Badai Itu Pasti Berlalu

Badai Itu Pasti Berlalu
Pertolongan tak terduga


__ADS_3

"Assalaamu'alaikum..." ucapan salam kulepas begitu sesampainya kami di rumah bapak kepala sekolah Nia.


"Wa'alaikumussalaam...siapa ya??" Seorang laki-laki tinggi besar dan berkulit sawo matang keluar rumah menjawab salamku.


"Maaf, apakah bapak ini bapak Surya?" tanyaku memastikan.


"Betul. Ibu siapa ya?"


"Maaf, saya ini tetangganya adik Nia,...murid bapak." kataku sambil mengulurkan tangan dan menunjuk ke arah Nia.


"Oya....silakan duduk bu...apa yang bisa saya bantu?" kata Pak Surya mempersilakan kami duduk.


"Maaf bapak, apa benar di sekolah bapak sedang membutuhkan tenaga pengajar bidang studi bahasa Inggris? Kalau memang benar, bisakah saya mohon Bapak untuk menerima saya bekerja di sekolah bapak?"


"Oya...betul sekali...Apakah ibu lulusan Pendidikan Bahasa Inggris?"


"Maaf Pak, sebenarnya saya masih sampai semester lima, tapi saya sangat berharap bapak bisa menerima saya, nanti sambil saya mengajar saya harap saya bisa lanjutkan sampai saya wisuda...dan kalau di sekolah Bapak ada tempat tinggal yang bisa saya tempati untuk sementara, saya mohon Bapak bisa mengijinkan saya menempatinya karena saat ini saya tidak punya tempat tinggal..."


Sejenak Pak Surya menatapku terkejut, namun tak lama kemudian beliau tersenyum.


"Iya bu... alhamdulillaah kebetulan di sekolah kami belum ada guru bidang studi bahasa Inggris. Bisa ibu nanti mulai mengajar di semester dua ya? Nanti sambil jalan, ibu bisa melanjutkan kuliah ibu. Begitu pula kalau ibu membutuhkan tempat tinggal, kebetulan ada satu lokasi rumah dinas yang ada di belakang sekolah kami itu, tapi mungkin nanti perlu sedikit dibersihkan saja, silakan nanti ibu bisa pakai." ujar Pak Surya.


Seketika itu juga aku dan Nia saling berpandangan. Aku hampir tak percaya mendengar penjelasan Pak Surya barusan.


"Benarkah yang Bapak katakan ini?" tanyaku menegaskan.


"Iya bu, benar. Oya, kapan ibu berencana mau menempati rumah itu?"


"Ya..Allaah ..alhamdulillaah...terima kasih Pak Surya, semoga Allah membalas kebaikan Bapak...jazakumullaahi Khairan katsiraa..."ujarku, dan tak terasa air mataku berlinang. Aku sangat bersyukur, Allah tidak meninggalkanku.

__ADS_1


"Baiklah bu...saya harap minggu depan ibu sudah bisa mulai mengajar.." kata Pak Surya lagi.


"Insya Allah Pak...sekali lagi terima kasih, Pak.. kami mohon diri dulu.. assalaamu'alaikum.."


"Wa'alaikumussalaam..."


Aku dan Nia berpamitan Dan segera meninggalkan rumah Pak Surya.


Sesampai di rumah, aku tak menemukan suamiku. Aku langsung menghampiri anakku dan menceritakan hasil pembicaraanku dengan Pak Surya.


"Syukur alhamdulillaah Ma...jadi kapan kita akan membereskan barang-barang kita ini?" Tanya Didi.


"Sebentar, mama lupa menanyakan soal kunci rumah itu. Mama pikir kita harus membersihkan dulu rumah itu sebelum kita berkemas. Mungkin besok siang mama akan ke rumah Pak Surya lagi untuk menanyakan kunci rumah itu. Tadi saking senangnya, mama sampai lupa menanyakan hal itu." kataku.


"Bagaimana rencana bapak yang katanya mau ajak mama pindah kemarin? Apa bapak sudah tau Ma?" Tanya Didi.


"Belum." jawabku.


"Ya enggak mau laa. Ngapain mama mau diajak pindah tapi nggak jelas mau kemana. Apalagi kamu nggak mau ikut. Lebih baik mama di sini aja sama kamu." tegasku.


"Apakah itu tidak apa-apa, ma?" tanya Didi memastikan.


"Tentu saja. Mama sangat ingin sekali melanjutkan keinginan mama mengajar seperti yang dulu mama lakukan di tempat yang lama. Jadi kalau bapak tidak setuju, mama akan menanyakan dulu apa alasannya, apalagi bapak belum bisa memberikan yang terbaik buat kita seperti janjinya dulu." ujarku meyakinkan anakku.


"Kalau memang begitu mau mama, Didi cuma bisa mendukung aja ma. Semoga apa yang mama usahakan mendapat kemudahan."


"Aamiin..."


Tak lama setelah kami berbincang-bincang mengenai rencanaku mengajar itu, suamiku pulang entah dari mana.

__ADS_1


"Sudah kemana tadi, Mas?" tanyaku.


"Ya, mas baru saja keliling mencari tempat kontrak yang baru." ujarnya.


"Sudahlah, itu tidak perlu."


"Kenapa?"


"Aku sudah dapat tempat baru."


"Dimana itu? Bagaimana bisa?" tanyanya heran.


"Aku akan mengajar di sekolah yang ada di sebalah barat dusun ini. Dan di sana kepala sekolahnya sudah memberiku ijin menempati rumah dinas yang ada di belakang sekolah itu."


Wajah suamiku langsung mengerut setelah mendengar penjelasanku. Aku tidak bisa mengartikan apakah dia tidak mengerti dengan perkataanku ataukah dia tidak menyetujuinya.


"Kalau mas tidak setuju atau tidak suka, aku akan tetap dengan niatku untuk mengajar. Paling tidak ini adalah keadaan yang jelas untuk saat ini, daripada aku harus ikut kesana kemari yang tak jelas." ucapku lugas.


Suamiku mendehem kemudian berkata, "Baiklah dik kalau itu keinginanmu, mas ikut saja. Kapan kita akan pindah. Oh ya siapa nama kepala sekolahnya itu?"


"Pak Surya. Surya Atmaja."


"Oo...itu kalau tidak salah masih ada hubungan kekeluargaan dengan mas. Coba nanti mas telpon beliau." katanya.


"Untuk apa?" tanyaku tak suka.


"Tidak ada, cuma memastikan saja dan sambil silaturrahim Beliau sangat baik orangnya." jawabnya.


"Aku tidak mau mas ngomong yang tidak-tidak nanti." tegasku.

__ADS_1


"Tidak, jangan khawatir dik. Kalau perlu mas akan mengucapkan terima kasih padanya. Kapan-kapan kita akan pergi ke rumahnya sama-sama dan bawakan oleh-oleh untuk keluarganya." katanya menghapus rasa curigaku.


"Baiklah, terserah mas kalau begitu, asal jangan sampai mas melarang niatku mengajar." kataku sambil berlalu ke arah dapur.


__ADS_2