
"Selamat pagi Bu Rini," sapa Mega ketika sampai di lokasi kerjanya. Hari ini dia ada agenda survei bersama Rini, Rini adalah atasannya. Sedangkan Mega adalah sekretaris Rini.
"Eh, Mega. Selamat pagi."
Mega segera duduk di kursi yang berada di samping Rini.
"Saya lihat, kamu di antar sama orang. Tumben engga bawal mobil sendiri Meg?" tanya Rini pada Mega yang sedang sibuk melihat-lihat berkas yang ia bawa.
"Eh iya Bu. Saya di anter sama adik ipar saya."
"Oh udah berhasil ceritanya?" tanya Rini dengan kekehan pelan.
Mega tertawa kecil. "Ah Ibu, bisa aja. Ya gitu deh Bu. Dia mulai kepancing."
"Bagus kalo gitu. Gimana ide saya? Masuk kan?"
Di balik penampilannya yang sangat anggun, cantik, dan modis. Rini adalah orang yang sering membeli berondong dari beberapa aplikasi dan kenalan temannya. Statusnya yang janda tanpa anak membuatnya sering jajan di luar.
Mega mendapat banyak saran dari Rini ketika menceritakan tentang perasaannya pada Dewa. Rini dengan senang hati memberi tahu berbagai macam cara mendekati lelaki.
Karena nafsu Mega yang sudah sangat menggebu. Dia akhirnya mengikuti satu demi satu saran dari Rini. Bisa di bilang, Rini sudah profesional dalam hal ini.
"Mantap Bu. Kayanya saya harus banyak belajar lagi dari Ibu."
"Habis pulang dari sini, saya ada janji ketemu sama yang kemaren saya ceritain. Kamu mau ikut? Kalau kamu mau ikut nanti saya suruh dia bawa temannya."
Mega berfikir sejenak. Dia tidak pernah melakukan hal itu seumur hidupnya. Hanya saat bertemu dengan Rini, dia menjadi cukup liar seperti sekarang. Dia menggeleng.
"Enggak deh Bu, buat adik ipar saya aja perawan nya," tolak Mega dengan kekehan pelannya.
"Ya, bagus itu Meg."
...~~~...
Restoran dengan menu makanan sunda yang siang ini Melodi pilih. Sesuai janjinya, Dewa menjemput Melodi di kantor nya di jam makan siang.
Seperti sudah mengerti selera dan makanan apa saja yang di sukai sang istri, Dewa memesan langsung. Kini mereka sedang duduk menunggu makanannya datang.
"Kata temenku di sini udang gorengnya enak," kata Melodi memulai percakapan.
"Iya kah? Aku juga tadi pesen udang goreng. Kamu kan suka banget sama udang," ucap Dewa menimpali obrolan Melodi.
__ADS_1
Melodi mengangguk sambil tersenyum.
"Tadi aku juga pesen pecel, kamu tahu pecel gak?"
"Pecel?"
"Iya, lalapan yang di kasih bumbu kacang itu loh sayang. Nanti kami cobain ya?"
Lagi-lagi mengangguk. Melodi menyetujui suaminya itu.
"Ngomong-ngomong, tadi emang kamu beneran udah sampe di kantor?"
Mendengar pertanyaan itu, minuman yang sedang Dewa minum seakan ingin keluar lagi. Ia tersedak hingga terbatuk-batuk.
Melodi yang melihat respon suaminya itu seakan tertawa dalam hati meski yang ia lakukan sekarang adalah mencoba menenangkan suaminya agar berhenti batuk.
"Tenang dong Mas, kamu tu kenapa?"
"Enggak, enggak," ucap Dewa setelah batuknya berhenti.
"Tadi aku beneran udah sampe kantor ko Mel. Kenapa nanya gitu?"
"Oh, enggak. Cuma nanya aja. Kan macet pagi ini, ko tumben Mas bisa sampe cepet banget."
Melodi hanya meresponnya dengan sebuah anggukan kecil, lalu mengangkat kedua bahunya.
"Permisi, ini makanannya," ucap pelayan sambil menyimpan semua makanan yang di pesan Dewa.
"Makasih Mbak," ucap Melodi ketika semua makanannya sudah di simpan di atas meja.
"Sama-sama."
Tak lama dari itu, mereka berdua sibuk dengan kegiatannya. Keduanya seakan tidak ingin di ganggu, selain perut yang sudah ingin segera di isi. Keduanya pun punya kebiasaan sama, tidak akan mengobrol ketika sudah ada makanan di depan mata.
"Menurutmu, soal perselingkuhan itu gimana si Mas?" tanya Melodi begitu Dewa menyelesaikan makanannya.
"Kenapa kamu jadi tertarik bahas ini?"
"Suami Monik ketauan selingkuh. Nangis kejer dia tadi di kantor."
Dewa menyimpan gelas minumnya. Ia melirik jam arloji yang terlilit di lengan kanannya itu. Di rasa masih ada waktu untuk mengobrol sebentar, dia kembali lagi terfokus pada sang istri.
__ADS_1
"Ya, ga bisa di maafin Mel."
"Iya ya Mas. Ngeri banget kalo udah masalah hati. Selingkuh itu kaya penyakit, bakal kambuh sewaktu-waktu."
"Tapi, kalau khilaf gimana Mel?" tanya Dewa. Dia kembali teringat kejadian tadi pagi bersama Mega. Kakak iparnya sendiri.
"Gak ada khilaf yang di lakuin secara sadar Mas. Kamu gak selingkuh kan?"
Deg! Bagaimanapun Dewa berusaha menyembunyikan perasaannya sekarang. Anggota tubuhnya tidak bisa berhenti bereaksi dengan pertanyaan Melodi barusan.
Keringatnya kembali bercucuran. Juga dengan bibir yang semakin memucat. Melodi yang tahu dengan gerak gerik suaminya itu sudah mendeteksi adanya kebohongan yang di lakukan di belakangnya.
Melodi adalah seorang wanita cerdas, tidak akan tertipu dengan sesuatu hal sepele seperti ini. Hanya, dia akan melihat sejauh mana Dewa berbohong padanya.
Sampai nanti Melodi mendapatkan bukti yang banyak, baru lah dia akan menyerang Dewa balik.
"E-enggak ko Mel," elak Dewa. "Mana mungkin sih aku nyelingkuhin kamu. Apalagi ada Tari, gak mungkin aku bikin dia susah nantinya.
Melodi ingin tertawa melihat sikap defensif suaminya itu. Tidak pernah berbohong bukan karena tidak ingin, hanya saja memang tidak bisa. Ya, itulah Dewa.
"Itu di lap dulu keringet nya Mas," ucap Melodi dengan nada sarkastiknya.
Dewa yang sangat mengenal betul karakter istrinya yang sangat dominan dan memiliki pendirian teguh, adalah uji coba paling mengerikan ketika dia mencoba untuk bermain api dengan istrinya sendiri.
Dewa sadar dia tidak akan bisa membohongi Melodi. Tapi, apa yang dia lakukan sekarang tidak ia sesali sama sekali.
"Aku gak mungkin selingkuh ko. Tenang aja Mel."
"Iya ... iya. Kamu pun tau kan Mas kalo sampe kamu bohong ke aku? Kamu udah tau konsekuensinya kan?"
Sangat tahu. Dewa sangat tahu. Melodi tidak akan pernah mengemis pada apa dan siapapun. Kalau sampai kejadian tadi pagi di ketahui oleh Melodi bisa-bisa saat ini juga mereka sudah bercerai.
Melodi tidak akan banyak drama, apalagi mencoba untuk memperbaiki hubungan dengan seseorang yang sudah berani mengkhianati kesetiaannya. Big no menurut Melodi.
"Iya sayang. Aku ngerti ko. Gak ada yang bisa gantiin kamu. Cuma kamu sayang."
Senyum sinis Melodi keluarkan. Seakan sudah tidak memiliki kepercayaan pada suaminya, yang akan Melodi lakukan sekarang ada mencari bukti untuk memperkuat firasatnya.
Firasat seorang wanita tidak akan pernah meleset.
Dewa kembali melihat arlojinya. "Kita balik kantor sekarang aja yu? Udah abis jam istirahat nya nih."
__ADS_1
Melodi mengangguk menyetujui ajakan Dewa. Setidaknya, untuk saat ini Dewa terbebas dari intimidasi Melodi. Lain kali, Dewa akan melakukannya lebih aman lagi supaya tidak di curigai.