
Hai pembaca sekalian.. tetap semangat membaca ya.. aku yakin kalian akan senyum-senyum sendiri membaca novel ini. yuk lepas stres setelah seharian beraktifitas semangat...
Bagian 4....
Setelah selesai membersihkan diri, Azuma ikut bergabung untuk makan malam. Mei menyendok nasi untuk Azuma.
“ Apa kau suka udang?” tanya Mei kepada Azuma. Azuma hanya mengangguk mengiyakan. “Bagaimana dengan sayur? Kau suka?” tanya Mei lagi setelah menyendok beberapa udang dan memberikannya kepda Azuma.
“Apa dia anak kecil? Dia sudah dewasa, biarkan dia mengurus dirinya sendiri.” Gumam Yoga. Dia tidak suka melihat Mei lebih memperhatikan orang lain.
“Kita harus memperlakukan tamu dengan baik. Kan kakak yang selalu mengajarkannya padaku.” Jawab Mei sambil menyendok nasi ke piringnya.
“Bagaimana denganku? Apa kau tidak akan memberi aku makan?” tanya Yoga setelah melihat Mei tidak melakukan hal yang sama untuknya.
“Kakakkan punya tangan, makanan ada di depan kakak. Kakak bisa ambil sendiri.” Jawab Mei tidak peduli.
“Jadi hanya sebatas ini rasa sayangmu pada kakakmu ini?, tega sekali kau, setelah semua yang kulakukan untukmu..” belum sampai Yoga menyelesaikan kalimatnya Mei langsung berdiri dan menyendokkan nasi untuk kakaknya, menaruh potongan ikan diatasnya dan meletakkannya tepat dihadapan kakaknya itu.
“Sudah puas?” tanya Mei dengan sinis. Yoga hanya tersenyum.
“ Bagaimana denganmu? Apa aku juga harus mengambikan nasi untukmu?” tanya Mei ke arah Andi yang sedari tadi hanya duduk menyaksikan perdebatan antara kakak dan adik itu.
“Kalau nona tidak keberatan.” Ujar Andi sambil memberikan piring kosongnya kepada Mei. Yoga memperhatikannya dengan kesal.
“Ehem.. eheem..” Yoga berusaha menunjukkan ketidaksukaannya, namun Andi hanya tersenyum.
“Apa yang akan kalian lakukan tanpa diriku? Menyendok makanan ke piring kalian sendiri saja kalian tidak bisa.” Ujar Mei sewot. Malam itu mereka ber empat menikmati makanan dengan lahap. Sesekali terdengar perdebatan antara Andi dan Yoga yang berebut bermain game Playstasion.
“Berani sekali kau membunuhku!, Apa kau tidak takut ku pecat?” Ancam Yoga sambil terus memainkan remot controlnya.
“Aku akan memberitahu nona Mei tentang kejadian di warung ice cream.” Andi balik mengancam.
“Dasar curang!” Yoga tidak punya pilihan lain selain bermain dengan adil.
“Apa yang sedang mereka lakukan?” Tanya Azuma sambil menggigit buah apel yang diberikan Mei kepadanya.
“Mereka bermain game, apa kau tidak pernah melihatnya?” tanya Mei sambil mengupas apel yang ada di tangannya. Azuma hanya menggeleng perlahan. Kali ini Mei yakin kalau Azuma memang benar-benar tinggal di hutan.
“Bagaimana kau bisa ada di hutan itu?, apa dari kecil kau sudah tinggal dihutan?”Tanya Mei ingin memastikan kesimpulannya. Azuma hanya terdiam. Tidak ada satu kalimatpun yang keluar dari mulutnya. Dia hanya fokus memakan apel yang ada di tangannya.
“Tidak apa-apa jika kau tidak mau cerita sekarang, tapi jika kau butuh bantuan, jangan segan-segan meminta tolong padaku.” Ujar Mei tersenyum kecil kearah Azuma.
“Aku punya sesuatu untukmu,” Ujar Mei sambil melepaskan kalung yang ada di lehernya dan memakaikannya keleher Azuma.
“Apa ini?” Tanya Azuma sambil memperhatikan Kalung yang diberikan Mei untuknya. Ada liontin berbentuk peluit yang tergantung di kalung itu.
“Jimat keberuntungan, kak Yoga memberikannya kepadaku. Saat kau tersesat, tiup peluit yang tergantung dikalung itu, kami pasti bisa menemukanmu.” Jelas Mei sambil kembali mengupas apel yang ada di depannya.
__ADS_1
“Kenapa kau memberikannya padaku?” Tanya Azuma penasaran.
“Aku ingin membalas kebaikanmu, jika bukan karena dirimu, aku pasti akan mati kelaparan di hutan. Anggap saja sebagai bayaran atas singkong dan pisang yang sudah aku makan. Azuma hanya terdiam mendengar penjelasan Mei. Dia terus memperhatikan kalung yang ada di lehernya, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dia hanya fokus memperhatikan kalung itu.
Mei berjalan membawa Apel yang sudah di kupasnya ke arah Yoga dan Andi yang sibuk bermain game.
“Jadi siapa yang akan tidur dengan Azuma malam ini?” tanya Mei sambil memberikan buah apel ke arah kakaknya.
“Dia sudah besar, dia bisa tidur sendiri.” Jawab Yoga sambil terus memainkan gamenya. Mei yang kesal mencabut colokan listrik dan seketika layar tv yang ada di depan mereka padam.
“Apa yang kau lakukan?” Aku hampir menang.” Seru Yoga kesal. Andi hanya diam tidak berani protes.
“Jika kakak tidak mau mendengarkan aku, kakak boleh pergi dari rumah ini.” Ujar Mei sambil berkacak pinggang. Dengan perlahan Yoga meletakkan stick gamenya kemudian dengan patuh mendengarkan Mei berbicara, Andi juga ikut melakukan hal yang sama.
“Kamar atas sedang di perbaiki, yang tersisa hanya kamar utama tempat aku tidur, lalu dua kamar yang ada di lantai bawah. Satu kamar untuk satu orang, dan yang satu kamar lagi bisa dipakai untuk dua orang. Kak Yoga akan tidur dengan Azuma. Jelas Mei masih dalam posisi berdiri.
“Tapi kenapa harus aku?” Yoga berusaha membantah.
“Tidak masalah, aku bisa tidur dengan Azuma.” Ancam Mei
“Baiklah, aku akan tidur dengannya.” Ujar Yoga dengan kesal.
Malam itu hujan turun rintik-rintik, Mei, Azuma, Andi dan Yoga tertidur dengan lelap. Mereka tidsak menyadari ada beberapa orang masuk menyusup ke dalam rumah itu, berjalan mondar-mandir mencari sesuatu. Mereka masuk ke kamar dimana Azuma dan Yoga tidur. Dengan cepat Mereka menutup hidung Azuma dengan kain yang sudah di beri cairan bius, membuat Azuma kehilangan kesadaran, dengan cepat kedua orang yang berpakaian hitam itu membawa Azuma keluar dari rumah itu. Yoga tidak menyadari apa yang terjadi. Mei dan Andi juga sama-sama terlelap dikamar mereka masing-masing.
**
“Anda sudah bangun tuan?” Tanya seseorang dari balik pintu mengejutkan Azuma. Dengan cepat Azuma bangkit dari tempat tidurnya, memasang sikap waspada.
“Siapa kau?” Tanya Azuma dengan lantang. Sebenarnya ada dimana aku?”. Tidak ada jawaban dari balik pintu, namun beberapa saat kemuadian pintu kamar terbuka dan seseorang wanita paruh baya masuk kedalam kamar itu.
“Selamat datang dirumah Tuan, Bagaimana istirahat Tuan?” Sapa wanita itu.
“Siapa kau? Dimana aku?” tanya Azuma masih belum mengerti apa yang sedang terjadi.
“Saya Farida, kepala pelayan dirumah ini, tuan bisa memanggil saya Rida.” Jawab perempuan Itu dengan sopan.
“Bagaimana aku bisa ada disini? Bagaimana bisa aku menjadi tuanmu?”
“Anda adalah cucu yang sah dari keluarga Adi Wijaya, saat kecill tuan tertinggal di hutan saat tuan dan ayah tuan pergi berburu di hutan. Kami sudah berusaha mencari tuan, namun keberadaan tuan seperti lenyap begitu saja, kami beruntung bisa menemukan Tuan tepat waktu.” Rida menjelaskan dengan perlahan agar Azuma bisa mengerti.
“Bagaimana aku bisa mempercayaimu?” Tanya Azuma masih tetap berdiri di sudut kamarnya. Kewaspadaannya masih belum menurun.
“Tuan ingat saat Tuan dikejar beberapa orang asing dihutan? Lalu ada seorang pria paruh baya yang menyelamatkan tuan? Itu adalah orang suruhan saya, karena harus melindungi tuan dari Joni, kami terpaksa membiarkan Tuan tinggal sedikit lebih lama di hutan, namum belakangan baru kami ketahui bahwa tuan tidak lagi tinggall di hutan.”
“Joni? Siapa dia?”
“Dia adalah paman Tuan, dia berusaha menyingkirkan tuan, supaya dia bisa mewarisi seluruh warisan Adi Wijaya.
__ADS_1
“Lalu dimana orang tuaku?”
“Kita akan pergi menemui mereka, namun sebelumnya tuan harus merapikan diri terlebih dahulu, silahkan ikut saya.” Rida berjalan keluar dari kamar, Azuma mengikutinya dari belakang. Beberapa pelayan telah mempersiapkan kebutuhan Azuma. Azuma terkesima dengan apa yang dilihatnya, rumah yang sangat besar, dipenuhi dengan ornamen yang terbilang mewah. Ada banyak permadani indah serta lampu-lampu hias yang sangat indah tergantung di ruangan itu. Azuma masih merasa asing, dia tidak tahu harus berkata apa, dia hanya mengikuti arahan Rida. Tidak butuh waktu lama Azuma sudah berubah menjadi pria yang sangat tampan. Rambut kepala dan wajahnya tercukur dengan rapi. Pakaian yang di kenakannya juga dirancang oleh desainer ternama. Kini Azuma sudah sepenuhnya berubah menjadi pria yang sangat tampan dan kelihatan berwibawa.
“Jangan sentuh itu!” Cegah Azuma saat seorang pelayan ingin melepas kalung pemberian Mei dari lehernya. Pelayan itu mundur ketakutan dan langsung meminta maaf.
“Kalung itu tidak cocok dengan pakainmu, kau harus melepaskannya.” Ujar Rida
“Daripada melepas kalung ini, aku lebih memilih untuk melepas pakaian ini, lagipula, jangan kira aku sudah percaya atas semua yang kau katakan tadi, bisa jadi kau hanya memamfaatkanku untuk sesuatu yang jahat., Jadi jangan pernah coba-coba untuk memerintahku” Ancam Azuma
“Sifat tuan mirip sekali dengan sifat ayah tuan. Baiklah, Tuan boleh memakainya, sekarang bisa kita pergi menemui orang tuan?” Tanya Rida sambil tersenyum. Azuma hanya diam tidak menyahut.
Rida membawa Azuma masuk kesebuah pemakaman. Disana banyak terdapat makam yang tersusun dengan teratus dan juga suasana yang bersih. Rida terus berjalan menyusuri beberapa makam yang bertuliskan nama-nama orang yang sudah dikebumikan, Azuma mengikutinya dari belakang. Beberapa saat kemudian merekan berhenti didepan sebuah makam yang bertuliskan nama Tanto Wijaya, nama ayah dari Azuma.
“Silahkan beri salam, ini makam dari ayah tuan” Ujar Rida sembari menunjuk ke arah makam yang ada di depan mereka.
Azuma berdiri melihat kearah makam yang ada di depannya. Entah perasaan apa yang harus dirasakan. Haruskan dia menangis di depan makam orang tua yang tidak pernah di kenalnya?
“ Bagaimana beliau bisa meninggal?” tanya Azuma setelah sekian lama terdiam
“Beliau mengalami sakit jantung, nyawanya tidak dapat tertolong karena tidak adanya donor yang cocok”
“Lalu ibuku?”
“Kami juga tidak tahu keberadaannya, setelah dia menerima sejumlah uang dengan syarat harus meninggalkan tuan, dia pergi entah kemana, sampai sekarang kami belum mendapat kabar tentang ibu tuan”
“ Jadi, maksudmu ibuku meninggalkanku demi sejumlah uang?”
“Begitulah keadaan yang sebenarnya tuan.” Jawab Rida
Azuma menghela nafas panjang, dia masih belum bisa menerima kenyataan pahit yang didengarnya. Untuk pertama kalinya dirinya bahagia karena akan bertemu dengan orang tuanya, namun yang di dapatnya adalah kenyataan pahit.
“Jika tuan sudah selesai, kita akan pergi menemui kakek tuan, Beliau sudah tidak sabar bertemu dengan tuan.”
“Kakekku?”
“Benar sekali tuan, mari kita temui beliau.”
“Aku masih ingin disini sebentar lagi”
“ Baiklah tuan, saya akan menunggu tuan dimobil” ujar Rida sambil melangkah pergi. Azuma kembali termenung, “ Sekarang, apa yang harus aku lakukan?” gumamnya pelan. Setelah beberapa lama, Azuma memutuskan untuk peegi dari tempat itu. Namun, entah dari mana ada seorang pria berpakaian hitam berjalan menubruknya.
“ Anda tidak apa-apa?” tanya Azuma
“Saya tidak apa-apa” jawab pria itu sambil menyembunyikan wajahnya. Namun sebelum pergi, dia menyerahkan secarik kertas kepada Azuma dan langsung berlalu pergi.
Azuma membuka kertas itu dan memeriksa apa yang tertulis di dalamnya. Ada sebaris kalimat yang tertulis di kertas itu. Dengan cermat Azuma membaca kalimat itu, karena dia tinggal dihutan sejak berumur delapan tahun, dia sudah tahu baca tulis, apalagi dia kerap membaca buku atau koran yang tidak sengaja ditinggalkan para pendaki sewaktu di hutan. Azuma terkejut dengan apa yang di bacanya, dengan cepat dia memasukkan kertas itu kedalam saku celananya.
__ADS_1