
POP Rindu
“---------------R I N D U....!----------------”
"Mama...!"Lirihku. Aku dan Yasa menengok ke arah suara.
" Pake baju kamu! Mama tunggu kamu di luar! Kamu juga!" Ucap mamaku yang kini sedang marah telunjuknya menunjuk ke wajahku dan wajah Lelaki yang ada di hadapanku yang kini wajahnya sudah pucat pasi.
"Mama kamu?" Tanya Yasa setelah mama membanting pintu.
Aku tidak mejawab pertanyaan lelaki itu, tiba-tiba saja aku merasa marah kepada seseorang yang ada di hadapanku saat ini. Aku menamparnya pelan, aku bangkit dari pangkuannya memunguti kaos dan bra ku kemudian aku mengenakannya kembali dengan membelakanginya.
Dengan tubuh gemetar aku dan Yasa menghampiri mama berada di sofa ruang tunggu yang biasa di gunakan para orangtua anak didikku ketika menunggui anak-anak nya yang sedang mengikuti les musik.
"Mah...!" Panggilku lirih penuh ketakutan, masih dengan menunduk aku dan Yasa duduk menghadap mamah.
"Mama gak nyangka sama kamu! Apa kamu lupa, kalau dua bulan lagi kamu akan menikah dengan Ervan? Tega sekali kamu berselingkuh di belakang Ervan? Apa pernah mama mendidikmu atau mengajarimu melakukan hal seperti tadi?" Rentetan pertanyaan dan hujatan terdengar begitu tajam keluar dari mulut mamaku.
Seketika tangis ku pecah, aku merasa berdosa, aku merasa bersalah telah menghianati papa dan mama, namun yang paling menyakitkan aku merasa tuduhan mamaku tidak adil untukku. Ya... aku sangat menyadari apa yang aku lakukan tadi adalah kesalahan besar dan sangat memalukan.
"Mah, Aku minta maaf karena aku sudah mengecewakan mama! Tapi tolong jangan menilai ku sebagai perempuan yang tidak setia!" Ucapku dengan suara sengau.
"Maksudmu...?" Tanya mamaku
"Mah, aku tau aku salah, Tadi aku hilaf." Aku menunduk karena malu dengan kelakuanku sendiri.
"A_aku memang tidak akan menikah dengan Ervan, tapi bukan karena aku berselingkuh. Mungkin Ervan secepatnya akan menikahi perempuan lain dalam waktu dekat. Dia yang sudah berselingkuh, mah! Dan gadis yang dia selingkuhi sekarang sedang mengandung anak Ervan." Ucapku lagi, menjelaskan kondisi hubunganku dengan Ervan sambil menangis.
"Mama tidak percaya Ervan berselingkuh, mungkin itu pembelaan kamu saja, Rindu." Ujar mama.
"Ya sudah mama tanya Ervan saja saja langsung, kalau mama sudah tidak percaya aku lagi!" Kataku meyakinkan mama.
__ADS_1
"Lalu, siapa laki-laki ini?" tanya mama sambil menunjuk ke arah lelaki yang ada di sampingku.
"Dia...? " Aku tak bisa menjawab pertanyaan mama, karena aku memang tak punya hubungan apapun dengan lelaki ini. Batinku meringis, betapa murahannya aku hingga bisa jatuh dan terperangkap pada situasi yang memalukan dengan seseorang yang baru saja aku kenal dan tanpa ada status hubungan yang mengikat secara jelas. Stand One Night, mungkin istilah itu lebih tepat jika saja mama tidak datang dan memergoki kegiatan kami tadi.
"Saya kekasih baru Rindu, Tante!" Ucap Yasa memecah kebisuanku yang tak mampu menjawab pertanyaan mama.
Aku menoleh ke samping ke arah lelaki yang duduk di samping kiriku. Tiba-tiba tangan kanan Yasa meraih tanganku mengeratkan jemari tangan kanannya di jari-jari tangan kiriku.
"Saya minta maaf, Tante! Ini salah saya. Maaf, Kami hilaf!" ucap Yasa kembali.
"Siapa namamu?" Tanya mamaku kepada Yasa.
"Yasa, Tante!" Jawabnya.
" Begini Yasa, kalian berdua sudah dewasa. Saya minta kalian bisa mempertanggungjawabkan perilaku kalian tadi. Mama tidak mau tau, kamu harus secepatnya menikahi anak saya!" Pinta mama kepada Lelaki yang menurutku masih misterius itu, karena aku belumlah mengenalnya.
"Mama...!" Lirihku mencoba menolak permohonan mamanya.
"Udah dong, ma...! Apa mama mau aku hamil diluar nikah nikah atau melakukan hal intim di luar nikah?" Tanyaku karena kesal dengan penuturan mama.
"Ingat Rindu..., Kalau saja mama tadi tidak datang kemari, mungkin apa yang mama tidak harapkan akan terjadi. Ingat umur kamu sudah tidak muda lagi, mama juga mau seperti teman-teman mama nimang cucu." tegas mama mulai lagi memperingati ku masalah umur.
"Maaf, mah...? Rindu banyak mengecewakan mama" Ucapku lagi. Lagi-lagi aku tak bisa membendung air mataku, sesungguhnya Akupun kecewa terhadap Ervan, entah berapa banyak lamaran yang aku tolak hanya untuk mempertahankan Ervan. Sementara Ervan seperti tak punya hati menghianatiku, menyakiti perasaan ku.
"Secepatnya saya pasti akan menikahi Rindu, Tante!" Jawab Yasa tanpa meminta persetujuan ku. Aku meremas dan menancapkan kuku jemariku pada genggaman lengan Yasa. Yasa hanya meringis.
"Bagus..., Secepatnya kamu datang kerumah temui papanya Rindu! Kalau sampai 3 hari kamu tidak menemui kami, saya pasti suruh orang untuk mencari kamu dan menggantung kamu!" Ancam Bu Santi mamanya Rindu kepada Yasa.
"Iya Tante, saya janji besok lusa pasti saya ke rumah Tante." Ucap Yasa memastikan.
"Saya pegang janji kamu, Yasa !sekarang saya mau pulang, Sebaiknya kamu juga cepat pulang! Ingat, jangan di ulangi lagi kelakuan kalian tadi!" pesan terakhir mama sebelum pergi meninggalkan kami.
__ADS_1
Aku mengacak rambut ku lalu menelungkup kan kedua telapak tanganku menutupi wajahku setelah mama pergi.
"Hey...! Kamu kenapa?" Tanya Yasa dengan wajah tanpa dosa. Aku bungkam tak mau menjawabnya.
"Apa kamu marah padaku, hemmmp?" Tanyanya lagi.
"Menurutmu?" Tanyaku balik bertanya.
"Jangan terlalu menyalahkan ku, salahkan dirimu, karena wajah kamu terlalu cantik!" Goda Yasa sambil menyunggingkan senyuman.
"Aku sedang tidak ingin bercanda!" Ucapku ketus.
"Kita sudah sama-sama dewasa, ini kesalahan kita berdua, jadi sebaiknya kita tidak saling menyalahkan." Ucapnya datar.
"Hey...! Menurutmu tadi siapa yang memulainya?" Bentakku yang tidak terima kalau aku dikatakan ikut andil dalam kejadian yang memalukan ini. Yasa terdiam sejenak.
"Sudahlah...! Kita tidak harus berdebat. Aku sudah menyanggupi untuk menikahimu secepatnya." Ucapnya pelan.
"Kau berniat menikahiku tanpa paeretujuanku? Sementara aku tidak tahu kehidupan mu? Statusmu? Alexa, anakmu aku memang menyukainya, tapi untuk menjadi ibu tirinya? Sepertinya aku_" Rindu menggantungkan ucapannya ketika tersadar bahwa lelaki yang bercinta dengannya tadi bukanlah seorang bujangan bahkan diapun belum tahu mengenai setatus pernikahan Yasa dengan ibunya Alexa.
"Percayalah aku tidak akan menipumu! Mengenai statusku, aku seorang duda, aku memiliki 3 orang anak, Alexa, Kelvin dan Mika." Jelas Yasa.
"Duda? 3 Anak?" Kataku menepuk jidatku sendiri. Merasa tidak percaya bahwa dia akan menikah dengan seorang duda dengan 3 anak.
"Hey...! Ingat tadi mamamu bilang apa? Kamu pacaran 7 tahun tidak menghasilkan apapun, tidak jadi cicak ataupun kecoak, Hahaha....! Sekarang anggap saja kamu menikah denganku bonusnya adalah ketiga anakku! Bagaimana?" Ucap Yasa dengan tawa puasnya, dia mengingatkan ku atas ucapan mamaku tadi.
"Sebetulnya aku ingin tertawa mendengar penuturan mamamu tadi. mamamu benar, aku mendukung ucapan mamamu. Dan tadi kita hampir membuat cicak, hahahaha... " Yasa kembali tertawa terpingkal-pingkal.
"Sembarangan, aku tidak pernah melakukan apapun dengan Ervan. Kejadian seperti tadi tak pernah aku lakukan sebelumnya.baik dengan Ervan ataupun dengan siapapun."hardikku.
"Benarkah...? Selama 7 tahun kalian pacaran? Hemmmp, Bagus...! Kalau begitu aku tidak akan menunda-nunda pernikahan kita." Pungkas Yasa sambil mengedipkan matanya sebelum dia meninggalkanku.
__ADS_1
"--------S I N T I NG------" Kataku