Benalu Keluarga Kecilku

Benalu Keluarga Kecilku
Bab 2 Rasa gatal, akhirnya tergaruk


__ADS_3

"Kamu hari ini pulang jam berapa?" tanya Melodi pada Dewa yang sedang merapihkan dasinya.


"Kaya biasa. Nanti jam istirahat aku jemput ya, kita makan di luar."


Melodi tersenyum simpul. Hal-hal kecil seperti ini yang membuatnya sangat mencintai Dewa. Dewa bukan sosok yang romantis, dia juga tidak terlalu tampan. Tapi, sikap cueknya ini yang menjadi daya tarik Melodi.


Hal-hal kecil menjadi sangat berarti baginya. Apalagi di kesibukan masing-masing, keduanya saling sibuk tapi tidak lupa kalau statusnya saling memiliki.


"Iya Mas. Hari ini Biar aku yang anter Tari ke sekolah ya?"


"Iya boleh, kalo gitu aku berangkat duluan ya. Kamu hati-hati di jalannya."


Setelah berpamitan dengan sang istri, Dewa berjalan ke luar rumahnya. Di halaman, ia melihat Mega sedang memegangi kepala. Terlihat sedang ada masalah yang mengganggunya.


"Kenapa kak?" tanya Dewa sambil menghampiri Mega.


Mega yang menyadari keberadaan Dewa, dia tersenyum licik. Entah apa, tapi itu mengganggu perasaan Dewa.


"Mobil kakak mogok nih, gak tahu kenapa."


"Ko bisa gitu?"


"Gak tahu ya, kemarin si bisa. Mana udah telat lagi ini. Bisa tolong liatin gak Dew?"


Dewa berfikir sejenak. Pasalnya dia pun ada meeting pagi ini. Akan telat kalau harus melihat kondisi mobil Mega terlebih dahulu.


Hanya ada satu-satunya cara. "Ikut aku aja kak. Aku anterin aja kalo gitu."


Gayung bersambut. Mega langsung menyetujui ajakan Dewa. Ia langsung masuk ke dalam mobil adik iparnya itu setelah Dewa masuk.


Tak butuh waktu lama, Dewa segera melajukan mobilnya dan pergi dari halaman rumahnya itu.


"Kok tante Mega berangkat bareng Ayah Bu? Emang mobil tante kenapa?"


Melodi yang melihat Mega masuk ke dalam Mobil suaminya memiliki pertanyaan yang sama dengan Tari. Bahkan anak seusia Tari saja bisa merasakan keganjalan itu.


Melodi yang tidak pernah ingin terlihat gelisah di hadapan Tari, dia segera mengusap puncak kepala anaknya itu. "Mungkin mobil tante lagi rusak sayang. Udah gak apa-apa, kita berangkat juga yu?"


Tari hanya mengangguk mengikuti langkah kaki sang Ibu.


Berbagai prasangka Melodi pikirkan. Salahkah kalau dia merasa ada hal yang tidak beres di sini? Bolehkan dia menuduh sang kakak?

__ADS_1


...~~~...


"Udah berapa persen kak proyeknya?" tanya Dewa memecah keheningan.


"Lima puluh, empat bulan ini juga kelar Dew."


Dewa hanya mengangguk menanggapi jawaban sang kakak iparnya itu.


Pagi ini seperti biasa, macet. Tidak pernah terhindar dari kemacetan, apalagi di saat jam berangkat dan pulang kerja. Kalau di lihat dari atas mungkin seperti sekumpulan semut yang sedang berbaris.


Entah kenapa, perasaan Dewa begitu gelisah saat berdua seperti ini dengan Mega. Ingatannya tentang tubuh Mega yang begitu menawan terus berputar di kepalanya. Ia menggeleng, mencoba menepis bayangan itu. Ia harus ingat kalau dirinya sudah mempunyai istri. Apalagi yang sedang ia bayangkan sekarang adalah, kakak iparnya sendiri.


"Kamu kenapa Dew? Sampe keringetan gitu?" tanya Mega. Cewek itu mencoba mengelap dahi Dewa yang sangat basah itu menggunakan tissue yang berada di mobil.


Dewa hanya diam saja mendapat sentuhan lembut dari kakak iparnya itu. Di satu sisi, Mega tersenyum puas dalam hatinya.


Ia memang sudah lama menaruh perasaan pada adik iparnya ini. Banyak kesempatan untuknya kali ini.


Rasa itu muncul ketika pertemuan pertama Dewa dengan Mega.


"Makasih kak," ucap Dewa begitu Mega selesai dengan aktivitasnya.


Mega terus memperhatikan Dewa. Cowok itu semakin gelisah dan gugup. Dewa menoleh ke arah Mega. Rok mini dengan jas yang sangat ketat membuat kedua gunung milik Mega sedikit menonjol dan terlihat.


Pandangan Dewa sedikit salah fokus saat itu. Perlahan Mega meraba kaki kiri Dewa membuat cowok itu menghela nafas beratnya. Dia tidak berontak, melainkan menikmatinya.


Terpaksa Dewa harus kembali fokus pada jalanan. Lampu sudah berganti menjadi hijau.


"Kalau mau mampir dulu juga boleh Dew," ucap Mega dengan kekehan pelannya.


Dewa yang mendengar hal itu bagai tersambar petir. Rasanya menggelegar. Pikiran nakal, hilangnya akal, semua bermunculan ketika hasratnya meninggi.


Dengan senyum simpulnya, Dewa menepikan mobilnya. Mega yang mengetahui kalau Dewa terpancing olehnya merasa sangat puas.


Rasa gatalnya selama ini, akhirnya akan tergaruk.


Setelah berhasil menepikan mobilnya, Dewa menatap kedua manik mata Mega. Cewek itupun sama. Semakin mendekat, hingga tidak ada jarak lagi di antara mereka.


Cup.


Bibir yang begitu hangat terasa oleh Dewa, ia semakin terlena dengan permainan kakak iparnya ini.

__ADS_1


"Ibu, itu mobil Ayah bukan yang baru aja kita lewatin?" tanya Tari pada Melodi yang sedang mengemudi mobil yang mereka tumpangi.


Mendengar pertanyaan dari sang anak, ia segera melihat lewat kaca spionnya. Melihat mobil yang memang ada terparkir di pinggir jalan.


Pikiran negatif pada suaminya mulai hadir kembali. Itu memang tipe mobil yang di gunakan Dewa. Tapi Melodi tidak berhasil melihat plat nomor karena semakin banyak mobil dan motor yang berlalu menutupi mobil yang mirip dengan mobil suaminya itu.


"Masa Ayah si Tar? Ayah ada meeting pagi ini. Gak mungkin dia ada di situ," jawab Melodi, ia ingin membuat sang anak tenang.


"Oh gitu ya Bu? Tapi Ayah gak kenapa-napa kan Bu? Takut ada apa-apa."


Melodi diam sejenak. Iya, kalopun itu mobil suaminya, bisa jadi mogok atau apa. Kenapa Melodi malah berfikir yang tidak-tidak?


"Ya udah, Ibu coba telfon Ayah ya Tar," kata Melodi sambil mengeluarkan ponselnya.


Tidak butuh waktu lama untuk menemukan kontak Dewa. Di ponsel Melodi, kontak Dewa sudah menjadi kontak darurat.


Sekali, tidak di angkat.


Kedua kali, tidak di angkat.


"Halo? Ada apa sayang?"


Akhirnya telfon dari Melodi kunjung di angkat oleh Dewa. "Kamu udah sampe kantor Mas?"


Terdengar deheman pelan dari Dewa. "U-udah ko sayang. Kenapa nanya gitu?"


"Oh cepet juga ya udah sampe aja. Aku masih di jalan nih, mau ke sekolahan Tari dulu."


"Oh iya, tadi aku ngebut. Ini mau meeting dulu. Lanjut nanti ya Mel."


Tanpa menunggu jawaban dari Melodi, Dewa mematikan telfonnya sepihak.


Melodi menghela nafasnya. Mencoba mengatur keadaan hatinya. Dia tidak boleh berangkat kerja dengan keadaan perasaannya yang buruk.


"Ayah bilang udah di kantor Tar, berarti yang tadi bukan Ayah sayang."


Tari hanya mengangguk. Gadis itu kembali sibuk dengan dunianya.


Sedangkan Melodi, dia tidak yakin kalau dalam waktu secepat ini Dewa sudah sampai di kantornya. Apalagi keadaan jalanan macet, juga tadi Dewa membawa Mega ke dalam mobilnya.


Ada kemungkinan, Dewa mengantar Mega ke tempat kerjanya. Dewa berbohong. Ini pertama kalinya Dewa berbohong pada Melodi.

__ADS_1


__ADS_2