
ia membayangkan wajah alvin yang selalu baik dan hangat padanya, dengan senyum khas alvin, dea membayangkan segala kebaikan yang alvin berikan baik kepada dea maupun kepada keluarga dea.
Namun itu semua hanya untuk menutupi kedoknya, yang sudah bermain gelap dengan seseorang yang mirip dengan nya, yang lebih jauh lebih berada di bandingkan dea, gadis dengan keturunan bangsawan, dan latar belakang yang bagus, tentu sungguh memang lebih baik bersanding dengan alvin yang sama sama berlatarkan dari keluarga konglomerat.
"kalau memang harus begitu kenapa kamu tak bilang dari awal alvin...kenapa hah!!!!!",
"aku pasti akan sadar diri, jauh jauh hari sebelum ini!"
"dan kamu tidak akan kerepotan karena aku vin aaaaaa!!!!" teriaknya pada dirinya didepan cermin.
"prang!!",
tanpa sadar dea melempar sebuah kursi meja rias ke cermin rias yang besar itu, dengan keadaan yang sangat frustrasi , tanpa ada seorang pun yang melihat kehancurannya, dan sebuah pelukan untuk meredakan amarahnya,kini pikirannya menjadi gelap gulita tanpa ada secercah cahaya yang membuat dia berharap lagi.
ia mengambil pecahan dari kaca itu, dengan menutup mata nya dia mengacungkan pecahan itu kearah rahangnya, air matanya yang terus mengalir seperti sungai, tanda kekecewaan bercampur aduk dengan segala kesakitan yang ia derita.
"ayah, ibu, rafa, kakak doakan kalian akan bahagia suatu saat nanti, walaupun tanpa kakak, rafa ketika kamu besar, jadilah laki laki sejati, cintai pasangan mu, dengan segenap hatimu, jangan sakiti dia, ayah terimakasih telah menjadi sosok yang paling baim dan istimewa untukku, ibu terimakasih telah melahirkanku, dan mendidikku menjadi wanita yang kuat selama ini, namun maaf kan aku ,karna saat ini aku akan membuat keputusan yang membuat kekecewaan bagi kalian, maaf kan aku, namun aku tak bisa menahan semua ini, maaf kan aku ayah, ibu, dik" ucapnya di dalam hatinya, dan bersiap siap menusukkan ujung kaca itu ke rahangnya.
dea pun mengayunkan ujung pecahan itu dengan kedua tangannya agar itu akan langsung membunuhnya.
namun pada saat dia akan menancapkan ujung belahan cermin itu, seseorang menahan ujung cermin itu dengan tangan kosong, dea pun membuka matanya, lalu ia menatap sosok yang sangat mirip dengan alvin, namun dengan tatapan yang berbeda dan aura yang berbeda juga, mata nya yang sudah membengkak, dan kepalanya yang berdarah sehingga membuatnya pusing, ia hanya menyangka alvin telah datang.
"aaaaaa!!!, kamu jahat, kamu jahat, kamu menghianatiku, aku tau aku miskin dan tak berpendidikan, namun bukan itu alasannya kamu bisa seenaknya mempermainkan ku, aku bukan barang aku punya hati huaaaaaa!!!!", ucapnya sambil terjatuh kelantai dan memukul mukul dada pemuda itu.
"aku tak pernah menginginkan hartamu, aku bahkan tak pernah berpikir seperti itu, aku hanya ingin bersama mu dalam keadaan suka dan duka, di bawah rumah sederhana yang kita bangun bersama, apakah itu susah, aku tau kamu memiliki segalanya, tapi jika kamu sangat menyukainya, kenapa kamu tak mengatakannya sejak awal, kamu menghancurkan ku, ini tak lebih baik dari mati"
__ADS_1
"kesalahan apa yang aku buat sehingga kamu bisa memperlakukanku sejauh ini, hah!!!!, bisakah kamu mengatakan 1 saja kesalahanku, apakah aku sudah membuatmu muak!!!, katakan hik,,, hik,, katakan!!!", teriak dea sambil menangis.
pemuda itu tampak tak mengeluarkan ekspresi apapun, namun pemuda itu sekilas mengeluarkan raut wajah yang sangat sedih melihat keadaan dea, yang sudah sembrautan, pemuda itu pun memeluk dea dan menepuk nepuk punggung dea dengan pelan, dia berniat menenangkan dea yang tampak sudah putus asa akan hidupnya.
dea pun tenang, setelah beberapa saat, waktu menunjukkan tepat pukul 10:00, dan ini waktu pemberkatan, suara nyanyian iringan musik sudah dibunyikan, dea pun menatap pemuda itu dengan pasti.
"kamu bukan alvin, tapi kau seperti alvin, jika ini mimpi bisakah aku meyelesaikan pernikahan ini, setelah itu izinkan aku bangun", ucap dea dengan suara sesenggukan.
pria itu pun menatap dea.
"aku bukan alvin, aku alwin saudara kembar alvin, aku kakaknya, jika berkenan maukah kamu mengizinkanku untuk menggantikan saudaraku?", ucap alwin memegang pinggang dea dengan tangannya yang penuh darah akibat menahan belahan cermin.
Dea yang pusing kebingungan akan segala keadaan yang berjalan pada saat ini, dia berpikir semua ini hanya lelucon mimpi, dan dia sedang bermimpi.
tapi dia semakin kebingungan karena ia dapat merasakan sakit yang luar biasa akibat benturan di kepalanya.
"Aku berjanji, dengan darahku, dan darahmu, aku hanya akan ada untukmu saja",
"dan dibanding itu, apakah semuanya akan selesai dengan kamu bunuh diri, apakah kamu tak menyayangi ayah dan ibumu, yang berharap kamu punya kehidupan yang baik dibanding mereka?, apa gunanya mereka membesarkanmu dengan berceceran air keringat selama ini, kalau kamu menyerah di tengah jalan..., apakah kamu tak memikirkan bagaimana ayah mh bekerja hanya untuk membiayai kamu mulai dari kecil, sampai ia sakit sakitan, apa upahnya atas itu semua?, kamu tidak bisa egois karena masalah ini"
"dan apakah kamu ingin menyerah dan mati dengan membawa julukan si pecundang?, apakah kamu tidak berniat bahagia dan membalas dia yang telah menyakitimu",
"oleh karena kesakitan lah kita bisa tumbuh menjadi orang yang lebih kuat dan tahan banting, bukan menjadi orang yang lembek dan mudah menyerah, kamu harus kuat"
dea pun menatap wajah alwin, dengan penuh kesadaran akan segala hal yang ia lakukan, kini ada secercah cahaya kehidupan di pikiran dea, yang sebelumnya sudah menjadi gelap.
__ADS_1
"peganglah tanganku jika kamu ingin membalas mereka", ujar alwin memberikan tangannya yang penuh darah.
"apa untungnya untukmu, aku juga pasti akan menyakitimu, aku tak bisa mengendalikan masa depan, dan kita hanya 2 orang yang baru bertemu, aku bahkan tidak mencintaimu, dan jika aku menikah denganmu hanya untuk membalas dendam, bukankah aku terlalu jahat untuk itu, apalagi pernikahan itu sepanjang usia, aku tak ingin menyakitkmu", ujar dea dengan sesenggukan di lehernya.
"aku tidak apa apa, aku juga mengatakan, jika kamu sudah mencapai tujuanmu, kamu bisa kapanpun meninggalkan ku, kau bebas memperalatku, anggap saja ini sebagai ungkapan permintaan maaf atas saudaraku", ucap alwin mengelus wajah Dea dengan lembut.
"bagaimana aku mau menikah dengan tampilan seperti ini, jika aku mengulang make up, membutuhkan waktu sekitar 2 jam agar make up nya selesai, aku memang tak pantas bersanding dengan kalian, walaupun tubuhku digantungi oleh perhiasan berlian" ucapnya kembali menangis.
"apakah kau setuju denganku?", ujar alwin dengan singkat.
"untuk saat ini aku setuju, tapi....."
"eh...!"
Dea belum sempat menyelesaikan kalimatnya, alwin langsung menggendong Dea ke aula pernikahan, sorak dan tepuk tangan tampak hening melihat kedua pengantin yang berpenampilan hancur memasuki aula pernikahan.
keluarga besar bustor dan kelurga Dea yang berkumpul di meja Vip, karena keluarga dea yang miskin mereka tak berani, bertindak jauh, walaupun sudah melihat keadaan dea yang berwajah bengkak dan berlumuran darah.
"pak cepat mulai saja presepsinya", ujar alwin kepada penanggung jawab pernikahan.
penanggung jawab pernikahan yang ketakutan dengan pengantin itu membaca segala aturan pernikahan dan janji suci untuk mereka dengan sangat lugas dan cepat, dan keluarga mempelai yang sadar bahwa yang menikah itu adalah alwin bukan alvin, langsung heboh.
"itu alwin bukan alvin!", teriak ayah alwin dari meja vip.
alwin pun dengan cepat menyelesaikan resepsi, dan langsung mencium dea di depan seluruh tamu, dea yang kelelahan karena menangis langsung pingsan di pelukan alwin, alwin pun langsung memeluk Dea dengan penuh perhatian, ayahnya yang langsung menuju alwin menampar alwin, karena yang dinikahinya adalah tunangan adiknya, hal ini sungguh menghancurkan norma dan citra keluarga besar buston.
__ADS_1
namun dengan wajah yang datar, alwin mengangkat tubuh lusuh Ade menuju keluar aula, seluruh tamu undangan tampak melirik alwin yang menggendong tubuh Dea keluar gedung pernikahan.
setelah keluar dari gedung, tampak hanya cahaya matahari yang menyambut hubungan mereka dengan baik, dengan sinar matahari yang cerah, alwin menatap wajah Dea, dan tersenyum bahagia melangkah menuju mobil.