
Dua bulan yang lalu.
Melodi baru saja pulang dari kantor, dia biasa pulang pada pukul lima sore hari. Saat ia memasuki rumahnya, sudah ada Mega, sang kakak yang sedang tiduran di sofa.
Dengan pakaian yang sangat pendek dan tipis juga menerawang itu, Mega dengan santainya merebahkan diri di sofa panjang depan tv. Melodi agak risih dengan pakaian yang kakaknya kenakan itu. Pasalnya, sebentar lagi Dewa, suaminya. Akan pulang.
"Kak bajunya jangan gitu, Mas Dewa bentar lagi mau pulang loh," tegur Melodi. Sebenarnya dia sangat tidak enak dengan kakaknya itu, takut menyinggung perasaannya.
"Ya ampun. Lagi emang kenapa si Mel? Cuma pake ginian doang, lagian Dewa juga gak bakal liat."
Melodi menggeleng. Dia segera masuk ke dalam kamar anaknya. Tempat pertama yang ia tuju setiap pulang kerja adalah menuju kamar anaknya.
"Mentari, Ibu pulang," seru Melodi di depan kamar anaknya itu.
Terdengar suara langkah kaki dan gerakan membuka pintu dari dalam. "Ibu!" seru Tari begitu menyadari Ibunya sudah pulang.
Mentari langsung berhambur ke dalam pelukan sang Ibu. "Ibu bawa jajan gak?"
Melodi mengangguk. "Iya sayang. Nih, Ibu bawa ayam goreng kesukaan Tari. Nanti kita makan bareng, Ibu mau mandi dulu sebentar ya sayang."
"Okey Ibu, Tari bawa ayamnya ke dapur ya?"
Mentari adalah gadis berusia delapan tahun. Dia sangat cantik dan juga pintar. Tidak pernah menyusahkan Melodi maupun Dewa. Anak penurut dan mengerti keadaan kedua orang tuanya.
Saat Melodi berjalan ke kamarnya untuk mandi, Dewa justru baru pulang.
Dewa melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah setelah melihat mobil sang istri sudah terparkir di halaman rumah. Dia merasa lega melihat itu, tidak khawatir karena Melodi sudah pulang.
Begitu sampai di ambang pintu, Dewa tidak sengaja melihat kedua gunung milik Mega yang menjiplak di belakang daster yang sangat tipis itu. Juga dengan dalaman yang terlihat jelas karena posisinya Mega sedang tiduran sambil mengangkat satu kakinya ke atas dari sofa itu.
Dewa menelan saliva nya dengan cukup sulit. Ia gelagapan, juga bingung. Ia harus masuk atau tidak.
Mega yang menyadari kehadiran Dewa, dia segera membenarkan posisinya menjadi duduk. Ia juga terlihat malu karena mungkin Dewa melihatnya.
"Eh, Dew. Gak ngomong udah pulang," ucap Mega.
Dewa menggeleng. Dia melengos begitu saja meninggalkan Mega yang masih tersipu malu di sofa itu.
"Gila ... gila ... masa gua suka sama kakak ipar gua sendiri?" batin Dewa.
__ADS_1
Dia mengusap wajahnya gusar. Melanjutkan langkah kakinya menuju kamar tempat istrinya berada.
"Mel, kamu di mana?" seru Dewa kala tidak mendapati istrinya di dalam kamar.
Samar ia dengar suara air dari dalam kamar mandi. Dewa langsung berfikir kalau yang sedang di kamar mandi adalah Melodi.
Ia langsung melepas sepatu dan dasinya. Juga menaruh tas kerjanya di tempat biasa.
Dewa mengusap wajahnya gusar. Setelah bertahun-tahun pernikahannya dengan Melodi, Dewa tidak pernah sedikitpun melirik wanita lain.
Tapi ketika Mega datang ke rumah ini, rasanya berbeda. Dewa selalu ingin melirik kakak iparnya itu.
Bagaimana pun, ini adalah sebuah kesalahan. Tidak boleh seperti ini.
Ckit ...
Dewa melihat ke arah belakang, ternyata Melodi sudah selesai mandi. Hanya mengenakan handuk yang terlilit di tubuhnya. Entah kenapa, hasratnya sangat tinggi setelah melihat tubuh Mega.
Dewa segera menghampiri istrinya itu. "Sayang," lirih Dewa.
Melodi yang menyadari kehadiran suaminya itu langsung tersenyum dengan lebar. "Mas udah pulang?"
"Mau?" tanya Melodi. Dia sebenarnya sangat tahu apa yang di mau suaminya ini. Tapi, baru kali ini Dewa meminta di jam sekarang.
Biasanya, Dewa tidak pernah meminta kecuali di malam hari.
"Aku baru banget abis mandi loh Mas, nanti aja ya? Mau tidur kaya biasanya."
Dewa menggeleng. "Mau sekarang sayang."
Melodi tidak bisa menolak. Ia mengangguk, perlahan ia buka handuk yang ia lilitkan itu.
"Sayang."
...~~~...
Mentari sedang sibuk menata tiap potongan ayam goreng yang Ibunya beli kan. Dengan senandung kecil dia keluarkan dari mulut mungilnya itu.
Setelah di rasa sudah semua. Tari tersenyum senang. Ia segera menaruh piring yang sudah ia isi dengan beberapa potongan ayam ke atas meja makan. Dia cukup kesulitan karena postur tubuhnya hampir sama dengan tinggi meja makannya.
__ADS_1
"Aduh ... "
Dengan sigap, Mega menolong Tari yang kesulitan menyimpan piring itu.
"Kenapa engga panggil tante aja Tari, kalo jatoh terus kena kepala kamu gimana?"
Tari hanya tersenyum. "Maaf tante. Makasih ya udah nolongin Tari."
Dari kecil, Melodi memang sudah mengajari anaknya ini tentang basic attitude. Tari tumbuh dengan pendidikan yang sangat baik. Tak salah, Melodi adalah sosok perempuan yang sangat pintar juga tegas pada pendiriannya. Sifat itu tanpa di sadari menurun pada anak semata wayangnya ini.
Bukan hanya sifat, tapi wajah, warna kulit dan bentuk tubuh Tari sangat mirip dengan Melodi. Kalau Tari sudah besar nanti mungkin akan di anggap seperti kembar dengan Ibunya sendiri.
"Sama-sama sayang," ucap Mega sambil mengelus puncak kepala Tari dengan lembut.
Melodi menuruni anak tangga satu persatu, menuju dapur. Setelah kegiatannya dengan Dewa tadi membuat perutnya keroncongan.
"Tari lagi apa ya?" tanyanya pada diri sendiri.
Begitu sampai di dapur, ia sudah melihat Tari dan Mega yang sedang makan bersama.
"Loh, ko Ibu di tinggal?" tanya Melodi pada sang anak.
"Ibu lama, Tari udah lapar banget."
Melodi tertawa. Dia segera duduk di samping Tari. Tatapannya salah fokus pada pakaian Mega. Kakaknya itu masih saja mengenakan daster di atas lutut yang sangat tipis.
"Kakak gak dingin pake baju gitu?" tanya Melodi.
Mega yang di tanya seperti itu hanya mengangkat kedua bahunya. Dia tidak terlalu memperdulikan pertanyaan adiknya itu dan melanjutkan aktivitasnya makannya.
"Ibu, Ayah belum pulang?" tanya Tari membuat kekesalan Melodi sedikit menurun. Se kesal apapun Melodi, se buruk apapun keadaan hatinya, dia tidak akan menunjukkan itu di depan sang putri.
"Lagi mandi sayang, udah pulang ko. Bentar lagi juga ke sini," jawab Melodi dengan senyumnya.
Perasaannya menjadi sering gelisah akhir-akhir ini. Dia tidak mau menuduh kakaknya, tapi semenjak Mega datang ke rumah nya perasaannya menjadi tidak tenang.
Melodi mengizinkan Mega untuk menginap di rumahnya dengan alasan supaya Mega tidak perlu membayar atau menyewa rumah untuk di tempati selama empat bulan.
Mega ada proyek di kerjaannya yang lokasinya dekat dengan rumah Melodi. Jadi, mau tidak mau, Melodi harus menawarkan tempat tidur untuk sang kakak sementara waktu ini.
__ADS_1
Tapi, Mega tidak segan-segan untuk memakai celana pendek. Bahkan daster pendek yang kalau terkibas akan langsung menunjukkan kemolekan tubuhnya.