
"Lo abis dari mana?" tanya Monik begitu Melodi duduk di kursinya.
Karena Monik dan Melodi satu departemen, makannya mereka bisa satu ruangan. Tempat duduk mereka juga saling berdampingan.
"Abis makan sama Mas Dewa."
Melodi membuka laptopnya, berniat untuk mulai bekerja lagi. Di sisi itu, Monik masih sibuk dengan cemilannya.
"Abis tau di selingkuhin ko nafsu makannya gak berkurang?" sindir Melodi.
Monik yang merasa tersindir hanya tersenyum menunjukkan sederet gigi putihnya. "Ya, gua kan udah tahu suami gua selingkuh. Cuma baru hari ini ke gep nya. Ya nangisnya bentaran doang lah. Udah abis air mata gua pas dulu-dulu."
Melodi terkekeh. Dia mengalihkan fokusnya menjadi pada Monic. "Ngomong-ngomong lo bisa tau dari mana awal-awal nya?"
"Gua si gak sengaja mau go food pake hp dia. Eh ada chat sama cewek simpenannya. Itu yang pertama. Terus abis itu, gua gak sengaja liat mutasi rekening dia. Gitu-gitu deh."
"Bisa ampe di go food juga ya? Terus dari apa lagi?" tanya Melodi penasaran.
"Oh iya, satu lagi. Gua nemu di sms Mel. Terus di telegram juga. Udah si, cuma dari empat itu gua nemu buktinya. Pas di telegram mah parah banget, video mereka lagi gituan gua nemunya."
Melodi terlihat sangat kaget mendengar itu. Selama ini dia tidak pernah melihat ponsel Dewa. Dewa pun sebaliknya. Mereka berdua saling percaya karena memang tidak ada yang di tutupi. Ya, itu sebelumnya.
Kali ini seperti nya berbeda. Feeling Melodi tidak pernah meleset. Dari jaman pacaran bersama Dewa, dia selalu tahu kala Dewa berbohong. Begitupun Dewa, dia tidak pernah berbohong dalam hal besar.
Paling-paling soal semalem tidur jam berapa. Akan berbohong tidur cepat jika ada bola tayang jam dua pagi. Selama ini Melodi selalu mempercayai suaminya itu.
Baru kali ini, dia merasa ada hal aneh meskipun Dewa tidak merubah sikapnya sama sekali. Atau mungkin, belum?
"Lo kenapa tiba-tiba nanya gitu Mel? Lo kan orangnya paling gak suka kepo, apalagi masalah pribadi kaya gini. Ya gua si gak masalah berbagi sama lo, cuma tumben aja."
Memang benar, Melodi adalah orang yang tidak suka gibah. Tidak suka membicarakan kebaikan apalagi keburukan orang. Menurutnya, orang akan selalu mempunyai alasan dalam melakukan sesuatu. Ya, itu prinsipnya.
__ADS_1
"Em ... engga Mon. Gua cuma penasaran aja ko bisa lo tiba-tiba nemu bukti itu semua. Detektif lo?" tanya Melodi dengan kekehan pelan.
Monik tertawa sambil mengambil air minumnya. Setelah minum, ia menggeleng. "Bukan. Emang insting cewe aja Mel. Kalo cewe udah punya feeling, perasaan aneh, overthingking, itu biasanya suka beneran. Apalagi kalau di tambah sama mimpi. Beuh, 100% gak meleset."
Setelah mendengar ucapan Monik. Melodi berfikir keras, memang dia selama ini selalu tahu jika ada orang yang membohonginya. Siapapun tidak bisa membohongi apalagi membodohi Melodi.
Di tambah kalimat pendukung dari Monik yang mengatakan kalau setiap cewek punya insting yang tidak pernah meleset.
Ah, setelah di ingat-ingat olehnya. Ternyata Melodi juga pernah bermimpi kalau Dewa selingkuh. Dari situlah perasaan-perasaan aneh mula menghantuinya.
"Mas Dewa beneran selingkuh? Sama siapa? Gak mungkin sama kak Mega kan?"
"Heh," Monic menepuk pundak Melodi membuat cewek itu terperanjat kaget. "Ko ngelamun?"
"Masa iya gua ngelamun Mon? Ah halu kali lo."
"Dih orang iya, lo ngelamun. Iya ga Pak Arga?" lempar Monic pada Arga. Arga sedari tadi sudah memperhatikan Melodi namun tidak di sadari.
Arga adalah ketua departemen mereka. Dia adalah salah satu orang yang tertarik pada Melodi. Sudah ku bilang tadi, Melodi bukan hanya cantik parasnya. Tapi kepribadiannya sangat langka, itu ya menjadi daya tarik orang yang menyukainya.
Pada saat Melodi mengirimkan undangan pernikahannya ke kantor, hari itu menjadi hari patah hati satu kantor untuk orang-orang yang menyukai Melodi.
"Ih apa si Mon. Enggak ya kan Pak?" tanya Melodi pada Arga dengan sikap malu-malunya.
Pak Arga sangat kentara gugupnya. Dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Em ... gak tahu. Saya gak memperhatikan."
Sifat defensif Arga membuat Monik tertawa kecil. Hubungan antar anggota departemen ini sudah seperti pertemanan yang sehat. Saling membantu satu sama lain dan sangat jauh dari kata toxic.
Tak heran kalau Monik bisa bercanda dengan Arga. Satu hal lagi, Monik mengetahui perasaan Arga pada Melodi. Selama ini Arga suka mengirimi makanan untuk Melodi tapi lewat Monik.
__ADS_1
Sudah menjadi kesepakatan di antara mereka. Monik akan mendapatkan tip jika membatu Arga mendekati Melodi. Tapi pada dasarnya Melodi orang yang tidak peka dan menjunjung tinggi kehormatan juga kepercayaan yang orang beri padanya.
Meskipun jika dia tahu Arga menyukainya, dia akan menghargai ikatan rumah tangganya dengan Dewa. Tidak akan merespon Arga sama sekali.
Di tengah-tengah percakapan mereka, ada yang bergetar di mejanya. Satu notifikasi masuk pada ponsel Melodi.
Cewek itu mengambil dan membuka ponselnya. Ternyata itu dari Dewa.
"Sayang, hari ini aku lembur ya. Pulang agak maleman. Ga apa-apa kan?"
Saat ini Melodi tidak berfikir macam-macam. Tidak berfikir buruk juga karena jika Dewa lembur itu hal biasa.
"Iya Mas. Hati-hati di jalannya. Kalau kemalaman nginep aja di kantor, takut ada apa-apa di jalan," balas Melodi dengan cepat.
"Nanti pulang kantor mau ikut karaokean gak Mel?" tanya Monik.
Melodi menggeleng. Kalau dia telat pulang juga, akan sangat kasian Tari di rumah. Anak itu jika pulang sekolah selalu di jemput oleh ojek yang sudah di pesan oleh Melodi.
Ojek itu adalah orang yang sama. Jadi tidak perlu di khawatirkan. Untuk makan selalu Melodi pesankan setiap jam makan siang. Untuk ukuran anak seusianya itu sudah sangat mandiri.
"Gua kan punya anak Mon, gak bisa. Pulang langsung gua."
Monik melirik ke arah Arga, dan langsung mendapat anggukan dari lelaki itu.
"Ya udah. Lain kali tapi ikut ya Mel, kalo enggak ajak aja anak lo," usul Monik.
"Iya deh, liat-liat nanti ya Mon. Udah ah, gua lanjut kerja dulu. Makan gaji buta gua kalo ngomong mulu sama lo mah."
Monik tertawa. "Ya elah, santai aja. Bos kita kan Pak Arga. Aman itu Mel, iya gak Pak?"
"Ada-ada aja kamu Mon," ucap Arga sambil menahan senyumnya.
__ADS_1
Melodi ikut tertawa mendengar jawaban dari Arga. Ia segera kembali memfokuskan dirinya pada laptop yang ada di hadapannya ini.