
"Mama...kemana kita harus pergi setelah rumah kita terjual?" Tanya anakku dengan pandangan yang mengiris hatiku.
Aku memeluknya dengan erat, dan tanpa dapat kubendung airmataku yang menggenang ingin mendesak keluar.
"Sabar ya dik...mama sedang mencari jalan keluar. Sementara kita tinggal dulu bersama nenek. Hmm??"
Aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku, selain memeluk anakku seakan tak ingin melepasnya.
Aku tahu situasi ini sangat sulit bagiku. Aku memilih tinggal bersama mantan mertuaku, daripada tinggal bersama orangtua kandungku. Ada alasan kenapa aku lebih memilih tinggal bersama ibu dari ayah anakku. Selain karena ibu mertuaku itu sangat menyayangiku dan yang sebenarnya tak menginginkan kami bercerai, aku kurang nyaman tinggal bersama mama karena kami berbeda keyakinan. Anakku juga lebih senang dan nyaman tinggal bersama ibu dari ayahnya. Jadi aku lebih baik tinggal bersama mantan ibu mertuaku karena tak mau berjauhan dengan anakku, sementara kami akan mempersiapkan pindah ke tempat yang baru.
Selama satu bulan lebih aku tinggal bersama mantan ibu mertuaku, dan selama itu aku tidak pernah bertemu dengan ayah anakku. Aku sudah berlapang dada dengan perpisahan kami, meskipun dia tidak memberi nafkah anakku. Biarlah semua ini aku mencari jalan untuk tetap bisa bertahan dan membesarkan anakku dengan caraku walaupun harus hijrah sekalipun.
Biarpun aku sangat diterima tinggal bersama ibu mertuaku itu, ternyata berlawanan dengan mamaku yang tidak bisa menerima keputusanku. Mama merasa sikapku ini tidak pantas karena aku sudah bercerai dengan ayah anakku. Tapi aku tidak punya pilihan. Toh ini juga hanya sementara, menunggu sampai rumahku laku terjual entah dengan harga berapapun.
Sebenarnya aku tidak tega karena nampaknya anakku sangat menyayangi rumah kami. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa karena aku tidak mungkin menahannya karena desakan hutangku yang terlalu berat kutanggung sendiri akibat tidak bertanggung jawabnya mantan suamiku itu.
Terlebih lagi beberapa orang dari rekan kerjaku menganggap aku tidak ada itikad baik untuk mengembalikan uang mereka yang aku pinjam. Bahkan mereka mencoba mengancamku untuk melaporkan aku ke polisi.
Semua sikap para rekan kerjaku itu sangat membuatku kecewa. Aku tak menyangka kalau mereka menganggapku seperti seakan aku maling yang sudah membawa lari uang mereka.
Salah seorang teman baikku bahkan tak mau memberikan nomor rekeningnya agar bisa mentransfer uang yang aku pinjam dari mereka dengan alasan takut rekeningnya aku bobol. Bukankah itu sangat konyol??
__ADS_1
Aku juga tidak mungkin merengek kepada mama atau adik-adikku. Masalah yang kuhadapi ini harus kuselesaikan sendirian walaupun harus mengorbankan rumah yang menjadi tempat tinggal aku dan anakku selama ini. Aku ingin segera terlepas dari jerat masalah dan segera hijrah ke tempat yang baru.
"Assalaamu'alaikum...bagaimana kabarnya mbak?" temanku Rani meng-sms-ku.
"Wa'alaikumussalaam...ya Rani, alhamdulillaah baik."
"Bagaimana rumahnya mbak...udah ada yang nawar?" tanyanya.
"Iya ini masih lagi proses. Sudah ada yang nawar dan mau proses ini. Doakan ya Rani."
"Terus bagaimana rencana mbak selanjutnya? Jadi mbak pindah ke tempat calon suaminya mbak?" Tanya Rani lagi.
"Insya Allah Rani...Doakan aja mbak." kataku.
"Aku belum tahu Rani. Tapi satu hal, dia berjanji untuk bisa membuatku bahagia, meskipun aku belum bisa mencintainya."
"Bukankah dia sudah beristri mbak?" kejar Rani.
Aku menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Rani.
"Benar, Rani."
__ADS_1
"Tapi kenapa mbak? Apa mbak tidak mau mempertimbangkan dulu?"
"Mungkin lebih baik aku menerima pilihan ini Rani, karena aku nggak mungkin tinggal di sini lagi. Aku ingin memulai hari di tempat Dan suasana yang baru."
"Tapi tempat itu terlalu jauh mbak. Aku akan sangat merindukan mbak. Mbak juga tidak punya keluarga di sana."
"Jangan lupa Rani...Ada Allah yang insya Allah selalu bersama kami." kataku lugas.
"Ayolah mbak pikirkan lagi." rengek Rani.
"Maaf Rani, mungkin ini sudah jalanku. Doakan saja kami supaya di tempat baru nanti kami bisa hidup lebih baik."
Benar..apapun yang akan terjadi di masa yang akan datang, aku tak akan mundur atau kembali menoleh ke belakang untuk menyesalinya.
Aku tahu bahwa yang tak bisa kulakukan adalah hanya merepotkan orang lain. Aku harus memulai jalan hidup kami yang baru meskipun itu masih samar.
Aku bahkan tidak ingin berpamitan dengan mama karena khawatir mama akan menahanku atau melarangku untuk pergi.
Aku hanya mengirim sms ke adik iparku untuk menyampaikan pada mama jika beliau menanyakanku suatu saat nanti.
Aku bertekad untuk meninggalkan semua kenangan buruk ini. Bukan berarti aku mendendam terhadap apa yang sudah mereka lakukan padaku. Tapi aku ingin melupakan semua yang sudah amat sangat membuatku sedih dan kecewa.
__ADS_1
Biarlah aku mengalah dengan cara meninggalkan kota kelahiranku ini, meskipun ke depannya masih banyak tantangan yang akan aku hadapi. Aku sangat yakin Allah tidak akan meninggalkan kami.