Bertalu Rindu

Bertalu Rindu
Mimpi Buruk


__ADS_3

Ninja ZX 14R warna merah sudah terparkir di parkiran motor  kampus, yah itu adalah motornya Rindu, motor sport kesayangan Rindu yang selalu dia gunakan dalam bertransportasi untuk menjalani semua  aktifitasnya.


Rindu berjalan dari parkiran kampus menuju ruang dosen, hampir semua mahasiswa dan dosen yang berpapasan dengannnya menyalami penuh hormat. Setelah tiba di ruang dosen Rindu  menyapa rekan-rekan sejawatnya, belum sempat duduk  dia melirik jam dinding yang ada di ruangan tersebut, menhela nafas lalu keluar lagi dari ruangan dosen menuju kelas karena hari ini dia datang agak terlambat tidak seperti biasanya, jadi untuk hari ini dia tidak bisa bersenda gurau terlebih dahulu dengan rekan dosen yang lainnya.


Rindu adalah salah satu dosen yang sangat menjunjung tinggi kedisiplinan, prinsip dia korupsi waktu sama saja dengan korupsi uang. Hari ini ada 2 kelas yang harus dia isi yang pertama mata kuliah Teori dasar musik  untuk  smester I dan Pengantar industri musik di kelas semester III.


Rindu melihat pergelangan tangan kanannya dia melihat ke arah jam tangan yang ia gunakannya, sekarang Jam sudah menunjukan jam 11:58, artinya jam kuliah untuk mahasiswa semester III sudah hampir habis, 2 kelas sudah selesai dia isi dan ini kelas terakhirnya  untuk hari ini. seperti biasa sambil istirahat sejenak dan menunggu para mahasiswa semua keluar kelas Rindu biasanya mengecek  handphonenya, dia merogoh benda pipih itu  di saku blazernya dan belum sempat membuka password tiba-tiba ada mahasiswi yang menghampirinya dan ia pun memasukan kembali telephone genggam yang tadi sempat dia keluarkan.


" Bu Rindu...!" Dengan nada lirih gadis itu menyapa dosen cantik yang ada di hadapannya, sambil mengulurkan tangan.


" Ya...ada apa? " Tanya Rindu kemudian menyambut uluran tangan gadis yang ada di hadapannya.


" Bu sa_. saya boleh mengganggu waktu ibu sebentar!?" gadis itu dengan ragu minta izin untuk bisa berbicara dengan Rindu.


"Silahkan tidak mengganggu  kok, ambil kursinya disana bawa kesini, jam kelas saya juga sudah selesai. Ada apa?" Sahut Rindu, Sambil mempersilahkan untuk menarik kursi mahasiswa untuk didekatkan ke mejanya, kemudian duduklah mahasiswi cantik itu di hadapan Rindu.


"Ada yang mau saya sampai kan." Ucap gadis itu. Namun bukannya langsung bicara gadis cantik ini malah menundukkan kepalanya dan bulir air mata gadis itu terlihat mulai berjatuhan. Rindu mengamati gadis cantik yang ada di hadapannya menelisik penasaran.


" Bicaralah...! apa yang akan kamu sampaikan...?" Tanya Rindu  dengan lembut.


" Sebenarnya ini masalah pribadi saya bu, tapi ada hubungannya dengan Pribadi bu Rindu" Tutur gadis itu.


Deg


Tiba-tiba perasaan Rindu mulai tidak enak, ada apa sebenarnya dengan gadis yang ada di hadapannya ini. Rindu mengerutkan keningnya, rasa penasaran pun lebih besar dari sebelumnya.


"Ok..., kalau masalahnya pribadi ada baiknya kita tidak bicara di sini." Ucap rindu sambil mengetuk ngetukan telunjuk tangan kanannyanya di pelipis sebelah kanan seperti sedang berfikir untuk mencari tempat yang enak buat ngobrol, dan Gadis itupun mengangguk.


" Ok... Kita ngobrolnya di cafe deket sini saja ya...! sekalian cari makan kebetulan saya sudah lapar. tidak jauh kok dari sini. Mau berangkat sendiri-sendiri atau bagaimana?" Tawar Rindu kepada gadis itu.


" ibu sebutkan saja tempatnya, saya berangkat sendiri kebetulan saya bawa kendaraan sendiri ." Ucapnya pelan. Dan  Rindupun menyebutkan nama caffe paforitnya itu


Setelah Rindu sudah berada di dalam ruangan caffe, kini matanya di sibukan mencari tempat yang menurut dia nyaman untuk mengobrol. Rindu memilih tempat di pojokan supaya gadis tadi lebih leluasa menceritakan masalahnya tanpa ada rasa terganggu oleh keberadaan orang orang di sekelilingnya. Setelah 5 menit Rindu menduduki tempat yang dipilihnya, gadis cantik itu datang. Rindu melambaikan tangan kanannya kepada gadis yang baru datang tersebut sebagai isyarat bahwa Rindu sudah datang dan menunggunya. Gadis itupun menghampiri Rindu dan duduk berhadapan dengan Rindu.


" Oh...Ya saya belum tau nama kamu, nama kamu siapa?" Tanya Rindu memecah kebisuan antara mereka berdua.


Masih dengan wajah tertunduk gadis itupun menjawab pertanyaan nya.


" Saya Nesa, bu. " sahutnya dengan suara yang lemah.


"Nes, kenapa kok dari tadi kamu menunduk seperti itu? Katanya ada yang mau di omongin? Duh saya jadi penasaran." Ucap Rindu dengan sedikit senyuman berusaha untuk mencairkan suasana, karena Rindu memperhatikan gadis itu sejak dari kampus seperti lagi bingung, tegang dan murung.


" Bu saya takut! " hanya itu jawaban yang Rindu dengar kemudian Nesa terisak. Rindu yang sedikit bingung. Rindu  pindah duduk ke samping Nesa menepuk nepuk pelan  punggung gadis itu kemudian memeluknya mencoba untuk menenangkan.


" Kamu cerita saja!apa yang kamu takutkan?" pintanya kepada gadis itu.


“Sa_ saya takut ibu marah...!”Masih dalam isaknya, dia bicara dengan terbata bata.


" Bu, saya mau minta maaf sebelumnya, karena melibatkan ibu sebetulnya ini masala pribadi saya" sejenak Rindu terdiam masih dengan perasaan bingung.


" Oke... Anggap saja saya saudara kamu, kakak kamu misalnya. Jadi kamu tidak usah ragu untuk menceritakan apa yang menjadi beban masalah kamu saat ini." Tutur Rindu berusaha menenangkan Nesa. karena ucapan Rindu yang menyejukkan akhirnya tangisnyapun terhenti dan melanjutkan bicaranya.


" Bu kondisi saya sekarang sedang hamil 4bulan, dan orang yang menghamili saya tidak mau tanggung jawab, pada saat usia kandungan saya 1 bulan dia pernah membelikan obat Aborsi tapi janin yang ada di kandungan saya terlalu kuat, sehingga tidak keluar dan sekarang dia memaksa saya untuk melakukan aborsi di klinik. Saya tidak tau harus ke kelinik mana dan saya sangat takut, takut dengan berbagai resikonya. Bu, saya sakit... saya sakit hati, dengan kondisi seperti ini saya seperti sampah."Dan gadis itu menangis lagi. Sementara Rindu menepuk nepuk pelan punggung gadis itu lagi.


" Kamu yang sabar ya...! kamu harus kuat, saya siap membantu kamu, sudah jangan menangis lagi, kasihan bayi yang ada di perut kamu! Di minum dulu jusnya " Rindu terus berusaha menenangkan Nadia dan menawari minuman yang sudah di pesannya.


" Tapi bu_" Gadis itu tak melanjutkan ucapannya lidahnya terasa kelu dadanya terasa sesak, bebannya di rasakan terlalu berat dan hanya mampu menangis.


" Saya akan membantu kamu, kita sama sama datangi lelaki yang sudah membuat kamu jadi begini" Rindu menawarkan bantuan.


" Bu, kalau ibu tau yang menghamili saya itu siapa, apa ibu masih mau membantu saya?" tanaya Nesa masih dengan nada lirihnya.


Rindu mengernyitkan kedua alisnya, ada rasa penasaran mengenai sosok yang di maksud oleh Nesa.


"Siapa...? apa saya mengenalnya...?" gadis itu mengangguk.


"Siapa?" masih dengan nada tenang Rindu kembali bertanya, tapi gadis itu malah menangis lagi.


"Nesa, kalo kamu menangis terus seperti ini bagaimana saya bisa membantu kamu? Coba kamu sebutkan namanya siapa? kalau memang saya mengenal lelaki yang kamu maksud" Tutur Rindu sembari menatap ke arah Nesa mengamati wajah wajah cantik gadis itu dari samping.


"Pa Revan, Bu. Dosen saya di fakultas tehnik dan dia adalah tunangan ibu" dengan suara lirih dan terbata gadis itu menyebutkan nama laki-laki tersebut lalu Nadia menangis kembali.


Rindu menarik tangannya dari punggung gadis itu, tiba-tiba dadanya terasa panas, begitupun dengan wajahnya, tapi dia berusaha menahan tangisannya, meskipun Rindu sangat menyadari bahwa air matanya akan jatuh. Antara percaya dan tidak percaya tapi hatinya merasakan sakit sperti di tusuk tusuk  jarum, dadanya seperti terbakar, sangat sesak dan sesaat dia merasakan seperti berada di ruang yang kosong dan gelap.


" Nesa, kamu tunggu dulu di sini! saya ke toilet dulu sebentar...!" Rindu merasakan tubuhnya yang bergetar, langkah yang dia ayunkanpun seperti melayang. Nesa yang sedari tadi hanya menunduk tidak menjawab, dia hanya menganggukan kepala sebagai persetujuan.


Di toilet Rindu menopangkan kedua tangannya di ujung wastaple, kepalanya tertunduk kemudian terisak menahan tangis. Sesekali ia memandang ke arah kaca di hadapannya  menepuk nepukan tangannya ke pipi untuk meyakinkan bahwa apa yang dia dengarnya  tadi bukanlah mimpi. Dan entah berapa kali dia mencuci muka untuk menghilangkan jejak air mata di kelopak matanya.

__ADS_1


Ting, Phonsell Rindu berbunyi, terlihat motif  pesan  di layar telephone genggamnya, Rindupun membuka nya.


My Lovely :"Honey, kamu di mana? Aku menunggui kamu dari tadi di ruang dosen"


Me:"Aku di caffe deket kampus, maaf tadi aku buru buru ada sedikit urusan dan perut aku sudah terasa lapar. Karena  tadi pagi aku bangun kesiangan belum sempet sarapan jadi cacing di perut aku pada ngamuk, kamu ke sini saja ya!"


My Lovely:"Ok..."


Setengah jam dia di toilet berusaha untuk menenangkan diri, setelah merasa sedikit tenang diapun kembali kemejanya.


"Nes, pulanglah....!" Rindu  menarik nafasnya dalam-dalam kemudian meniupkannya dengan kasar seperti sedang berusaha menghempaskan beban yang sangat berat.


Nesa yang dari tadi terisak mengangkatkan kepalanya, nampak wajah prustasi dan kehampaan terlihat jelas dari tatapan mata Nesa. Rasa bersalah pun di rasakan Nesa ketika melihat mata Rindu yang sembab karena habis menangis.


Rindu tersenyum, mencoba menyembunyikan segala kekecewaan, kesedihan dan rasa sakit hatinya, meskipun matanya tak bisa di bohongi mata yang biasanya bersinar kini redup dan seperti tak ada gairah hidup.


" Pulanglah...! Saya pastikan Revan akan menikahimu. Ini kartu nama saya, hubungi saya kalau dalam waktu 2 minggu Revan tidak menikahimu."


"Bu..., saya..." Nesa kembali menangis dan tidak sanggup meneruskan ucapannya.


"Pulanglah...! Sebentar lagi Revan kemari, jangan pernah cerita kalau kita pernah bertemu di sini!" Nesa mengangguk, kemudian memeluk Rindu di sela sela isakkannya dia meminta maaf.


Tak lama setelah Nadia pergi Revan pun datang, Revan mengernyitkan keningnya dengan sedikit mengamati wajah Rindu.


" Kamu Kenapa, Honney?" tanya Revan, Rindu menggelengkan kepala sebagai jawaban, saat ini dia masih berfikir mencari jalan keluar dalam mengambil keputusan dengan bijak.


" Itu mata kamu merah, kayak habis nangis? Kembali Revan bertanya sembari menatap dalam wajah Rindu yang terlihat sendu.


"Hemmm...Revan, aku mau menanyakan sesuatu. Tapi aku mau kamu jawab dengan jujur!" Pinta  Rindu penuh penekanan  sambil menatap lekat mata Revan, ya lebih tepatnya mengamati mata Revan karena menurut ilmu psykologi mata adalah cermin dari hati, bohong atau tidaknya ucapan seseorang bisa di amati dari gerakan matnatanyaa.


" Ya...saya pasti akan menjawab pertanyaan kamu dengan jujur, memangnya apa yang ingin  Kamu pertanyakan?"


" Kamu kenal Nesa?"


Deg


Mata revan terlihat mulai melirik ke kanan kiri, dan posisi duduknyapun seperti tidak tenang, bahasa tubuhnya mulai menampakan kegelisahan.


" Nesa mana...? Nama Nesa kan banyak" Jawab Revan.


" Nesa anak fakultas tehnik, masa kamu tidak mengenalnya?kamu kan dosen di fakultas tehnik" dengan nada kesal karena melihat kepura puraan Revan.


"Revan, aku minta maaf sebelumnya. 2 Hari yang lalu aku sempat membuka Handphone kamu. Ada 12 panggilan dari Nesa yang tidak kamu jawab, dan itu yang membuataku penasaran,  lalu aku save numbernya Nesa diam diam aku menghubungi gadis itu ternyata benar dugaanku..." Rindu mencoba menjebak Revan dengan menjelaskan kronologi yang bukan sebenarnya, tujuannya untuk melindungi Nesa supaya Revan tidak menyalahkan Nesa nantinya.


"Honney, kamu pasti salah faham" masih dengan sikap tidak bersalahnya Revan mencoba untuk membujuk Rindu.


"Salah Faham?" sahut Rindu dengan nada Lirih


" Ya... Kamu Pasti salah faham! Memangnya Nesa bilang apa sama kamu?" Revan masih bertahan dengan sikap tidak bersalahnya dan hal tersebut tentu saja membuat Rindu merasa muak. Karena yang diinginkan Rindu adalah kejujuran dari Revan.


Brak...


Rindu menghentakan tangan kanannya di atas meja dengan keras, tentunya hal itu mengejutkan semua orang yang ada di tempat itu termasuk Revan. dan semua mata sekarang memusatkan pandangannya ke arah Rindu. Dengan nada tinggi setengah teriak Rindu melampiaskan kekesalannya karena sikap Revan yang tidak jujur dan lebih cenderung berpura pura.


“Jawab jujur Revan...!” Bentaknya pada Revan


"Salah faham kata mu? kamu berusaha untuk  membunuh darah daging kamu sendiri, kamu bilang kalau aku salah faham?" Sambungnya kali ini Rindu menurunkan nada suaranya. Sedikit menjaga privasi orang yang ada dihadapannya.


" Honey, sabar ! Aku bisa jelaskan itu!” Pinta Revan kepada Nadia antara resah dan malu.


"Tidak Revan, aku tidak mau mendengar penjelasan apapun yang bisa membuat hati aku sakit. Aku  kasih kamu  waktu 2 minggu , kalau dalam waktu 2 minggu kamu tidak  menikahi gadis itu, aku  akan melaporkan kamu ke polisi karena kamu  sudah berusaha mengintimidasi gadis itu untuk melakukan tindakan  aborsi, satu hal lagi kalau sampai terjadi sesuatu dengan Nesa dan anak yang di kandungnya kamu tidak akan saya maafkan, kamu akan berurusan dengan hukum dan kaier lo selesai.  masalah pernikahan  kita lupakan  saja, kamu tidak usah hawatir dengan saya dan keluarga saya, saya bisa jelaskan semuanya kepada keluarga saya." Seketika Ruangan caffe hening, dan Rindupun beranjak meninggalkan ruangan tersebut.


Revan tak tinggal diam dia mengejar dan menarik lengan kiri Rindu, dan_


Plak...


Tangan kanan, Rindu melayang dan mendarat di pipi Revan dengan begitu keras.


"kamu tidak usah mengejar saya! saya muak melihat muka kamu." Bentak Rindu.


Revan hanya mematung dengan perasaan yang tak menentu. Sementara rasa malu dan perih di pipinya tak lagi dia hiraukan. langkahnya gontai melihat kemarahan dari seseorang yang sangat dia cintai, rasa bersalahnya begitu besar karena telah mengecewakan Rindu sementara untuk kehilangan Rindu dia merasa belumlah siap.


Rindu melanjutkan langkahnya  diiringi isak tangisnya sendiri membuat semua orang yang ada di tempat itu  saling melirik satu sama lain seperti sedang saling bertanya, apa yang terjadi dengan gadis cantik itu. tapi Rindu tak menghiraukannya karena sakit yang dia rasakan membuat dia tidak fokus dengan keadaan di sekelilingnya . Dan Revan kembali ke tempat duduk nya semula. hanya mampu menundukan kepalanya matanya berkaca menahan kesedihan karena apa yang dia takutkan akhirnya terjadi juga, Rindu terlalu berharga dan hari ini dia harus kehilangan hal yang paling berharga itu, dia tertunduk hatinya berkecamuk dengan rasa penyesalan yang amat dalam.


Rindu  menaiki motornya, tapi sialnya ketika  posisi motor belum sempurna antara sadar dan tidak sadar Rindumenarik gas terlalu dalam dan_


Prak....

__ADS_1


Akhirnya  Rindupun menabrak mobil yang terparkir di parkiran caffe tersebut,  Rindu melajukan kembali motornya, tanpa mempedulikan mobil yang sudah dia tabrak. Setelah security memberi tau pemilik mobil, pemilik mobilpun langsung berlari masuk ke mobil yang sedang diparkirnya di caffe tersebut, bermaksud mengejar motor yang sudah nabrak mobilnya hingga sedikit penyok dan spion kirinya patah.


Hati Rindu kini di penuhi amarah kekecewaan yang  membuat dia labil seperti hilang arah. hatinya hancur, sakit di hatinya kian terasa perih seperti di iris-iris. Bagai mana Rindu tidak merasa sakit 2 bulan lagi dia akan menikah dengan kejadian ini semua yang telah di rencanakan jauh jauh hari hancur dengan sendirinya yang tersisa hanya rasa malu dan rasa kecewa yang akan diterima Rindu juga kedua orangtuanya.


Setelah beberapa jam mengelilingi kota Bandung dengan arah tujuan tidak jelas akhirnya dia tiba di daerah Tamansari - Bandung utara,  dia memasuki jembatan Pasupati jalan layang yang menghubungkan bagian utara dan timur  Kota Bandung sebagai jalan penghubung untuk melewati lembah Cikapundung. Dia menghentikan laju motornya di bahu jalan jembatan, dia turun dari motor besarnya kemudian berteriak sekenceng kencengnya dan menangis sejadi jadinya tanpa mempedulikan orang-orang yang ada di sekitar jembatan. Apapun yang dilakukan Rindu kali ini itu dilakukan antara sadar dan tidak sadar bukan berarti dia sedang mabuk, tapi ya begitulah sekarang keadaannya.


Rindu tidak menyadari bahwa sejak dia melajukan motornya dari Buah Batu ada mobil yang mengikutinya dari blakang, dan pada saat laju motornya ia hentikan, mobil tersebut pun berhenti namun jaraknya tidak terlalu dekat. Laki laki yang berada di dalam mobilnya itu terus mengamati Rindu dari dalam mobil. Setelah Rindu merasa lelah dengan berteriak dan menangis diapun duduk menunduk sambil memeluk lututnya menghadap ke arah jalan.


Laki laki yang mengamati Rindu sedari tadi dengan sedikit ragu mulai memberanikan diri turun dari mobilnya kemudian mendekati Rindu.


"Mba...." panggil lelaki itu dengan suara pelan setelah jaraknya setengah meter dari posisi Rindu duduk. Tapi Rindu tidak bergeming dengan panggilan lelaki itu.


"Teh, teteah...!(Panggilan kakak untuk perempuan sunda)" Lelaki itu memberanikan diri lebih mendekat untuk memanggil Rindu sambil mencolek bahu Rindu karena posisi wajah Rindu saat ini menungkup pada lengan yang sedang memeluk


lututnya sendiri.


Karena merasa ada yang menyentuh bahunya Rindupun mendongakkan kepalanya, dan mengarahkan pandangannya ke arah suara.


"Saya, Yasa..." ucap lelaki itu sambil mengulurkan tangannya.


"Yang nanya siapa? Situ mau ngajak kenalan ceritanya? Maaf saya tidak minat" jawab Rindu ketus, kemudian mengarahkan pandangannya ke aspal jalan. Yasa hanya tersenyum menghadapi tatapan dingin dari perempuan cantik yang ada di hadapannya.


hufttt...


Yasa menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar menghadapi sikap dingin Rindu, Yasa yang tadinya ingin meminta pertanggungjawaban karena mobilnya yang sekarang sudah penyok atas ulah wanita yang ada di hadapannya, tapi sekarang merasa lemah karena motor yang di kejarnya sedari tadi ternyata pengemudinya adalah perempuan cantik bukan seorang biker lelaki seperti dugaannya.


" Kamu ngapain masih disini? Saya kan tadi sudah bilang saya tidak minat untuk berkenalan." Sambung Rindu yang mulai kesal dengan keberadaan Yasa di sekitarnya.


"Tuh mobil saya, tadi kamu yang nabrak mobil saya kan?" sahut Yasa sambil menunjuk ke arah mobilnya, dan mata Rindu mengikuti arah telunjuk Yasa.


Rindu menepukan tangan kanannya ke jidatnya dan menyunggingkan sedikit senyuman untuk menunjukan rasa bersalahnya kepada pemilik mobil. Hati Yasa terasa berdebar melihat senyuman perempuan cantik yang ada di hadapannya saat ini.


"Maaf, tadi tidak sengaja sengaja, Tapi pasti saya ganti kerusakkannya. Saya minta kartu nama Anda nanti kalau urusan saya sudah selesai, saya pasti hubungi anda" tutur Rindu meyakinkan Yasa. Yasa hanya terdiam mencoba mengamati wajah cantik yang ada di depannya.


“Mana kartu nama Anda?” kembali Rindu mempertanyakan kartu Nama Yasa.


" Kamu itu cantik, tapi sayang  kamu  galak  sampai-sampai pacar kamu saja tunduk dan tidak  berani mengejar kamu" sahut Yasa, pelan.


"Punya kartu nama tidak? Urusan kita Cuma masalah ganti rugi jangan sampai melebar ke masalah pribadi." Ketus Rindu sambil mendongakkan kepalanya lagi tidak terima dengan penilaian lelaki asing yang ada di sampingnya.


"Ada sih, tapi maaf bukannya saya tidak percaya_" belum selesai Yasa bicara, Rindu memotong ucapan Yasa.


" Kamu takut saya PHP? Gampang kalau mau nyari saya datang saja ke kampus dekat caffe tadi, kamu tinggal tanya nama saya, semua orang tau saya." Sombongnya, tentunya kesombongan itu keluar karena Rindu merasa tersinggung, seolah-olah lelaki yang ada di sampingnya ini tidak mempercayai bahwa Rindu akan bertanggung jawab.


"Hemmmp, saya tidak tahu nama kamu . Bagaimana saya bisa mencari kamu?" Jawab yasa datar.


Sesaat hening Rindu yang masih betah dengan posisi duduk sambil memeluk lutut menoleh lagi ke samping di mana Yasa berdiri.


“Nama saya Rindu.”  kemudian Rindu merogohkan tangannya ke dalam tas mengambil selembar  Kartu nama miliknya kemudian disodorkan kepada lelaki yang ada di samping kanannya itu dan Yasa mengambilnya.


Namun Yasa tak langsung beranjak pergi, dia membaca kartu nama yang diberikan Rindu.


" Kamu  masih di sini? Mau sampai kapan?Masih takut mobil kamu tidak saya ganti kerusakannya?" Ujar Rindu selikit jengkel.


"Hmmmmp saya hawatir, melihat  keadaan kamu . kalau saya meninggalkan kamu sendirian disini.” Jawab Yasa


"Emang kamu siapa saya? Sodara bukan tetangga bukan so' so'an peduli." Sahut Rindu.


“Bukan masalah peduli atau tidak peduli, tapi kalau tiba-tiba kamu loncat ke bawah, kamu mati, terus siapa yang akan ganti rugi kerusakan mobil saya?” timpal Yasa, sedikit mendramatisir keadaan. Rindu menghela nafas tidak menyangka dengan jawaban Yasa barusan.


“Aku masih waras...!” sahut Rindu.


"Pulanglah...! sebentar lagi maghrib. Orangtuamu pasti hawatir!" Bujuk Yasa kepada Rindu.


"Bukan urusan kamu." Rindupun berdiri, kemudian membalikan tubuhnya untuk melihat ke arah bawah jembatan.


"Tuh...kan...tuh...kan...!" Ucap Yasa sambil menarik lengan kiri Rindu.


"Apaan sih ? Nyari kesempatan


narik narik tangan segala" gerutu Rindu.


“Mau nolong kamu.” Ucap Yasa so polos, padahal dalam hatinya membenarkan kalau dia lagi mencari-cari kesempatan.


" Ya sudah saya pulang duluan, ada kamu di sini saya malah semakin tidak tenang.” Rindupun menaiki motonya sebelum Rindu memakai helem Yasa sempet mendekat dan berbisik.


" kamu  cantik, air mata kamu  jangan di buang buang! Sayang...! Kalau sekiranya laku mendingan di jual...!" Bisik Yasa. Rindu memutar bola matanya malas. Sementara yasa mengulum senyumannya.

__ADS_1


" Tidak usah gombal...! kalo sekiranya gombalan kamu tidak bisa membuat kamu terkenal." Bisik Rindu yang di sambut gelak tawa lelaki yang baru dikenalnya.


Rindu melajukan motornya sementara Yasa melambaikan tangannya dadah dadah tidak jelas pandangan nya tertuju pada motor yang melaju di depanya. Setelah motor menghilang dari pandangannya  Yasa pun masuk ke mobilnya dengan senyuman mengembang berniat untuk  kembali ke Caffe tadi, tempat dia bekerja selama ini.


__ADS_2