Badai Itu Pasti Berlalu

Badai Itu Pasti Berlalu
Masa transisi


__ADS_3

Sehari setelah aku mendapat kunci rumah baru, pagi harinya aku mengajak Didi untuk membersihkan rumah sebelum kami tempati.


Agak lumayan ribet kami membersihkannya karena ada beberapa barang milik sekolah yang tidak terpakai yang sengaja diletakkan di sana. Rupanya rumah itu berfungsi sebagai gudang sementara.


Namun karena rumah itu punya tiga kamar, maka barang-barang sekolah yang tidak terpakai itu kami letakkan khusus di satu kamar. Lagipula rumah dengan tiga kamar itu masih cukup luas bagi kami meskipun ada barang-barang milik sekolah yang disimpan disana.


Setelah kami berdua selesai membereskan dan membersihkan rumah itu, kami balik ke rumah kontrakan kami untuk mempersiapkan mengepak brang-barang yang akan kami bawa nanti.


Keesokan harinya dengan dibantu Didi, aku mulai mengemas semua barang-barang. Aku menargetkan dalam waktu satu hari penuh akan bisa selesai membenahi barang agar segera bisa diangkut semuanya hari itu juga. Lagipula barang-barang kami tidak terlalu banyak, sehingga tidak terlalu memerlukan waktu yang lama untuk mengangkutnya.


Sambil mengepak, pikiranku melayang ke masa lalu. Aku teringat saat masih kecil, ketika itu kami akan pindah ke rumah nenek. Waktu itu sekitar beberapa bulan setelah papa meninggalkan kami untuk yang terakhir kalinya.


Walaupun mama sangat sedih karena papa baru saja meninggal, namun mama dengan sangat tabah dan kuatnya, mengurus segala kepindahan kami pulang ke rumah nenek di luar kota, termasuk mengurus kepindahan sekolah kami, keempat putra putrinya, juga mengurus dan mengepak barang-barang yang harus kami bawa.


Aku ingat betul mama mengajari kami bagaimana cara mengepak barang agar ketika diangkut tidak akan pecah atau rusak.


"Bagaimana yang ini dik?" tanya suamiku sambil menunjuk setumpuk baju yang sudah aku keluarkan dari lemari.


"Iya nanti dulu. Aku mau carikan kotak yang agak besaran." jawabku tanpa menoleh ke arahnya.


Dari tadi aku melihat suamiku agak kebingungan tidak tahu harus bagaimana. Padahal kalau dia mau, dia bisa saja membantu mengepak televisi, atau mengeluarkan sofa atau barang-barang yang agak besar. Tapi entahlah, mungkin selama ini dia tidak pernah mengalami hal seperti yang sering aku alami. Atau kalaupun pernah, dia hanya bisa memerintah saja tanpa berusaha turun tangan untuk membantu.


Melihatnya kikuk begitu membuatku sedikit agak geregetan.


"Sudahlah mas, biar aja itu, kalau mas mau membantu, tolong saja pastikan mobil pengangkut barang itu kapan bisa datang " sahutku tak sabar.


"Oh ya ya ...." katanya sambil meraih ponsel dan mulai menelepon seseorang.


"Hhhh..." desahku tak sabar


"Sabar ma..." bisik Didi sambil mengejapkan matanya ke arahku.

__ADS_1


Sampai tengah hari aku dan anakku membereskan semuanya sambil menunggu kedatangan mobil pengangkut barang beserta sopir yang juga masih ada hubungan kerabat dengan suamiku.


Kurang lebih sekitar jam 14.00 barulah barang-barang yang kami kemas siap untuk diangkut ke 'rumah baru' kami.


Jarak antara rumah baru yang berlokasi di belakang sekolah itu tak jauh dari rumah kontrakan kami. Ada kira-kira sekitar lima ratus meter jauhnya. Lumayan dekat kalau ditempuh dengan jalan kaki saja. Hanya saja kami tetap harus menggunakan mobil angkutan, karena tidak mungkin bagi kami untuk mengangkut barang-barang kami dengan jalan kaki bukan?


Sehari penuh mengurusi kepindahan ini benar-benar melelahkan, namun aku sangat bersyukur dan menyadari bahwa Allah sungguh tidak meninggalkan kami..


Begitu juga aku sangat berhutang budi pada Pak Surya, karena telah menolongku keluar dari kesulitanku saat ini.


Aku tak tahu apa yang akan terjadi pada kami, seandainya beliau tidak menolongku memberikan tempat tinggal ini. Mungkin aku harus kesana kemari tak menentu.


Keesokan harinya saat aku berbenah menata barang-barang kepindahan kami, ada seorang wanita datang ke rumah baru kami dan menyapaku.


"Assalaamu'alaikum bu..."


"Wa'alaikumussalaam..." jawabku.


Aku memandang dan bertanya dalam hati siapa kira-kira wanita yang terlihat ramah dan berparas cantik itu.


"Maafkan juga saya bu. Tidak apa-apa di sini saja, di luar saja bu. Saya hanya kebetulan lewat dan sekalian ingin memperkenalkan diri. Nama saya bu Hani. Saya adalah guru di sekolah ini. Rumah saya ada dekat sini, di gang sebelah Timur sekolah ini juga." kata ibu itu menjelaskan seraya mengulurkan tangannya mengajakku bersalaman.


"Oh iya bu, perkenalkan juga, nama saya bu Dina. Kalau begitu silakan duduk di sini bu" kataku seraya menyambut uluran tangan ibu itu serta mempersilakannya duduk di bangku yang ada di teras depan rumah.


"Saya dengar ibu akan mengajar disini juga ya?" tanya nya.


"Benar bu, saya akan mengajar bahasa Inggris. Mohon bimbingannya nanti.." ujarku merendahkan diri.


"Insya Allah bu... sama-sama.


Oya bu. Saya dulu juga pernah tinggal di tempat ini lho, sebelum saya punya rumah yang sekarang ini."

__ADS_1


"Benarkah itu bu? Berapa tahun ibu tinggal di sini?" tanyaku tak menyangka.


"Yaa kurang lebih sekitar empat atau lima tahun saya di sini sebelum saya punya rumah sendiri." jawabnya.


"Begitu ya bu?"


"Ya bu benar, dan tahukah ibu, konon kata orang, siapapun yang tinggal di perumahan ini, insya Allah suatu saat entah tiga empat tahun dan paling lama sepuluh tahun bakal punya rumah sendiri."


"Benarkah itu bu??" tanyaku tak percaya.


""Iya buu..insya Allah begitu...dan sudah banyak yang mengalaminya termasuk saya sendiri. Insya Allah ibu pun demikian nanti."kata bu Hani meyakinkanku.


"Ah ..kalau begitu semoga saja satu saat nanti saya juga begitu bu, saya juga ingin punya rumah sendiri nantinya." kataku.


"Tentu bu, siapa sih yang tidak ingin punya istana sendiri. Tapi paling tidak untuk sekarang ini ibu masih diberi kesempatan untuk meraih saat itu tiba." katanya sambil tersenyum dan memegang tanganku memberikan harapan.


Aku mengangguk mengiyakan kata-katanya.


"Baiklah bu, kalau begitu saya permisi aja dulu. Tadinya saya akan belanja di warung dekat sini." jawabnya sambil menyalamiku.


"Terima kasih bu. Kapan-kapan mampir lagi ya."


"Iya bu, ibu juga kapan-kapan main ke rumah saya ya." katanya sambil tersenyum.


"Kalau ibu butuh sesuatu, katakan saja bu, siapa tahu saya bisa membantu." katanya lagi


"Iya bu, terima kasih atas tawarannya." jawabku sambil menganggukkan kepala.


Kemudian bu Hani segera beranjak pergi.


Setelah kepergian ibu Hani, kata-kata bu Hani kembali terngiang di otakku seakan begitu mempengaruhi aku. Aku membayangkan suatu saat nanti aku akan punya rumah sendiri.

__ADS_1


Tapi untuk saat ini aku hanya bisa menghayalkan hal itu. Masa depanku baru saja kumulai. Tapi paling tidak kata-katanya itu yang akan selalu menyemangati hari-hari yang akan kulewati ke depannya.


Sambil menarik nafas panjang, aku kembali melanjutkan aktivitasku menata rumah, rumah dinas yang aku tempati saat ini bersama anak dan suamiku untuk beberapa tahun ke depan.


__ADS_2