
para maid itu datang dengan wajah datar, seolah olah tatapan mereka pada alwin sebelumnya tampak sirna.
namun dea tidak terlalu memperhatikan kalau bibir para maid itu telah mengutukinya, tanpa ada alasan dan sebab.
dea menatapi kamarnya yang sudah seperti sebuah rumah apartemen berkelas, dea kembali menggoyang goyangkan kakinya, di atas kasur bermerek ternama.
"wah...., apakah ini sebuah kamar?, ini bahkan lebih besar dari rumah keluargaku, dan tempat tidur ini seperti sebuah marsmellow, apakah ini nyata?", gumamnya dalam hatinya.
dengan wajah senang dan polos, dea tersenyum lebar seperti anak anak yang kegirangan dengan mainan barunya.
"pst..psttt, lihat itu, aku rasa dia sudah banyak main trik, dia datang hanya untuk kemewahan saja", ujar salah seorang maid sambil mengkode maid yang ada di sebelahnya.
"ia hanya ****** jalanan yang dipungut, liat saja penampilannya", jawab maid itu kepada temannya dengan nada sedikit kedengaran.
"ehemmm!!!",
kepala pelayan tampak memberi kode, agar para maid langsung membantu dea berdandan, dengan segera seluruh maid tampak langsung bergegas mempersiapkan segalanya, dengan membagi tugas perorangan.
dan beberapa orang membimbing dea untuk kekamar mandi, untuk membersihkan diri dari segala debu yang ada di badannya.
dea pun tampak gugup dan malu, karena selama ini, bahkan ibunya pun tak pernah melihat tubuhnya, semenjak ia tumbuh dewasa.
beberapa pelayan tampak mengambil gunting, untuk merobek gaun yang dea pakai, dan dea tampak terkejut atas tindakan salah 1 maid itu, yang mukanya tampak seperti ingin cepat cepat menelanjangi dea, dan mempermalukannya.
dea menatap kepala pelayan, dengan tatapan yang menyiratkan pertanyaan, dea menatap kearah kepala pelayan yang hanya berdiri, mengatur dan mengawasi pekerjaan para maid, kepala pelayan itu tampak mengerti dengan kode dari dea, namun ia hanya diam, seolah olah itu adalah hal yang seharusnya. mereka lakukan.
"apakah harus seperti ini?", tanya dea sambil memegangi gaun nya kepada para pelayan.
tatapan para pelayan yang sangat aneh sangat membuat dea tidak nyaman, walaupun dea bertanya mereka tak ada ekspresi untuk menjawab pertanyaan yang dea lontarkan, namun mereka seolah olah tak mendengarkan ucapan dea, dan kembali mengambil inisiatif untuk membuka gaun dea.
"apa yang kau lakukan, kamu sangat lancang", ujar dean dengan emosi.
"maaf nona, tapi kami harus menyiapkan pekerjaan kami disini, karena pekerjaan kami masih banyak, dan kami tidak hanya di bayar untuk melayanimu" ujar pelayan itu dengan tatapan sinis ke arah dea.
"ya sudahlah pergilah, aku akan mandi sendiri, jika kalian memang sibuk, ya sudah, aku tak apa apa seperti ini", ujar dea kembali ramah.
karena dea berusaha memaklumi segala sikap mereka, "mungkin mereka sudah sangat kelelahan mengurus villa sebesar ini", gumamnya dalam hatinya.
namun para maid itu tampak tak senang dengan segala ucapan dea, memperhatikan tatapàn mereka dea menyadari bahwa dia dan para orang orang di villa ini kurang akrab, sebagai orang yang akan tinggal disini, ada baiknya ia menjalin hubungan dengan orang orang yang ada di villa ini.
__ADS_1
"bibi, saya tak apa apa mandi sendiri saya tidak terbiasa di layani seperti ini, saya terbiasa mengerjakan segalanya sendiri, jadi saya bisa mengurus diri saya sendiri heheheheeh", ujar dengan berusaha ramah agar terlihat akrab bagi mereka.
namun tanpa berkata apa apa, kepala pelayan dan para maid pun keluar tanpa mengatakan sepatah katapun, mereka pergi seperti meninggalkan sebuah kotoran di dalam ruangan itu.
"apakah mereka memang seperti itu????, ya sudahlah mungkin mereka sudah terbiasa dengan kebiasaan tanpa senyum mereka", ulas dea berbicara pada dirinya sendiri.
"baiklah mari kita mandi",...
"ninggggg!!, ning!!!!!, ningg!!!",
"halo?",...
alwin : halo ini alwin..
"mmmm baiklah, ada apa...",
alwin : apa yang sedang yang kamu lakukan...
"aku sedang mau mandi, ada apa?",
alwin : aku hanya mengatakan dalam 2 minggu kedepan aku akan berada di luar negri, sekarang aku lagi di bandara, anggap saja villa itu milikmu, namun satu yang harus kau perhatikan, kepala pelayan wanita itu, jangan sekali kali kamu melawannya, aku sudah sangat mempercaiyainya mengurus villa itu selama aku tidak ada di sana, dia juga pelayan setia keluarga kami, dan seseorang yang sudah merawat ku dari kecil, aku sangat menganggapnya sebagai seorang ibu, maka dari itu dengarkan perkataannya, aku percaya dia tak akan melukaimu.
alwin : dan satu lagi, nanti pengecaraku akan membawa surat kontrak yang harus kamu tanda tangani.
"mmmm baiklah, akan kutanda tangani"
...
"tit!!!!, tit!!!, tit!!"
"wah dia sangat sibuk sekali, lagi pula untuk apa di memberitahuku, dia mau kemana, itu bukan urusan ku", gumamnya sambil melepas bajunya dan bersiap untuk mandi.
dea pun merelaks kan tubuhnya dari segala kepenatan dan keluh kesah hari ini dengan berendam di dalam bathub dengan air hangat di dalamnya..saking ellah nya dan nikmat nya air hangat itu, membuat dea tertidur pulas di dalam bathup.
...
setelah sekian lama tertidur pulas, dea terbangun, jam tampak sudah menunjukkan pukul 21.00.
"wah aku tertidur cukup lama" gumamnya menyadari dirinya sudah cukup masuk angin karena kelamaan berada di dalam air.
__ADS_1
dea pun bergegas memakai jubah handuknya, dan mengeringkan tubuhnya, dan dea segera memakai baju yang di sediakan para pelayan sebelum pergi, dea mencoba baju itu, namun baju itu tidak muat akibat biar dada dea yang lebih menonjok dari pada biasanya.
karena ia tak nyaman memakai baju yang kesempitan, dea mencoba mencari baju yang lebih nyaman ia pakai, dea membuka lemari yang ada di ruangan itu, tampak seperti banyak kemeja kemeja dengan beragam warna, namun ukurannya cukup nyaman untuk dipakai untuk tidur.
karna ini sudah larut untuk makan malam, dea pun turun bersiap untuk makan, dea menuju ke meja makan, ia memeriksa satu per satu mangkuk keramik mewah yang ada di atas meja, namun tak ada satupun dari mangkuk itu berisi makanan, dea menatap keseluruh arah, namun tak ada satupun orang yang ada di sana.
"krukkkk!!!!!"
"ahk aku lapar sekali, apakah tidak ada yang biasa memasak di sini?", gumamnya sambil mengelus elus perutnya.
dea pun duduk untuk mengisi energi, mengingat dia belum makan seharian, sekarang kakinya sangat lemah.
karena tak ada 1 orang pun yang kelihatan di villi itu, tampak nya dea mengerti bahwa seluruh pekerja di rumah ini sudah kembali ke asrama mereka yang khusus di sediakan untuk mereka.
waktu pun menunjukkan pukul 21.45 kini perut dea sangat panas, dea merintih mengeluh kesakitan, karena maagnya kambuh, penyakitnya ini ia dapat karena ia sering terlambat makan semenjek bekerja di kafe tempat iia bekerja sebelum menikah.
"aduhhhhhh!!!"
rintih nya sambil menekan nekan perutnya ke arah pinggiran meja makan, dea pun tak tinggal dia ia berjalan kearah mana saja di ruangan itu, untuk mencari dapur, di villa sebesar itu adalah hal mustahil jika tidak mempunyai dapur.
....
namun setelah beberapa lama berjalan kesana kemari, ia tak kunjung kunjung menemukan dapur, dengan menahan rasa sakit ia kembali ke ruang makan, namun perjalanan nya sudah cukup jauh.
dea pun duduk sebentar di sudut teras villa itu, menatapi kemewahan villa itu, namun kemewahan itu hanya tatapan gunung saja, di luar tampak megah dan indah, namun penuh penyiksaan.
perut dea yang semakin lama semakin sakit membuat dea hanya bisa meringkuk menangis kesakitan menahan sakit di perutnya.
tiba tiba dea mendengar seperti ada seseorang yang akan datang, dengan sigap dea memanggil orang itu sekuat tenaga, namun akibat badannya yang sudah tak punya tenaga lagi, panggilan itu terdengar seperti suara yang mengerikan.
"to...to..oo.lo...ng....!", dea mencoba untuk memanggil orang itu yang tak lain adalah seorang pelayan di villa itu.
namun bukan merespon dengan baik, pelayan itu malah tampak terkejut karena tampilan dea yang menyeramkan dengan baju putih yang besar dan rambut panjang yang tergerai berantakan,serta wajah yang pucat, 'cukup membuat pelayan itu terlari terbirit birit.
"haaaaaa....aa.aa.ah"dea tampak mengatur pernafasannya agar ia dapat meminimalisir sakit yang ia derita.
"haaa..aaah, ibu tolong aku, aku kesakitan siapapun....",
kini dea tak sanggup menahan saakit yang ia derita, dengan berlahan lahan kesadaran dea tampak menurun.
__ADS_1
kini dea kembali sendiri di masa masa sulitnya, dan hari ini adalah hari yang sulit dan penuh dengan kesialan bagi dea, dea menitikkan air mata.