Bersama Mimpi

Bersama Mimpi
Chapter 03


__ADS_3

Kami panik karena nomor HP milik Dinda tidak aktif. Kami pun berpencar mencari keberadaan Dinda. Ada yang bertugas mencarinya di sekeliling kompleksnya, ada yang bertugas di rumah sambil menunggu kembalinya Dinda. Kalau aku bertugas mencarinya di tempat yang sering di datangi olehnya. Mulai dari Cafe, mall, dan tempat lainnya. Namun, setelah berjam-jam mencarinya kami tak kunjung menemukan Dinda. Aku pun kembali berjalan menuju ke rumah Dinda melewati kuburan tempat pemakaman ayahnya.


Terpikir di benakku untuk mencarinya di dalam pemakaman itu. Walaupun takut melangkah sendiri ke dalam kuburan aku pun harus memberanikan diri demi menemukan sahabatku itu. Dari jarak jauh aku melihat ada seseorang duduk di samping batu nisan. Aku merinding tapi aku harus berani. Sambil melangkah mendekatinya aku pun berusaha menelpon Mamiku memberitahukan keberadaan ku.


“Mami, aku sekarang ada di kuburan tempat pemakaman ayahnya Dinda”. Kata ku


Bunda langsung panik mendengar mendengar perkataanku.


“Ngapain kamu di sana nak? Kamu tidak takut sendirian di sana?”, ucap mami ku.


Aku tidak mendengar perkataan Mamiku karena aku hanya fokus melihat orang yang sedang duduk di samping batu nisan itu. Aku hanya berharap bahwa itu adalah Dinda. Sekitar 4 meter aku di dekatnya, aku memerhatikan baik-baik wajahnya. Setelah kuperhatikan baik-baik, orang itu memang Dinda yang sedang menangis di samping batu nisan ayahnya. Aku pun segera berlari memeluknya dan menenangkannya.


“Tenang Dinda kamu jangan sedih masih ada aku, Mamiku , dan sahabat kita yang setia bersamamu,” ucapku.


Tak lupa aku mengabari Mami ku bahwa aku sudah menemukan Dinda.


“ Mami, Dinda disini bersama Aku di samping batu nisan ayahnya”, ucap ku.


“ Oke Nak kamu tunggu di sana Mami jemput,” pinta mami dengan nada khawatir.


Beberapa saat kemudian Mami pun datang bersama Erna, Andi, dan Deni. Kami berusaha membujuk Dinda agar ingin pulang kerumah dan mengikhlaskan kepergian ayahnya. Setelah berhasil membujuknya kami pun berangkat kembali ke rumah Dinda. Di sana kami mengajak Dinda berbincang-bincang agar Dinda menghilangkan rasa sedihnya.


“Nak, kamu mau nggak kuliah di Korea ?” ucap mami spontan.


“Dii sana kamu bisa kuliah bersama anakku dan ketemu idola kamu juga,” sambung mami.


Dinda hanya terdiam sambil memikirkan sesuatu.


“ Ayolah Dinda kapan lagi nih. Lagian aku tuh kesepian nggak ada teman di sana, “ pintaku


“ aku sih mau, tapi belum ada persiapan untuk ke sana”, Ucap Dinda


“ Tenang aja hal itu biar Mami yang urus. Kamu tuh udah mami anggap seperti anak sendiri. Jadi, kamu tidak usah pusing mikirin itu. “ ucap Mami bahagia.


“Baiklah maminya Echa, kalau begitu aku mau kok”, jawab Dinda.


“Kami gak di ajak nih Mami?” ucap Andi sambil menunjuk Erna dan Deni.


Mendengar hal itu Erna dan Deni pun tertawa terbahak-bahak.


“ Aku sih mau ke sana bukan untuk kuliah tapi untuk liburan”, ucap Erna.


“ Iya betul, betul, betul aku juga mau seperti itu. Aku mau kuliah di Indonesia aja, lalu liburan di sana keren hidup ini” ungkap Deny alay.


“ Iya maksud aku begitu, minimal diajak liburan aja mami”, ucap Andi tahan tawa.

__ADS_1


“ Iya, Iya, doain Mami Echa nanti kalau banyak duit bisa ajak kalian semua ya ke Korea Selatan,” ungkap mami sambil tersenyum.


Mendengar hal itu teman-temanku pun tersenyum bahagia.


“Asik ke Korea,” ungkap Andi.


Kami hanya bisa tertawa melihat kekonyolan teman-teman kami.


Beberapa hari kemudian aku dan Dinda pun berkumpul di rumahku. Karena besok adalah hari penerbangan kami ke Korea Selatan.


“Gimana nak, sudah siap belum kuliah di sana?” tanya mami.


“Iya Mami aku tidak sabar nih”, ungkap ku.


“Aku juga mi, terima kasih ya mami. Tanpa mami, aku gak memikirkan untuk kuliah”, ucap Dinda.


“Iya nak, sama-sama. Kalian kuliah baik-baik ya nak dan jaga diri kalian di sana. Karena kalian jauh dari Indonesia,” pinta mami


“Siap mami,” ucap kami kompak.


Keesokan harinya kami diantar oleh mami, Erna, Deny, dan Andi ke bandara. Sebenarnya agak berat meninggalkan Indonesia apalagi meninggalkan mami sendirian. Tapi, masa depan sudah menanti. Aku harus kuat. Aku pasti bisa.


“Kalian jangan lupakan sahabat mu ini ya “ ucap Deny.


“Tunggu kami menyusul ke Seoul,” Kata Erna sambil memeluk kami.


“Kalian hati-hati ya, jaga diri baik-baik. Kalau ada yang macam-macam kasi tau aku, biar ku laporin ke oppa-oppa kalian,” ucap Andi.


Kami hanya tertawa mendengar perkataan Andi itu.


Setelah itu, aku dan Dinda berpamitan lalu melangkah menuju pesawat.


Di dalam pesawat, aku sangat deg-degan karena ini pertama kalinya ke Korea Selatan.


Dinda pun menertawakan ke gugupan ku ini.


“Ya ampum, gitu aja deg-degan” ucap Dinda.


“Ih apasih Din,” kataku cemberut sambil menutup mataku agar cepat tidur.


Beberapa jam setelah tiba di Korea Selatan, aku pun melangkah keluar bandara untuk mencari makanan. Karena pagi itu aku belum makan dan sangat kelaparan.


“Din, makan yuk. Perutku lapar banget ini,” ajak ku.


“Yuk, tuh ada cafe ,” ucap Dinda sambil nunjuk cafe.

__ADS_1


Kamipun bergegas melangkah ke cafe tersebut, setibanya aku pun langsung menuju ke toilet karena kebelet.


“Din, ku titip barang-barang ku ya,” pintaku sembari berlarian ke toilet.


Bruuuk..


“Awww, sakit,” kataku.


“I’m sorry,” kata orang yang menabrak ku tdi.


Aku hanya hanya mengangguk dan melihat wajahnya sekilas karena harus bergegas ke wc. Di dalam WC aku malah merenung mengingat-ingat wajah orang yang menabrakku tadi.


“Sepertinya aku pernah liat dia, tapi di mana ya?” gumam ku.


Setelah selesai urusan di wc, aku pun kembali menghampiri Dinda.


“Ey, kok lama banget?”kata Dinda.


“Iya, tadi ada kecelakaan kecil. Makanya lama, hehe”, kataku


“Tuh pesanan mu hampir dingin, yuk cepat makan lalu ke apartemen kita,” kata Dinda.


Akupun langsung menyantap makanan yang telah disediakan. Sedangkan Dinda sedang menelpon pemilik apartemen agar mengirimkan lokasinya.


“Nih udah ada lokasinya, gak jauh dari kampus kita. Nanti bisa jalan kaki ngampus supaya sehat,” kata Dinda sambil tertawa.


“Aku sih yess, yang penting tempatnya aman dan nyaman itu udah keren ,” ungkap ku santai.


“Eh liat deh cowok itu cakep ya,” ucap Dinda sambil menunjuk seseorang yang berada di luar cafe.


Mendengar ucapan Dinda, aku jadi terpikirkan pria yang bertabrakan dengan ku di pintu toilet.


Dindapun menghentikan lamunan ku.


“Hey, kok diam aja? Kamu mikirin apa?” tanya Dinda mendadak.


“Gak ada kok, aku cuman ngantuk aja,” jawab ku salah tingkah.


“Eih, kasi tau dong. Aku tau kamu bohong, ya kan?” ucap Dinda menggoda sahabatnya ini.


“Apasih Din, tau ah. Yuk berangkat sekarang. Ku sudah mengantuk.” Kataku sambl berdiri dan melangkah ke luar cafe. Dinda hanya tertawa melihat ku dan berlari kecil mengejarku.


“Ayolah kasi tau aku ya, jangan main rahasiaan dong,” bujuk Dinda.


“Tau ah, Din.” Kataku sambil berjalan cepat.

__ADS_1


“Eh, tunggu deh. Inikan foto BTS. Ya ampun gantengnya.” Ucap Dinda.


Aku hanya menoleh memandangi foto yang Dinda maksud. Ku hanya melongo memandangi foto mereka, karena aku tidak begitu kenal dengan mereka. Namun, tiba-tiba aku teringat sesuatu.


__ADS_2