
Hari ini, Ruth dan Hans akhirnya menikah. Hanya pihak keluarga yang hadir. Nova sangat senang melihat wajah Ruth yang sejak tadi kesal karena dia menikah dengan salah satu pelayan dirumahnya.
Ketika Hans dan Russel sedang berbicara berdua dan meninggalkan Ruth dan Nova hanya berdua saja, maka Nova mendekati Ruth dan sengaja menyindir dirinya.
"Sudah kubilang, jika apa yang kau ucapkan akan kembali pada dirimu sendiri," kata Nova tersenyum penuh kemenangan.
"Apa maksudmu?" Ruth akhirnya berbicara dan menatap Nova.
"Seperti kau yang tidak suka saat kakakmu menikah denganku. Karena aku orang miskin, maka kau sendiri sekarang menikah dengan salah satu pelayan mu. Itu sebuah karma," ucap Nova.
Raut wajah Ruth langsung merah padam karena marah.
"Jangan karena aku menikah dengan Hans kau berfikir semua akan terjadi seperti yang kau inginkan. Ini hanya diatas kertas," kata Ruth melepaskan beberapa hiasan dikepalanya dengan kasar dan membuangnya hingga berserakan dilantai.
"Jangan terlalu membenci seseorang. Bisa saja suatu saat kebencian mu berubah menjadi cinta. Maka kau akan malu jika mengingatnya," kata Nova sambil memungut semua hiasan di kepala Ruth yang dia buang ke lantai.
__ADS_1
"Ini pasti rencanamu. Kamu yang membujuk kakak agar menikahkan ku dengan Hans. Lihatlah. Aku akan membalas perbuatan mu!" kata Ruth lalu pergi bergegas ke kamarnya dan menguncinya dari dalam.
Russel lalu mendekati Nova dan memegang tangan Nova dengan lembut. Russel menatap istrinya dengan penuh cinta kasih.
"Terimakasih, jika tidak ada kau, maka aku pasti tidak akan memilih Hans untuk Ruth. Tidak ada pria yang lebih baik dan ku percaya selain Hans. Aku mengenalnya sangat lama. Aku tahu bagaimana kepribadian nya,"
"Aku melihat cinta yang tulus di mata Hans. Saat ke kamar Ruth, aku melihat bagaimana Hans begitu perhatian pada Ruth," kata Nova.
"Ya, hanya saja Ruth masih sangat keras kepala untuk bisa menerima Hans,"
Setelah Russel dan Nova ke kamarnya, Hans pergi untuk melihat Ruth. Dia ke kamar Ruth. Namun kamar itu di kunci dari dalam. Ruth tidak membiarkan Hans masuk kekamar pengantin.
Tidak ada sahutan dari dalam. Rupanya Ruth sedang tertidur karena kelelahan. Apalagi dia sedang hamil.
Nick tertawa melihat Hans di abaikan oleh Ruth.
__ADS_1
"Nikmati malam pertama mu dengan guling. Jika kau masih butuh guling tambahan, dikamarku ada banyak. Ambillah, jika kau mau, pelayan," kata Nick menghina Hans.
"Tutup mulutmu. Pergilah dari sini. Aku tidak ada urusan denganmu!" kata Hans menatap tajam wajah Nick.
"Ohh, adik ipar ku. Kau harus mulai terbiasa untuk menghormati ku. Aku adalah kakak iparmu sekarang. Dan kau perlu restu dariku, agar berumur panjang," kata Nick mengejek Hans.
"Nick! Apa yang kau lakukan disitu?" tanya Russel yang kebetulan lewat.
"Oh, tidak. Aku tidak melakukan apapun. Dia, yang ingin masuk ke kamar istrinya. Tapi nasibnya sungguh malang. Dia terpaksa tidur diluar malam ini," kata Nick mengejek Hans.
"Oh, pakai ini. Ini kunci cadangan kamarnya," kata Russel.
"Terimakasih bos," kata Hans dan melirik Nick lalu mengedipkan salah satu matanya.
"Sial! Kenapa kakak punya kunci cadangan kamar Ruth?" umpat Nick kesal.
__ADS_1
"Kau cepatlah cari istri. Hanya kau yang akan kedinginan malam ini," kata Hans menyerang balik ejekan Nick.
"Bedebah!" Nick lalu pergi ke kamarnya dan membanting pintu dengan kasar.