
Kiyohime : Keindahan dalam Kesendirian
Kiyohime duduk di tepi kolam di halaman kuil, memandangi air yang tenang dan memantulkan sinar matahari pagi. Suara gemericik air sungai terdekat mengiringi keheningan kuil yang sunyi. Setiap pagi, dia menikmati momen-momen seperti ini, merasakan kedamaian dan keindahan yang ada di sekitarnya.
Sebagai putri kuil yang cantik, Kiyohime dihormati oleh penduduk desa sekitar. Namun, di dalam hatinya, ada rasa kekosongan yang sulit dijelaskan. Meskipun dihiasi oleh persembahan bunga dan harum dupa, kehidupannya terasa monoton dan sepi.
Sementara itu, seorang biksu muda bernama Anshin sering mengunjungi kuil tersebut. Dengan rambut hitam panjang yang dikuncir rapi dan tatapan yang tenang, kehadirannya menarik perhatian Kiyohime. Anshin adalah pribadi yang bijaksana, memiliki aura kebijaksanaan yang memancar dari dirinya.
Pada suatu pagi yang cerah, saat Kiyohime duduk di tepi kolam, Anshin datang untuk bermeditasi di kuil. Mata Kiyohime tidak dapat lepas dari kehadirannya yang anggun. Dalam hati, dia mulai merasakan dorongan yang kuat untuk mendekati biksu tersebut, untuk mengungkapkan perasaannya yang terpendam.
Namun, ketika Kiyohime mengungkapkan cintanya pada Anshin, dia mendapati dirinya ditolak dengan lembut. Anshin menjelaskan bahwa dia telah berjanji untuk mendedikasikan hidupnya pada jalan spiritual, menghindari ikatan dunia yang bersifat duniawi. Penolakan itu menyayat hati Kiyohime, menyulut api cemburu dan keputusasaan di dalam dirinya.
Bersamaan dengan rasa sakit yang tak terperikan, kekuatan magis yang tersembunyi dalam diri Kiyohime mulai bangkit. Dalam dorongan amarah dan keputusasaannya, dia berubah menjadi naga yang menakutkan, kulitnya berkilauan dengan warna api yang membara.
Naga Kiyohime membakar kuil yang dahulu merupakan rumahnya, menghancurkan segala yang ada di sekitarnya. Kecupan api yang membara melingkupi tubuhnya, dan kemarahan yang tak terkendali membuatnya kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
__ADS_1
Namun, di balik kekejaman naga yang menyeramkan, masih terdapat kepingan manusia yang hancur. Kiyohime merasakan perasaan kehilangan yang mendalam, kesedihan yang melanda hatinya. Meskipun kekuatannya telah berubah, dia menyadari bahwa dia telah kehilangan cinta, kehidupan yang dulu dia kenal.
Dalam kesendirian yang mencekam, Kiyohime berjanji untuk mencari Anshin, untuk membalas penolakan dan keputusasaannya dengan kesakitan yang setara.
Kiyohime melintasi tanah yang terbakar dan puing-puing kuil yang hancur dengan langkah-langkah perlahan. Setiap jejak kaki yang dia tinggalkan membawa bekas api yang membara, menyiratkan kemarahan yang belum padam di dalam dirinya. Kepala naga Kiyohime diangkat tinggi, mencari jejak Anshin yang telah lama menghilang.
Dalam pencariannya yang penuh keputusasaan, Kiyohime mengembara ke berbagai tempat yang diyakini Anshin pernah mengunjungi. Dia berkeliling di pegunungan terpencil, melintasi hutan yang lebat, dan menyusuri sungai yang jernih. Di setiap tempat yang dia datangi, dia bertanya kepada para biksu dan penduduk setempat tentang keberadaan Anshin, dengan harapan menemukan petunjuk yang akan membawanya pada kesempatan untuk bertemu dengannya.
Namun, meskipun Kiyohime berusaha keras, setiap upayanya sia-sia. Jejak Anshin hilang begitu saja, seolah-olah dia telah menghilang dari muka bumi. Rasa putus asa semakin menghimpit Kiyohime, tetapi dia tidak menyerah. Dia yakin bahwa dalam keadaan apapun, dia akan menemukan Anshin dan memaksa pria itu untuk menghadapinya.
Suatu hari, saat Kiyohime sedang duduk sendiri di tepi sungai yang tenang, seorang wanita tua datang mendekatinya. Dengan langkah ragu, dia menghampiri Kiyohime dan duduk di sebelahnya. Wanita tua itu memandang naga itu dengan penuh belas kasihan, tanpa rasa takut atau kebencian di matanya.
"Dahulu, aku juga mengenal perasaan kesepian yang dalam," kata wanita tua itu dengan suara lembut. "Namun, aku belajar bahwa keindahan sejati tidak harus bergantung pada kehadiran orang lain. Ia dapat ditemukan dalam kesendirian, ketika kita berdamai dengan diri sendiri."
Kiyohime mendengarkan kata-kata wanita tua itu dengan hati-hati, merenungkan maknanya yang dalam. Ada kebenaran dalam kata-kata itu, dan dia merasakan semacam kedamaian yang menenangkan meliputi hatinya. Wanita tua itu memberikan sehelai kain putih kepadanya, dengan permintaan agar Kiyohime melihat ke dalam diri sendiri dan menemukan keindahan yang sejati.
__ADS_1
Dengan tangan yang besar dan gemetar, Kiyohime menerima kain putih dari wanita tua itu. Dia merasakan kelembutan dan kehangatan yang terpancar darinya, seperti mendapat sentuhan yang lembut dari ibu yang penuh kasih sayang. Dengan hati yang penuh harapan, Kiyohime memandangi kain putih itu, membiarkannya menyerap air mata yang mengalir dari matanya.
Seiring waktu berlalu, Kiyohime menjalani proses penemuan diri yang mendalam. Dia mencurahkan waktu untuk merenung dan memahami jiwa yang kompleks. Dalam kesendirian, dia menemukan ketenangan yang tak tergoyahkan, sebuah keindahan yang tak terbatas pada kehadiran orang lain.
Kiyohime melihat bahwa dia bukanlah naga yang jahat, tetapi makhluk yang penuh empati dan kerinduan akan cinta. Dia menyadari bahwa keputusasaannya yang terbakar menjadi api kebencian tidaklah membawa kebahagiaan atau pembebasan, melainkan hanya menyebabkan penderitaan yang lebih dalam.
Dalam perjalanannya yang panjang, Kiyohime juga menemukan makna sesungguhnya dari cinta. Cinta bukanlah kepemilikan atau pemuasan ego yang buta, tetapi memberi ruang bagi kebahagiaan orang yang kita cintai. Dia memahami bahwa cintanya pada Anshin haruslah hadir dalam bentuk kebebasan dan penghargaan, bukan dalam upaya memaksakan keinginan atau menghancurkan segalanya untuk memenuhi rasa cemburu.
Dalam kesendirian dan pertumbuhannya, Kiyohime mencapai pencerahan. Dia memutuskan untuk melanjutkan hidupnya dengan memanfaatkan kekuatan dan kebijaksanaan yang dimiliki, bukan untuk melampiaskan kemarahan atau kesedihannya, tetapi untuk membantu orang lain dan menyebarkan kebaikan di dunia.
Kiyohime kembali ke desa dengan semangat baru, tidak lagi sebagai naga yang ganas, tetapi sebagai sosok yang bijaksana dan penuh kasih sayang. Penduduk desa yang tadinya takut dan menjauh darinya melihat perubahan yang mengagumkan dalam dirinya. Mereka memberikan pengampunan dan kesempatan kedua bagi Kiyohime untuk membuktikan bahwa dia telah berubah.
Kiyohime membantu membangun kembali kuil yang hancur, mengabdikan dirinya untuk memperbaiki hubungan dengan penduduk desa, dan menemukan kebahagiaan dalam memberikan cinta dan dukungan kepada mereka. Dia mengajar mereka tentang keindahan yang bisa ditemukan dalam kesendirian, dan pentingnya mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain.
Dalam perjalanannya, Kiyohime tak pernah melupakan Anshin, tetapi dia memahami bahwa rasa cintanya telah berubah menjadi kepedulian yang tulus. Dia berharap Anshin menemukan kedamaian yang dia cari, dan dia mendoakan kebahagiaan bagi pria itu dalam perjalanan spiritualnya.
__ADS_1