?, aku rasa bukan,apa mungkin kau penduduk sini?” dengan cepat pertanyaan lain keluar dari mulut Mei. Seperti biasa pria yang ternyata bernama Azuma itu tidak menjawab. Mei membuka karung goni yang ada disampingnya dan mengambil beberapa buah pisang dengan kedua tangannya dan melemparkan setumpuk pisang yang ada ditangannya begitu saja kedalam api. Karena memasukkan banyak pisang sekaligus membuat api yang ada di depannya padam, dengan senyum kecut Mei menoleh ke arah Azuma, takut pria yang ada di sampingnya itu marah. Azuma hanya menatapnya dengan perasaan heran, “ ada apa dengan orang ini?” gumamnya dalam hati.
“Aku hanya mengikuti apa yang kau lakukan.” Ujar Mei tanpa rasa bersalah. Azuma mengeluarkan semua pisang yang menutupi bara api, meniup bara api yang hampir padam berkali-kali dan menambahkan beberapa ranting kering. Perlahan api mulai menyala kembali.
“Keren..!” ujar Mei dengan mata berbinar, dia tersenyum ke arah Azuma namun pria itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan segera berdiri dan pergi menjauh dari Mei.
“Mau kemana? Di luar masih hujan!” seru Mei. Dia tidak ingin sendirian di gubuk ini. Mei ikut berdiri dan berniat mengikuti Azuma namun langkahnya terhenti saat melihat Azuma datang kembali membawa gulungan hitam. Meletakkannya di sudut ruangan dan melepaskan tali yang mengikat gulungan itu.
“Kantong tidur! Ada tikar juga?!” seru Mei dengan gembira, dia berjalan mendekati Azuma yang tengah sibuk mempersiapkan tempat untuknya tidur. Mei memperhatikan Azuma sambil duduk berjongkok pada kedua kakinya. Tidak butuh waktu lama Azuma sudah selesai mempersiapkan tempat untuknya tidur. Azuma langsung berbaring dengan nyaman di alas tempat tidur yang sudah dibuatnya. Mei yang memperhatikannya dari tadi menundukkan kepalanya dengan lesu. “Apa yang ku harapkan? Ini semua salah kak Yoga, dia membawa semua barang bawaan dan tidak memperbolehkanku membawa apapun kecuali barang yang ringan. Haah..!” ujarnya sambil menghela nafas. Mei terkejut merasakan ada sesuatu yang menyentuh tangannya, dengan cepat dia mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang menyentuhnya.
“Kalau kau mau, kau boleh tidur disini” ujar Azuma yang ikut berjongkok di depannya. Mei tidak menjawab, dia hanya bengong tidak mengerti, mengapa ada orang asing yang sangat baik hati di hutan ini.
“Permisi, aku cuma ingin tahu, apa kau berniat membunuhku saat aku tertidur nanti?”, tanya Mei dengan polos. Azuma hanya diam, dia tidak mengerti apa maksud wanita yang ada di depannya itu.
“Maksudku, kau tidak mengenalku, tapi kau mau memberikan makananmu, membiarkan aku berteduh di gubuk ini, dan sekarang kau memberikan tempat tidurmu padaku? Jujur saja, apa kau berniat mengambil ginjalku?” tanya Mei dengan tatapan polos.
“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, tapi kalau kau tidak mau tidak apa-apa.” Ujar Azuma berdiri dan berniat kembali tidur namun Mei langsung menarik tangannya.
“ehee.., aku mau!, aku mau.. kau ini tidak bisa di ajak bercanda, terimah kasih.” Ujar Mei langsung berlari mengambil alih tempat tidur Azuma. Ada senyum kecil yang tersimpul di wajah Azuma, dia tidak kenal siapa wanita ini, namun yang pasti hatinya sedikit terhibur bertemu dengan seseorang setelah sekian lama tinggal di hutan ini. Azuma memang kerap bertemu dengan beberapa pendaki digunung ini, namun Azuma tidak berani mendekat. Azuma hanya mengawasi mereka dari jauh, memakan makanan sisa yang ditinggalkan para pendaki, juga memakai pakaian mereka yang mungkin tidak sengaja tertinggal. Azuma tidak pernah berbicara secara langsung dengan seseorang, ini adalah kali pertamanya. Malam terus berlanjut di sertai rintik hujan yangterdengar samar-samar, suara jangkrik dan binatang malam mengisi keheningan malam itu. Azuma duduk di depan perapian, pikirannya melayang mengembara ketempat yang jauh. Sesekali dia menoleh melihat ke arah Mei yang tidur dengan nyenyak, sepertinya wanita itu tidak merasa takut meskipun dia sedang bersama seseorang yang tidak di kenalnya. Dia menyakinkan diri sendiri bahwa Azuma adalah orang yang baik hati, dan dia sangat yakin, Yoga, kakaknya akan segera datang menjemputnya.
Tengah malam Mei terbangun dari tidurnya, dia merasakan sakit di perutnya. Mei melihat ke sekitar dan tidak jauh dari perapian dia melihat Azuma sedang tidur,tanpa alas tidur dan tanpa selimut. Mei datang mendekatinya dan menggoyang-goyangkan tubuh Azuma.
“Azuma!, Azuma!, bangun!” Mei menepuk-nepuk tubuh Azuma sembari memegangi perutnya. Azuma terbangun dari tidurnya dan langsung mengambil posisi duduk menghadap Mei.
“Perutku sakit sekali, aku rasa aku ingi ke toilet. Dimana toiletnya?” tanya Mei dengan wajah meringis menahan sakit.
__ADS_1
“Hah?” Azuma belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.
“Aku mau buang air besar, dimana toiletnya?” Jawab Mei dengan kesal. Azuma masih juga belum menjawab, dia hanya bengong melihat ke arah Mei.
“Wc!, dimana wc? Kau tidak tahu apa itu wc? Tempat untuk membuang kotoran yang keluar dari perut manusia!” kini Mei tidak bisa menahan amarahnya. Bukannya menjawab Azuma hanya mengarahkan jari telunjuknya ke arah pintu. Mei bergegas lari ke arah pintu namun segera berhenti. Suasana gelap diluar membuatnya takut.
“Maaf, apa kau mau menemaniku?” tanya Mei menatap ke arah Azuma yang sedang bersiap untuk berbaring. Azuma tidak menjawab, dia berniat melanjutkan tidurnya.
“Jika kau tidak mau menemaniku, aku akan buang kotoran disini.” Ancam Mei, namun Azuma tidak menanggapi.
“Aku benar-benar akan buang kotoran disini, aku bilang aku akan buang kotoran disini, aku buang disini ya, ya?” ancam Mei sambil memegangi celananya. Azuma masih tetap tidak bergeming.
“Celanaku sudah turun setengah nih, apa kau tahu, kotoranku baunya sangat menyengat, tiga hari tiga malam baunya tidak akan hilang.” Ujar Mei, wajahnya sudah mulai pucat, dia sungguh tidak tahan lagi.
“Preet,,.preeet” kentut yang panjang menggema di ruangan itu. Mei berusaha menahan agar dia tidak buang air besar dicelana.
“Dasar perempuan gila!” Azuma bangkit dari tidurnya dan menarik tangan Mei ke arah pintu.
“Tunggu..! tunggu, senter, kita butuh senter” ujar Mei sambil berlari mengambil senter yang tergeletak di tempat dia tidur tadi. Mereka berdua berlari keluar dari gubuk itu.
“Dimana?” tanya Mei
“Buang saja di dekat pohon itu!” jawab Azuma sambil menunjuk ke arah pohon yang ada tidak jauh dari gubuk.
“Apa kau gila?” seru Mei masih memegangi bokongnya.
“Lalu kau mau buang dimana?”Azuma bingung sebenarnya apa mau wanita ini.
“Wc loh, wc, setidaknya lubang untuk tempat membuang kotoran.”
“Kalau kau tidak mau ya sudah tahan saja, aku akan segera tidur” Azuma berniat kembali ke dalam gubuk
“Baiklah,! Tapi kau harus tunggu disini, jangan tinggalin aku.” Mei menarik tangan Azuma.
“Baiklah,” Jawab Azuma sambil melipat tangannya berdiri. Mei berjalan ke arah pohon yang ditunjuk Azuma tadi.
“Kau masih di situ?” Mei berteriak dari tempatnya
“Ya” jawab Azuma
“Preeet..preeet.. preeet…” Mei menutup wajahnya, dia merasa sangat malu berada di situasi saat ini.
“Tutup telingamu!” seru Mei menahan malu
“Aku tidak dengar apa-apa” Jawab Azuma
“Bohong! Kau pasti dengarkan?”, saat ini Mei memilih untuk segera mati. Perlahan dia bisa mencium aroma busuk dari kotorannya.
“Azuma! Tutup hidungmu!” teriak Mei
“Kenapa?” tanya Azuma
“Tutup saja! Kalau tidak aku akan membunuhmu!”
“Baiklah,” jawab Azuma, namun belum sempat dia menutup hidungnya aroma busuk sudah masuk lebih dahulu kedalam hidungnya.
“Hooek!!Uhuk..! Uhuk..!” bau apa ini?” seru Azuma sambil terbatuk-batuk dia langsung menutup hidungnya. Mei hanya bisa tertunduk lesu. “Sudah kubilang tutup hidungmu.” gumamnya dengan lemas.
“Maaf Azuma, apa kau masih di situ?”suara Mei lemah
“Apa? Apa lagi?” tanya Azuma sambil terus menutup hidungnya dengan tangan.
“Aku bersihinnya pakai apa?” tanya Mei
“Pakai saja daun-daunan yang ada di sekitarmu .”
__ADS_1
“Baiklah!”. Tak lama kemudian Mei berjalan ke arah gubuk dengan kepala tertunduk. Dia masuk kedalam gubuk tanpa menghiraukan Azuma yang berdiri didekat pintu. Mei berjalan kearah tempat tidurnya dan langsung membaringkan diri dan menutup seluruh tubuhnya
“Aku bisa mati karena malu.” Gumamnya pelan.. Azuma mengikutinya dari belakang dengan senyuman geli.