
Terimakasih karena mengikuti Azuma sejauh ini. semoga suka dengan ceritanya..
bagian 6...
Azuma berjalan mengikuti kakeknya dari belakang. dia masih terusik dengan perkataan kakeknya tadi.
“Siapa sebenarnya yang dari tadi kakek bicarakan?” tanya Azuma karena tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.
“Pamanmu, Joni. Dia berusaha menjatuhkanmu untuk merebut posisimu sebagai CEO diperusahaan AW. Sebelum meninggal, ayahmu sudah mewariskan posisinya kepadamu. Namun sebelum usiamu menginjak 25 tahun, Aku yang memegang posisi CEO sementara. Dan kini, kau sudah ada disini, dan usiamu sudah genap 25 tahun.” Jelas Adi sambil memeluk Azuma. Azuma hanya diam membisu, dia tidak bisa begitu saja mempercayai ucapan pria yang ada di depannya itu. Tulisan yang ada di secarik kertas yang diterimanya tadi sangat mengusiknya. Jika benar apa yang diceritakan Adi adalah kejadian sebenarnya, jadi apa maksud kalimat yang ada disecarik kertas tersebut.
“Ini kamarmu, mulai besok kau akan bekerja diperusahaan, tapi kau akan mulai dari pekerjaan yang paling bawah. Aku mau supaya kau bisa membiasakan dirimu diperusahaan dari tingkat yang paling bawah. Lagipula kau masih harus banyak belajar” Ujar Adi sambil mempersilahkan Azuma masuk kekamarnya.” Datanglah makan siang kedepan, kita akan makan siang bersama, sebelum itu kau harus membersihkan dirimu.” Adi melangkah pergi meninggalkan Azuma yang langsung menutup pintu kamarnya. Azuma mengunci kamarnya kemudian dengan cepat dia mengeluarkan kertas yang tadi diterimanya, sekali lagi Azuma membaca tulisan itu. “Kau bukan cucu Adi Wijaya. Jangan percaya siapapun”
**
Dua Minggu berlalu, Azuma mengikuti semua pelatihan yang diberikan oleh kakeknya dan Farida.
dengan cepat dia bisa menguasai setiap seluk beluk kehidupan keluarga Adi Wijaya. Namun satu hal yang mengganggunya adalah tulisan di secarik kertas tersebut. Bagaimanapun dia harus memastikan apakan tulisan itu benar atau tidak.
"Apa tuan muda akan berangkat bekerja hari ini?" tanya Farida sembari menyiapkan sarapan dimeja makan, dibantu oleh pelayan lain, tangannya dengan sigap menyusun semua makanan di atas meja.
"sebelum itu aku harus membeli baju untukku. aku merasa tidak nyaman memakai pakaian yang kalian siapkan." ujar Azuma sembari menyantap makanannya. Farida hanya terdiam tanpa komentar.
" Supir bisa mengantarkan mu" ujar Adi sembari membersihkan mulutnya menggunakan tisu.
" Tidak kek, aku bisa sendiri. aku sudah bukan Azuma yang dulu. Aku akan pergi sendiri." ujar Azuma. Farida melirik ke arah Adi dari tempatnya berdiri. Adi hanya mengangguk kan kepala memberi isyarat bahwa Azuma akan baik-baik saja.
__ADS_1
Setelah makan dan membersihkan diri, Azuma bergegas pergi dengan mobil sport berwarna merah yang diberikan kakeknya. hanya dalam dua Minggu dia mahir mengendarai mobilnya. untuk SIM sendiri bukanlah hal yang sulit mengingat kakeknya adalah orang terkaya nomor dua di daerah itu.
Setelah melaju beberapa kilometer Azuma mendengar suara ponselnya berdering. Azuma melihat layar ponselnya memeriksa nomor yang tertera di layar. private number.
"Halo?" jawab Azuma sambil mengenakan ear phone ke telinga nya.
" Kalau kau ingin tahu siapa orangtuamu, segera datang ke alamat yang aku suruh." perintah suara orang yang ada di seberang. karena terkejut Azuma membanting stir ke pinggir jalan.
" Halo?! siapa ini? apa maksud ucapanmu?" Azuma berniat mengorek lebih banyak informasi, namum sambungan telepon sudah terputus. Tidak lama setelahnya ada SMS yang masuk. Azuma memeriksanya dan membaca alamat yang tertulis di layar ponselnya.
Dengan cepat Azuma memutar arah, berniat pergi ke alamat yang baru saja diterimanya. Dia menginjak pedal gas dengan kecepatan penuh.
" Siap sebenarnya yang ingin bermain-main denganku?" ujarnya kesal.
**
“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Mei sembari meletakkan gelasnya.
“ Apa kau adik dari Yoga Permana?” tanya pria yang berambut panjang .
“Benar, ada apa dengan kakak saya” tanya Mei tenang.
“Tidak apa-apa, dia baik-baik saja. Aku hanya ingin sedikit memberi pelajaran kepadanya. Ujar pria yang berambut pendek dan langsung mendekat kearah Mei berniat untuk menutup hidungnya dengan kain yang sudah diberi obat bius.dengan cepat Mei menghindar dan menendang kaki pria itu.
“Kalian berurusan dengan orang yang salah bung, kau pikir siapa yang mengajari kakakku bela diri? Itu aku.” Ujar Mei sembari memiting lengan pria itu.
__ADS_1
Disaat yang sama pintu toko terbuka dan seorang pria masuk kedalam toko. Pria itu ternyata Azuma. Azuma hanya bengong melihat pemandangan yang ada didepannya. Dia hanya datang ke alamat yang diterima nya dan pemandangan ini yang dia dapat.
“Mei, apa kau ini seorang preman? Kenapa kau memukul orang yang mau berbelanja?” tanya Azuma yang belum mengerti situasinya.
“Hah? Apa aku mengenalmu? Cepat keluar dari sini, toko kami sedang tutup.”jawab Mei yang tidak mengenali pria tampan yang ada didepannya, memang penampilan Azuma sudah jauh berbeda. terakhir kali Mei melihatnya adalah sebagai pria yang berpakaian lusuh,Azuma yang dikenalnya adalah pria yang berambut gaya gigitan tikus, dengan kumis dan jambang yang tidak tercukur rapi.
“Kau sedang apa? Apa mereka ini orang-orang jahat?” tanya Azuma datang mendekat. Namun pria berambut panjang langsung menangkapnya dan langsung menodongkan pisau kearah leher Azuma. Azuma hanya diam, dia masih berusaha untuk memahami apa yang sedang terjadi.
“Lepaskan temanku, atau orang ini akan aku bunuh.” Ancam pria itu.
“Coba saja kalau berani, aku akan melaporkanmu kepada polisi.” Jawab Mei sembari memiting lengan pria yang disampingnya dengan lebih kuat. Pria itu mengerang kesakitan. Azuma tercengang melihat versi diri Mei yang ada di depannya. Saat di hutan Mei adalah wanita cengeng, penakut, dan doyan makan. apa yang dilihatnya sekarang benar-benar membuatnya terkesima.
“Baiklah, aku tidak bercanda, aku akan membunuhnya tepat didepanmu.” Ujar pria itu berniat untuk menusukkan pisau ke leher Azuma. Sebenarnya Azuma bisa saja melawan balik, namun dia lebih tertarik melihat bagaimana respon Mei.
“Stop!” Mei melepaskan pria yang ada disampingnya.
"Apa kau pintar berkelahi?" tanya Mei kepada Azuma. Azuma hanya menggelengkan kepalanya, berbohong.
" Aish, ganteng doang, melambai.." gumam Mei hampir tidak terdengar. Tidak ada pilihan lain, dia harus mencari cara untuk menyelamatkan pria yang ada dihadapannya itu
“Sekarang aku sudah melepaskannya, sekarang giliranmu, lepaskan pria itu!” Perintah Mei sembari melepaskan pria yang ada disampingnya.
“Kau pikir kami bodoh?” seru pria yang ada disampingnya langsung memukul kepala Mei dengan keras, seketika Mei merasa pusing, kepalanya terasa sangat sakit. Azuma yang melihat itu langsung menangkap tubuh Mei sebelum dia terjatuh kelantai. Pria berambut panjang mengambil kain yang diberi obat bius dan menutup hidung Azuma dengan kain itu. Azuma berusaha melawan namun obat bius itu langsung bekerja, dia merasa pusing dan mulai kehilangan kesadarannya.
__ADS_1
Pria berambut panjang mengeluarkan ponselnya dan mengambil foto Mei dan Azuma. Mengirimkan foto itu ponsel Yoga dengan disertai teks,
“Jika kau ingin adikmu baik-baik saja, kau tahu harus apa, kutunggu ditempat biasa, bawa uang 500 juta dan jangan berani melapor polisi”