
terimakasih sudah mengikuti sampai sejauh ini..
semoga kalian suka dengan ceritanya..
bagian 5...
“Kak Yoga!!!! Bangun, sarapan sudah siap!” teriak Mei dari meja makan. Andi ikut membantunya
“Kak Yogaaaa!” teriak Mei lagi saat tidak ada jawaban dari dalam kamar Yoga
“Hoi!,Kenapa kau berisik sekali? Apa tenggorokanmu tidak sakit berteriak-teriak seperti itu?” Sahut Yoga tiba-tiba muncul dari balik dalam kamar mandi
“Oh, sudah bangun toh? Tumben.” Sindir Mei sambil memberikan piring kepada Yoga.
“Kenapa kau bangun pagi-pagi sekali? Ingin cari perhatian adikku?” Tanya Yoga kepada Andi yang dengan cekatan menuang sup ayam kedalam mangkuk.
“Aku hanya kasihan dengan nona Mei, punya kakak tapi tidak bisa di andalkan.” Ledek Andi sambil terus menaruh lauk diatas meja makan.
“Tidak bisa seperti ini lagi, aku harus segera memecatmu. Makin lama kau makin kurang ajar terhadapku.” Ancam Yoga sambil meneguk air minum yang ada di gelasnya. Namun ada semacam hawa dingin yang menghampirinya, Yoga melihat kesekelilingnya dan benar saja, Mei sedang menatapnya dengan tatapan tajam.
“Awas saja kalau kakak berani memecatnya.’ Ancam Mei. Andi hanya tertawa kecil.
“Azuma dimana?” tanya Yoga mengalihkan pembicaraan.
“Bukannya dia tidur dengan tuan?” tanya Andi sembari duduk di kursinya.
“Dia tidak ada dikamar, aku pikir dia sudah bangun duluan.”
Mei berlari kekamar kakaknya, dengan cemas dia memeriksa kesetiap sudut ruangan, bernar saja, Azuma tidak ada dirumah itu.
“Kemana kira-kira dia pergi?” tanya Mei dengan cemas.
“Sudahlah, mungkin dia memang memutuskan untuk pergi, mungkin dia sudah ingat dengan keluarganya dan memutuskan untuk pulang.” Ucap Yoga memnenangkan adiknya itu.
“Tidak mungkin kak, dia selama ini tinggal di hutan, dia tidak kenal siapa-siapa di tempat ini.” Ujar Mei dengan gelisah
“Baiklah, kakak akan suruh orang untuk mencari Azuma, sekarang kita makan dulu, setelah makan kita akan cari Azuma.”
Mei menghabiskan sarapannya dengan cepat, Andi sudah mempersiapkan mobil untuk mereka pakai. Dia berharap Azuma cepat ditemukan agar Mei bisa tenang.
**
__ADS_1
Diperusahaan...
“Bagaimana?, kau temukan filenya?” tanya Bimo. Yuri hanya menggeleng dengan lesu.
“ Cari pelan-pelan, pasti ada dipenyimpanan lain, makanya jangan tugaskan sesuatu kepada orang yang tidak ahli melakukannya”, timpal Siska sambil menatap sinis ke arah Lukas. Lukas hanya tertunduk lesu, menyadari kesalahannya “ Maaf kan aku, aku tidak tahu kenapa filenya tidak ada, padahal aku yakin tidak pernah menghapusnya” katanya pelan.
“Tidak apa-apa, kita semua pernah melakukan kesalahan, coba aku yang mencarinya.” Ujar Bobi sambil mengambil alih mouse komputer dari Yuri. Setelah memeriksa beberapa lama, Bobi yakin bahwa dia menemukannya.
“Aku menemukannya!” ujar Bobi riang
“Cepat kirimkan file itu ke sekretaris mereka, pastikan tidak ada kesalahan.” Ujar Bimo. Bobi mengangguk dan mengirimkan file yang sudah mereka kerjakan beberapa minggu ini ke alamat email yang tertera di komputer.
“Akhirnya kita bisa pulang cepat hari ini.” Ujar Siska sembari berjalan menyeruput kopinya. Semua orang tampak bahagia. Bru Bobi ingin meninggalakn tempat duduknya ada pemberitahuan email yang masuk. Dengan cepat Bobi membukanya dan terkejut dengan apa yang tertulis disana.
“Ada apa?” tanya Yuri menyadari perubahan di wajah Bobi.
“Ini, apa ini? Mereka mengatakan file yang kita kirim adalah hasil plagiat.” Jelas Bobi dengan wajah cemas. Dengan cepat Bimo mengecek email yang ada di depannya dan langsung mengambil ponselnya, menghubungi Yoga
“Dasar Goklas sialan, darimana lagi dia mendapat bocoran? Apa dia tidak bosan mengganggu kita?” dengan kesal Yoga menjawab panggilan dari Bimo.
“Aku akan hubungi pihak Singapura, kau tolong urus masalah yang ada disitu.” Perintah Yoga sambil memutus panggilan ponselnya. Dengan cepat dia menghubungi sekretaris Willian, pebisnis dari Singapura yang berniat untuk menanam modal diperusahaannya.
“Tapi saya berani jamin, file yang kami kirim adalah yang asli, bapak bisa mengecek untuk memastikannya.” Pinta Yoga.
“Maaf pak, jika memang benar itu adalah file asli, mengapa bisa di ambil alih orang lain? Itu artinya bapak tidak bisa melindungi perusahaan yang bapak pimpin, lalu bagaimana kami akan percaya kepada bapak?”
“Tapi pak, tolong beri kami waktu, agar kami bisa memperbaikinya tolong bapak.., halo.. halo?” belum sampai Yoga menyelesaikan kalimatnya, sambungan di ponselnya sudah tertutup.
“Ada apa kak?” tanya Mei melihat ada kecemasan diwajah kakaknya.
“Oh tidak apa-apa, hanya masalah perkerjaan, kakak harus pergi, kamu tidak apa-apa ke butik sendiri?”
“Tentu saja tidak apa-apa, kakak jangan kuatir, urus saja pekerjaan kakak.” Sahut Mei sembari tersenyum
“Kami harus pergi sekarang, hati-hati saat membawa mobil ya.” Ujar Yoga sambil bangkit dari tempat duduknya. Andi ikut bangkit berdiri dan berjalan keluar menyiapkan mobil.
“Jangan berkeliaran mencari Azuma sendirian, kita cari sama-sama.” Ujar Yoga sambil mengecup kening adiknya. Mei hanya mengangguk sambil tersenyum.
**
__ADS_1
“Ada apa tuan?” Tanya Andi sambil melajukan mobil dengan mulus kejalan raya.
“Goklas berulah lagi, kali ini aku harus beri pelajaran kepadanya, kita kekantornya.” Sahut Yoga geram
Yoga dan Andi sampai di depan perusahaan Logos. Dengan geram Yoga menerobos masuk, dia mengabaikan setiap petugas yang berusaha melarangnya masuk.
“Apa lagi rencanamu kali ini bangsat!?” seru Yoga sembali menendang pintu ruangan tempat Goklas bekerja.
“Akhirnya kau datang juga sepupu tersayang, bagaimana rasanya dijatuhkan oleh orang yang selama ini selalu kau anggap rendah?” ujar Goklas tenang duduk dikursinya. Yoga datang dan menarik kerah bajunya.
“Aku pastikan akan membalas perbuatanmu ini, kau lihat saja, siapa yang akan tertawa di akhir. Yoga melepaskan genggamannya dan berniat pergi.
“Dari awal perusahaan itu adalah milik ibuku, namun dengan licik ayahmu mengambil alih. Kita lihat saja, akhirnya perusahaan itu akan jatuh ketanganku.”
“ Kau benar, awalnya kakek berniat memberikan perusahaan itu kepada ibumu, namun dengan liciknya ibumu memakan uang perusahaan, juga gaji yang seharusnya diterima para pekerja, kau pikir penjahat seperti ibumu pantas memimpin perusahaan itu?” ujar Yoga sinis sambil berlalu pergi dari ruangan itu.
“Jangan berani kau menjelek-jelekkan ibuku! Aku pasti akan membalasmu!, aaaahgr!” Goklas berteriak marah sambil melemparkan vas bunga yang ada di depannya ke lantai.
**
“Kita mau kemana?” Tanya Azuma sambil memperhatikan sekitarnya dari dalam mobil.
“Kita akan bertemu dengan ketua.” Jawab Farida yang duduk dikursi depan sambil memeriksa note booknya.
“Ketua?”
“Benar sekali, kakek tuan, beliau adalah pemilik perusahaan sekaligus pebisnis yang di hormati di negara ini.” Jelas Farida.
Mobil masuk ke sebuah pekarangan yang sangat luas, ada pohon dan bunga tertata dengan rapi, ada juga kolam renang yang berdesain indah melengkapi kemegahan rumah mewah yang ada di depan mata mereka. Farida memandu Azuma masuk kerumah itu dan membawanya masuk ke kamar Adi Wijaya. Azuma berjalan sambil memperhatikan ke sekitarnya, rumah itu sangat luas dengan segala aksesoris yang indah.
“Akhirnya kau datang juga” sapa seorang pria tua saat mereka memasuki sebuah kamar di rumah itu.
“ini adalah tuan Adi Wijaya, kakek tuan” ujar Farida menjelaskan. Azuma hanya diam ditempatnya berdiri, dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Farida menundukkan kepalanya memberi hormat kepada pria itu, kemudian berjalan pergi meninggalkan kedua pria itu.
“ Mengapa kau hanya berdiri disitu? Apa kau tidak senang bertemu denganku?” ujar Adi menatap cucunya. Sudah lama aku ingin melihatmu, mendekatlah kesini. Azuma hanya diam berdiri ditempatnya.melihat Azuma yang tidak juga mendekat membuat Adi mengerutkan keningnya, lalu melangkah mendekat kearah Azuma. Azuma melangkah mundur, dia masih bingung dengan apa yang sedang terjadi.
“Kenapa? Apa kau marah padaku?” tanya Adi melihat reaksi Azuma. “Bukankah Farida sudah menjelaskan alasanku tidak bisa membawamu dari hutan?” tanyanya lagi.
“Apapun alasanmu, tidak seharusnya aku diperlakukan seperti itu. Kau tau betapa menakutkannya dunia diluar sana, apa karna aku hanya sebatas cucu yang tidak berarti untukmu?” Azuma merasa dihianati.
“Bukan seperti itu, kau sangat berarti untukku, kau tidak tahu betapa aku selalu memikirkan dirimu, beberapa kali aku berniat untuk membawamu pulang, tapi demi keselamatanmu, aku terpaksa mengurungkan niatku.” Jelas Adi dengan mata berkaca-kaca
__ADS_1
“Lalu kenapa sekarang kau berubah pikiran?” Azuma masih menatap wajah kakeknya dengan dingin.
“Mereka sudah tahu keberadaanmu, dan sekarang aku berfikir, bahwa menjagamu dari dekat adalah solusi terbaik.”