Bersama Mimpi

Bersama Mimpi
Chapter 02


__ADS_3

“Mami, aku datang”, ucap ku saat memasuki pintu rumah.


“Sini nak, ada makanan enak”, ucap mami


Akupun segera menemui mami di dapur rumah. Ternyata banyak makanan enak yang telah disediakan oleh mami.


“Ini semua mami yang masak?” tanya ku.


“Bukan nak, ini kiriman tante mu di Korea Selatan. Gimana makanannya, enakkan?” tanya mami.


“Enak banget mami,” jawab ku sambil menyantap beberapa makanan yang ada.


“Nanti kamu akan sering- sering makan makanan seperti ini. Tante mu akan menyediakannya setiap hari khusus untuk mu”, ucap mami.


“Wah, asik dong mami,” kataku bahagia.


Aku pun kembali menyantap makanan yang ada, ternyata enak banget tidak sesuai pikiran ku. Tidak lama kemudian terpikir oleh ku akan sesuatu.


“Mami, boleh gak aku pergi liburan ke Bali sebelum ke Korea Selatan?” tanya ku serius.


“Nak, kalau mau liburan tidak usah jauh-jauh”, Jawab mami.


“Kamu liburan di sekitar sini aja”, sambung mami.


Akupun terdiam dan berpikir sejenak.


“Di mana ya tempat liburan yang dekat dan bagus?”, ucap ku dalam hati.


Setelah itu, aku pun beranjak ke kamar ku, untuk segera mengabari sahabat ku lewat telepon tentang keinginan ku untuk liburan sebelum kami berpisah.


“Guys, liburan yuk”, ajakku.


“Liburan ke mana?” tanya Andi.


“Ke mana aja yang penting dekat dan bagus sih,” jawab ku.


“Ayo, aku mau”, jawab Erna.


“Liburan Korea yuk”,Ucap Dinda.


“Aduh, jiwa bucin mulai muncul ke permukaan,” ejek Deny.


“Apasih, iri bilang bos”, ucap Dinda.

__ADS_1


“Hey kalian jangan bertengkar dong, ayo dong kasi saran lokasi liburan yang bagus di mana?” tanya ku serius.


“Ke puncak aja yuk, di sana ada vila ortu Erna,” ucap Andi.


“Oh iya, ke sana aja yuk”, ajak Erna.


“Ok, besok kita berangkat ya”, kata ku


“Harus besok ya?” tanya Dinda.


“Iya, masa tahun depan,” ujar ku.


“Tau nih si bucin,” ejek Deny.


“Ya kan soalnya besok aku mau live streaming konser BTS guys”, ucap Dinda.


“Ya ampun. Kan bisa nonto di mobil. Susah amat sih”, kata Deny.


“Iya,iya oke. Besok fix ya,” kata Dinda.


“Oke”, ucap kami serentak.


Akupun kembali melangkah ke ruang tengah di mana Mamiku berada. Aku datang sambil memeluk Mami secara tiba-tiba.


“Mami aku akan pergi liburan nih sama temanku besok, boleh ya Mami?” tanya ku.


“Oke mami,” jawab ku bahagia.


Aku pun bergegas kembali ke kamar untuk mempersiapkan perlengkapan yang akan aku bawa liburan. Pertama-tama, aku mengambil tas make up yang selalu aku pakai kemana-mana. Tak lupa aku mengisinya dengan barang-barang yang selalu aku pakai seperti bedak, eyeliner, dan sebagainya. Setelah itu aku mengambil koper yang akan aku isi dengan pakaian yang akan aku kenakan. Ketika semuanya telah beres aku pun beristirahat sambil memandang luar jendela yang sangat indah. Tak terasa aku pun tertidur di kursi kamar ku.


Beberapa jam kemudian aku terbangun ketika mendengar suara handphoneku berbunyi ternyata ada panggilan masuk dari sahabatku yaitu Dinda.


“Guys, maaf ya sepertinya besok aku tidak bisa datang”.


“Loh kok kenapa? apa jangan-jangan kamu lebih utamain bucin mu ya?” Tanya ku.


“Tidak, tapi ayahku..” jawabnya sambil terisak.


“ Ayah kenapa?” tanyaku.


“Ayahku kecelakaan tadi sore ketika pulang kantor”, jawab Dinda sambil menangis.


“ Ya ampun, Jadi sekarang kamu di mana?” Tanya ku lagi.

__ADS_1


“ Aku ada di rumah sakit, kamu ke sini aku temenin aku.” Pintanya.


“Iya, aku akan segera ke sana bersama anak-anak lainnya.” Ucap ku.


Setelah itu aku lari menuju Mamiku dan memberitahukan kabar tersebut. Tak lupa pula aku memberitahukan informasi tersebut kepada teman-teman ku. Semuanya kaget dan kami pun langsung bergegas menuju ke rumah sakit.


Setibanya di rumah sakit, aku sudah melihat temanku yang lain berada di samping Dinda. Aku pun segera menghampiri mereka dan menenangkan Dinda yang sedang menangis.


“ Kamu tenang aja Din , ayahmu pasti baik-baik aja”, ucap ku.


“ Aku enggak mau kehilangan Ayahku, sudah cukup aku kehilangan ibu dan kakakku. Aku tidak mau sendiri”, ucapnya sambil menangis tersedu-sedu.


Kami pun memeluknya dan berusaha menenangkan dinda. Ketika waktu telah menunjukkan pukul 11 malam. Dokter keluar dari ruang operasi dan memberikan kabar bahwa Ayah Dinda telah tiada.


Kulihat Dinda sangat terpukul ketika mendengar berita itu. Kami juga sangat sedih atas kepergian Ayah Dinda.


“Sabar Din, doakan Ayah mu agar tenang di alam sana”, ucap mami ku sambil memeluk Dinda.


“Iya tante, aku belum siap mengahadapi ini semua,” kata Dinda sambil terisak.


“ Kamu masih ada kami, kamu tidak sendiri Dinda,” ucap Deny disambung anggukan kami.


Keesokan harinya kami mendatangi proses pemakaman ayah Dinda. Di sana Kami terus memberikan semangat kepada Dinda agar tidak putus asa menjalani hidup ini. Kami akan selalu berada di samping dan di lingkungan Dinda untuk memberikannya semangat. Sepulang dari proses pemakaman tersebut aku pun beristirahat sejenak bersama mami.


“ Mami, boleh nggak aku kasih saran?” tanya ku.


“Apa itu nak?” Jawab mami penasara


“ Aku kan dan Dinda bentar lagi kuliah boleh nggak Dinda ikut bersama Aku kuliah di Korea Selatan ?” ucap ku


“ Mami juga baru saja memikirkan hal itu nak, supaya Dinda tidak mengingat hal duka ini. Tapi apakah Dinda mau?” tanya mami.


“ Aku yakin Dinda pasti mau karena dia itu senang banget sama Korea Selatan apalagi yang berbau opa-opa,” jawab ku semangat.


“ Tapi gimana cara menyampaikannya ke Dinda?” Tanya mami.


“Mami tidak mau dia tersinggung akan hal ini”, sambung mami.


Aku pun terdiam sambil memikirkan cara agar Dinda mau menerima tawaran mami. Sembari memikirkan hal itu aku pun kembali ke kamar mengistirahatkan diri karena semalam aku fokus menemani Dinda yang sedang berduka. 2 jam Setelah aku tertidur tiba-tiba, mami masuk ke kamarku dan membangunkan aku. Aku pun kaget dan menanyakan mengapa mami tiba-tiba membangunkanku.


“ Dinda hilang nak,” ucap mami.


“Apa mami? Dinda hilang?” ucapku tidak percaya.

__ADS_1


“ Tadi teman kamu si Deni, Andi, dan Erna datang ke rumahnya. Tapi, beliau tidak ada di sana. Makanya mereka datang ke sini menanyakan keberadaan Dinda,” ucap mami.


Akupun bergegas turun ke lantai satu untuk melihat teman-teman ku itu. Kulihat wajah mereka sangat panik. Aku dan mamiku pun ikut panik. Ku raih handphone yang ada di tangan Erna untuk segera menghubungi nomor Dinda. Namun, ternyata...


__ADS_2