
Chapter 7 : Sejarah dan Budaya Heian
Murasaki Shikibu hidup di zaman Heian, sebuah era yang dikenal sebagai "Zaman Kebudayaan" Jepang. Heian berlangsung dari tahun 794 hingga 1185 M, dan dianggap sebagai periode keemasan dalam sejarah Jepang. Pada masa itu, Jepang mengalami pertumbuhan ekonomi, kemajuan seni, sastra, dan arsitektur yang luar biasa.
Pada awal periode Heian, ibu kota Jepang dipindahkan dari Nara ke Heian-kyo (kini Kyoto) oleh Kaisar Kammu. Perpindahan ibu kota tersebut mengakhiri periode Nara dan membuka periode Heian. Heian-kyo dibangun dengan desain kota yang simetris, dengan jalan-jalan yang membentuk kotak-kotak kecil. Arsitektur Heian ditandai dengan penggunaan kayu dan material alami, seperti batu dan jerami.
Pada masa itu, masyarakat Heian diatur berdasarkan hierarki yang ketat. Kelas bangsawan atau aristokrasi memiliki status sosial yang sangat tinggi dan mereka hidup dengan aturan-aturan yang ketat. Pada saat yang sama, kelas petani dan buruh hidup dengan cara yang sangat berbeda dan memiliki sedikit pengaruh dalam pemerintahan.
Di dalam istana Heian, kehidupan seorang wanita bangsawan sangat terikat oleh aturan-aturan sosial ketat. Mereka harus mengikuti etiket dan aturan sopan santun yang ketat, serta dilarang menunjukkan emosi secara terbuka. Meskipun demikian, para wanita bangsawan memiliki kesempatan untuk belajar membaca dan menulis, dan banyak dari mereka menjadi penulis puisi, prosa, dan sastra.
Salah satu karya sastra paling terkenal dari era Heian adalah The Tale of Genji, yang ditulis oleh Murasaki Shikibu. The Tale of Genji dianggap sebagai novel pertama dalam sejarah sastra Jepang, dan mengisahkan kehidupan seorang pangeran tampan bernama Hikaru Genji. Karya ini menampilkan kehidupan bangsawan dan kehidupan sehari-hari masyarakat Heian, serta memberikan gambaran tentang cinta dan hubungan antara pria dan wanita pada masa itu.
Seni dan sastra juga berkembang pesat pada masa Heian. Seni lukis dan kaligrafi menjadi sangat populer, dan banyak karya seni dari era Heian yang masih bertahan hingga saat ini. Seni tatah sungging (emulsi tembikar) juga mulai berkembang pada masa ini.
Budaya Heian memberikan dampak yang signifikan dalam sejarah dan budaya Jepang. Banyak hal yang ditemukan dan dikembangkan pada masa Heian masih menjadi bagian integral dari budaya Jepang saat ini. Misalnya, cara berpakaian tradisional Jepang, yaitu kimono, berasal dari periode Heian. Begitu juga dengan seni ikebana dan upacara teh, yang berasal dari budaya Heian.
__ADS_1
Karya sastra The Tale of Genji juga masih menjadi salah satu karya sastra paling penting dan berpengaruh dalam sastra Jepang, dan menjadi sumber inspirasi bagi banyak seniman dan penulis hingga saat ini. Selain itu, konsep keindahan dalam seni dan sastra Heian, yang dikenal sebagai "yugen" dan "wabi-sabi", juga masih dihargai dan dipraktikkan dalam budaya Jepang saat ini.
Namun, meskipun Heian dianggap sebagai era keemasan dalam sejarah Jepang, kejayaannya tidak berlangsung selamanya. Pada abad ke-12, Jepang mengalami perang saudara yang dikenal sebagai Perang Genpei, yang mengakhiri era Heian dan membuka periode baru dalam sejarah Jepang, yaitu zaman Kamakura. Meskipun demikian, pengaruh dan warisan budaya Heian tetap berlanjut hingga saat ini.
Perjalanan Murasaki Shikibu
Murasaki Shikibu lahir di Kyoto pada sekitar tahun 978. Ayahnya adalah seorang pejabat kekaisaran yang terkemuka, dan ibunya berasal dari keluarga bangsawan yang terkenal. Karena latar belakangnya, Murasaki Shikibu tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan sastra, seni, dan budaya.
Sejak kecil, Murasaki Shikibu menunjukkan bakatnya dalam menulis dan membaca. Dia belajar membaca aksara China, yang pada saat itu digunakan untuk menulis sastra dan dokumen resmi di Jepang. Selain itu, dia juga mempelajari sastra Jepang klasik, seperti Manyoshu dan Kokin Wakashu, yang berisi puisi-puisi dari periode Nara dan Heian.
Pada waktu luangnya, Murasaki Shikibu menulis The Tale of Genji, sebuah karya sastra yang dianggap sebagai mahakarya sastra Jepang. Dia menulis karya tersebut selama bertahun-tahun, dan menyelesaikannya pada sekitar tahun 1010. Karya tersebut mengisahkan kehidupan seorang pangeran tampan bernama Hikaru Genji, dan menampilkan kehidupan bangsawan dan kehidupan sehari-hari masyarakat Heian pada masa itu.
Setelah menyelesaikan The Tale of Genji, Murasaki Shikibu menulis karya sastra lainnya, seperti Diary of Lady Murasaki, yang mengisahkan kehidupannya di dalam istana kekaisaran. Selain itu, dia juga menulis puisi-puisi yang terkenal, seperti Murasaki Shikibu Nikki.
Meskipun karyanya diakui sebagai karya sastra terbaik dari era Heian, Murasaki Shikibu sendiri tidak dikenal secara luas selama hidupnya. Namun, setelah kematiannya, karya-karyanya dianggap sebagai mahakarya sastra Jepang dan menjadi sumber inspirasi bagi banyak seniman dan penulis hingga saat ini.
__ADS_1
Perjalanan hidup Murasaki Shikibu menggambarkan kehidupan bangsawan pada masa Heian, yang sangat terikat oleh aturan-aturan sosial yang ketat. Namun, dia juga menunjukkan kemampuan wanita bangsawan untuk belajar dan mengeksplorasi dunia sastra dan seni, dan meninggalkan warisan budaya yang berharga bagi Jepang dan dunia.
Setelah menyelesaikan karya sastranya, The Tale of Genji, Murasaki Shikibu memutuskan untuk melakukan perjalanan ke tempat suci di Kii untuk mencari inspirasi untuk karya sastranya selanjutnya. Ia berangkat pada musim semi tahun 1015, diiringi oleh beberapa pengawal dan pelayan.
Perjalanan ke Kii sangat berat dan melelahkan, terutama karena Murasaki Shikibu dan rombongannya harus menyeberangi pegunungan dan hutan yang berbahaya. Mereka juga harus menghadapi cuaca buruk dan kondisi jalan yang buruk. Namun, Murasaki Shikibu tetap bersabar dan terus berjalan.
Setelah berjalan selama beberapa hari, mereka akhirnya tiba di Kuwana, sebuah kota kecil di pesisir. Di sana, mereka menginap di kuil dan bertemu dengan seorang biksu yang memberi mereka arahan tentang perjalanan mereka ke Kii.
Setelah meninggalkan Kuwana, rombongan Murasaki Shikibu melanjutkan perjalanan ke selatan menuju Kii. Mereka harus menyeberangi sungai-sungai yang deras dan berjalan melalui hutan lebat yang gelap. Namun, Murasaki Shikibu tetap tegar dan terus berjalan.
Setelah beberapa hari berjalan, rombongan Murasaki Shikibu akhirnya tiba di Kumano, sebuah kota suci yang terkenal di Jepang. Di sana, mereka mengunjungi kuil-kuil dan tempat suci yang terkenal, seperti Kumano Hongu Taisha dan Kumano Nachi Taisha.
Setelah menyelesaikan perjalanan ke Kii, Murasaki Shikibu kembali ke Kyoto dan kembali menulis karya sastranya. Dia menyelesaikan karya terakhirnya, Murasaki Shikibu Nikki, pada akhir hayatnya. Karya ini mencatat kehidupannya sebagai seorang wanita bangsawan di istana kekaisaran, dan memberikan gambaran yang jelas tentang kehidupan dan kebudayaan bangsawan Heian.
Perjalanan Murasaki Shikibu ke Kii menunjukkan tekad dan ketekunan dalam mengejar tujuannya, meskipun harus melewati berbagai rintangan dan kesulitan. Perjalanan ini memberinya inspirasi untuk menulis karya sastra yang lebih banyak lagi, dan menghasilkan karya-karya yang menjadi warisan budaya yang berharga bagi Jepang dan dunia.
__ADS_1