
“Din, udah yuk pulang aja aku ngantuk”, ajakku.
Dinda hanya fokus melihat foto yang terpampang di dinding itu tanpa mendengarkan ajakan ku. Aku pun kesal dan langsung menarik tangan Dinda agar segera melangkah menaiki taksi yang telah terparkir dan menunggu. Namun, aku tidak sengaja menabrak seseorang lagi di dekat taxi itu. Kulihat orang itu hanya fokus pegang topinya agar tidak jatuh kemudian kembali melangkah dengan cepat menjauhi kami.
“ Sepertinya aku pernah lihat orang itu”, gumam ku bingung sambil melangkahkan kaki dengan cepat agar segera masuk ke taksi.
“ Ke alamat ini ya, pak,” pintaku sambil menunjukkan alamat yang ada di handphone ku.
Beberapa saat kemudian aku dan Dinda telah sampai di depan apartemen.
“Wah, besar juga ya,” ucap ku kagum.
Di depan Apartemen itu aku pun segera menelepon pemilik apartemennya dan menanyakan tempat kami tinggal. Setelah semua beres, aku pun bergegas melangkah ke kamar yang telah disediakan oleh pemilik apartemen. Kamar ku dan Dinda sama jadi kami harus berbagi ruangan.
“Wah, fasilitasnya lengkap ya,” ucapku.
“ Dapurnya aja mirip banget sama drama Korea yang sering ku nonton,” ungkap Dinda.
“Luar biasa banget, aku suka. Suatu keajaiban bisa kuliah di negara ini,” lanjut Dinda.
Aku hanya mengangguk-angguk mendengar perkataan Dinda. Setelah melihat-lihat situasi di apartemen, aku dan Dinda bergegas untuk merapikan barang-barang kami. Kami bersyukur karena tempat yang kami tinggali ini fasilitasnya lengkap. Sehingga kami tidak perlu membeli banyak perlengkapan kamar.
“Wah, akhirnya selesai juga tugas ini, saatnya istirahat,” ucap ku.
“Eh, telpon mami dulu lalu tidur”, pinta Dinda.
“ Astaga aku lupa kabarin mami”, ucap ku sembari mengambil HP di atas meja.
“Mami, maaf aku baru kabari. Kami sudah tiba di apart, sudah beres-beres juga. Waduh tempatnya indah banget Mami,” Kata ku.
“Baguslah nak kalau kalian suka, nanti mami akan ke sana jalan-jalan ya,” ucap mami.
“Iya mami, kami tunggu kedatangan mami. Love u mami ku sayang ,” ucap ku.
Setelah menelepon Mami akupun kembali berbaring untuk mengistirahatkan diri.
Waduh leganya bisa baring badan aku sampai encok semua. Tak sengaja akupun tertidur hingga pukul 8 malam.
“Oi, guys bangun. Yuk makan malam, “ ajak Dinda.
“Bentar lagi, aku masih ngantuk,” kataku sambil memejamkan mata.
“Eih cepetan ih. Aku mau istirahat juga setelah ini,” ucap Dinda sambil membangunkan ku.
“Iya, iya nih aku bangu”, ungkap ku.
__ADS_1
Sembari mengumpulkan nyawa, aku terkaget melihat ada foto idola Dinda yang tertempel di dinding kamar.
“Dinda, perasaan gak ada ini deh tadi siang,” ungkapku sambil menunjuk foto tersebut.
“Iyakan baru aku pajang. Tadi kamu tidur sih, jadi tidak lihat yang aku kerjakan deh,” ucap Dinda sambil tersenyum.
“Oh iya, sepertinya aku lupa ingatan,” ucapku
Beberapa saat setelah makan, aku kembali bosan tidak ada kerjaan. Akupun mencari kesibukan dengan menonton TV.
“Aduh, apasih ini siarannya aku gak ngerti sama sekali bahasa mereka,” ucapku.
Mendengar perkataan ku, Dinda kembali menertawakan ku lalu berkata,
“Hey anak muda, ingat deh kamu ada di negara mana?”
Aku hanya cemberut mendengar perkataan Dinda.
“Udah ah, ngantuk. Ku duluan ya Dinda,” ucap ku.
Dinda hanya mengangguk sambil melanjutkan kebucinannya.
Tepat pukul 6 pagi, alarm pun berbunyi. Aku segera terbangun dari mimpi indahku. Kudapati Dinda yang berada di sampingku masih tertidur nyenyak. Aku hanya tersenyum melihat sahabatku itu yang yang berbahagia dan menikmati suasana negara ini. Aku beranjak mencuci muka lalu membuka gorden kamar. Lalu aku melangkah menginjakkan teras rumah.
“ Wah, udaranya sejuk sekali,” gumam ku sambil menikmati alam yang indah ini.
Aku pandangi suasana pinggir jalan apartemen kami.
“Jam segini sudah ramai ya, orang korea rajin banget bangunnya,” gumamku
Tiba-tiba muncul Dinda di samping ku dan mengagetiku.
“Ya, serius amat,” ucap Dinda.
“Apasih Din, bikin kaget aja,” kataku kesel.
“Aku lapar, makanya rese. Keluar yuk cari makan,” ajak Dinda.
“Ayo, laksanakan.” Kata ku.
Aku dan Dinda berjalan di luar apartemen untuk mencari penjual yang terbuka di pagi hari.
Di perjalanan, kami merasa ada seseorang yang mengikuti kami sejak tadi. Tapi, kami hiraukan saja. Tetap fokus mencari penjual makanan. Namun, aku merasa risih karena terus diikuti oleh pria itu. Di manapun kami singgah, dia memantau kami.
“Din, gimana nih orang itu masih ngikutin kita,” bisikku.
__ADS_1
“Tenang aja, kitakan berdua. Gak mungkin dia macam-macam,” ucap Dinda.
“Kamu pegang aja harta berharga mu baik-baik, jangan sampai hal yang tidak diinginkan terjadi,” lanjut Dinda.
Aku pun berusaha keras memegang semua harta benda yang aku bawa. Karena sejujurmya aku takut jika ada penguntit. Tidak lama setelah itu, kami berhasil menemukan toko yang menjual sarapan. Kamipun segera memesan makanan dan menyantap makanaj yang kami order itu. Karena kami sangat lapar dan ketakutan.
“Semoga aja, orang tadi udah pergi ya,” kata Dinda.
“Iyanih, gak nyaman banget diikuti mulu,” ucap ku.
Ketika kami hendak berjalan kembali ke apartemen, ku dapati pria itu masih berdiri menunggu kami.
“Astaga, dia masih ada,” ucap ku ketakutan.
“Tenang cha, aku ada solusi,” ucap Dinda.
Kemudian Dinda memanggil, bibi pemilik toko, dan mengajaknya bicara dalam bahasa Korea.
“Bibi, kami mau minta tolong. Ada pria yang sedang mengikuti kami sejak tadi, dan ternyata beliau masih ada memandangi kami,” bisik Dinda.
“Kalian harus berhati-hati jika ada yang mengikuti kalian. Sini aku bantu,” ucap bibi pemilik toko.
Pemilik toko itu segera mengambil handphone dan berpura-pura menelepon polisi.
“ Halo pak polisi, iya pak kami ada di depan restoran kami tolong segera ke sini,” ucapnya dengan nada besar sampai pria itu mendengarnya.
Aku hanya mengode Si Dinda dan membisikkan sesuatu.
“ Bibi itu ngomong apa?” tanya aku.
“Diam aja, ntar aku jelasin,” ucap Dinda.
Kulihat pria itu langsung salah tingkah karena perkataan Bibi di telepon. Tak lama kemudian, dia pun pergi dan menjauh dari kami. Aku hanya terheran dan tidak tahu apa-apa.
“ Ada apa sih sebenarnya,” gumam ku dalam hati.
Dinda lalu mengucapkan terima kasih kepada Bibi tersebut. Aku hanya bisa bilang “Thank you” karena tidak paham dengan bahasa Korea. Saat perjalanan pulang aku pun kembali menoleh ke samping, ke kanan, dan ke belakang untuk memastikan bahwa tidak ada yang mengikuti kami.
“Eh, Din tadi lu ngomong apa? Ngomongin gue ya?” tanyaku.
“ Iya kata bibi tadi kamu jelek banget,” ucapnya sambil tertawa.
“ Ih, kok gitu sih,” jawab ku cemberut.
Sesampainya di Apartemen, Dinda pun menjelaskan kepada ku tentang kejadian tadi.
__ADS_1
“Kita perlu waspada di mana pun, dan kapan pun. Apalagi kita orang baru di sini. Kamu harus belajar bahasa korea juga. Nanti aku ajarin,” ucap Dinda.
“Iya bunda, hahaha,” ucapku