
setelah perjalanan yang cukup jauh, pengantin baru itu sampai di sebuah villa yang besar, cukup bodoh menamai itu villa, bangunan itu sudah tampak sebuah istana kediaman sebuah duke.
menatap megahnya kediaman itu membuat dea seperti keringat dingin melihat setiap sudut dari tempat itu, saking merasa tertekan dengan segala pemandangan yang berlimang itu, sampai sampai dea tak ingin turun dari mobil.
"ayo turun", ajak alvin yang terlebih dahulu turun dari mobil.
wajah dea yang sangat polos menatapi kesegala arah dari mobil, wajahnya terbengong dan mulutnya hampir menganga.
"apakah kakimu masih lemas karena kejadian hari ini?", tanya alvin dengan menatap wajah dea yang seperti baru berlari estafet, keringat dea yang bercucuran dan tatapan nya seperti seorang anak tk, yang baru saja melihat sesuatu yang hebat yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"apa yang kamu lihat?", tanya alvin kembali menatap arah tatapan dea.
"aa...aa..apakah kita akan tinggal disini?, apakah ini punyamu?", tanya dea dengan gagap.
"iya, emang kenapa, kamu tidak senang tinggal bersamaku?"
"walaupun kamu tidak senang kamu tidak bisa kemana mana, sekarang aku harap kamu menganggapku sebagai rumahmu", ujar alvin sedikit memberi perhatian kepada dea dengan ucapannya.
"aaaa baiklah, kalau memang seperti itu, karna mau tak mau kamu adalah suamiku sekarang, aku tak akan mengingat si brengsek itu lagi, tapi aku hanya khawatir, aku tidak bisa membersihkan bangunan sebesar itu", ujar dea menatap bangunan itu dengan wajah kusut.
alvin yang menatap wajah khawatir dea, hanya bisa tersenyum kecil.
"kau pikir aku semiskin itu?, didalam ada puluhan pelayan wanita, yang berbagi tugas untuk memasak dan membersihkan setiap sudut ruangan, dan beberapa pelayan pria untuk melakukan perbaikan dan menjadi tukang kebun, dan seorang wanita paruh baya yang bertugas mengatur mereka", jelas alvin mengenai struktur pekerja di villa itu.
__ADS_1
"ooo..oh Da*n it, apakah ini sebuah novel, apakah aku bermimpi?, jadi aku... apa tugasku yang bisa kukerjakan, kalau semua sudah ada yang menghandle, tidak mungkin aku tinggal secara gratis disini.." ucap dea yang berpikir dia itu telah membebani alvin.
alvin pun mengerutkan keningnya, "kau fikir aku membawa mu untuk menjadi pelayan kesini?, sedangkan kau saja tidak masuk kualifikasi pelayan disini, disini pelayan harus masuk S2, dalam sistem kebersihan, dan harus mengerti sanitasi hygiene"
"mereka di rekrut dengan sistem diskulifikasi, dan kamu tak akan mengerti itu", jelas alvin kepada dea.
"sial...sebesar apa upah yang mereka dapat sampai sampai mereka berbondong bondong ingin menjadi pelayan disini?" tanya dea mengheran mendengar penjelasan dari alvin.
"bisa dikatakan, gaji setahunmu di kafe itu, adalah upah sebulan mereka disini", singkat alvin sambil membuka jas nya karena mobil itu sangat panas.
"astaga, apa gunanya aku disini", gumam dea meringis.
"dan untuk kamu, ada beberapa tugas yang bisa kamu jalankan, agar dirimu berguna, kamu bisa berdandan dengan cantik di depanku, dan menghabiskan uang saku yang akan kuberikan, itu saja untuk saat ini!", ucap alvin kepada dea.
"untuk sekarang aku juga berpikir seperti itu, namun fakta yang baru saja kau katakan kalau kita baru kenal kamu salah, namun sekarang kamu istriku, jika kamu berdandan aku akan memberikanmu upah atas itu semua, dan aku tidak akan membatasimu untuk berkunjung kerumah orang tuamu"
"dan aku punya satu permintaan, aku tau kamu kurang nyaman atas diriku, atas dasar itu aku akan membuat surat kontrak pernikahan untuk kita berdua, dengan isi surat bahwa pernikahan ini akan usai, jika tidak ada perkembangan dalam hubungan kita, dalam jangka waktu 1 setengah tahun, dan proses 6 bulan, jadi seluruhnya dalam 2 tahun ini, kamu bisa menuntut perceraian jika tidak ada perkembangan yang baik diantara kita berdua, jadi mohon bantuan nya untuk 2 tahun kedepan", jelas alvin panjang lebar.
mendengar perkataan alvin, pikiran dea semakin tidak karuan, belum lagi bagaimana ia menghadapi segala peristiwa ini ditambah dengan nikah kontrak yang diajukan oleh alvin, membuat isi kepala dea seperti sedang diaduk oleh mixer, sekarang wajah dea tampak seperti orang idiot yang berusaha mencerna segala ucapan alvin.
"ja...jadi, apa untungnya untukku?", tanya dea dengan gagap.
"ya seperti yang saya bilang tadi, kamu bisa mendapatkan upah dengan jumlah yang besar jika kamu memenuhi status sebagai seorang istri, dan di balik itu aku akan membantu menyokong adikmu di dunia bisnis dalam 2 tahun ini", jelas alvin dengan tenang.
__ADS_1
dea pun berpikir sejenak, walaupun dalam peristiwa ini dia hanya korban yang sangat menyedihkan dan malang, namun dalam situasi ini juga alvin tampak ingin membayar segala kesalahan yang adiknya perbuat, walaupun tindakan nya agak sedikit berlebihan, namun hal ini sangat cukup menguntungkan dea, karena walaupun suatu saat nanti dea cerai dengan alvin, dea sudah punya modal usaha untuk membuka kafe atas nama dirinya, dan membantu perekonomian keluarganya, ditambah cita cita adiknya, tidak akan hanya menjadi sebuah hiasan kepala saja, ini sudah lebih lebih menguntungkan dea.
"bagaimana?", tanya alvin untuk mendengar jawaban dea.
"baiklah, namun aku punya syarat juga, sebagai seorang suami untukku walaupun 2 tahun ini, aku harap kamu bisa melindungi kami, karna aku tau masalah ini tidak akan sampai disini saja, dan aku juga ingin kita menghargai privasi satu sama lain karena kita belum terlalu saling mengenal 1 sama lain, dan juga aku tidak akan melakukan hubungan suami istri diantara kita, sebelum adanya perkembangan, karna aku tak suka di paksa", uajr dea dengan tegas.
"owh... itu saja ?, baiklah, sekarang mari turun, aku sudah kelelahan hari ini, walaupun kita tak saling mengenal, setidaknya kamu memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, karena sebelum kejadian aku baru saja pulang dari london", ujar alvin yang sedikit mengeluh.
"ba..baiklah", ucap dea sambil berlahan turun.
namun karena gaun dea yang sudah berantakan dea cukup kesusahan, alvin yang tak sabar menunggu dea, langsung menggendong dea masuk kedalam villa itu.
yang betul saja, di ruangan pertama villa itu tampak seperti sebuah istana, atap yang tinggi dihiasi dengan gambar gambar indah menunjang keindahan dari villa itu.
namun dea kembali menatap alvin, "kenapa dia bisa menolongku sampai berbuat sejauh ini, apakah kami pernah bertemu sebelumnya?", gumam dea dalam hatinya.
alvin langsung naik lift menuju lantai 3 villa itu, dan masuk kedalam sebuah kamar.
"untuk seterunya ini adalah kamarmu"
"hah???", dea kebingungan sembari terkejut.
"tenang saja seperti yang kamu katakan untuk menjaga privasi, aku akan menggunakan kamar yang ada di seberang sana, jadi kamu tak usah khawatir tentang itu", ujar alvin.
__ADS_1
tak selang lama dari itu alvin pun keluar karena teleponnya berdering, wajahnya yang kurang baik melangkah menuju pintu keluar ruangan itu, dan tak selang lama kemudian beberapa orang maid databg membawa 1 set pakain baru.