
Maya berdiri di depan lukisan wanita mengerikan yang keluar dari kanvas. Wajahnya pucat dan matanya terbelalak, menyiratkan kekuatan jahat yang tak terkendali. Maya mengumpulkan keberanian yang tersisa di dalam dirinya dan menatap sosok itu dengan tatapan tajam.
"Duniamu yang gelap tak akan menghentikan aku," ucap Maya dengan suara bergetar, mencoba menaklukkan ketakutannya. Wanita itu tersenyum dengan kepuasan yang jahat, lalu menghilang kembali ke dalam lukisan. Maya bernapas lega, tetapi dia tahu bahwa tantangan yang lebih besar masih menunggunya di dalam rumah ini.
Dengan hati-hati, Maya melanjutkan eksplorasinya melalui koridor-koridor yang gelap. Suara-suara aneh dan berisik terus menggema di telinganya, mengganggu ketenangan pikirannya. Ruangan-ruangan yang terbuka di hadapannya penuh dengan benda-benda yang rusak dan berdebu, mencerminkan kehancuran dan kesepian yang melingkupi rumah tua ini.
Tiba-tiba, ia mendengar suara gemerincing dari ruangan sebelah. Maya melangkah menuju suara itu dan menemukan sebuah kamar dengan lantai yang dipenuhi dengan pecahan kaca. Di tengah-tengahnya, terdapat sebuah kotak musik tua yang masih berfungsi.
__ADS_1
Kesuraman kamar itu berubah menjadi sedikit lebih terang ketika Maya membuka kotak musik itu. Melodi yang terputar mengisi ruangan, menciptakan atmosfer yang misterius. Namun, seiring dengan melodi yang semakin intens, kotak musik itu terasa semakin panas di tangan Maya.
Maya melepaskan tangannya dengan cepat saat kotak musik tiba-tiba berubah menjadi bola api kecil. Api itu berdansa-dansa di udara, mengeluarkan percikan-percikan yang memancar cahaya ke seluruh ruangan. Panik melanda Maya, mencoba mencari cara untuk memadamkan api yang semakin membesar.
Tiba-tiba, sebuah angin kencang memasuki kamar dan memadamkan api dengan sekali hembusan. Maya melihat sosok bayangan di balik angin tersebut, sebuah siluet wanita yang mengambang di udara. Wanita itu tersenyum pada Maya, tetapi senyumannya terasa jahat dan tak terduga.
Maya menelan ludah, berusaha untuk tetap tenang meskipun rasa ketakutan yang semakin memenuhi hatinya. Dia harus menemukan cara untuk melawan kekuatan jahat ini dan melarikan diri dari rumah ini sebelum terlambat.
__ADS_1
Ia melanjutkan perjalanannya ke lantai atas rumah, menghadapi tangga yang reyot dan berdebu. Saat kakinya melangkah di atas anak tangga yang keropos, suara-suara menggelikan terdengar di bawahnya, seolah-olah ada makhluk yang merayap di bawah lantai.
Dengan hati-hati, Maya memasuki salah satu kamar tidur yang ada di lantai atas. Kamar itu terlihat seperti telah lama ditinggalkan, dengan lemari yang terbuka dan pakaian-pakaian yang tergeletak di lantai. Di tengah-tengah kekacauan, ada sebuah cermin besar yang mencuri perhatian Maya.
Ia mendekati cermin itu dan melihat bayangan dirinya yang terdistorsi. Namun, sesaat setelah itu, bayangan itu mulai bergerak sendiri, memperlihatkan wajah yang asing dan menakutkan. Maya menyadari bahwa cermin ini bukanlah sekadar cermin biasa, melainkan merupakan jendela ke dunia lain yang gelap.
Dalam kepanikan, Maya mencoba melepaskan diri dari pengaruh cermin itu, tetapi tangannya terasa terjebak di permukaan cermin yang dingin. Ia terperangkap di antara dua dunia, merasakan kehadiran yang jahat semakin dekat, dan ia tahu bahwa ia harus menemukan jalan untuk meloloskan diri dari kutukan cermin ini.
__ADS_1