
"Dewa, kamu pulang kantor jam berapa?"
Dewa berfikir sejenak. "Ada apa emangnya?"
"Ya gak ada apa-apa. Cuma mau ngajak makan malam di luar aja," jawab wanita di balik telfon itu.
Senyum sumringah terjiplak di wajah Dewa. Dia tidak merasa apapun selain senang. Entah ada bagaimana dia menjelaskan perasaan hina nya itu.
"Makan malam di luar maksudnya?"
"Iya, gak usah pulang ke rumah dulu."
"Boleh. Mau aku jemput?"
"Boleh Dewa, aku tunggu ya."
Setelah menjawab kalimat terakhir dari lawan bicaranya lewat telfon itu, Dewa mematikan telfonnya. Ia segera mencari kontak Melodi, untuk meminta izin padanya.
"Sayang, hari ini aku lembur ya. Pulang agak maleman. Ga apa-apa kan?" tulis Dewa, ia langsung mengirimkan pesan itu pada sang istri.
Dewa berharap Melodi tidak berfikir yang tidak-tidak meski apa yang akan dia lakukan memang hal tidak-tidak. Sudah hilang akal sehatnya.
"Iya Mas. Hati-hati di jalannya. Kalau kemalaman nginep aja di kantor, takut ada apa-apa di jalan," balas Melodi dengan cepat. Terbilang sangat cepat bahkan.
Melihat balasan dari Melodi, Dewa tersenyum dengan sangat puas.
Bagaimana pun yang di rasakan juga di lakukan Dewa saat ini adalah sebuah kesalahan. Sangat salah. Bagaimanapun, selingkuh adalah sebuah kesalahan fatal. Tidak bisa di toleransi. Apalagi di maafkan, pasti akan di ulang.
Dewa sudah lupa kalau yang sekarang menjadi istrinya adalah Melodi. Seorang wanita tanggung yang tidak bisa di bohongi dan tidak suka berdrama. Melodi bukan wanita menye-menye.
...~~~...
Dengan langkah yang pasti, Melodi memasuki rumahnya. Berulang kali dia memanggil Mega namun tidak kunjung ada jawaban. Saat ini hujan sangat deras, mungkin suara Melodi teredam suara hujan yang cukup kencang.
Seperti biasa, Melodi masuk ke dalam kamar Tari. Gadis kecil itu juga tidak menyaut saat Melodi memanggil. Pikir Melodi, Tari sedang bermain dengan Mega.
Begitu di buka, ternyata Tari sedang tidur lelap dengan seragam sekolah yang belum di buka. Senyum Melodi mengembang. Dia tidak marah sama sekali melihat anaknya belum melepaskan baju sekolahnya.
Justru sebaliknya, Melodi sangat senang. Anaknya begitu mandiri selama ini. Melakukan hal apapun sendiri ketika Melodi dan Dewa tidak ada di rumah. Tapi Tari tidak merengek atau rewel sedikitpun. Dia begitu paham.
Sebenarnya, nafkah dari Dewa sangat cukup untuk menghidupi dirinya dan Tari. Tapi, karena dasarnya Melodi orang yang sangat mandiri dan tidak ingin bergantung pada siapapun. Dia menolak untuk berhenti bekerja.
__ADS_1
Dari kecil dia sudah di ajarkan oleh orang tuanya kalau hidup di dunia adalah sesuatu hal yang keras. Tidak bisa mengandalkan dan percaya begitu saja pada orang lain. Termasuk orang terdekat.
Setidaknya, harus bisa berdiri di kaki sendiri ketika semesta meminta demikian. Hal itu selalu Melodi terapkan pada dirinya, juga ia mulai ajarkan pada anaknya.
Dan berhasil. Tari tidak jauh dari kepribadian Melodi. Bahkan hampir mendekati kata mirip. Hal itu sangat membuat Melodi tenang.
"Sayang, bangun yu, Ibu udah pulang nih," ucap Melodi pelan, mencoba membangunkan Tari.
Gadis itu menggeliat, perlahan membuka matanya. "Ibu udah pulang?"
"Udah nak, ayo bangun. Mandi bareng sama Ibu, abis itu kita makan, ngerjain PR Tari, terus nonton film sebelum tidur. Mau?"
Itu adalah keinginan Tari. Dia selalu ingin menonton film sebelum tidur. Film yang ia suka juga bukan film yang di tonton kebanyakan anak-anak seusianya. Dia sangat suka harry potter. Melodi memberi izin untuk menonton film itu karena dia pun suka. Menyelam sambil minum air.
Tari mengikuti apa yang Melodi katakan. Saat ini mereka sedang duduk di meja makan. Setelah mandi, Tari langsung meminta jatah makannya. Sepertinya gadis kecil ini tidak bisa menahan rasa laparnya lagi.
"Tante Mega belum pulang ya?" tanya Melodi saat menyiapkan makan untuk mereka berdua.
"Belum Bu, tumben ya, ate Mega lama pulangnya."
"Iya, gak ngabarin Ibu juga. Bentar, Ibu telfon dulu ya. Tari makan duluan aja."
Tari hanya mengangguk dan tidak peduli dengan apa yang akan di lakukan Ibunya. Tari memang tidak terlalu dekat dengan Mega, Mega adalah orang yang tidak suka anak kecil.
Saat Tari fokus dengan makannya. Melodi mencoba menghubungi kakaknya itu. Berulang kali dia menelfon tapi tidak mendapati jawaban apapun.
"Lagi makan sama Bu Rini. Pulang telat kayanya, kamu makan duluan aja."
Mega tidak menjawab telfon dari Melodi, tapi dia mengirimi pesan itu.
"Ya udah, jangan ke maleman. Takut ada apa-apa di jalan," balas Melodi dengan cepat.
Melodi sudah mengetahui siapa Rini. Saat hari pertama Mega ke rumahnya, dia membawa Rini untuk di kenalkan pada Melodi.
Setelah mengetahui hal itu, Melodi kembali pada Tari.
"Enak sayang?" tanya Melodi yang melihat anaknya sedang makan dengan lahap.
"Enak Bu. Ayam goreng emang selalu enak."
Ya, menu makan malam mereka adalah ayam goreng. Selalu ayam goreng. Tari yang meminta, dia sangat menyukai ayam. Sampai Melodi yang awalnya tidak menyukai ayam yang di masak dengan cara di goreng sekarang menjadi makanan favoritnya juga.
__ADS_1
"Ayah juga belum pulang ya Bu?"
Melodi menghentikan suapannya. Dia baru ingat kalau pagi tadi Dewa berangkat dengan Mega. Sekarang mereka juga sama-sama pulang telat. Ini sebuah kebetulan atau memang kesengajaan?
Awalnya Dewa meminta izin untuk lembur, padahal ini hari kamis. Hari kamis sangat jarang ada lemburan, lemburan di kantor Dewa biasanya hari senin, selasa, dan jumat. Ini baru pertama kalinya Dewa lembur hari kamis.
Untuk Mega, dia memang sering pulang larut untuk makan malam dengan Rini.
"Ayah tadi bilang mau pulang malem sayang. Yu selesain makannya, abis ini kita liat tugas sekolah Tari ya?"
Gadis kecil itu hanya mengangguk.
Ada perasaan aneh yang sangat mengganjal di hatinya. Setelah selesai dengan makan malamnya, Melodi menyuruh Tari untuk masuk ke ruang belajar lebih dulu.
"Gua mau coba telfon Olin deh, bener ada rapat atau akal-akalan nya aja nih," ucap Melodi pelan.
Olin adalah sekretaris Dewa. Tak butuh waktu lama untuk Olin mengangkat telfon dari Melodi.
"Halo, selamat malam Olin."
"Iya halo Bu Melodi. Ada keperluan apa ya Bu?"
"Sebelumnya maaf ya Olin saya ganggu waktu istirahat kamu. Hari ini memangnya kamu ada lemburan bareng suami saya?"
Cukup lama Olin terdiam.
"Halo Olin?"
"Eh iya Ibu maaf. Tadi saya lihat jadwal dulu takut saya yang lupa. Untuk hari ini tidak ada lemburan Bu. Olin saja sudah di rumah. Ada apa ya?"
Melodi menyeringai. Benar dugaannya. "Baik kalau gitu. Enggak ada apa-apa Olin. Terimakasih banyak ya. Selamat malam."
"Baik. Selamat malam Bu."
"Eh sebentar," ucap Melodi dengan cepat. "Saya boleh minta jadwal suami saya sampai dua bulan ke depan?"
"Untuk apa ya Bu?"
"Gini, saya ada rencana mau ngasih kejutan sama dia dalam kurun waktu dua bulan ini. Jadi saya perlu jadwal suami saya. Kamu jangan bilang ke Pak Dewa karena ini rahasia kita ya?"
Sengaja Melodi harus berbohong. Kalau tidak seperti ini, dia tidak akan mendapatkan jadwal suaminya.
__ADS_1
"Oh begitu Bu, baik. Nanti saya kirim via email ya Bu?"
"Terimakasih banyak, Olin."