AZUMA

AZUMA
Kau akan terbiasa


__ADS_3

Salam hangat untuk para pembaca.. terimakasih untuk mampir ke sini.. semoga suka ya.. jangan lupa tinggalkan kritik dan sarannya.. selamat membaca...🥰


Bagian 3....


“Apa Azuma sudah bisa pulang hari ini?” tanya Mei kepada dokter yang menangani Azuma.


“Tentu saja, hanya tangannya saja yang terkilir, kami akan memasang gips, pastikan dia tidak banyak bergerak maka dalam seminggu gips sudah bisa di lepas.” Ujar dokter itu sambil berlalu pergi dari ruangan tempat Azuma di rawat.


Mei duduk di samping tempat tidur Azuma. Dia lega karena Azuma baik-baik saja. Sembari menunggu Azuma siuman, Mei memotong kuku Azuma yang terlihat panjang dan kotor, dengan hati-hati Mei membersihkannya, takut Azuma akan terbangun.


“Sekarang sudah lebih bersih.” Ujarnya sambil merenggangkan badannya. Mei merasa sangat lelah karena perjalanan mendaki gunung kemarin.Mei merasa haus dan berjalan keluar mencari minuman dingin untuk menghilangkan dahaganya. Disaat yang sama Azuma membuka matanya, dia merasa aneh dengan suasana rumah sakit. Jujur saja dia tidak tahu dia ada dimana saat ini.


“Anda sudah bangun?” tanya seorang perawat menghampirinya. Azuma terkejut dan langsung bangkit dari tempat tidurnya. Dia berniat melangkah keluar namun selang infus yang terhubung ketangannya membuat langkahnya terhenti.


“Anda mau kemana? Anda tidak boleh banyak bergerak.” Ujar perawat itu sambil datang mendekat ingin membantu Azuma kembali keranjangnya. Namun Azuma menepis tangan perawat itu, dia bingung ada dimana, dia merasakan sakit ditangan kirinya. Dengan sekuat tenaga dia berusaha melepaskan selang infus dari tangannya, ada darah yang keluar akibat selang infus yang dicabutnya dengan paksa. Perawat itu bangkit berdiri dan kembali mencegah Azuma melarikan diri, namun ketakutan Azuma membuatnya hilang kendali. Azuma mendorong perawat itu hingga terjatuh kelantai. Dengan kesakitan Azuma keluar dari ruangan itu. Dia terus berjalan disepanjang lorong rumah sakit dan sesekali menabrak pasien lain yang ada didepannya. Mei kembali keruangan tempat Azuma di rawat namun terkejut menyadari Azuma tidak ada di ranjangnya. Mei berlari keluar berusaha mencari Azuma. Setelah mencari beberapa lama Mei melihat banyak pasien dan dokter yang berkumpul di depan meja informasi. Mei datang kesitu dan melihat Azuma ada di tengah-tengah kerumunan itu, Azuma terlihat sangat ketakutan sambil memegang pergelangan tangannya yang terasa sakit. Para dokter berniat membantu Azuma namun tidak ada yang berani mendekat. Penampilan Azuma yang sangat urakan membuat mereka tidak berani mendekat.


“Mungkinkah dia pasien sakit jiwa?” tanya seorang dokter yang ada di kerumunan itu.


“Entahlah, yang terpenting kita harus segera menangkapnya, kau sudah panggil penjaga keamanan?” timpal dokter yang lainnya.


“Azuma!!!” seru Mei dengan lantang membuat semua orang yang berkerumun di tempat itu menoleh ke arahnya. Azuma juga ikut menoleh kesumber suara yang di dengarnya. Dia kenal suara itu. Dengan perlahan Mei berjalan ke arah Azuma yang menatapnya dengan tatapan tidak percaya.” Benarkah dia Mei?” pikirnya dalam hati. Mei berjalan semakin dekat dan kini sudah ada tepat di depannya.


“Akhirnya aku menemukanmu.” Ujar Mei sambil tersenyum manis ke arahnya, menenangkan hati pria itu. “Apa kau mau pulang bersamaku?” tanya Mei sambil mengulurkan tangannya ke arah Azuma. Azuma menyambut uluran tangan Mei dan mengikutinya kembali keruangannya.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Mei setelah menenangkan Azuma.


“Eem, kita ada dimana?” tanya Azuma sambil meneguk air yang di berikan Mei kepadanya.


“Kita ada di rumah sakit, apa kau tidak tahu rumah sakit itu apa?” tanya Mei sambil menatap wajah Azuma yang masih terlihat cemas, Azuma menggelengkan kepalanya, tempat ini masih benar-benar asing baginya, dengan cemas Azuma terus memperhatikan sekelilingnya, berusaha menyesuaikan diri.


“Rumah sakit adalah tempat untuk menyembuhkan orang-orang sakit. Kami menemukanmu pingsan di hutan, kami membawamu kesini agar kau bisa mendapatkan pengobatan.” Mei menjelaskan dengan perlahan, dia tidak tahu orang seperti apa yang ada di depannya ini, namun satu hal yang pasti Mei yakin bahwa Azuma bukanlah orang yang jahat. “Saya akan memasang gips untuk pasien.” Seorang perawat masuk keruangan dengan membawa peralatan medis. Azuma terkejut dan merasa waspada dengan perawat yang ada di depannya. Namun Mei datang mendekat dan menepuk bahunya pelan.” Tidak apa-apa.” Ujarnya sambil tersenyum.


Sore hari sekitar pukul lima sore Bimo datang menjemput Mei dan Azuma.


“Dimana rumahmu?” tanya Bimo saat mobil yang dibawanya keluar dari tempat parkir.


“Hutan.” Jawab Azuma singkat.


“Bimo dan Mei saling berpandangan.


“Maksudku dimana rumahmu, rumah orang tuamu.”Bimo memperjelas pertanyaannya. Azuma tidak segera menjawab, dia melihat dengan bingung kearah Mei yang duduk di sampingnya. Tangannya memeluk erat tas yang ada di pangkuannya, sesekali memeriksa keluar lewat jendela mobil, dia belum terbiasa dengan suasana di perkotaan.


“Apa dia tidak punya orang tua?, apa dia benar-benar tinggal di hutan selama ini?” Mei bertanya dalam hatinya.


“Untuk sementara bawa saja kami kerumah Bim, mungkin dia masih terlalu syok akibat jatuh dari tebing kemarin.” Ujar Mei. Bimo hanya mengangguk mengiyakan.


“Ini rumahku, untuk sementara kau akan tinggal di sini.” Mei mengeluarkan barang-barang dari bagasi mobil, Bimo ikut membantunya.


“Kau yakin tidak apa-apa berdua dengan orang ini dirumah?” tanya Bimo berbisik, takut Azuma mendengar ucapannya.


“Namanya Azuma, bukan orang ini. Kau tidak usah kuatir, aku bisa menjaga diriku sendiri.” Jawab Mei sambil tersenyum. Bimo masuk kedalam mobil dan berlalu pergi. Kini tinggal Mei dan Azuma yang berdiri di depan sebuah rumah besar berwarna putih dengan selingan cat berwarna hitam, kebun yang tertata rapi menambah kesan mewah rumah itu.


“Kita masuk sekarang?” tanya Mei kepada Azuma yang masih takjub melihat pemandangan di sekitarnya.


“Kita ada dimana?” tanya Azuma masih terus memperhatikan sekitarnya.


“Rumah, kita ada di rumah.” Jelas Mei.


“Rumah?” tanya Azuma lagi sembari berjalan masuk kedalam rumah itu.

__ADS_1


“Iya rumah, rumah adalah tempat dimana kau tinggal.” Ujar Mei mengikuti Azuma dari belakang.


“Berarti hutan adalah rumahku.” Ujar Azuma pelan. Mei hanya terdiam, banyak hal yang tidak dimengerti pria yang ada di hadapannya ini, Mei makin yakin kalau pria ini benar-benar tinggal di hutan selama ini. Mereka berjalan masuk keruang tengah, Azuma masih terpana dengan pemandangan yang di lihatnya. Mei duduk di sofa dan memperhatikan Azuma dengan seksama.


“Kita harus merapikan rambutmu. Aku tidak tahan melihatnya berantakan seperti itu. Mei menarik tangan Azuma keluar dari rumah itu. Mengambil gunting dan sisir milik kakaknya.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Azuma bingung.


“Tenang saja, aku akan merapikan rambutmu.” Ujar Mei sambil mulai memotong rambut Azuma sedikit demi sedikit.


“Apa yang sedang kalian lakukan?” ujar seorang pria mengagetkan Azuma dan Mei.


“Kak Yoga!,” seru Mei dengan senyum yang ceria.


“Apa yang sedang kau lakukan? Siapa orang ini?” tanya Yoga sambil berjalan mendekat.


“Ini Azuma, pria yang kita tolong sewaktu di hutan kemarin, aku ingin merapikan rambutnya.” Jawab Mei dengan semangat.


“Merapikan bagaimana? Potongannya acak adul seperti gigitan kerbau, kau yakin bisa melakukannya?” ujar Yoga mengejek adiknya itu. Mei hanya terdiam, dia setuju dengan ucapan kakaknya.


“Berikan guntingnya!” perintah Yoga sambil mengulurkan tangannya. Dengan patuh Mei menyerahkan gunting dan sisir yang ada di tangannya. Dengan cermat Yoga mulai memotong rambut Azuma. Azuma yang tidak mengerti apa yang sedang dilakukan dua orang yang ada di dekatnya itu hanya diam membisu.


“Tuan ini sayur dan buah…” Andi datang membawa dua kantong belanjaan. Dia terkejut dengan apa yang sedang di lihatnya.


“Apa yang sedang tuan lakukan?” tanya Andi sambil meletakkan kantong belanjaannya di teras rumah itu.


“Apa lagi? Aku sedang merapikan rambut Azuma.” Jawab Yoga dengan bangga.


“Merapikan? Ini malah mirip seperti gigitan tikus.” Ujar Andi spontan melihat hasil potongan Yoga. Ketiganya serempak melihat ke arah Andi.


“Aku mengatakan yang sebenarnya, coba lihat, apa ini namanya merapikan rambut?” ucap Andi sambil tertawa geli. Yoga datang mendekatinya dan menyerahkan gunting dan sisir yang ada di tangannya.


“Coba kau yang lakukan, aku ingin lihat sebagus apa hasil kerjamu.”


“Kapan kita akan selesai jika kau memotongnya satu persatu?” tanya Yoga dengan kesal.Dengan wajah yang lesu Andi melihat ke arah Yoga dan Mei. Dia menyesal telah menertawakan Yoga.


“Kenapa? apa sekarang kau baru sadar bahwa bicara lebih mudah dari pada melakukannya?” tanya Yoga sambil berkacak pinggang. Andi hanya bisa tersenyum kecut. Azuma meraih cermin yang ada di depannya, penasaran seperti apa rupanya sekarang.


“Jangan!!,” serempak Yoga, Mei dan Andi meraih cermin dari tangan Azuma. Azuma hanya bengong tidak tahu apa yang terjadi.


“Lebih baik kita bawa saja dia kesalon kak.” Ujar Mei menyarankan.


“Benar sekali, lebih baik kita bawa dia kesalon besok.


“Baiklah, mari kita siap-siap untuk makan malam.” Ujar Yoga sambil melangkah masuk kedalam rumah, Andi mengikutinya dari belakang sambil membawa kantong belanjaan yang tadi dibawanya.


“Kau harus segera mandi, kita akan makan malam bersama.” Ujar Mei sambil membantu Azuma membersihkan potongan-potongan rambut yang menempel diwajahnya.


“Apa yang baru saja kalian lakukan dengan kepalaku? apa kalian baru saja menjadikan aku sebagai bahan percobaan?” tanya Azuma sambil menepuk-nepuk sisa rambut yang menempel di bajunya.


“Hahahaha, percobaan apanya?, darimana kau tahu kalimat seperti itu?” tanya Mei dengan gugup.


“Tadi di rumah sakit. Ada orang yang berkata bahwa ibunya dijadikan sebagai bahan percobaan dokter-dokter yang ada di rumah sakit.”


“Tidak ada yang seperti itu. Ayo kita masuk, aku sudah sangat lapar, kau juga harus segera mandi.” Ujar Mei sembari berjalan kedalam rumah menghindari pertanyaan Azuma. Azuma mengikutinya dari belakang.


“pak tolong bersihkan meja yang ada ditaman ya!” seru Mei kepada tukang kebun dirumahnya.


“Baik non.” Ujar seorang lelaki paruh baya berjalan ke arah taman. Mei memberikan handuk kepada Azuma dan mengantarnya ke kamar mandi.

__ADS_1


“Kak, Azuma bolehnya memakai pakaian kakak, kami belum sempat belanja tadi.” Ujar Mei saat melewati dapur.


“Lakukan apapun yang kau mau.” Jawab Yoga sambil mengupas bawang di dapur.


“Aku akan melakukannya tuan, tuan tunggu saja di meja makan.” Ujar Andi sembari mencuci sayur yang tadi di bawanya.


“Kau pikir aku tidak bisa melakukannya? Mengupas bawang adalah hal yang mudah. Ujar Yoga mulai meneteskan air mata.


“Kakak menangis?” ujar Mei datang mendekat. Walau sudah terbiasa melihat kakaknya dan Andi, namun tetap saja Mei terpesona dengan pemandangan yang ada di depannya. Kedua pria berwajah tampan dengan memakai kemeja putih yang di tutupi dengan celemek berwarna pink mempermanis suasana dapur itu. mei yakin siapapun yang melihat kedua pria ini pasti akan terpesona.


“Tidak, pedasnya bawang tidak akan mampu membuat aku menangis.” Jawab Yoga sambil terus mengupas bawang. Andi dan Mei hanya tersenyum.


“Apa menu kita hari ini?” tanya Mei sambil meneguk air dari dalam gelasnya.


“Hari ini kita makan tumis..” Andi tidak melanjutkan kalimatnya, dia melotot melihat ke arah belakang Mei, sayur yang baru di cucinya jatuh kelantai.


“Ada apa?” tanya Yoga sambil mengikuti arah pandangan Andi. Dengan terkejut dia mundur kebelakang. “Hei!! Apa kau sudah gila!!” teriaknya sambil menggenggam erat pisau yang ada di tangannya. Mei ikut berbalik, air yang tadi di minumnya keluar begitu saja dari mulutnya.


“Aku tidak tahu cara menghidupkan airnya.” Ujar Azuma polos tanpa mengenakan sehelai kainpun untuk menutupi tubuhnya.


“Meski begitu, bagaimana mungkin kau keluar tanpa mengenakan pakaian?!, Mei tutup matamu!” teriak Yoga. Mei yang sedari tadi bengong kini tersadar dan dengan cepat memalingkan wajahnya.


“Orang itu sudah gila! Aku akan membunuhmu!” ujar Yoga sambil berjalan kerah Azuma dengan pisau ditangannya. Dengan cepat Andi memeluknya dari belakang, Mei ikut menghalangi dengan merentangkan kedua tangannya.


“Cepat kembali ke kamar mandi!” perintah Mei kepada Azuma. Azuma yang merasakan adanya bahaya langsung bergegas masuk kedalam kamar mandi.


“Tenang tuan, mungkin dia memang tidak tahu apa-apa, seperti yang Nona Mei katakan, dia tumbuh besar di hutan dan tidak tahu bagaimana harus hidup di luar hutan.” Ujar Andi menenangkan Yoga.


“Ini tidak benar, aku tidak akan pernah membiarkan Mei tinggal serumah dengan pria seperti itu.” Ujar Yoga masih di penuhi emosi.


“Iya, baiklah kak, kakak boleh ikut tinggal disini.” Ujar Mei menenangkan hati Yoga. Seketika Yoga menjadi tenang.


“Aaaaargh” suara dari kamar mandi mengagetkan mereka bertiga.


“Apa? Kenapa?”, seru Yoga sambil berjalan ke arah kamar mandi. Andi dan Mei mengikutinya dari belakang.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Yoga sambil mengetuk pintu kamar mandi.


“Airnya panas sekali, dihutan air tidak sepanas ini.” Teriak Azuma dari dalam kamar mandi. Yoga, Andi dan Mei hanya bengong mendengar apa yang dikatakan Azuma, mereka bertiga saling berpandangan.


“Salah seorang dari kita harus masuk kedalam dan membantunya.” Ujar Yoga sambil menatap Andi.


“Benar sekali tuan, kita tidak boleh membiarkannya mati kepanasan di dalam.”


“Apa yang kau tunggu?” tanya Yoga kepada sekretarisnya itu.


“Hah?” Andi tidak mengerti apa maksud Yoga. Yoga terus menatapnya sambil berdehem.


“ Aaah, maksud tuan aku harus masuk kedalam dan membantunya?” ujar Andi setelah berfikir beberapa saat. Yoga mengangguk mengiyakan.


“ Aduh, maaf sekali tuan, aku harus segera kedapur, makananku hampir gosong.” Ujar Andi berkelit sambil berlari ke arah dapur.


“Hei!! Apa yang kau lakukan? Aku memberimu tugas penting. Berani sekali kau mengabaikan perintahku?” ujar Yoga sambil berniat pergi mengejar Andi namun Mei menarik tangannya.


“Kakak mau kemana?” tanya Mei


“Aku mau memanggil Andi.”


“Andi sedang mempersiapkan makan malam. Kalau kakak tidak mau membantu Azuma, aku akan dengan senang hati menggantikan kakak.” Ujar Mei sambil berniat masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


“Apa kau sudah gila?!, aku yang akan masuk kesana.” Ujar Yoga gusar sambil masuk ke kamar mandi. Mei hanya tersenyum geli.


bersambung...


__ADS_2