
Chapter 14: "Perjalanan ke Edo"
Izumo no Okuni adalah seorang penari wanita yang bermimpi untuk membawa kesenian baru ke dunia. Pada era ke-17 di Jepang, teater kabuki belum ada, dan wanita dilarang tampil di panggung. Namun, Okuni tidak takut dengan tantangan ini. Ia percaya bahwa wanita juga memiliki potensi untuk menampilkan seni yang memukau.
Okuni memulai perjalanannya dengan mencari tempat di mana ia bisa menampilkan bakatnya. Dia mengunjungi berbagai desa dan kota, tetapi di mana pun dia pergi, dia dihadapkan dengan penolakan dan stereotipe gender yang membatasi. Namun, Okuni tidak menyerah. Dia bertekad untuk membuktikan bahwa penari wanita juga bisa menjadi bintang panggung.
Suatu hari, saat Okuni berada di kota Kyoto, dia mendengar kabar tentang sebuah kuil yang diyakini menjadi tempat bersemayamnya dewa yang melindungi seni. Tanpa ragu, Okuni memutuskan untuk mengunjungi kuil tersebut. Di dalam kuil, dia berdoa dengan sungguh-sungguh, memohon petunjuk dan keberkahan dewa untuk mewujudkan mimpinya.
Ketika Okuni keluar dari kuil, dia dikejutkan oleh seorang pria tua yang muncul di hadapannya. Pria itu mengenakan pakaian samurai dan memiliki tatapan tajam. Dia mengaku sebagai penjaga kuil dan mengatakan bahwa dewa telah mendengar doa Okuni.
"Jika kamu sungguh-sungguh ingin membawa kesenian baru ke dunia, ikuti jalan yang tak terjamah," kata pria tua itu seraya menunjuk ke arah hutan belantara di sebelah barat.
Okuni merasa campur aduk. Dia tahu bahwa tantangan yang lebih besar sedang menantinya di hutan tersebut. Namun, tekadnya tidak pernah goyah. Dengan hati yang bersemangat, Okuni memasuki hutan yang misterius itu, siap menghadapi segala rintangan yang ada.
Di dalam hutan yang lebat, Okuni menghadapi berbagai bahaya dan ujian yang menantang. Dia melewati sungai yang ganas, menaklukkan rintangan berupa tebing curam, dan melawan makhluk-makhluk mistis yang menjaga hutan. Namun, setiap rintangan yang dia hadapi, Okuni tidak pernah menyerah.
Setelah berhari-hari berjalan, Okuni tiba di sebuah lembah tersembunyi. Di tengah lembah, terdapat sebuah gua yang terlihat sangat kuno. Okuni merasakan aura magis yang kuat memancar dari dalam gua itu. Dengan hati berdebar, dia memasuki gua tersebut.
Di dalam gua, Okuni menemukan sebuah perguruan seni rahasia yang telah terlupakan. Seni ini dikenal sebagai "Kagura", tarian ritual yang digunakan untuk menghormati para dewa. Okuni menyadari bahwa inilah kesempatan emasnya untuk mengembangkan kesenian baru yang diimpikannya.
__ADS_1
Dengan tekun, Okuni belajar setiap gerakan dan bunyi dalam Kagura. Dia menghancurkan batasan-batasan yang ada dan menciptakan gerakan-gerakan baru yang penuh kekuatan dan keindahan. Selama berbulan-bulan, dia melatih tubuh dan jiwa untuk menjadi penari terbaik yang pernah ada.
Kabar tentang penari wanita yang menemukan seni baru pun menyebar dengan cepat. Orang-orang mulai tertarik pada keberanian dan bakat Okuni. Panggung pertamanya yang diadakan di sebuah desa kecil menjadi sorotan utama, dan banyak orang terpesona oleh penampilannya yang memukau.
Namun, perjalanan Okuni belum berakhir. Dia ingin memperkenalkan seni barunya ke kota-kota besar seperti Kyoto dan Edo. Tapi untuk mencapai itu, dia harus melewati banyak rintangan dan menghadapi penolakan yang lebih besar lagi.
Setelah sukses menampilkan bakatnya di desa-desa kecil, Okuni dengan semangat tinggi memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya ke kota Kyoto, pusat kebudayaan Jepang pada masa itu. Namun, di kota yang besar dan penuh persainGan ini, Okuni sadar bahwa tantangan yang menantinya akan jauh lebih besar.
Ketika Okuni tiba di Kyoto, dia langsung merasakan aura kekaguman dan ketakutan yang terpancar dari penduduk setempat. Namun, itu tidak menghalangi langkahnya. Dengan percaya diri, dia memasuki sebuah teater yang terkenal di kota itu dan meminta kesempatan untuk menampilkan bakatnya.
Manajer teater, yang tadinya skeptis terhadap seorang penari wanita, terkesan dengan semangat dan keahlian Okuni. Dia memberikan kesempatan kepada Okuni untuk menampilkan tariannya di panggung utama teater tersebut. Berita tentang penari wanita yang mampu menghipnotis penonton dengan gerakan-gerakan tari yang memukau segera menyebar ke seluruh kota.
Grup penari tersebut memutuskan untuk menghadang Okuni dan melancarkan serangan verbal yang menghancurkan harga dirinya. Mereka mencoba menjatuhkan reputasi Okuni dengan berbagai fitnah dan gosip yang kejam. Namun, Okuni tidak terpengaruh. Dia mengerti bahwa setiap kesuksesan selalu disertai dengan rintangan dan cobaan.
Dalam pertunjukan berikutnya, Okuni menghadapi penonton yang terbagi. Ada yang mendukungnya dengan antusias, namun ada juga yang skeptis dan mencemooh. Namun, ketika ia memulai tariannya, energi dan semangatnya dengan cepat menular ke penonton. Mereka terpesona oleh keserasian dan ketegasan gerakan Okuni.
Setelah pertunjukan, banyak orang yang datang untuk memberikan apresiasi dan penghargaan pada Okuni. Mereka melihat keberanian dan keindahan yang terpancar dari penampilannya. Grup penari laki-laki yang dulu mencoba menjatuhkannya pun akhirnya mengakui bakat dan dedikasi Okuni.
Kisah perjalanan Okuni terus menginspirasi banyak orang, terutama para wanita, untuk memperjuangkan impian mereka tanpa takut dengan hambatan yang ada. Okuni menjadi legenda hidup yang mengubah pandangan masyarakat Jepang tentang seni dan peran wanita di dunia seni rupa.
__ADS_1
Setelah meraih sukses di Kyoto, Okuni merasa semakin termotivasi untuk melanjutkan perjalanannya ke Edo, ibu kota Jepang yang lebih besar dan penuh dengan kesempatan baru. Dia merasa bahwa perjalanan ini akan menjadi ujian terbesarnya, namun juga kesempatan untuk membuktikan bakatnya di panggung yang lebih besar.
Ketika Okuni tiba di Edo, dia terpesona oleh keindahan dan kehidupan sibuk kota tersebut. Bangunan megah, jalan-jalan yang ramai, dan kerumunan orang-orang yang terus bergerak menjadi pemandangan yang mengesankan baginya. Namun, dia tidak boleh terpesona terlalu lama. Ada pekerjaan yang harus dilakukan.
Okuni mulai mencari teater yang terkenal di Edo dan berharap mendapatkan kesempatan untuk menampilkan bakatnya. Namun, persaingan di Edo jauh lebih ketat daripada yang pernah dia alami sebelumnya. Banyak penari dan grup seni lainnya yang telah lama mendominasi panggung-panggung di kota ini.
Okuni mengunjungi beberapa teater dan mencoba meyakinkan manajernya tentang kemampuannya. Namun, dia dihadapkan pada penolakan demi penolakan. Beberapa manajer meremehkan Okuni sebagai seorang wanita muda yang tidak memiliki pengalaman yang cukup untuk tampil di panggung mereka.
Namun, Okuni tidak menyerah. Dia memutuskan untuk mengubah strategi. Dia memutuskan untuk mengadakan pertunjukan kecil di sebuah lapangan terbuka di Edo, mengundang semua orang untuk menyaksikan tariannya secara gratis. Dia berharap bahwa pertunjukan ini akan menjadi bukti nyata tentang bakatnya kepada semua orang.
Pertunjukan itu menjadi sukses besar. Ribuan orang hadir untuk menyaksikan tarian Okuni yang memukau. Mereka terpesona oleh gerakan-gerakan grasiannya, dan energi yang dipancarkannya di atas panggung. Okuni berhasil memenangkan hati penonton dan membuat mereka terkesan.
Berita tentang pertunjukan Okuni dengan cepat menyebar di Edo. Manajer-manajer teater yang sebelumnya menolaknya sekarang mulai memperhatikannya. Mereka menyadari potensi Okuni sebagai penari yang bisa mengubah wajah dunia seni di Edo. Beberapa manajer bahkan mulai menghubungi Okuni dan menawarkannya kesempatan untuk tampil di panggung mereka.
Okuni dengan penuh semangat menerima tawaran-tawaran tersebut. Dia tampil di berbagai teater terkenal di Edo dan semakin mendapatkan pengakuan atas bakatnya. Namanya menjadi semakin dikenal dan ia mulai memiliki penggemar setia di seluruh kota.
Namun, dengan ketenaran datang pula tantangan dan cobaan baru. Ada mereka yang iri dengan kesuksesan Okuni dan berusaha mencemarkan namanya dengan fitnah dan gosip yang kejam. Okuni harus belajar menghadapi hal ini dengan bijaksana dan tidak terpengaruh oleh kata-kata jahat mereka.
Dalam perjalanannya di Edo, Okuni tidak hanya berjuang untuk mencapai keberhasilan sebagai penari, tetapi juga mencari kebenaran tentang asal-usulnya. Dia merasa bahwa ada rahasia yang disembunyikan tentang keluarganya, dan dia berjanji untuk menemukan jawaban yang dia cari.
__ADS_1