Bayangan Abadi

Bayangan Abadi
Bab 3: Rumah Tua yang Terlupakan


__ADS_3

Maya menatap rumah tua yang menjulang di hadapannya. Dindingnya yang retak dan kaca-kaca jendelanya yang pecah menambah kesan seram pada bangunan yang ditinggalkan itu. Ia merasakan getaran misterius saat melangkah ke dalam rumah tersebut.


Dalam kegelapan ruangan, Maya mengeluarkan senter dari dalam saku dan menyalakannya. Cahaya senter menerangi lorong-lorong yang berdebu, menampakkan dinding-dinding yang penuh dengan gambar-gambar aneh dan goresan-goresan yang tak terbaca.


Dengan hati-hati, Maya melangkah maju, menjelajahi setiap ruangan yang terabaikan. Suara langkah kakinya bergema di ruang kosong, menciptakan kesan bahwa rumah ini masih memiliki jiwa yang terperangkap di dalamnya. Ia mencari benda pertama yang harus dikumpulkan, sesuai dengan petunjuk dari arwah-arwah permainan.


Tiba-tiba, seberkas cahaya redup menarik perhatian Maya. Ia mengikuti cahaya tersebut dan menemukan sebuah ruangan tersembunyi di balik lemari tua yang melengkung. Ruangan itu dipenuhi dengan boneka-boneka tua yang tersusun rapi di rak kayu. Mata boneka-boneka itu tampak hidup dan mengikuti setiap gerakan Maya.


Hati Maya berdebar-debar saat ia memeriksa boneka-boneka satu per satu. Salah satu dari mereka memancarkan aura yang menyeramkan. Ia menggenggam boneka itu, merasakan getaran kekuatan yang jahat dari dalamnya. Maya memasukkan boneka itu ke dalam tasnya dan melanjutkan pencarian benda berikutnya.


Sementara itu, suara langkah kaki berat terdengar di atas lantai kayu. Maya berbalik dan melihat bayangan hitam yang melintas di koridor. Ia merasakan bahwa ia tidak sendirian di dalam rumah ini. Ketakutan dan ketegangan mencengkeram hatinya, tetapi ia tidak boleh menyerah.

__ADS_1


Maya terus melangkah, menjelajahi setiap ruangan dan menemukan benda-benda kuno yang tersembunyi. Dari potongan-potongan porselen berhias hingga lukisan-lukisan yang robek, ia dengan hati-hati mengumpulkan setiap benda tersebut. Suara-suara aneh terus menggema di telinganya, dan kehadiran yang tak kasat mata terasa semakin dekat.


Saat menjelajahi ruang bawah tanah yang gelap, Maya menemukan sebuah peti besi yang terkunci. Dengan keahliannya dalam membuka kunci, ia berhasil membuka peti itu dan terkejut melihat isi di dalamnya. Tumpukan tulang manusia berserakan di dalam peti itu, menyiratkan kisah kelam yang pernah terjadi di rumah ini.


Namun, di tengah-tengah tumpukan tulang, terdapat sebuah kalung berlian yang bersinar mempesona. Meskipun merasa terguncang dengan penemuan ini, Maya tahu bahwa inilah benda yang harus ia kumpulkan. Dengan hati-hati, ia memasukkan kalung itu ke dalam tasnya, menyadari bahwa setiap benda yang dikumpulkannya membawa kekuatan gelap yang lebih dalam ke dalam hidupnya.


Saat Maya beranjak dari ruang bawah tanah, ia merasakan sentuhan dingin di lehernya. Dengan jantung berdebar, ia menyentuh kulitnya dan menemukan jejak-jejak tangan di sekitar lehernya. Teror semakin melilit dirinya, dan ia tahu bahwa ia harus segera keluar dari rumah ini sebelum terlambat.


Dalam kepanikan yang semakin meningkat, Maya berusaha mencari cara untuk membuka pintu yang terkunci. Ia memeriksa setiap sudut ruangan, mencoba merasakan adanya tuas rahasia atau kunci cadangan. Namun, semua upayanya sia-sia. Pintu terus menjadi tidak bergerak, mengunci dirinya dengan kuat.


Sementara itu, suasana di dalam rumah semakin suram. Cahaya senter yang dulunya terang kini menjadi redup, seakan disedot oleh kegelapan yang mengintai di setiap sudut. Bayangan-bayangan misterius bergerak dengan cepat di dinding, menciptakan ilusi yang menakutkan. Suara-suara bisikan terdengar di telinga Maya, memanggil namanya dengan suara serak dan menusuk jiwa.

__ADS_1


Maya merasa terjebak dalam labirin kegelapan dan teror. Ketakutan melingkupi dirinya, tetapi ia tidak boleh menyerah. Dengan tekad yang teguh, ia berusaha menjaga pikirannya tetap fokus dan mencari solusi untuk keluar dari situasi yang mencekam ini. Tidak peduli betapa menakutkan dan suramnya rumah ini, Maya harus bertahan dan melanjutkan misi yang harus diselesaikannya.


Ia melangkah ke ruangan lain dengan hati-hati, menaruh harapannya pada penemuan benda berikutnya yang mungkin dapat membantunya mengungkap rahasia di balik permainan ini. Teriakan dan jeritan yang tak kasat mata terus menghantui keheningan, tetapi Maya mengabaikannya, mencari tanda-tanda petunjuk yang ditinggalkan oleh arwah-arwah.


Tiba-tiba, dari sudut ruangan, Maya melihat sebuah lukisan besar yang tergantung di dinding. Lukisan itu menggambarkan sosok seorang wanita dengan mata yang terbelalak dan senyuman yang mengerikan. Keanehan terasa begitu nyata saat mata lukisan itu bergerak, mengikuti gerakan Maya.


Dengan langkah ragu, Maya mendekati lukisan itu. Dia merasakan kehadiran yang kuat di balik kanvas, sebuah kekuatan jahat yang mengancamnya. Tetapi dia tahu bahwa di dalam lukisan ini terdapat petunjuk penting. Maya menghela nafas dan mengangkat tangan gemetar untuk menyentuh lukisan tersebut.


Namun, ketika jarinya hampir menyentuh permukaan lukisan, sosok wanita dalam lukisan, sosok wanita dalam lukisan itu keluar secara tiba-tiba. Maya terperangah saat melihat sosok itu berdiri di hadapannya, senyumnya yang mengerikan menghiasi wajahnya yang pucat. "Selamat datang di duniaku yang gelap," bisiknya dengan suara serak yang menusuk telinga Maya.


Ketakutan melanda diri Maya, tetapi di balik ketakutan itu, ia merasakan kekuatan dan tekad yang tumbuh dalam dirinya. Ia menyadari bahwa dia harus menghadapi setiap rintangan dan mengungkap misteri yang ada di dalam rumah ini, tidak peduli betapa menakutkan dan berbahayanya itu. Dalam pertarungan antara teror dan keberanian, Maya bersiap untuk melangkah lebih jauh, menghadapi segala ketakutan yang mengintainya di babak berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2