BALADA SANG PRAJA

BALADA SANG PRAJA
Ep. 4 – ADI DASSEL/AD


__ADS_3


Hallo para pembaca yang budiman,


Perkenalkan, nama saya Adi Dassel. Saya seorang Purna Praja (alumni Praja) dari sebuah Sekolah Kedinasan di Lembah Manglayang, Jatinangor. Masuk sebagai salah satu Angkatan X, biasa dikenal sebagai ANGTEN. Asal pendaftara saya dari Provinsi paling timur Nusantara, Papua.


Sewaktu Muda Praja (tingkat pertama), pacaran tidak pernah ada dalam agenda kehidupan saya.


Hidup sebagai Muda Praja kala itu terasa sangat berat dan hari demi hari saya lalui hanya untuk satu tujuan, yaitu bisa bertahan hidup.


Selain pola pembinaan mental yang keras semi militer, diberlakukan juga sistem senioritas yang sarat dengan ketidak-adilan, dimana junior selalu salah dan harus menjadi jongos senior.


Penyesuaian tubuh ini, yang masih membawa sisa-sisa penyakit Malaria dari daerah asal, mungkin juga sebagai dampak dari kehidupan yang relatif kurang gizi, juga turut memperparah kondisi kesehatan saya. Karenanya, saya menjadi pelanggan tetap KSA (Kamar Sakit Asrama), yang merupakan tempat wajib dikunjungi bagi para Praja berpita putih (tanda pita putih disematkan di bawah pangkat dekat lipatan lengan, untuk menandakan Praja tersebut sedang dalam kondisi lemah secara fisik atau sedang mengalami sakit yang membuatnya tidak bisa beraktivitas fisik secara normalnya para Praja lainnya).


Beberapa kali terbersit pikiran untuk pulang. Lelah fisik dan penyakit yang ku derita seringkali menjadi pemicu pemikiran ini.

__ADS_1


Apalagi ketika seorang teman seangkatan akhirnya berhasil kabur. Namun ternyata ada konsekuensi denda ekonomi yang harus dibayarkan akibat kejadian tersebut dan inilah yang menjadi penahan diriku untuk tetap memaksakan diri bertahan.


Selain bahwa sebuah lagu dari Saykoji berjudul “Jalan Panjang”, yang pernah ku dengar beberapa waktu yang lalu, juga turut memperkuat tekad ini. Kalau dia bisa bertahan, saya juga pasti bisa.


Tapi setelah menginjak masa Madya Praja (tingkat kedua), hidup saya ini sedikit terasa lebih ringan. Apalagi setelah kedatangan Capra/Calon Praja Angkatan XI, yang jumlahnya 2 kali lebih banyak dari angkatan kami. Entah bagaimana, hidup saya ini terasa mulai sedikit tercerahkan. Mungkin karena hati ini mulai agak terhibur karena sudah bisa merasakan diri sebagai senior, walau masih senior yang terendah, karena masih ada 2 angkatan senior yang punya kewenangan mengatur angkatan kami.


Walau sudah Madya Praja, namun karena saya tidak punya uang berlebih, saya tetap sangat jarang keluar untuk pesiar.


Ketika teman-teman yang bosan dengan makanan di Menza dan mereka pada jajan di luar Ksatrian dan bahkan beberapa memiliki kamar kos sendiri untuk mengganti suasana istirahat, saya lebih memilih untuk tetap makan di menza dan istirahat/tidur-tiduran di barak dari pada keluar pesiar.


Sekedar informasi, saya mempunyai 10 orang saudara, yang juga harus dihidupi oleh kedua orang tua saya.


Karenanya, saya mencoba bertahan hidup dari gaji pokok Praja, yang dalam sebulan hanya bisa diambil sebesar Rp. 100rb, itupun kalau tidak ada kesalahan yang dilakukan selama 1 bulan terakhir (sisa gaji akan dapat dirapel pada saat cuti semesteran atau kenaikan tingkat).


Jadi untuk mencukupi kebutuhan lain-lain, saya mencoba untuk sembunyi-sembunyi berbisnis di awal Madya Praja, yang setelah Nindya Praja (tingkat ketiga) dan Wasana Praja (tingkat keempat) bisnis kecil-kecilan tersebut semakin berkembang.

__ADS_1


Kembali ke masa-masa Madya Praja, saya selalu mencoba menjadi pribadi yang kalem buat para senior, rekan seangkatan dan tentu juga untuk para junior saya. Intinya cari aman dan selalu mencoba berdamai dengan lingkungan sekitar.


Sejak Muda Praja saya adalah salah satu kader di Biro Umum, kegiatan pengkaderan yang tidak terlalu melelahkan secara fisik dan sejujurnya juga kurang diminati para Praja lainnya. Biro Umum di Ksatrian ini bertanggungjawab dalam hal pengelolaan Balairung, Lapangan Parade dan Gedung Menza. Maka adalah kewajaran jika setelah Madya Praja saya sering bertanggung jawab dan berada di tempat-tempat tersebut.


Jejaring sosial saya juga semakin banyak dan beragam, tidak hanya di internal Ksatrian tapi juga dari pihak luar Ksatrian, yang kebanyakan mengajukan izin untuk memakai beberapa fasilitas tersebut. Salah satu bisnis yang trlah saya sebutkan tersebut, dimana untuk menggunakan fasilitas-fasilitas tersebut, perlu diurus izin-nya dan membantu pihak-pihak yang membutuhkan inu terkadang memberikan saya pemasukan, walau tidak tetap, karena didasarkan pada keiklasan yang merasa terbantu, tanpa patokan harga tertentu. Selain bahwa saya juga sering membantu beberapa teman yang membutuhkan barang-barang apapun di luar Ksatrian, seperti pengadaan kaos club, training ataupun pin dan lain sebagainya.


Intinya, apa saja akan saya lakukan asalkan bisa menghasilkan sedikit tambahan uang saku.


...***...


Kembali ke kehidupan asmara saya, walaupun ada beberapa teman seangkatan yang memiliki sifat dan perawakan yang mempesona (sebagaimana Praja pada umumnya, Wanita Praja pun terseleksi dari setiap daerah bukan sekedar dari sisi intelektualnya tapi juga secara fisik, harus ideal dan berpenampilan menarik), tekad saya untuk tetap menjomblo dan berkonsentrasi pada pendidikanku tetap tidak tergoyahkan. Beberapa teman dari Sulteng, Jabar, Sumsel dan Sumbar yang terkenal cantik-cantik juga sempat menggoda iman dan tekadku, tapi sebagai Praja yang memiliki keterbatasan ekonomi, saya takut untuk mengungkapkan perasaan ini.


Apalagi kalau sampai jadian dengan para Wanita Praja ini (jumlahnya hanya 1:5 dengan Praja), biasanya akan dapat pembayatan (semacam hukuman atau prosesi pengujian fisik) dari kontingennya masing-masing (baik dari senior maupun dari teman seangkatan yang merasa jatah-nya telah diambil). Membayangkannya saja sudah cukup menyeramkan buat saya dan tentu saja menciutkan mental ini. Dan lagi, benak saya juga seringkali mengecilkan kepercayaan diri ini, Wanita Praja manalah yang mau dengan orang penyakitan tanpa kelebihan apa-apa seperti diri ini?


Tapi intinya saya tetap tidak mau pacaran dulu, karena memang kalau punya pacar harus punya banyak kelebihan, selain ganteng/charming, kuat fisiknya (sanggup dibayat senior) dan yang paling penting punya Doku atau dana berlebih, supaya bisa pesiar bareng pacar dan tidak malu-maluin karena tidak bisa membayar ongkos atau tiket masuk ke tempat-tempat menarik atau bahkan tidak bisa membelikan barang-barang yang diinginkan pacar tersebut. Saya cukup tau diri, kalau ketiganya tidak saya miliki, jadi kondisi-kondisi ini memperkuat tekad saya untuk tetap menjomblo saja.

__ADS_1


... BERSAMBUNG ...


__ADS_2