
Matahari pagi menyemburat keemasan mengiringi hari pertamaku mengajar di sekolah ini.
"Assalaamu'alaikum, selamat pagi bu guru.." sapa seorang gadis sekitar umur 9 tahun sambil menyalamiku.
"Wa'alaikumussalaam...selamat pagi juga." balasku sambil tersenyum.
"Sstt....Ibu guru baru itu..." kudengar bisik-bisik murid-murid di belakang gadis yang menyapaku tadi.
Dari arah yang berlawanan, Nia, anak yang kukenal di sebelah rumah kontrakan lamaku, menghampiriku seraya mengucap salam, "Assalaamu'alaikum bu guru Dina.."
"Wa'alaikumussalaam Nia..."
"Eh teman-teman, kenalkan ini guru baru kita yang akan mengajarkan bahasa Inggris di sekolah kita, namanya bu guru Dina. Ayo kalian beri salam donk." Nia dengan cerianya memperkenalkan aku kepada teman-temannya.
"Assalaamu'alaikum bu guru Dina..!" ujar teman-teman Nia bersamaan.
"Wa'alaikumussalaam anak-anak." jawabku sambil tersenyum.
Saat itu juga terdengar bel masuk berbunyi, tanda sekolah akan dimulai. Kebetulan saat itu hari Senin, hari pertama anak-anak masuk sekolah setelah liburan semester pertama usai.
Anak-anak murid bergegas lari ke halaman sekolah, mereka berbaris sesuai dengan urutan kelas. Pagi ini mereka akan mengadakan upacara setiap hari Senin. Hari ini adalah upacara pertama setelah kurang lebih dua minggu mereka libur sekolah.
Pak Surya, kepala sekolah saat itu bertindak sebagai pembina upacara, dan di tengah-tengah amanat upacara beliau menyampaikan kepada murid-muridnya, bahwa ada seorang guru baru yang akan mengajar mereka.
Dalam amanatnya Pak Surya memperkenalkan aku kepada mereka bahwa aku akan mengajar mereka bidang studi Bahasa Inggris mulai dari kelas 4 sampai dengan kelas 6.
Ternyata bukan cuma aku saja yang diterima Pak Surya sebagai guru baru di sini.
Ada juga guru bahasa Inggris yang lain yang usianya jauh lebih muda dari usiaku, dan guru tersebut akan mengajarkan Bahasa Inggris dari kelas 1 sampai dengan kelas 3.
Belakangan aku tahu, bahwa Pak Surya adalah orang yang sangat baik, tidak sanggup melihat orang lain susah, sehingga beliau tetap menerima permohonanku untuk mengajar di sekolah itu, meskipun sebenarnya beliau sudah menerima permohonan guru yang lain.
Mengetahui hal ini aku merasa sangat tidak enak hati dan serba salah. Apalagi ada beberapa rekan guru yang memandangku dengan sebelah mata. Mudah-mudahan ini hanya perasaanku saja.
__ADS_1
Aku menyadari, sebagai guru bidang studi, apalagi bidang studi Bahasa Inggris, aku hanya mendapatkan dua jam perminggunya per kelas. Tentunya akan ada banyak waktu luang bagiku.
Namun aku bukanlah orang dengan tipe suka menganggur di sela-sela waktu luang.
Demi menghapus kesan negatif karena aku hanya sebagai guru pelengkap saja, aku berusaha keras agar aku bisa banyak berdaya dan bermanfaat bagi sekolah ini.
Siang itu, selesai aku mengajar di kelas empat, aku menuju ruang guru dan kulihat dua buah meja ruang guru yang polos dan tidak bertutup taplak meja.
Aku memeriksa sekeliling berharap menemukan sesuatu yang bisa dijadikan taplak. Namun aku hanya menemukan selembar taplak besar namun tidak cukup luas untuk menutupi dua meja yang panjang itu.
Saat bersamaan ada seorang bapak berusia paruh baya memasuki ruang guru.
"Assalaamu'alaikum,,selamat siang bu Dina.." sapa bapak itu
"Wa'alaikumussalaam..selamat pagi juga bapak. Maaf...dengan bapak siapa..??" tanyaku.
"Perkenalkan, saya Pak Abdi Nugroho. Cukup dipanggil Pak Abdi saja." ujarnya sambil tersenyum.
"Oh..ya. Pak Abdi. Bapak mengajar di kelas berapa ya? tanyaku.
"Maaf bapak kalau boleh saya tanya, apakah bapak tahu ada taplak meja yang lain? Karena saya lihat taplak yang ini tidak cukup untuk menutupi meja yang panjang ini."
"Ooo ..anu bu Dina...memang taplak meja ini bukan taplak yang semestinya. Karena meja guru ini baru-baru diganti oleh bapak kepala sekolah. Jadi tentu saja tidak muat." jelas Pak Abdi.
"Terus ... meja ini belum ada taplaknya ya pak? Kalau meja yang sebelumnya dimana Pak?" tanyaku lagi.
"Meja guru yang lama ada di ruang kepala sekolah."
"Oo begitu ya pak. Maaf, kalau begitu, bolehkah saya permak taplak meja yang ini supaya bisa cukup untuk menutupi meja yang panjang ini?" tanyaku meminta ijin.
"Oh .. bu Dina bisa menjahit?" tanya Pak Abdi.
"Ah... ya...bisa Pak. Cuma saya tidak punya mesin jahit. Inipun kalau saya mau permak, mungkin cuma pakai jahit tangan dengan cara jelujur saja Pak." jawabku.
__ADS_1
"Kalau memang bu Dina mau, coba tanyakan ke bu Widi, guru agama, siapa tahu masih ada mesin jahit kepunyaan desa yang biasa disewakan. Ibu nanti bisa menyewa mesin jahit itu dengan membayar sewa per bulan. Bu Dina bisa menjahit menggunakan mesin, bukan?" tanya Pak Abdi.
Mendengar kata-kata Pak Abdi aku sangat senang.
"Ya pak...saya bisa. Tapi benarkah saya bisa meminjam mesin jahit itu?" tanyaku.
"Iya bu, tapi coba pastikan dulu apakah mesin jahit itu masih ada." ujar Pak Abdi.
"Baiklah Pak, nanti saya tanyakan ke bu Widi." jawabku bersemangat.
"Oya bu, nanti kalau memang mesin jahit yang disewakan itu masih ada, bisa saya minta tolong?"
"Ya pak...apa itu?"
"Saya punya beberapa kemeja yang kebesaran, bisa nanti saya minta tolong bu Dina mengecilkannya? Nanti ada contohnya supaya ibu ikuti ukurannya sesuai contoh. Tapi itu nanti setelah bu Dina dapat kepastiannya."
"Iya pak, Insya Allah. Sekarang saya mau menanyakan dulu ke bu Widi." jawabku.
Aku bergegas pergi meninggalkan ruang guru untuk mencari Bu Widi.
Setelah mencari beberapa lama, akhirnya kutemukan beliau ada di ruang koperasi.
"Assalaamu'alaikum Bu Widi."
"Wa'alaikumussalaam..oh bu Dina, ada yang bisa saya bantu?"
"Begini bu... benarkah ibu ada mesin jahit di rumah yang bisa disewakan? Kalau benar ada, bolehkah saya menyewanya?"
"Oo benar bu...kebetulan mesin jahit itu masih ada tinggal satu buah. Mesin itu milik desa dan dikaryakan kepada warga yang membutuhkan dengan sistim sewa per bulan. Jadi kalau memang bu Dina membutuhkan, silakan bu Dina ambil ke rumah nanti sore." ujar bu Widi.
"Kalau boleh tahu, berapa sewanya tiap bulan bu?"
"Tidak mahal, cuma lima ribu saja."
__ADS_1
"Alhamdulillaah cukup murah bu, dan saya rasa insya Allaah saya sanggup membayarnya sebesar itu." sahutku.
Aku sangat senang dan merasa bersyukur dengan adanya mesin jahit itu, aku bisa mencari penghasilan sampingan nanti, karena hanya mengandalkan honorku sebagai guru tidak tetap tentunya tidak akan cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari kami. Aku berharap dengan adanya mesin jahit pinjaman ini sedikit banyak akan sangat membantu.