Bertalu Rindu

Bertalu Rindu
Benarkah Aku Merindu


__ADS_3

Di ruang ofice tampak sekali Yasa sedang gelisah. kursor laptop yang ia geak gerakan pun tak jelas, lari ke kanan ke kiri kadang berputar putar membentuk benang kusut, begini nih  kalo otak lagi tidak singkron, Apapun yang di lakukan pasti tidak akan sama dengan tujuan. Yasa sedang tenggelam dalam lamunan hingga tak menyadari kalau sahabat sekaligus kakak dari mantan istrinya yang kini sudah berada di hadapannya.


"Yas...Yas...Yas..." Tiga kali sahabatnya memanggil namanya, tapi dia tidak menjawab.


"Yasa..." sambil menepuk tangan Yasa dan menaikan 1 oktaf suaranya Dio  memanggil Yasa kembali. Yasa pun terperanjat.


" Maaf bro...! aku ganggu ya?Hahaha pagi-pagi udah ngelamun, nglamun jorok ya? Kayaknya anteng gitu mah ngelamunin yang aneh aneh." Tutur Dio sedikit jahil. Kemudian duduk di ujung meja kerja Yasa.


"Emmmh, enggak lah. Aku seneng kamu ke sini. Jadi ada temen ngobrol" Sahut Yasa.


"Yas, maafin ade aku ya! Sumpah aku sedih liat kamu kayak gini!" Ucap Dio lirih.


Seolah mengalihkan apa yang di bicarakan Dio, Yasa pun menanyakan keadaan anak anaknya.


"Anak-anak aku kabarnya gimana? Aku kangen mereka." nampak matanya mulai memerah dan berkaca.


"Kamu dateng saja ke rumah! tengokin anak anak!  kasian mereka apalagi Alexa dia yang paling merasa kehilangan kamu" jelas Dio.


"Ade kamu ngerasa kehilangan aku ga ya?" Yasa sedikit tersenyum, dan Dio melihat ada kegetiran di balik senyumannya.


"Kalo masalah itu aku gak bisa jawab, tanya langsung sama Vera?" Jawab Dio.


"Ah..., dia kan udah mau  nikah lagi men,  mana berani aku telpon dia, aku kangen anak anak juga gak berani hubungin dia apalagi buat datang ke rumah." Nampak kesedihan terpancar dari wajah Yasa.


"Dateng aja Yas, kasian anak anak!" mendengar ucapan Dio, Yasa memukul mukulkan kepalan tangannya pelan kekeningnya dngan posisi sikut diatas meja, seperti sedang berfikir keras.


" Yas, Kita sekeluarga udah sepakat mengenai caffe ini_" Sambung Yasa.


" Mau di jual bukan?" yasa memotong ucapan Dio" Tanya dio penasaran.


"Bukan Yas, Kita udah sepakat buat lepasin caffe ini untuk kamu dan anak-anak kamu, kita udah sepakat buat merubah kepemilikan sertifikat atas nama kamu, Yas." Jelas Dio. Nampak kerutan di kening Yasa yang merasa tidak memahmi keputusan keluarga mantan istrinya.


"Kenapa? Aku kan tidak nuntut apapun dari perceraian aku dengan Vera, meskipun perceraiai ini sebab akibatnya Vera yang menginginkan. Kalaupun sekarang Aku masih disini_"


"Bukan begitu, yas. Kami sekeluarga sayang sama kamu,  dan anak-anak kamu, Yas. apalagi Bokap. kami tidak menginginkan efek dari perceraian kalian terputusnya hubungan kekeluargaan dengan kamu,Yas. Dan kami sekeluarga percaya dengan apapun yang kamu lakuin bukan buat diri sendiri tapi buat anak anak  kamu juga." Timpal Dio memotong ucapan Yasa. Yasa tidak menjawab, hanya menganguk anggukan kepalanya, mencoba memahami tujuan keluarga mantan istrinya.


"Makasih Dio. Dio, kalo aku mau cerita lo masih mau dengerin aku kan? Aku masih berharap kamu masih mau menjadi sahabat terbaik aku." Kembali Yasa mengalihkan pembicaraan Dio. Karena dia tidak mau dianggap memanfaatkan kebaikan keluarga mantan istrinya.


"Mau Curhat nih ceritanya? Hahaha...Curhat apaan?" Tanya Dio.


" Jadi begini Dio, 4 hari yang lalu ada perempuan bertengkar dengan kekasihnya  di caffe ini . singkat cerita mobil gua penyok di tabrak tuh cewe, dia janji bakal ganti rugi  tapi sampai sekarang dia belum menghuhubungi aku lagi." Tutur Yasa.


"Emang kerusakannya parah ya ,Yas? Sampe harus nungguin tuh cewe buat ganti rugi? Tapi aku lihat mobil kamu baik-baik saja. " Yasa senyum senyum tidak  jelas, malu malu seperti ABG yang sedang jatuh hati.


" Yas..., kamu kenapa? Malah senyam-senyum." Tanya Dio yang merasa penasaran  dengan senyuman Yasa.


" Hehe masalah mobil sudah aku beresin, Cuma gak tau hati aku  yang nuntut bahkan meronta-ronta  untuk bisa ketemu lagi dengan itu perempuan. Makanya aku masih nungguin kabar dari tuh perempuan" ungkapnya.


"Jiaaaaah... truss-terus!" Goda dio.


"Entahlah, hati aku sedikit penasaran , tapi cemas juga sih!" Ungkap Yasa.


" Cemas kenapa? Tanya Dio.


"Cemas takut gak bisa nahan diri kalo aku ketemu lagi sama tuh perempuan." Tutur Yasa.

__ADS_1


"Cantik gak?" Tanya Dio penasaran.


"Cantik lah...! Alisnya tebel, matanya bulat tapi sendu gitu deh, hidungnya mancung mirip hidung orang timur tengah, kulitnya putih. Lo tau ga? 1 kali aku ketemu tuh perempuan  wajahnya udah langsung kecoppy aja di otak aku_."  Yasa tidak melanjutkan ucapannya saat mengungkapkan perasaannya yang penuh drama kepada Dio sahabatnya,  kemudian  Yasa menyandarkan punggungnya di kursi yang dia duduki lalu Yasa  memejamkan kedua matanya. Dio mengulum senyuman dan memperhatikan tingkah Yasa, serasa waktunya berputar ke masa lalu tepatnya 8 tahun yang lalu, dimana mereka selalu menceritakan tentang sosok gebetannya.


"Yas, kamu  ngebayangin tuh perempuan sampai segitunya, emang dia beneran cantik ya, Yas?"Tanya Dio sedikit penasaran.


"Ya begitulah..." jawabnya singkat.


"Hemmmp, tuh perempuan  pasti cantik banget ya? Hanya dengan membayangkannya saja  bisa membuat kamu nafsu gitu?" Yasa membuka mata kemudian menatap Dio, mencerna apa yang dio pertanyakan, dalam hatinya bertanya tanya kenapa Dio sampai tahu isi di kepalanya.


“Yas, kamu suka atau nafsu?” timpal Dio.


“Menurut kamu...?” Yasa meminta pendapat sahabatnya. Sementara Dio tertawa jahil.


“Nafsu...!” Ucap Dio. Yasa mengerutkan keningnya.


“Kamu ngebayangin tuh perempuan sampai segitunya?” ucap Dio dengan sedikit jahil mengarahkan pandangan matanya bagian bawah milik Yasa dengan dagunya. Yasa sedikit terkejut karena reaksi bagian tubuhnya diketahui oleh sahabatnya, Yasa nyengir lalu dia melihat ke arah bawah perutnya untuk meyakinkan apakah Dio benar benar melihat reaksi senjata andalannya.


" Hahahaha.....Yas, aku  tidak terlalu yakin tuh perempuan cantik seperti yang kamu  bilang, kamu bilang begitu karena otak kamu saja lagi gak waras men. Mesum lo...!"


Merasa malu sendiri Yasa pun melempar Dio dengan balpoin yang ada di samping laptopnya. Dio tertawa terbahak beranjak dari duduknya menuju pintu keluar  kemudian menghilang di balik pintu.


Yasa senyum senyum sendiri merasa konyol dengan kelakuannya tadi, tapi wajah cantik perempuan itu memang mampu menciptakan sebuah fantasi yang hebat di otaknya.


Ting


Dio:


" Kalo kamu kangen Alexa,  Jemput dia hari ini jam 14:00  di tempat les musik...! kalo kamu ok,  nanti aku mintain alamatnya ke vera"


Yasa:


Dio:


"Sejak kamu gak tinggal di rumah lagi, dia jadi pemurung dan sering ngelamun, Vera hawatir makanya di masukin less musik supaya Alexa ada kegiatan tambahan tapi yang tidak menguras otaknya"


Yasa:


"Iya, aku kangen Alexa kirimin za alamatnya"


Setelah makan siang Yasa tidak kembali lagi ke meja kerjanya. Dia pergi ke mini market membeli banyak makanan untuk buah hatinya dan tidak lupa dia membelikan mainan kesukaan putri sulungnya itu. Setelah semua di anggap cukup Yasa mengecek  kembali pesan Whats App dari Dio untuk melihat pesan terakhirnya dimana Dio mengirimkan alamat tempat  Alexa mengikuti les musik. Yasa membuka aplikasi google map kemudian mengetik alamat tadi, munculah lintasan yang harus dia tempuh ke tempat les anaknya. ternyata tempat Alexa les tidak terlalu jauh dari cafenya senyuman bahagiapun terpancar karena kemungkinan dia akan lebih sering bertemu Alexa sekarang.


Tiba di tempat tujuan Yasa masuk ke sebuah ruko yang lumayan besar, sesuai alamat yang di berikan Dio.Di tempat ini  lantai dasar di gunakan untuk menjual alat alat musik dengan berbagai merek dan jenis. Kemudian Yasa bertanya ke pelayan di toko tersebut.


"Apakah benar di sini tempat les musik ‘Cipta Nada’?" pelayan toko pun mengangguk, dan bertanya.


"Apakah bapak  mau  mendaftarkan anak bapa untuk les musik di sini?" Tanya pelayan toko.


"Anak saya udah terdaftar di sini dan saya datang ke sini mau menjemput anak saya." Jawab Yasa.


"Oh... silahkan pak, bapak naik saja ke lantai 2! ada ruang tunggu khusus di sana." Yasa pun mengikuti arahan dari pelayan toko tersebut.


Rupanya Jam les sudah selesai dan nampak Alexa disana, dia sedang menunggu untuk di jemput, dia duduk ditemani seorang  perempuan mungkin guru lesnya.


" Alexa...!"Aku emanggil anakku, Alexa  dan perempuan yang sedang bersenda gurau  dengan Alexa pun menoleh ke arahku.

__ADS_1


Deg


Yasa terkejut dengan pemandangan yang ada di hadapannya.


“Oh Tuhan, apakah aku sedang bermimpi, aku menemui Rinduku di sini. Hari ini aku menemukan 2 kebahagiaan sekaligus. Alexa gadis kecilku dan Rindu gadis yang selalu hadir dalam fantasi liarku sejak 4 hari yang lalu. Sumpah demi apapun aku rindu 2 perempuan ini.” Batin Yasa yang kini tampak sangat bahagia.


" Papa....!" Nampak kebahagiaan terpancar dari wajah gadis kecil itu.


"Papa kamu, Alexa?" Tanya Rindu pada Alexa. Alexa mengangguk kemudian berlari untuk memeluk Yasa, sementara Rindu tercengang mungkin tidak  percaya melihat sosok lelaki yang masih muda yang pernah ia temui 4 hari yang lalu, ternyata sudah memiliki anak umur 7 tahun. Rindupun berjalan mendekati Yasa.


“Papa kenalin ini guru cantiknya Alexa...!” Seru Alexa penuh semangat.


“Saya Yasa, senang bisa ketemu bu guru cantik disini” Ucap Yasa.


“Saya Rindu...! Beruntung sekali bapak punya anak secantik Alexa” timpal Rindu.


“Keberuntungannya ada pada anak saya. Alexa cantik karena papanya yang tampan” Sombong Yasa yang sedang membanggakan ketampanannya. Sementara Rindu hanya tersenyum kecut.


“Genit, sudah punya anak saja kelakuannya seperti itu. Oh... Tuhan apakah sifat lelaki memang seperti itu” Batin Rindu.


"Papa kok tau aku ada di sini? kenapa bukan mama yang jemput aku?" Tanya Alexa kepada Yasa setelah Alexa melepaskan pelukannya.


"Mama yang ngasih tau papa, kalo Alexa lagi les di sini. harus mama yang jemput ya?ya udah kalau kamu gak mau papa yang jemput kamu, papa ga jadi jemputnya? " Goda Yasa sambil membalikkan lagi tubuhnya seolah tidak jadi menjemput ananknay.


"Eh...Jangan pergi lagi pah! Alexa kangen papa." Tutur Alexa


"Papa juga kangen kamu, Alexa” Batin Yasa. . Nampak  mata Yasa berkaca-kaca mendengar penuturan  Alexa yang merindukan dirinya.


Yasa kembali berbalik dan menghampiri Alexa dan Rindu, merentangkan tangannya untuk memberikan isyarat kepada Alexa bahwa papanya sudah bersiap ingin memeluknya kembali. Alexa pun antusias untuk merangkul tubuh Yasa.


“Papa juga kangen Alexa” sahut Yasa.


" Pah, kenapa papa gak tinggal lagi di rumah? Alexa jadi ga bisa ketemu papah tiap hari" Bisik Alexa  saat berada dipelukan Yasa, namun masih dapat di dengar Rindu. Yasa sempat menitikan air mata dan Rindu yang melihatnya sempat heran kenapa lelaki itu sampai menangis.


"Ini kita sekarang ketemu, kamu seneng ga?" Alexa menganggukan kepalanya.


"Ya udah mulai besok papah yang  jemput kamu dari sekolah dan antar jemput ke tempat les kamu?" Tawar Yasa kepada anaknya.


“Yeeeee, Beneran pah?” Tawaran Yasa disambut dengan berhore ria oleh anaknya. Modusnya boleh juga.


“Boleh lah menyelam sambil mencari ikan. hahahaha.” Gumam Yasa  dalam hati. Modusnya boleh juga.


"Sekarang kita pulang yuk! besok kan sekolah kamu libur papa mau ajakin kamu jalan-jalan" ujar Yasa


"Yeyeye......" Alexa pun kembali bersorak.


" Alexa mau ajakin bu Rindu gak? Barangkali saja  bu Rindu mau ikut?" sontak ucapan Yasa membuat Rindu sedikit syok.


"Bu Rindu besok aku sama papah mau jalan jalan, Bu Rindu mau ikut  gak?" Tawar Alexa .


"Besok ibu ada urusan, jadi ga bisa ikut, kapan kapan aja ya!" Tolak Rindu kepada Alexa.


"Oke ayo kita pulang !" Ajak Yasa kepada Alexa, dan Alexa pun berpamitan kepada guru cantiknya.


"Pa Yasa, maaf saya belum bisa menemui anda untuk mengganti kerusakan mobil bapak." Ucap Rindu  sebelum Yasa dan anaknya pergi meninggalkan tempat itu. Yasa menganggukan kepalanya dan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2