Bayangan Abadi

Bayangan Abadi
Bab 1: Kamar Terlarang


__ADS_3

Hari itu, Maya merasa berdebar saat melangkah masuk ke rumah barunya yang megah. Setelah berpindah ke kota kecil ini, ia berharap dapat menemukan ketenangan dan inspirasi untuk menulis novel barunya. Namun, begitu Maya melintasi ambang pintu, ada sesuatu yang aneh yang membuat bulu kuduknya merinding.


Maya melangkah melintasi ruang tamu yang elegan, memperhatikan gambar-gambar tua yang menggantung di dinding. Suara langkah kakinya bergema di koridor yang panjang, mengirimkan getaran ke anatara ruang. Namun, kegelapan menyelimuti rumah itu, membuatnya merasa terlalu sunyi.


Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada pintu kecil yang tersembunyi di salah satu sudut ruang tamu. Maya merasa penasaran dan menghampirinya dengan hati-hati. Pintu itu terkunci dengan rapat, mengundang rasa ingin tahu yang semakin besar. Ia mengambil kunci dari dalam saku, berharap dapat membuka pintu misterius itu.


Dengan gemetar, Maya memasukkan kunci ke dalam lubang kunci. Seketika itu juga, pintu itu terbuka dengan sendirinya. Getaran aneh menyelimuti udara saat ia melangkahkan kakinya ke dalam kamar terlarang yang tersembunyi di balik pintu itu.

__ADS_1


Suasana di dalam kamar itu berbeda. Udara terasa dingin dan terisi dengan aura yang mencekam. Maya memandang sekelilingnya, melihat furnitur tua yang terbungkus debu dan bayangan-bayangan yang tampak bergerak di sudut-sudut ruangan. Ada sesuatu yang tidak beres dengan tempat ini.


Tidak mau mundur, Maya melanjutkan langkahnya. Setiap langkah yang ia ambil membuat hatinya semakin berdebar. Saat ia melintasi meja tua yang retak, tiba-tiba ia merasakan sentuhan lembut di lengannya. Maya berbalik, tetapi tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya bayangan-bayangan yang tampak berdansa di dinding.


Maya melanjutkan eksplorasinya dan akhirnya mencapai lemari kayu besar yang terletak di sudut ruangan. Dengan hati-hati, ia membuka pintunya. Di dalamnya, ia menemukan koleksi buku-buku kuno yang usang. Maya mengambil salah satu buku dari rak dan membuka halaman pertamanya.


Namun, sebelum ia sempat membaca satu kata pun, suara menakutkan bergema di sekitarnya. Sebuah kembang api supernatural muncul dari buku yang ia pegang, menyebabkan Maya terlempar ke belakang oleh kekuatan yang tak terlihat. Ia jatuh ke lantai dan kehilangan kesadaran sesaat.

__ADS_1


Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di kejauhan. Maya menghentikan gerakannya, mendengarkan dengan hati-hati. Suara itu semakin mendekat, dan Maya merasa ada seseorang di dekatnya. Ia mencoba memanggil, tetapi suaranya terdengar terhenti di tenggorokannya.


Kemudian, dari sudut ruangan, muncul bayangan sosok misterius yang menghampiri Maya. Bayangan itu memancarkan aura yang gelap dan menakutkan. Maya merasa tubuhnya membeku, terjebak dalam kepanikan yang tak terlukiskan.


"Sudah lama kau menunggu," bisik sosok itu dengan suara seram. "Kini, saatnya membayar hutang yang telah lama kau tinggalkan."


Maya mencoba mundur, tetapi kakinya terasa terjebak dalam tanah. Sosok itu semakin mendekat, wajahnya yang mengerikan semakin terlihat jelas. Hantu itu meraih tangan Maya dengan kekuatan yang tak terduga, menggenggamnya dengan erat.

__ADS_1


Dalam keputusasaan, Maya berusaha berteriak, memanggil bantuan. Namun, suaranya terdengar mati dan tak berguna. Ia terperangkap dalam kamar terlarang yang gelap, berharap ada yang datang menyelamatkannya sebelum terlambat.


Namun, di tengah kegelapan yang mencekam, satu-satunya saksi bisu dari perjuangannya adalah bayangan-bayangan yang terus bergerak, menari di dinding, seolah-olah mereka menikmati tontonan dari penderitaannya yang tak berujung.


__ADS_2