Benalu Keluarga Kecilku

Benalu Keluarga Kecilku
Prolog


__ADS_3

Melodi, Agustus 2020


Terdengar decitan ranjang yang lumayan keras dari arah kamar kak Mega. Aku yang baru saja pulang mengantar Mentari sekolah, terheran-heran. Aku pernah mendengar suara ini sesekali, ku kira bukan dari kamar kak Mega. Ternyata, suara ini dari kamarnya.


Perlahan ku mendekat ke arah kamarnya. Ada sedikit celah yang terbuka dari pintu kamar kak Mega.


Tubuhku seakan membeku, tangan kananku mendekap mulutku agar tidak membunyikan suara. Segera ku buka pintu itu dengan sangat keras.


Kedua orang yang sedang menuai kasih itu langsung menghadap ke arahku. Keduanya langsung pucat pasih. Mereka langsung mencari helai kain yang sudah mereka lepas.


Aku masih terdiam tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Berharap ini hanya mimpi, tapi rasanya tidak mungkin.


Mas Dewa sedikit berlari ke arahku setelah berhasil mengenakan celananya. Hina sekali!


Air mataku luruh begitu saja. Terus turun bagai air yang mengalir deras.


"K-kamu selingkuh sama kakakku sendiri Mas?" lirihku dengan pelan. Aku masih tidak menyangka dengan apa yang aku lihat ini.


Mas Dewa menggeleng. Wajahnya sudah pucat penuh penyesalan. Dia ingin meraih tanganku tapi aku menjauh. Tidak ingin di sentuh olehnya.


"Kamu selingkuh sama kak Mega Mas?" tanyaku sekali lagi.


Aku melirik ke arah kakak kandungku yang masih sibuk menutup dirinya dengan helaian kain yang sudah tercabik-cabik. Mas Dewa pelakunya.


Aku menggeleng. Tidak percaya dengan apa yang ku lihat. Suamiku yang selalu memanjakan aku, tidak pernah kasar padaku. Tapi ternyata, dia selingkuh dengan kakakku sendiri.


Kak Mega pun sama. Aku menerima dia tinggal di rumah ini sementara supaya tidak usah membayar kos atau membeli rumah untuk proyek kerjaannya yang hanya di lakukan empat bulan.


Aku tidak percaya. Mereka berdua yang mengkhianati ku. Aku memberi mereka kepercayaan penuh yang tidak ada harganya tapi air susu di balas air tuba.


"Mel, Mas bener-bener minta maaf. Ini semua enggak seperti yang kamu lihat!"


"Enggak seperti yang aku lihat Mas? Terus apa lagi yang di lakukan dua orang tanpa baju sehelai pun di kamar hah? Kamu gila ya?"


"Mel, Mas mohon denger dulu!"


"Kamu gila Mas. Kamu juga kak, aku gak pernah sedikitpun merebut apapun yang kakak punya. Dari kecil aku selalu nurut dan kasih apapun yang kamu mau. Ternyata kamu ngelunjak ya?"


Kak Mega menghampiri kami. "Ini semua engga seperti yang kamu lihat Mel."


Aku tertawa. Menertawakan kegilaan suami dan kakakku. Mereka tidak lebih dari dua binatang yang mengkotori tempat ini.

__ADS_1


"Kita cerai Mas!" teriakku.


Mas Dewa berlutut di hadapanku, dia memohon dengan beribu kata manisnya. Aku masih dengan tangisku. Tidak percaya kalau yang menjatuhkan ku ternyata kakak dan suamiku sendiri.


Kenapa di saat kebahagiaanku semakin bertambah justru di jatuhkan sekaligus seperti ini?


"Aku mohon, jangan Mel, jangan."


Aku menggeleng. Menoleh ke arah kak Mega dengan tatapan kebencian yang aku pancarkan. Dia tersenyum licik. Dia tidak menyesal sedikitpun.


Jadi, dia memang berniat untuk mengambil Mas Dewa, ya?


"Ini yang kakak mau?" tanyaku. Dia hanya diam sambil melipatkan kedua tangannya di depan dada. Senyumnya begitu membuatku jengkel. Ingin sekali aku menamparnya.


Mas Dewa bangun dari sujud nya, dia kembali ingin memelukku. Aku menghindar.


"Gila kamu Mas! Kamu juga kak, kalian gila!"


Plak....


Puas rasanya. Ku tampar wajah Mas Dewa cukup kencang. Aku keluar dari kamar kak Mega menuju kamarku.


Aku berlari menuju kamarku. Membanting pintu lalu menguncinya. Aku berharap ini hanya mimpi, sungguh.


Aku terduduk di depan pintu kamarku. Beberapa kali memukul kepalaku menggunakan kepalan tangan. Seakan masalah terus menggerogoti.


......~~~......


"Suami lo selingkuh sama kakak lo sendiri?"


Aku beberapa kali mengusap bulir air yang masih turun dari mataku. "Iya Mon, feeling gua selama ini bener. Ternyata kak Mega emang pengen ambil semua yang gua punya."


Terdengar helaan nafas dari sebrang sana. "Rencana ke depannya gimana? Lo gak mungkin maafin dia gitu aja kan?"


"Gua mau gugat dia. Kenalan lo yang waktu itu bantu proses cerai, masih ada kontaknya?"


Monik adalah teman satu kantorku. Dia baru saja resmi bercerai dengan suaminya satu minggu yang lalu.


Aku bekerja di salah satu perusahaan swasta. Bukan seorang wanita yang menggantungkan hidupnya pada suami. Aku justru memilih untuk tetap bekerja dan menjadi wanita karir.


Tapi bukan berarti aku mengabaikan urusan rumah dan suamiku. Semua bisa ku handle karena aku sudah terbiasa membagi waktu.

__ADS_1


Hanya lelaki yang tidak bisa bersyukur seperti Mas Dewa yang berani melakukan ini.


"Ada. Lo mau pake dia juga?"


"Iya Mon. Kirim aja nomernya ya, gua mau langsung gugat suami gua."


"Lo yang sabar ya. Nanti gua kirim nomernya."


"Makasih Mon. Gua tutup dulu telfonnya."


Aku melihat ke arah luar jendela transparan yang ada di kamarku. Sebuah rumah yang di hadiahkan Mas Dewa saat pernikahan kami. Jelas, ini adalah milikku seutuhnya sekarang. Kita akan resmi berpisah.


Aku bukan tipikal orang yang akan mempertanyakan sesuatu yang yang sudah dan ingin pergi dari hidupku. Jika Mas Dewa memang ingin bersama kak Mega. Tak apa, akan ku beri barang murah yang bisa aku beli di manapun itu.


Dia memang Ayah dari anakku, Mentari pun akan mengerti. Sudah ku didik anakku sebaik mungkin, setegas mungkin.


Bukan aku tidak kecewa, bukan juga tidak sedih. Aku sangat menyayangkan perilaku hina suamiku sendiri. Tapi, dengan memberinya kesempatan hanya akan membuka kesempatan lainnya untuk dia melakukan kesalahan yang sama.


Sebuah lifestyle yang sudah marak dan menjadi hal biasa, selingkuh. Orang-orang yang tidak tahu nikmatnya setia. Indahnya memberi kebahagiaan pada satu orang. Orang-orang seperti Mas Dewa tidak akan pernah tahu.


Ku kemasi barang-barang Mas Dewa ke dalam kopernya. Tidak ada yang tersisa dan akupun tidak merasa keberatan sama sekali.


Aku bisa hidup tanpa seorang lelaki, apalagi lelaki seperti dia. Pernikahan kita seakan tidak ada artinya bagi dia, melakukan hal kotor dengan kakakku sendiri? Biadab!


Setelah ku masukkan semua baju dan barang-barangnya. Aku keluar. Mas Dewa sedang terduduk di depan kamarku. Dari kapan dia ada di sana?


Dia langsung berdiri dan menghampiri ku. Memegang kedua tanganku sambil melirik ke arah koper yang aku pegang.


"Ini apa Mel?"


"Baju mu!"


"Mel? Jangan gitu, Mas bener-bener minta maaf. Jangan pernah tinggalin aku Mel," rengek nya.


Aku tersenyum licik. Melirik ke arah kak Mega yang baru saja datang menghampiri kami.


"Lo juga keluar dari rumah ini. Gak ada yang izinin lo tinggal lagi di sini."


"Gua bakal pergi bareng suami lo, Mel. Puas?" ucap kak Mega.


"Ck. Bawa aja. Barang murah cuma cocok sama orang miskin kaya lo."

__ADS_1


__ADS_2