
Nova sedang menonton sendirian diruang tamu karena Russel pergi keluar kota hari ini. Hans juga ikut pergi bersamanya. Sebelum pergi, Hans menemui Ruth.
"Aku akan pergi, kau jaga dirimu baik-baik. Dan...jika kau menginginkan sesuatu, maka aku akan membawakannya untukmu," kata Hans.
"Aku punya segalanya. Aku bisa membeli semuanya. Kau tidak usah sok baik padaku. Aku tidak butuh apapun darimu," ucap Ruth.
"Baiklah jika begitu, aku pergi, jaga dirimu selama aku tidak ada dirumah," kata Hans lalu pergi.
"Semua ini gara-gara wanita rendah itu. Aku harus setiap hari bersama dengan pelayan. Kurang ajar! Lihat saja. Aku akan membalas penghinaanmu padaku," kata Ruth.
Dikamar Nova, Russel berat meninggalkan Nova sendirian. Bahkan Hans, terpaksa harus ikut dengannya.
"Sebenarnya aku berat meninggalkanmu sendirian," ucap Russel memeluk Nova.
"Aku akan baik-baik saja," jawab Nova memegang tangan Russel yang melingkar diperutnya.
"Kau yakin? Aku sebenarnya ingin kau ikut, namun karena tidak ada wanita disana maka kau akan kesepian," kata Russel.
"Aku disini saja. Aku akan menjaga diriku dengan baik sampai kau kembali," kata Nova.
"Baiklah jika begitu, aku berangkat sekarang," ucap Russel lalu meninggalkan kamarnya.
Mereka berdua sudah pergi dan ke bandara. Sementara Ruth menyelinap ke kamar Nick. Nick yang sedang tidur kaget saat dibangunkan oleh Ruth.
"Nick, bangun! Aku punya kejutan untukmu," kata Ruth.
__ADS_1
"Apaan sih? Sana keluar! Mengganggu saja!" kata Nick lalu memejamkan matanya kembali.
"Wanita itu sendirian, kakak dan Hans keluar negeri. Dia sendirian. Ini waktu yang tepat untuk balas dendam. Ayo cepat bangun!" kata Ruth dan Nick masih mengantuk karena semalaman dia tidak tidur.
Nova yang kebetulan lewat, mendengar apa yang kakak adik itu katakan.
"Oh, jadi mereka akan balas dendam? Karena aku sendirian, mereka jadi berani? Aku harus waspada," kata Nova lalu bersembunyi dibalik pintu.
"Aku akan menyiapkan kamera di tasku. Ini untuk bukti kejahatan mereka jika sampai terjadi sesuatu denganku," kata Nova dalam hati.
"Semalaman aku tidak tidur, aku sangat mengantuk," kata Nick menguap dan matanya masih merah.
Ruth menarik tangannya dengan kuat. Berusaha membangunkan Nick.
"Cepat, bangun. Kita tidak punya waktu lagi. Ayo kita singkirkan wanita itu. Dia sudah membuatku menikah dengan seorang pelayan. Aku sangat membencinya," kata Ruth penuh dendam.
"Kita bawa dia jauh dari rumah ini. Agar dia tidak pernah kembali," kata Ruth.
"Membunuhnya?" tanya Nick.
"Mungkin. Yang penting, kita bawa dia jauh dari rumah kita. Dan nanti kita cari alasan pada kakak jika dia kabur dengan kekasihnya, gimana?" kata Ruth.
"Boleh juga," ucap Nick.
"Ayo kita kekamarnya. Kita bawa dia kemobil sekarang juga," kata Ruth bersemangat.
__ADS_1
"Baiklah," Nick lalu berjalan bersama Ruth ke kamar Nova.
Nova sedang duduk dimeja rias dan melihat Ruth dan Nick dipintu.
"Ayo Nick!" kata Ruth.
"Apa yang akan kalian lakukan?" Tanya Nova mencurigai keduanya.
"Ikutlah dengan kami. Jika tidak, kami akan memaksamu," kata Nick.
"Tidak mau. Aku mau tetap disini," kata Nova mundur dua langkah.
"Kita paksa dia saja Nick," kata Ruth mendekati Nova.
"Jangan mendekat!" kata Nova.
"Kenapa? Kau takut?"
"Aku bilang jangan mendekat. Nanti aku akan melaporkan apa niat kalian pada Russel?"
"Hahahaha, kau tidak akan sempat melakukanya. Karena kami akan mengantarkanmu ke surga," kata Ruth.
"Jangan berani menyentuhku. Atau kalian berdua akan diusir dari rumah ini!" Ancam Nova.
"Jangan dengarkan dia. Dia hanya akan membuang waktu kita," kata Ruth dan Nick tiba-tiba maju kedepan dan membekap Nova dengan obat bius.
__ADS_1
Nova terlambat menghindar. Dia tidak sadarkan diri. Tapi, untunglah, dia sudah memasang kamera ditas kecil yang selalu dia selempang kan ke badannya.
Ruth dan Nick tidak tahu hal itu. Jika apa yang mereka lakukan terekam otomatis di kamera tersembunyi di tas kecil Nova.