
Tidak mudah bagiku memulai hidup baruku di tempat yang benar-benar asing bagiku, baik dari segi budaya maupun bahasa. Hanya saja karena sejak kecil aku sudah terbiasa berpindah rumah dari satu kota ke kota lainnya disebabkan karena pekerjaan almarhum papa yang engharuskan demikian. Jadi aku sudah sering mengalami hal-hal baru.
Namun yang berbeda kali ini aku harus menghadapi sendirian hanya bersama anakku. Aku harus benar-benar kuat. Ya Allah, sanggupkah aku?
Semua tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya. Aku tak diijinkan bekerja oleh suami baruku. Selama ini aku sudah terbiasa berkutat dengan aktivitas mengajar, namun kali ini yang kulakukan hanya seputar belanja, memasak, mencuci, membersihkan rumah dan duduk manis di samping suamiku sambil menonton televisi. Bisa dibayangkan betapa monotonnya hidupku!
Bahkan untuk kebutuhan sehari-hari saja aku benar-benar harus menggantungkan diri padanya. Aku diharuskan pula mencatat pengeluaran kami dalam buku catatan yang selalu diperiksanya setiap aku selesai membelanjakan uang darinya.
Dalam beberapa bulan aku masih bisa mentolerirnya, namun setelah sekian lama aku jadi jenuh dan merasa tak tahan lagi. Seakan dia tak punya rasa kepercayaan padaku. Mungkin dipikirnya aku menghabiskannya dengan sia-sia untuk anakku.
Di awal aku berharap dia bisa menyayangi anakku seperti dia menyayangi anak kandungnya sendiri. Namun setelah sekian lama, aku merasa ada yang aneh. Dia tak pernah membiarkan aku berlama-lama bercanda dengan anakku.
Setiap kali aku mengobrol dengan anakku, dia selalu memanggilku untuk duduk di sebelahnya sambil menonton televisi. Baru berjalan tiga tahun aku hidup bersamanya, aku sudah hampir tak tahan. Kesukaannya menonton berita membuatku sangat bosan. Aku merasa hidupku seakan kehilangan warna. Sehari dua mungkin masih bisa aku ikuti kemauannya. Namun lama kelamaan aku selalu beralasan kepalaku sakit setiap kali dia mengajakku menonton berita bersamanya.
Kebiasaannya yang aku anggap perfeksionis, seperti kalau meletakkan barang apapun harus teratur, kembali ke tempatnya, membuatku benar-benar tersiksa. Baik sih baik, tapi terkadang itu membuatku terganggu, seolah dia tak bisa mentolerir sedikitpun kesalahan.
"Meletakkan sandal atau sepatu yang rapi, seperti ini." ujar suamiku membenarkan posisi sandalku ketika aku masuk rumah. Aku hanya menolehnya sekilas sambil mendesah.
"Lagi-lagi itu." keluhku dalam hati.
"Kali ini hampir satu jam adik pergi, sudah kemana saja tadi?" tanyanya seolah menginterogasiku.
__ADS_1
"Tidak ada. Cuma jalanan agak macet tadi. Ada demo di depan kantor walikota." sahutku datar. Aku sedikit melirik melihat raut mukanya yang seolah tak percaya dengan jawabanku.
"Kenapa hp nya tadi tidak bisa mas hubungi?" tanyanya lagi.
"Iya, tadi habis baterei lupa dicas semalam," kataku.
Aku berbohong. Sebenarnya tadi aku sudah mampir di rumah teman baru. Memang sengaja aku matikan hp agar suamiku tidak bisa menelpon, karena aku tahu betul, telat sedikit saja nyampai rumah pasti dia akan menelponku sampai puluhan kali.
Aku tidak tahu kenapa dia bertindak seposesif itu. Apakah itu karena dia sangat mencintaiku atau karena hal lain.
Namun sampai sejauh ini aku bersamanya, dia tidak pernah menyinggung tentang janjinya yang pernah dibuat di awal pernikahan kami.
Saat itu aku tahu, suamiku tak punya uang untuk mencari kontrakan lain. Kelihatannya kondisi keuangannya tidak begitu baik akhir-akhir ini. Dia berencana mengajakku pindah ke luar kota.
"Dik, kita pindah saja ke luar kota. Kita jual saja barang-barang berat yang tidak bisa kita bawa, seperti sofa, lemari atau tempat tidur." katanya sambil memegang tanganku.
Aku cuma terdiam sambil berpikir, bagaimana dengan anakku? Aku tak yakin anakku akan menyetujui hal ini.
"Apa tidak ada jalan lain?" tanyaku.
"Maaf dik, untuk sementara belum ada."
__ADS_1
Otakku berputar keras, dan terlintas sebuah rencana dalam hatiku.
Aku meninggalkan suamiku dan segera menuju kamar anakku dan menceritakan apa yang baru saja dikatakan suamiku.
"Nak, bapak ingin mengajak kita pindah ke luar kota, bagaimana menurutmu?" tanyaku hati-hati
Anakku melihat ke arahku dengan pandangan yang memprotes.
"Aku nggak mau ma. Kalau mama mau ikut bapak, ikut saja."
"Baiklah nak, sebenarnya mama juga tidak setuju. Mama akan coba cari pekerjaan diam-diam." ujarku.
"Maksud mama?"
"Iya, kata Nia, anak yang di sebelah rumah kita ini, ada lowongan untuk guru di sekolahnya. Mama akan coba tanyakan kepastiannya."
"Bagaimana caranya Ma?"
"Mama akan ajak Nia ke rumah kepala sekolahnya untuk memastikan ini. Kalau memang benar, sekalian mama akan tanyakan rumah dinas yang ada di belakang sekolah Nia itu apakah ada yang kosong yang bisa kita tempati. Kalau memang ada, ma'am juga akan memohon untuk bisa kita tempati setelah pasti mama diterima mengajar di sana. Tolong doakan mama ya nak?"
"Kalau memang begitu, Didi doakan ma, semoga ada jalan." kata Didi anakku satu-satunya.
__ADS_1