
"Kaget? Ya...itulah kondisiku sampai saat ini.."
"Kamu membuatku speechless Din..."
"Sampai saat ini aku hanya sebagai istri muda yang tak punya hak apapun." tambahku.
"Meskipun begitu, aku tak mau menyerah begitu saja. Memang, aku tidak akan membuatnya menepati janjinya. Tapi aku mencari jalan lain agar aku tetap bisa bertahan dengan situasiku sekarang ini."
"Maksudmu?"
"Ya, aku sudah tak ada harapan lagi ke depannya untuk tetap bersama dia sampai salah satu dari kami menghadapNya. Seharusnya sejak awal aku tidak boleh menerima tawarannya untuk menikahinya. Tapi apa boleh buat, aku terpaksa mengambil keputusan ini karena aku sudah tak mungkin lagi bertahan dengan kondisiku saat itu. Menurutku hijrah saat itu lebih baik daripada aku bertahan dengan situasi yang sangat menekanku."
"Situasi apa maksudmu Din?"
"Seperti yang sudah kubilang, aku tidak bisa kembali ke keluargaku dengan kondisi seperti yang sudah aku ceritakan."
"Sampai kapan kamu akan bertahan Din?"
"Entahlah, aku cuma berharap semoga ada mukjizat bagiku,"
Untuk beberapa saat chat kami terhenti. Aku menunggu apa yang akan dikatakan Hendi. Apa kira-kira yang ada dalam pikirannya.
Aku berjalan menuju tempat parkir dan berniat segera pulang, ketika tiba-tiba ponselku kembali bergetar.
__ADS_1
"Apa yang akan kamu lakukan setelah tahu situasimu sekarang ini Din? Maksudku, apakah kamu punya rencana?"
Aku berpikir sejenak sebelum membalas chat Hendi.
"Jujur aja, aku belum tahu apa yang akan aku lakukan. Aku hanya akan mengikuti skenarioNya aja."
"Din...seandainya dulu kita sempat bertemu..."
Kata-kata Hendi membuatku termenung untuk sesaat.
"Memangnya kenapa?"
"Setelah lulus SMP dulu kamu melanjutkan kemana Din?" tanyanya tanpa menjawab pertanyaanku.
"Apa itu Din...Kalau boleh tahu?"
"Ya... aku ingin sekali hijrah saat itu."
"Maksudmu Din?"
"Ya...aku benar-benar sangat ingin sekali menjalankan ibadah sebagai seorang muslimah. Sedangkan saat itu bibi yang merawatku tidak suka dengan pilihanku. Jadi aku terpaksa harus meninggalkannya kembali pulang." jelasku.
"Tapi bukankan orang tuamu saat itu juga...?"
__ADS_1
"Memang sih... tapi saat itu aku mencoba dengan cara diam-diam."
"Mmm... jadi?"
"Awalnya keluargaku keberatan memang. Tapi aku menunjukkan kalu di Bidang akademik nilaiku tidak mengecewakan mamaku. Saat itu papa sudah mendahului kami menghadapNya. Jadi bagiku saat itu tidak terlalu sulit untuk mencapai tujuanku menjadi muslimah yang aku inginkan"
"Tunggu Din...apa kamu sudah punya pacar waktu itu??" Tanya Hendi, seolah penasaran.
"Maksudnya??" Tanyaku bingung.
"Maksudku...apa yang membuatmu ingin hijrah itu. Siapa tahu ada pengaruh dari seseorang, misalnya pacar..." Jelasnya.
"Ya enggak laa.. Memang sejak kecil aku sudah punya keinginan untuk menjadi muslimah. Hanya saja karena almarhum papa sangat otoriter, aku tidak punya keberanian untuk itu."
"Mm...pantas waktu itu aku sudah mencoba mencari keberadaanmu, dan kemana kira-kira kamu mendaftar SMA..tapi nihil. Ternyata kamu sudah kembali pulang ke kotamu."
"Apa kamu benar-benar mencariku Hen?" tanyaku ingin tahu.
"Benar Din .. akhirnya aku cuma bisa berharap satu saat bisa bertemu denganmu lagi. Dan alhamdulillaah saat itu akhirnya datang. Meskipun saat ini baru sebatas ini. Tapi aku sangat senang." Ungkap Hendi.
Pengakuan Hendi membuatku terdiam beberapa saat, bahkan aku merasa malu menanyakan kenapa dia sampai mencari keberadaanku saat itu. Kata-kata Hendi seakan mengisyaratkan sesuatu yang membuat hatiku tersentuh sekaligus membuat dadaku sesak.
Siang ini aku ingin segera sampai rumah. Kepalaku sangat sakit, sehingga aku ingin sekali segera merebahkan badanku di kasur. Entah kenapa kata-kata Hendi tadi di samping membuatku senang, namun di sisi lain sangat membuatku merasa sedih.
__ADS_1
Jujur saja, aku merasa seakan bagaikan remaja yang baru saja mengenal perasaan cinta. Entah kenapa memikirkan kata-kata Hendi membuatku ingin kembali ke masa lalu.