AZUMA

AZUMA
jika sudah takdir pasti bertemu


__ADS_3

“Kita sudah mencari kemana-mana, tapi tidak ada hasilnya. Lebih baik kita kembali ke pos dan mencarinya bersama-sama dengan team SAR.” Ujar Bobi sambil terus mengikuti Yoga dari belakang. Sepanjang malam mereka terus menyusuri hutan dan saat ini matahari sudah mulai menunjukkan dirinya.


“Kau bisa pulang ke pos Bobi, aku tidak pernah memaksamu ikut mencari. Aku tidak akan bisa hidup jika terjadi sesuatu dengan Mei, kau sendiri tahu itu.” Ujar Yoga sambil terus berjalan. Jalanan yang licin akibat hujan semalam membuat mereka jatuh berkali-kali.


“Aku tahu Yoga, aku juga berharap kita bisa cepat menemukan Mei, tapi bukan seperti ini caranya. Kita tidak mengenal hutan ini, aku rasa kita berputar-putar di tempat yang sama.” Bobi melihat ke sekelilingnya, dia yakin mereka sudah pernah melewati tempat ini.


“Lihat! Ada gubuk di depan sana!” seru Yoga mempercepat langkahnya, dia berharap bisa menemukan Mei di tempat itu. Yoga dan Bobi masuk kedalam gubuk itu dan memeriksa keadaan didalamnya. Yoga melihat ada seseorang yang tidur di sudut gubuk, dan langsung berjalan menghampiri orang itu.


“Mei!,” seru Yoga. Dia menepuk-nepuk wajah Mei untuk membangunkannya. Bobi ikut mendekat dan menarik nafas lega mengetahui Mei baik-baik saja.


“Hei, bangun Mei, ini kak Yoga.” Ujar Yoga pelan. Perlahan Mei membuka kedua matanya. “Kak Yoga?!” seru Mei langsung memeluk kakaknya itu.


“Kau baik-baik saja?” tanya Bobi sambil duduk di depan Mei, “Apa sebenarnya yang terjadi?”


Mei memperbaiki posisi duduknya dan mulai menceritakan bagaimana dia bisa ada di gubuk ini, “Untung ada orang baik yang mau menolongku.” Ujar Mei mengakhiri ceritanya.


“Orang baik? Siapa?” tanya Yoga. Mei mencari-cari kesekeliling gubuk itu. “Aku yakin semalam bertemu dengan seorang pria disini. Mei bangkit berdiri dan mencari-cari kesekitar gubuk, Yoga dan Bobi mengikuti dari belakang.


“Tidak ada siapa-siapa disini, sebaiknya kita segera pergi dari sini.” Yoga segera merapikan ransel Mei, memasukkan barang-barangnya. Mei masih terus mencari namun karena tidak juga melihat Azuma dia tidak punya pilihan lain selain pulang dengan kakaknya. Sebenarnya Mei ingin mengucapkan rasa terima kasih, namun dia tidak tahu kemana Azuma pergi.


“Yoga, apa kau tidak merasa mencium sesuatu yang berbau busuk?” tanya Bobi saat mendekati sebuah pohon besar. Yoga memusatkan penciumannya. “ueeek! Bau busuk apa ini? Seperti bau bangkai!” Yoga langsung menutup kedua hidungnya dengan tangan. Mei yang berjalan paling belakang mengenali aroma busuk itu.


“Datangnya dari arah pohon besar itu! Seru Bobi sambil menunjuk ke arah pohon besar yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Mei mengenali pohon besar yang ditunjuk Bobi, disanalah dia buang air besar semalam.


“Coba kita periksa, siapa tahu ada bangkai hewan atau jangan-jangan ada mayat busuk di kubur di pohon itu.” Ujar Yoga sambil mengikuti langkah Bobi yang bertugas memimpin jalan di depan.


“Stop!” seru Mei tiba-tiba, spontan Yoga dan Bobi menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Mei.


“Kenapa Mei?” tanya Yoga.


“Tidak ada apa-apa disitu kak!, kita lewat jalan lain saja.”


“Tapi baunya sungguh menyengat Mei, tidak mungkin tidak ada apa-apa disitu.” Ujar Bobi sambil terus menutup kedua hidungnya dengan tangannya.


“Kau tunggu saja di situ Mei, kami akan segera kembali, kau juga bisa mencium aroma busuk ini kan?” Yoga ikut menimpali. Keduanya berniat melanjutkan langkahnya mendekat ke arah pohon.”


“Yaaaaaaa!!!, aku sudah bilang tidak ada apa-apa disitu!” Mei berteriak sambil melemparkan sebelah sepatunya ke arah kedua pria yang ada di depannya itu. Sepatu itu tepat mengenai punggung Yoga. Disaat yang sama Yoga dan Bimo sudah sampai di depan pohon tempat bau menyengat itu berasal. Keduanya terpaku saat melihat sesuatu ditanah dekat pohon itu berada, dan secara bersamaan pula keduanya berbalik memunggungi pohon besar itu dengan tatapan kosong.


“Kuning kecoklatan.” guman Bobi


“Hmm, sangat banyak.” Sambung Yoga. Yoga memungut sepatu yang dilemparkan Mei tadi kearahnya. Keduanya berjalan mendekat ke arah Mei dengan diam membisu.


“Ayo kita pulang, mungkin jalannya dari sebelah sana.” Ujar Bobi salah tingkah sambil berjalan kerah lain.


“Aku sudah bilang tidak ada apa-apa di pohon itu, kenapa kalian tidak percaya?” Mei menutup wajahnya dengan kedua tangannya menahan malu.


“Kami tidak melihat apa-apa” Yoga memasukkan kaki adiknya kedalam sepatu yang dibawanya tadi, mengikat talinya dengan cermat memastikan tali itu tidak akan terlepas. Mei masih menutup wajahnya dengan tangan dan mulai terisak. Yoga berdiri dan memeluk tubuh adiknya itu, mencium keningnya dengan lembut.


“Tidak apa-apa, dihutan besar seperti ini hal-hal luar biasa sering terjadi” ujar Yoga sembari mengelus kepala adiknya itu, ada senyum yang tersimpul di wajahnya. “Kita pulang sekarang?” lanjutnya. Mei hanya mengangguk mengiyakan. Yoga menggenggam tangan adiknya itu , membantunya berjalan menyusuri hutan yang ada di depan mereka.


“Sebentar lagi kita sampai!, pos penjagaan ada setelah melewati pohon di depan itu.” Bobi yang memimpin jalan berseru dengan gembira. Yoga dan Mei melihat kearah pohon yang di tunjuk Bobi. Ketiganya tersenyum dengan mata yang berbinar.


“Brrraaaaak!!!”


Yoga, Bobi,dan Mei sama-sama terkejut mendengar bunyi keras yang ada di belakang mereka.


“ Kau tunggu di sini ya,” Ujar Yoga berniat pergi memeriksa apa yang terjadi di belakang mereka


“Kita lihat bersama-sama!” ujar Mei sambil menggenggam tangan kakaknya. Yoga hanya melihat sekilas wajah Mei dan bisa melihat ada rasa kuatir disana. Yoga akhirnya mengangguk dan mulai memimpin jalan ke arah sumber suara, Bobi mengikuti dari belakang. Mereka sampai di tepi sebuah tebing dan melihat ada bekas ranting pohon yang patah di pinggir tebing itu. Disaat yang sama ponsel Yoga berdering mengagetkan mereka bertiga. Lokasi mereka yang tidak jauh dari jalan raya membuat ponsel kembali berfungsi dengan baik.


“Hallo?” Yoga menjawab ponselnya.


“Tuan, apa semuanya baik-baik saja? Tuan ada di mana?” tanya seseorang dari seberang.


“Oh Andi, kami sudah dekat dengan pos penjagaan, kami akan segera sampai.” Ujar Yoga menjawab pertanyaan sekretarisnya itu


“Hallo Yoga, apa kau baik-baik saja? Bagaimana dengan Mei?” tanya seseorang lagi dari seberang namun dengan suara yang berbeda.


“ Bimo?, kami baik-baik saja, kami akan segera sampai. Bagaimana dengan anak-anak yang lain?”tanya Yoga sambil memperhatikan Bobi dan Mei yang sudah turun menyusuri tebing.


“Aku sudah menyuruh mereka pulang duluan, aku dan sekretarismu menunggu di pos penjagaan, aku menghubunginya takut terjadi sesuatu dengan kalian.”


“Terima kasih Bim, kami akan segera sampai.” Yoga mengakhiri panggilannya dan ikut bergabung menyusuri tebing bersama Mei dan Bobi.


“Aku rasa ada seseorang yang terjatuh disini.” Terang Bobi sambil mengikuti jejak semak-semak yang ada di depannya. “Lihat! Ada sesuatu disana.” Bobi berlari ke arah depan dan melihat seseorang tergeletak di atas semak-semak. Pria itu memegang karung goni yang berisi pisang dan singkong. Yoga dan Mei ikut menyusul.


“Azuma?” seru Mei mengenali pria yang ada di depannya. Mei langsung memeriksa kondisi Azuma. ”dia masih bernafas.” Ujarnya lagi sambil mendekatkan telunjuknya ke arah hidung Azuma.


“Kau kenal orang ini?” tanya Yoga sambil membantu memeriksa denyut nadi ditangan Azuma sambil berusaha melepaskan karung goni yang digenggam Azuma.


“Dia pria yang aku ceritakan, dia yang menolong aku sewaktu di gubuk tadi. Kak, kita harus menolongnya.” Mei menatap kakaknya dengan tatapan penuh harap.


“Baiklah,” Yoga mengeluarkan ponselnya dan menghubungi sekretarisnya.


“Cepat datang kesini dan hubungi ambulans, ada orang yang harus kita bawa kerumah sakit.” Ujar Yoga memberi perintah.


**


Kriiiing…kriing..


Suara ponsel bergema di kamar Joni, dengan malas Joni mengangkat ponsel yang ada di atas meja samping tempat tidurnya.


“Haloo,” ujar Joni


“Tuan, kami kehilangan Azuma,” ujar orang disebrang sana.


“Apa?! Bagaimana bisa?” jawab Joni emosi.


“Kami kehilangan jejaknya tuan, kami akan mencarinya lagi.”

__ADS_1


“Dasar bodoh! Menjaga satu orang saja tidak becus, saya kasih waktu sampai sore ini, kau tahu apa akibatnya jika kalian tidak bisa menemukannya.” Joni menutup ponselnya dengan gusar.


“Siapa pah?” tanya Nia, istri Joni dari balik pintu kamar.


“Oh, bukan siapa-siapa, hanya urusan kantor.” JelasJoni sambil bangkit dari tempat tidurnya.


“Oh, jangan terlalu emosi kepada bawahan, bagaimanapun perusahaan tidak akan berjalan tanpa mereka, sarapan sudah aku siapkan, hari ini aku akan mengikuti kelas yoga, mungkin siang baru pulang.” Ujar Nia sambil merapikan tempat tidur.


“Baiklah, lakukan apapun yang menyenangkan hatimu.” Ujar Joni sambil mengecup kening istrinya lembut.


***


“Bagaimana mungkin anak itu bisa menghilang?” Rida bangkit berdiri dari kursinya. Dia berjalan mondar-mandir sambil memikirkan tindakan apa yang harus di ambilnya. Leo, sekretarisnya hanya berdiri sambil menundukkan kepala penuh penyesalan.


“Kita baru saja menemukannya, namun sekarang kita harus kehilangannya. Sebenarnya bagaimana cara kalian mengurus pekerjaan? Aku kuatir Joni akan menemukannya sebelum kita.” dengan kesal Rida meraih ponselnya dari atas meja dan menghubungi seseorang lewat ponselnya.


“Kau harus menemukan seseorang untukku.” Ucap Rida kepada seseorang di seberang.


**


Matahari pagi bersinar terang mengawali hari senin yang sangat sibuk. Seperti biasa jalanan macet karena banyaknya kendaraan yang lalu lalang mengantarkan orang-orang dengan kesibukannya masing-masing. Pergi bekerja, sekolah, dan lain sebagainya. Dari kendaraan roda dua, empat dan truk besar yang memuat barang-barang yang akan di angkut dari kota satu kekota yang lain. Banyak juga orang-orang yang memilih berjalan kaki untuk menghindari kemacetan lalu lintas. Tidak jauh berbeda dengan perusahaan V&T. Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang fasion ini juga terbilang sangat sibuk.


“Bagaimana weekend mu?” sapa Bimo kepada Yuri. Yuri yang sedang menunggu pintu lift tersenyum “ Menyenangkan pak,” ujarnya sopan.Bimo ikut berdiri di samping Yuri.


“Lusi baik-baik saja? Kalau tidak salah sekarang dia duduk di bangku kelas dua sd bukan?” tanya Bimo lagi sambil menyeruput kopi hitamnya.


“Benar pak.”


“Hmm, begitu. Kenapa kau selalu memanggil aku bapak? Apa aku terlihat setua itu?” tanya Bimo sambil mengalihkan pandangannya menatap ke arah Yuri.


“Saya rasa itu sudah seharusnya pak, bapak adalah atasan saya.” Jawab Yuri menatap ke arah Bimo dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu lift yang sudah terbuka. Yuri masuk kedalamnya sedang Bimo masih berdiri di depan pintu lift menyeruput kopinya.


“Bapak tidak masuk?” tanya Yuri sambil menekan tombol angka sepuluh pada lift itu. Dengan enggan Bimo masuk kedalam lift, namun belum sempat dia masuk kedalam lift ada orang lain yang masuk mendahuluinya.


“Terimah kasih,” ujar orang itu


“Oh ada Yuri!, selamat pagi Yuri.” Ujar orang itu tersenyum menyapa Yuri.


“Selamat pagi Lukas.” Jawab Yuri sopan. Bimo masuk melangkah masuk kedalam lift namun lagi-lagi ada orang yang menabraknya.


“Kalau jalan lihat-lihat dong!” ujar Bimo kesal.


“Hahaha maaf Bimo, aku sedang buru-buru” ujar Bobi sambil tertawa.” Selamat pagi Yuri.” Sapanya kemudian saat melihat Yuri di depannya. Bimo berdiri dengan kesal. Saat pintu akan menutup ada seseorang yang datang mendekat.


“Tunggu!, tunggu aku!” Siska menahan pintu lift dari luar dan otomatis pintu lIft terbuka kembali. Wanita itu masuk dan berdiri membelakangi Bimo dan yang lainnya. Pintu lift tertutup kembali dan lift meluncur naik ke lantai sepuluh.


“Hoi!, apa kau tidak mandi?” tanya Bimo kepada wanita itu.


“Apa maksudmu?”tanya Siska kesal sambil melotot ke arah Bimo.


“Ada belek yang besar di sudut matamu.” Jawab Bimo sambil menyeruput kembali kopinya. Dengan cepat Siska mengeluarkan cermin dari tasnya dan memeriksa matanya. Kemudian dia kesal menyadari bahwa tidak ada belek di matanya.


“Bukan urusanmu, urusi saja masalahmu sendiri!” ujar Siska sambil cemberut.


“Kenapa kalian tidak berkencan saja? Aku lihat kalian pasangan yang serasi. Benarkan Yuri?” tanya Bobi menggoda Bimo dan Siska.


“ogah!” seru Bimo dan siska berbarengan sambil melotot ke arah Bobi. Yuri dan Lukas hanya tersenyum melihat tingkah mereka. Pintu lift terbuka, kini mereka sudah sampai di lantai sepuluh. Mereka masuk keruangan mereka masing-masing dan bersiap untuk memulai pekerjaan mereka.


**


Yoga tiba di perusahaan dengan mobil bmwnya, seorang security datang membukakan pintu mobilnya. Yoga berjalan masuk kedalam perusahaan. Setelan jas yang dikenakannya membuatnya tampak berwibawa sekaligus mempesona. Andi sekretarisnya ikut berjalan mengikuti di belakangnya. Semua pegawai yang ada di perusahaan itu memberi salam hormat kepadanya. “Jam berapa rapat di mulai?” tanya Yoga sambil berjalan ke arah lift


“Jam sembilan tuan, dan jam dua belas nanti tuan ada janji makan siang dengan tuan Goklas, sore anda harus bertemu dengan klien dari singapura.” Jawab Andi sembari melihat jadwal Yoga di tabletnya. Yoga dan Andi masuk ke dalam lift dan dengan cepat mereka tiba di lantai sepuluh.


“Tolong cek kembali hotel yang akan dipakai untuk rapat dengan klien dari Singapura nanti, aku tidak mau ada kesalahan.” Perintah Yoga kepada Andi


“Baik Tuan!”. Yoga keluar dari lift sementara Andi turun kembali kelantai bawah. Yoga berjalan menuju ruangan rapat. Bimo dan yang lainnya sudah menunggu.


“Silahkan dimulai!” perintah Yoga kepada Bimo yang sedang duduk memeriksa email di laptopnya. Bimo mengangguk mengiyakan, kemudian berjalan kedepan memulai laporannya.


“Tahun ini kita akan mengikuti pameran STYL, sebagaimana kita ketahui pameran ini adalah peragaan busana yang tidak terkenal hanya di Indonesia saja namun sudah merambah ke mancanegara. Kita akan mengambil kesempatan ini untuk menjadi industri fashion yang terkenal dengan kualitas dan kuantitas yang baik. Untuk tahun ini mereka memberi thema senja.”


“Senja? Apa maksudnya?” Lukas menggumam.


“Seperti kita ketahui, setiap tahunnya STYL selalu memberi thema yang berbeda dan bukan itu saja, selalu ada makna tersembunyi dibalik thema tersebut.” Bobi memberi penjelasan.


“Lalu apa arti dari thema tahun ini?” Yoga ikut menimpali.


“Kami masih belum bisa menemukan maknanya, kami akan berusaha untuk mengkaji lebih dalam” jelas Bimo


“Kapan acara itu akan berlangsung? Tanya Yoga.


“Awal desember nanti.” Sahut Siska.


“Baiklah, masih ada waktu enam bulan lagi, kerahkan semua usaha dan potensi yang kita miliki.” Ujar Yoga memberi semangat.


“Ada keluhan dari bagian produksi, material yang kita pesan bulan lalu belum juga dikirim, aku sudah coba hubungi ke supplier dan mereka berkata bahwa barang sudah dikirim seminggu yang lalu.” Ujar Bobi memberi laporan.


“Goklas…,” gumam Yoga dengan geram. “Aku akan mengurus masalah itu, kalian fokus untuk mempersiapkan even STYL tahun ini, terima kasih semuanya.” Lanjutnya lagi. Yoga bangkit berdiri dari kursinya dan melangkah keluar di ikuti Bimo dan yang lainnya.


“Bagaimana dengan Mei? Apa dia sudah pulang dari rumah sakit?” tanya Bimo sambil berusaha menyamakan langkahnya dengan Yoga. Mereka berdua berjalan menuju ruangan Yoga sementara Bobi, Siska,Yuri dan Lukas kembali ke meja kerja mereka masing-masing.


”Hari ini mereka akan pulang, aku akan menjemputnya sore nanti tapi aku harus bertemu dengan klien dari Singapura. Kau bisa membantuku menjemput mereka?”


“Tentu saja, tapi ngomong-ngomong, siapa pria yang ada bersamanya itu? Tubuhnya kelihatan tidak terurus, rambutnya panjang tidak karuan sampai keseluruh wajahnya, aku tidak bisa membedakan mana rambut mana janggutnya.


“Entahlah, akupun tidak tahu. Aku hanya menuruti permintaan Mei, lagipula kalau benar dia yang menolong Mei sewaktu tersesat di hutan kemarin, aku akan melakukan apa saja untuk membalas kebaikannya.” Ujar Yoga sambil masuk keruangannya dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Bimo ikut duduk di depannya.


“Tapi bagaimana kalau dia adalah pria yang jahat? kau tidak melihat tampangnya yang mengerikan?” tanya Bimo penasaran.

__ADS_1


“ Kita tidak bisa menilai orang dari luarnya saja. Mungkin aku rasa kau lebih tahu akan hal itu.” Jawab Yoga setelah menatap Bimo beberapa saat. Bimo terdiam mendengar jawaban Yoga. Dia teringat saat dulu Yoga menyelamatkannya dari renteniryang terus mengejarnya karena hutang orang tuanya yang menumpuk. Saat itu Bimo sedang berada di gang sempit, wajahnya penuh luka akibat pukulan dari preman yang di sewa rentenir untuk menagih hutang ayahnya. Bimo tidak kuat lagi untuk berjalan, setelah lelah berlari Bimo memutuskan untuk menyerah dan memutuskan untuk bunuh diri. Kenyataan hidupnya dirasa sungguh sangat berat. Dia sudah mencoba melamar pekerjaan tapi tidak juga ada yang menerimanya. Jangankan untuk membayar hutang, untuk makan saja dia harus mengerjakan pekerjaan serabutan, mencuci piring dari satu rumah makan kerumah makan yang lain. Gelar sarjana yang di dapatnya tidak serta merta membuatnya mudah mencari pekerjaaan. Ada orang yang mau mempekerjakannya namun dengan syarat dia harus menyerahkan uang masuk yang terbilang cukup mahal. Dengan berlinang air mata Bimo berjalan ke atas jembatan yang ada di depannya, dia berniat untuk terjun ke dalam sungai dari atas jembatan.


“Sungai itu tidak dalam!, kalau kau melompat dari atas jembatan ini, kau tidak akan mati. Mungkin hanya kakimu yang akan patah, tangan mungkin. Tapi kalau kau terjun dengan posisi kepala menghadap kebawah mungkin kau bisa mati, kepalamu akan pecah terbentur bebatuan yang ada di dasar sungai.” Ujar seorang pria yang datang menghampirinya. Pria itu adalah Yoga


“Siapa kau? Apa kau juga preman sewaan rentenir itu?” tanya Bimo takut dengan pria yang ada di depannya itu.


“Preman?” Yoga melihat kesekelilingnya, ia memasukkan kedua tangannya kedalam kantong celana treningnya. “Dimana ada preman?” tanyanya lagi setelah tidak melihat ada siapa-siapa di sekitar mereka.


“Kau, kau preman yang di sewa kan?” tanya Bimo masih dalam sikap waspada.


“Aku? Aku preman? Ehe,,! Mana ada tampilan preman keren dan modis seperti diriku,” ujar Yoga memuji dirinya sendiri.


“Tuan!, tuan.., kenapa tuan berlari sangat cepat?” ujar seorang pria memakai kaos putih dan celana trening berwarna hijau datang menghampiri Yoga dan Bimo.


“Kau saja yang berlari sangat lambat.” Ujar Yoga sambil menepuk pundak pria yang ternyata adalah sekretarisnya sendiri.


“Kau memanggil temanmu? Kalian berniat membunuh aku?” ujar Bimo kuatir. Yoga dan Andi diam dan saling berpandangan.


“Apa maksudnya tuan?” tanya Andi tidak mengerti.


“Aku juga tidak tahu, tadi dia bilang kalau aku ini seorang preman.” Jelas Yoga polos.


“Waah, dari mana orang ini tahu?” ujar Andi sambil menutup mulutnya menunjukkan rasa kagum.


“Tahu apa?” tanya Yoga tidak mengerti.


“Kalau tuan adalah seorang preman?” jelas Andi smbil tertawa.


“plaaak!’ satu tamparan pelan mendarat di kepala Andi. Andi hanya meringis sambil memegangi belakang kepalanya yang terasa sakit. Yoga memukul bagian kepala Andi dengan gemas.


“Dengar anak muda, aku tidak tahu siapa kau, dan kenapa kau berniat melompat kedalam sungai itu. Tapi apapun masalahmu, hadapilah. Tidak akan ada yang selesai jika engkau memilih kabur, sesakit apapun itu hadapilah.” Ujar Yoga sembari menatap wajah Bimo sesaat kemudian berniat untuk pergi dari tempat itu.


“Aku..!, aku juga tidak ingin kabur dari masalahku”, seru Bimo menghentikan langkah Yoga. “Aku selalu berusaha, tapi tidak ada yang mau menolongku, tidak ada yang mau memberikan pekerjaan untukku. Hanya orang-orang berduit yang bisa bekerja di dalam perusahaan, apa kau tahu sudah berapa ratus surat lamaran kerja yang sudah aku tulis dan berapa banyak perusahaan yang aku datangi? Mereka semua menolakku.” Lanjut Bimo mulai menangis. “ Aku tidak keberatan harus membayar semua utang orang tuaku, aku akan lakukan apa saja demi mereka, tapi tidak ada yang mau mempekerjakanku.” Kini Bimo sudah jatuh terduduk di pinggir jembatan itu. Disaat yang sama preman yang mengejar Bimo tadi datang mendekat, ada sekitarlima orang datang membawa pentungan besi. Preman itu datang mendekat ke arah Bimo dan berniat memukulnya dengan tongkat yang ada di depan mereka.


“Hoi!!, apa yang kalian lakukan?” tanya Yoga menghentikan niat preman-preman itu.


“Jangan ikut campur kalau kau tidak ingin terluka!” ujar preman berambut tipis memberi peringatan.


“Aku baru saja berolah raga pagi hari ini, namun entah mengapa rasanya badanku masih terasa berat, apa aku belum cukup jauh berlari?” ujar Yoga sambil berkacak pinggang.


“Andi, sudah berapa kilo meter aku berlari?” tanya Yoga kepada Andi yang berdiri di belakangnya.


“Lima kilo meter tuan.” Jawab Andi sambil datang mendekat dan berdiri di samping Yoga.


“Lima kilo meterya? Masih belum jauh. Tapi masalahnya, aku malas berlari lagi. Apa kalian mau berolah raga denganku?” tanya Yoga mengejek para preman tersebut.


“Jangan macam-macam dengan kami, kau lihat apa yang ada di tangan kami ini?” ujar preman itu lagi sambil menunjukkan pentungan besi yang ada ditangannya.


“Ahh, hanya itu?, baiklah. Tadinya aku tidak mau memberitahu kalian, tapi sepertinya kalian harus di beri pelajaran.” Ujar Yoga sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya.


“Pis,, pistol?” ujar preman-preman itu sambil berjalan mundur. Bukan hanya preman itu, Andi pun ikut terkejut dan berjalan mundur.


“Aku adalah seorang polisi, jika kalian mau mencari masalah denganku silahkan!, aku akan menembak kalian satu persatu, membuang mayat kalian ke sungai ini.” Ancam Yoga sambil menodongkan pistolnya ke arah preman-preman itu.


“Kau.., kau tidak bisa melakukan itu, bukankah polisi tidak di perbolehkaan menembak orang sembarangan? Lagi pula kau akan di tangkap karena sudah membunuh kami.” Ujar preman itu tergagap


“Tidak masalah, lagipula siapa yang akan melaporkan aku? Orang-orang justru akan merasa sangat senang karena aku menyingkirkan lintah darat seperti kalian.” Ujar Yoga tegas. “Jadi bagaimana? Kita mulai? Aku akan hitung sampai tiga, di hitungan ketiga, jika kalian masih berniat untuk melawanku, akan ada pertumpahan darah di tempat ini. Satu..,” ujar Yoga mulai menghitung. “ Duaa,,” seru yoga lagi dengan suara yang lebih lantang. Para preman itu ragu-ragu kemudian segera berlari pergi sebelum Yoga selesai berhitung sampai tiga. Dengan senyum lega Yoga menurunkan pistolnya.


“Tu..tuan, sejak kapan tuan punya pistol?” ujar Andi datang mendekat dengan hati-hati.


“Ah ini? Ini pistol mainan.” Sahut Yoga sambil tersenyum.


“Apa?! Dari mana tuan mengambilnya?”


“Punya anak kecil yang ada di depan warung ice cream tadi.” Jawab Yoga polos


“Astagah,” Andi menepuk jidatnya tidak percaya dengan apa yang dilakukan bosnya itu.


“Tadi aku melihat anak kecil menangis di depan warung ice cream, jadi itu karena tuan mengambil pistol mainannya?” tanya Andi memastikan


“Eem.” Sahut Yoga singkat tanpa rasa bersalah. Andi terdiam tidak tahu harus berkata apa lagi.


“Hei!, apa kau benar-benar ingin bekerja?” tanya Yoga kepada Bimo yang masih terdiam mendengarkan mereka sedari tadi. Bimo hanya diam tidak menjawab.


“Cobalah datang ke V&T, jika kau benar-benar ingin bekerja, aku akan memberi kesempatan. Buktikan kalau yang kau butuhkan hanyalah kesempatan. Jika ternyata kau tidak memiliki kualitas yang bagus, aku tidak akan segan-segan langsung memecatmu.” Ujar Yoga menatap Bimo dengan serius


“Kenapa kau mau menolongku? Aku bukan siap-siapa.” Tanya Bimo


“Karena aku tidak mau kalimat tidak ada kesempatan kau jadikan alasan saat engkau gagal. Aku hanya memberikanmu kesempatan. Jawab Yoga sambil berjalan pergi meninggalkaan Bimo yang masih terdiam mencerna kalimat yang barusan di dengarnya. Andi mengikuti Yoga dari belakang.


“Tuan, apa tadi tuan tidak merasa takut?” tanya Andi menyamakan langkahnya dengan Yoga.


“Tidak.” Ujar Yoga mantap


“Kenapa?” tanya Andi penasaran.


“Kan ada dirimu, lima orang bukan masalah yang besar untuk kita berdua, kita bisa berbagi.” Jelas Yoga


“kalau begitu, tuan akan lawan berapa orang?”


“Satu orang, sisanya kau yang ambil. Aku bukan orang yang serakah.” Jawab Yoga dengan tenang. Andi terdiam menghentikan langkahnya.


“Kenapa?” tanya Yoga sambil ikut menghentikan langkahnya.


“Aku akan beri tahu kepada nona Mei kalau tuan mencuri mainan anak kecil!” seru Andi dengan suara lantang.


“Hei!! Kau mau mati?!” ujar Yoga sambil berjalan mendekat ke arah Andi, berniat memukulnya, namun Andi langsung melarikan diri dengan secepat kilat meninggalkan Yoga di belakang.


“Berhenti!! Aku benar-benar akan membunuhmu!’ seru Yoga sambil ikut berlari mengejar Andi yang sudah jauh ada di depannya. Bimo hanya diam memperhatikan tingkah kedua pria yang baru saja ditemuinya itu.

__ADS_1


“Terima kasih.” Gumamnya pelan.


__ADS_2