
“Lagi ngeliat apaan seh ‘yang? Serius bener?” tanya pasanganku lirih sambil mengintip dari balik punggungku. Tubuhnya yang beraroma sabun dan shampo yang menyegarkan terasa menempel di bagian belakang tubuhku. Kami baru saja kembali dari pekerjaan masing-masing tadi, dia yang seorang guru SLTP sebuah sekolah swasta berakreditasi A di tengah kota Jakarta dan aku bertugas di Satpol PP Pemprov. DKI Jakarta.
Setelah aku berpakaian santai (kami sempat mandi bersama tadi, bergantian saling menggosok punggung pasangan dan tentunya bagian-bagian tubuh yang lainnya juga), aku membuka laptop dan HP bersamaan sambil duduk di ruang makan ini. Aku menelusuri beberapa sosial media yang ada dalam rangka mencoba mencari ide untuk meneruskan penulisan novel HIDUP, yang untuk beberapa saat ini seakan mati suri, dilanjutkan segan namun dihapuskan pun enggan.. ;p
Lalu saya merasakan belaian tangannya mulai aktif bergerilya, bergerak lembut mulai dari arah atas ke bagian bawah, mencoba menarik perhatian saya sepenuhnya hanya kepadanya seorang. Dengan senyum terkulum saya bertanya: “Lagi kambuh ya narsisnya? Masih terus merasa haus untuk selalu jadi pusat perhatian ya?” sambil menikmati usapan dan remasan tangan terampilnya.
“Salah kah?” tanyanya dengan suara mendesah tepat di depan telingaku, meremangkan bulu roma dan meningkatkan ketegangan tubuh ini dengan sangat efektif, karena selanjutnya tengkuk saya mendapatkan stimulus dari kecupan-kecupan yang terkadang ringan namun sekali waktu cukup keras.
“Mau lanjut kegiatan yang di kamar mandi tadi?” tanyaku kemudian, sengaja menolehkan wajah untuk memberikan akses maksimal baginya ke bibirku dan mencoba menikmati ******* dari bibirnya secara optimal.
Lalu tiba-tiba tubuhnya menjauh dari tubuhku, mendekati pantry dan berkata lirih dengan gaya menggoda: “Tidak terima kasih.. aku masih aga lapar, tapi malas pesen antar, jadi mau masak makan malam buat kita sayang.. tadi aku cuma mau tau aja kamu kog serius banget ngeliatin laptop dan HP.. ada berita apa memangnya?”
__ADS_1
Terbiasa dengan gaya dan sikapnya yang suka ‘play hard to get’¹ aku hanya kembali tersenyum, menenangkan diri dan menjawab: “Ini cuma lagi liat-liat medsos saja.. ada seorang Purna Praja bernama Adi Dassel, yang lagi curhat soal kisah kasihnya waktu masih jadi Praja dulu di Medsos. I find it interesting to be my next novel in NT².. yah paling enggak sambil menunggu ide-ide baru buat novel-novel sebelumnya.” (terjemahan \= ¹sikap malu-malu tapi mau, jinak-jinak merpati, bermain susah untuk ditangkap; ²Saya melihat ceritanya cukup menarik buat jadi novel berikutnya di NovelToon)
“Kamu masih belum menyerah kan sama novel Hidup-mu 'yang? Btw, aku mau bikin pasta, kamu mau juga?” tanya pasanganku sambil menoleh ke arahku dan ketika aku mengangguk, ia kembali meneruskan kegiatannya membuka kulkas untuk mencari bahan-bahan makanan yang diperlukannya dan berkata: “Coba bacain curhatannya!”
“Bentar ya, aku bacain yang dari laptop saja, biar tulisannya lebih besar..” jawabku, sadar sepenuhnya kalau pengelihatan ini sudah tidak seoptimal ketika usia masih sangat muda dulu.
......
"Assalamualaikum, Met malam.. mohon ijin para punggawa grup ini, saya mau curhat dikit mengenai kisah klasik masa lalu yang masih menghantui tiap malam saya, ketika diri ini masih bisa terlelap dalam kondisi yang lumayan memprihatinkan belakangan waktu ini.
Resah dan gelisah menghantui kesendirian saya di malam akhir pekan ini, dalam kamar rumah sakit berukuran ± 6 x 6 m². Saya tiba-tiba saja teringat kisah kasih yang pernah saya alami sekitar 20 tahun yang lalu, tentu saja ketika saya masih berstatus sebagai seorang praja STPDN. Yang sayangnya kisah tersebut tidak happy ending dan berakhir ‘pupus’ bahkan sebelum berkembang, seperti lagunya Dewa 19.
Saya masuk STPDN tahun 1998, sebagai angkatan ke-10, yang sekarang dikenal sebagai ANGTEN (Angkatan X), dari provinsi paling ujung timur Nusantara. Mengikuti jejak para sepupu yang telah duluan menginjak lembah manglayang. Saya selalu merasakan kebanggan tersendiri ketika melihat mereka datang berkunjung dalam balutan pakaian kedinasan, jika mereka pulang cuti ke kampung halaman dan saya teramat sangat ingin mengikuti jejak mereka.
__ADS_1
Singkat cerita saja, karena ini bukan telenovela, setelah menjadi calon praja dan dikukuhkan menjadi muda praja, ternyata kehidupan di Ksatrian sungguh keras bagi tubuh ringkih saya ini, yang langganan KSA (kamar sakit asrama) karena penyakit malaria yang sering kambuh, mungkin dampak kurang asupan gizi seawaktu kecil dulu. Bahkan sempat ada niatan untuk lari/kabur dari pendidikan, mengikuti kawan sedaerah yang duluan mengundurkan diri. Tetapi demi mengingat orang tua saya yang sudah bangga anaknya bisa masuk ke sekolah kedinasan ini dan mengingat Ayah saya yang pada waktu itu sedang terkena diabetes akut sehingga butuh banyak biaya pengobatan, maka apapun yang terjadi, walaupun harus pulang jadi mayat, saya harus tetap bertahan.. toh nyawa milik Tuhan, begitu tekadku.
Dalam hati selalu mengingatkan diri sendiri, kalau teman-teman di sini bisa, saya juga pasti bisa. Apalagi rata-rata mereka ini anak-anak pejabat atau kaum berpunya, kalau mereka rela berlelah dan berjuang, mana saya yang cuma anak orang susah dari pedalaman tidak mau dan bisa berjuang sekeras mereka? Itu semangat saya selama pendidikan, sehingga saya akhirnya bisa berhasil menghadapi cobaan apapun.
Lagian, kalaupun saya memang harus meregang nyawa di Ksatrian ini, maka tetap ada kebanggaan tersendiri buat saya secara individu, karena saya pastinya akan dianggap sebagai pahlawan, yang petinya diberikan kain merah putih, layaknya pahlawan yang mati di medan perang ketika diantar pulang ke pihak keluarga. Mungkin terkesan sepele ya, tapi tidak buat saya kala itu.
Sebenarnya saya gak mau dipusingkan dengan menjalin hubungan asmara selama pendidikan, bahkan pacar saya yang di daerah, walau kami tidak tinggal di kota yang sama, sudah saya putusin sepihak sebelum berangkat ke Jatinangor, dengan alasan ingin konsentrasi pada pendidkan. Namun seorang adik kelas mampu menghipnotis saya. Dialah Bintang.. entah dimana dia sekarang.."
......
“Bener tuh ‘yang, kisah yang menarik untuk dikulik jadi novel.” komentar pasanganku yang masih sibuk menghadap kompor, ia menanggapi bacaanku dengan lugas.
“Tapi sebaiknya kamu izin dulu kalau mau bikin kisahnya jadi novel, biar lebih etis saja..” lanjutnya sambil menyuapkan segulung pasta dari garpu yang dipegangnya ke arah mulutku, untuk ku cicipi apakah sudah cukup matang.
__ADS_1
“Iyah, ini mau aku kirimin email kepada yang bersangkutan, semoga bisa segera dibalas dan mendapat persetujuannya." kalimatku terhenti sesaat untuk mengunyah, "Pastanya sudah al dente sayang..” jawabku sambil terus mengunyah dan menepuk bokongnya menggoda (terjemahan \= tingkat kematangan pasta yang sempurna).
... BERSAMBUNG ...