
Namanya Bintang, pada bulan September yang lalu, gadis cantik dengan postur semampai itu genap berusia 18 tahun.
Sekilas pandang, ia terlihat sebagai gadis yang yang periang dan mudah bergaul, infonya ia juga adalah seorang pendengar dan pengamat yang baik, mungkin itu juga alasan ia sering menjadi tempat teman-temannya meminta saran sehingga teman-temannya senang mencurahkan masalah mereka kepadanya.
Ia gemar menulis dan membaca, terlihat dari seringnya ia menghabiskan waktu luangnya di perpustakaan Ksatrian, walau mungkin ia juga punya banyak kesukaan lainnya. Yang pasti, ia suka membagikan kisah kehidupannya di media sosial miliknya ataupun melalui tanggapan dan ceritanya kepada teman-temannya yang mau mendengarkan kisahnya, mungkin karena ia berpikir bahwa ceritanya tersebut akan mampu menginspirasi orang lain dan dapat membuat mereka menentukan pilihannya sendiri dan bertanggungjawab atas hidup yang harusnya mereka jalani dan nikmati.
Kalau mendengar dari apa yang disampaikan teman-temannya, hidup Bintang lumayan menyenangkan, konon bisa dianalogikan seperti sebuah petualangan panjang yang penuh teka-teki tak berujung. Ia hidup baik-baik saja sampai saat ini karena beberapa pilihan yang telah ia ambil dan pastinya tidak akan ia sesali, karena ia selalu merasa bahwa keputusan besar yang telah ia ambil pada setiap waktu tertentu, adalah pilihan yang telah menyelamatkannya dari hidup penuh penyesalan dan seakan telah meloloskannya dari penjara yang entah kapan bisa ia tinggalkan.
Bintang berasal dari keluarga yang tidak utuh, ayah dan ibunya bercerai saat ia masih bersekolah di kelas 3 SD. Ia memiliki seorang adik laki-laki dan seorang kakak perempuan dari pernikahan pertama ayahnya, jadi dari kecil ia terbiasa merawat adiknya bersama dengan kakaknya tersebut. Mereka bertiga sempat tinggal bersama ayahnya selepas ditinggalkan ibunya, namun sejak Bintang naik ke kelas 4 SD, ia tinggal bersama dengan paman dan bibi-nya, yang juga masih tinggal bersama nenek dari ayahnya. Pamannya lah yang telah banyak membantu pendidikan Bintang hingga sekarang.
Mendengar kisah tentang Bintang ini, saya jadi semakin jatuh simpatik terhadap sosoknya, yang walaupun selalu terlihat periang, di dalam hati Bintang sepertinya tetap terdapat luka yang seolah tidak dapat sembuh, namun dapat ia sembunyikan dengan baik, tidak terlihat dipermukaan namun tetap dapat dirasakan dampaknya.
Saya juga menyadari walau Bintang terlihat dapat bergaul dengan banyak orang, tapi sesungguhnya ia adalah anak yang tidak terbuka akan perasaan yang dirasakannya sendiri. Apalagi ketika saya mendengar kalau ia menjalani masa sekolahnya dengan penuh perjuangan, dimana ia harus benar-benar mengurus dirinya sendiri dan adiknya sedari masih sangat kecil, sementara kemungkinan besar ia merasa tidak punya hak untuk mengeluh.
Saya dapat membayangkan penderitaan seorang anak, yang seolah telah hidup di sebuah lingkaran yang harus berputar sesuai arah dan petunjuk orang lain setiap harinya. Dimana hal-hal buruk mulai menimpa keluarganya, yang mungkin saja akan membuatnya semakin mengasingkan perasaannya sendiri, ia pasti mulai menyimpan banyak rahasia, terutama hilangnya rasa percaya diri secara perlahan pada tahap-tahap tertentu.
__ADS_1
Infonya, setelah pengumuman kelulusan dan ia telah melihat nilai ujiannya, ia memutuskan untuk harus melanjutkan sekolah ke SMA, bagaimanapun caranya. Ia tidak mau menjadi seperti kakaknya yang pasrah dengan keadaan dan hanya mengisi waktu selepas lulus SMP dengan beberapa keterampilan rumah tangga (seperti menjahit, menenun dan memasak) sambil menunggu dilamar laki-laki yang dianggap baik oleh keluarganya.
Saat itu ia tinggal di pedesaan, tidak ada sekolah SMA di sana, maka ia harus ke kota jika ingin bersekolah, sementara biaya pendidikan untuk SMA sangat mahal bahkan untuk biaya pendaftaran saja Ayahnya tidak mampu untuk membayarnya saat itu, karena situasi keuangan yang sedang sangat tidak bagus. Ayahnya bahkan sengaja pergi bekerja ke luar kota untuk menghindari Bintang, karena beliau tidak memiliki uang sebanyak itu untuk membayar biaya pendaftaran masuk sekolah, yang bahkan tidak bisa dibayar secara angsuran.
Saat itu umurnya baru 14 tahun, bisa dibayangkan ia hanya bisa menangis meratapi nasibnya. Namun Tuhan menjawab tekadnya dan seakan memberikan sebuah keajaiban, ketika akhirnya pamannya mendapatkan uang untuk Bintang bisa mendaftar sekolah. Saat itulah konon, Bintang yakin pada kekuatan tekadnya, jika ia kuat maka ia pasti akan diberi sebuah kesempatan dan apapun yang terjadi ia merasa tidak boleh kehilangan kesempatan itu. Walaupun ia harus bekerja serabutan untuk membayar kelanjutan biaya sekolahnya di SMA, ia tidak mudah berputus-asa.
Bagi seorang wanita desa, mungkin menikah di usia muda adalah hal yang wajar, seperti yang telah dialami kakaknya, tapi tidak untuk Bintang.
Menurut teman dekat Bintang, yang juga bisa sama-sama melanjutkan sekolah di Ksatrian Jatinangor ini, Bintang adalah seorang pribadi yang tidak pernah dekat, apalagi berpacaran dengan siapapun selama bersekolah, karena ia sadar betul bahwa ada tujuan yang ingin ia raih dan sepertinya ia tidak ingin membagi pikirannya itu dengan hal-hal yang tidak mendasar dan dianggapnya membuang-buang waktunya yang sangat berharga.
Setelah lulus SMA, perjuangan Bintang yang telah tumbuh semakin cantik, untuk mempertahankan cita-citanya mendapat ujian yang sangat besar. Awalnya ia hanya berdiam diri ketika beberapa pria mulai berdatangan melamar ke keluarga besarnya dan pada akhirnya berujung pada penolakan serius yang harus ia lakukan sebagai penegasan ketidaksukaannya terhadap tradisi tersebut.
Namun untungnya kali itu, Bintang tidak berjuang sendiri. Bintang memiliki seorang teman yang juga memiliki cita-cita yang sama dengan dirinya. Mereka berdua memutuskan untuk memberitahu dan meminta dukungan keluarga masing-masing, untuk memberikan pengertian kepada saudara-saudara mereka agar dapat memahami apa yang ingin ia dan temannya itu raih. Dan pada akhirnya, walau harus mendapat perlakuan kurang mengenakkan dan kata-kata yang dapat dianggap tidak pantas untuk didengar, Bintang dan temannya tersebut berhasil melewati fase itu dan memutuskan untuk mengikuti serangkaian test agar bisa melanjutkan pendidikan mereka di Ksatrian Jatinangor di Lembah Manglayang ini.
Bintang dan temannya mulai melihat peluang untuk memperjuangkan dan mewujudkan apa yang mereka inginkan.
Kini mereka bukan lagi 2 gadis desa yang menjalani hidup dengan urutan biasa: hidup, menikah, mengurus anak dan mati saja.
__ADS_1
Sebagai perempuan, Bintang merasa memang harus mendobrak banyak tembok yang membatasi geraknya, selama itu masih dalam konteks positif dan masih dibenarkan secara hukum dan agama. Dan ia sangat percaya bahwa apapun yang terjadi di hidup setiap orang adalah hasil dari pilihan yang mereka ambil masing-masing.
Melalui beberapa postingan di media sosial-nya, Bintang berkali-kali menyampaikan harapannya terhadap perempuan-perempuan muda yang masih terkekang tradisi, atau masih tidak memiliki keberanian menunjukkan bakat yang mereka punya, untuk mulai bergerak memberanikan diri untuk meraih cita-cita mereka masing-masing, karena hal itu hanya tidak mungkin apabila kita tidak mencoba meraihnya.
Ia memaparkan bahwa ia telah memilih setiap jalan di hidupnya dan ia sangat bangga pada dirinya sendiri dan sudah pasti tidak pernah menyesali setiap keputusan yang telah ia ambil untuk mewujudkan mimpi-mimpinya tersebut, karena jika saja waktu dapat diulang kembali, ia pasti akan mengambil jalan dan pilihan yang sama.
Bintang pernah menulis bahwa ia hanya salah satu dari ribuan orang yang berhasil mendobrak keterbatasannya dan mulai berjalan di jalan yang mereka pilih.
Melalui sekelumit cerita hidupnya, ia berharap kisahnya tersebut mampu menginspirasi banyak perempuan lainnya agar dapat bergerak maju dengan penuh keberanian.
Anak-anak muda harus mau berjuang dengan semua keterbatasan yang ada dan mulai berusaha.
Satu tips yang dibagikannya, adalah dalam setiap langkah yang diambil, usahakan membuatnya seperti tangga yang mengarah ke atas, tiap tahap harus ditingkatkan bukan diturunkan. Walau pelan tapi harus pasti mengarah pada tujuan yang jelas, maka kondisi akan berangsur-angsur naik tanpa ada batasan puncak karena hidup adalah belajar dan terus belajar.
Bintang oh Bintang, betapa cinta ini semakin membuncah mengenal sosok-mu yang tidak hanya cantik secara fisik, namun juga baik hati dan mulia..
... BERSAMBUNG ...
__ADS_1