Bertalu Rindu

Bertalu Rindu
Terjebak Pesona


__ADS_3

POP Yasa


Aku mengantarkan Alexa ke rumah mantan istriku dimana rumah tersebut pernah aku tinggali juga sebelum kami bercerai.


"Pa, masuk yuk...!"Ajak Alexa. Akupun mengikuti langkah putriku. Nampak Vera sedang menyuapi anak bungsuku yang baru berusia 16 bulan.


"Hai...., Anak papa lagi makan? Tanyaku kepada anak bungsuku yang bernama Mika. Vera menengok kemudian tersenyum ke arahku.


"Tuh, papa sama kakak datang!" Ucap Vera seolah sedang berbicara pada anak bungsuku.


"Kelvin mana?" Tanyaku kepada mantan istriku.


"Ada, lagi di ganti'in baju sama bibi."Jawab Vera.


Aku berjongkok menghampiri Mika, memangku anak tersebut, mengangkat tubuh kecil mika tinggi-tingi kemudia aku duduk di samping Vera dan mendudukan Mika di pangkuanku dan menggelitiki perut mika dengan bibir dan hidungku hingga tawa renyah pun keluar dari mulut Mika. Sementara Alexa yang duduk di karpet dekat sofa yang aku duduki tengah sibuk membongkar kantong makanan yang aku beli tadi. Yasa menengok ke samping  ke arah mantan istrinya. Namun Vera pura-pura acuh meskipun aku beberapa kali memergoki mantan istriku sedang memandangiku.


"Kamu seneng sayang, papa glitikin kayak gini, hemmm...?"Tanyaku pada Mika. Tapi Mika hanya tergelak tertawa. Sementara Vera yang berada di sampingku tersenyum melihat gelak tawa putri bungsu kami.


"Kamu mau di gelitikin kayak gini lagi?" Bisik ku kepada Vera sambil menengok ke arah mantan istriku. Pertanyaanku sontak membuat wajah Vera memerah seketika dan membuat mantan istriku sedikit salah tingkah.


"Papa...!" Tiba-tiba teriakan Kelvin anak ke 2 ku berlari memburuku. Aku menengok ke arah suara kemudian memindahkan Mika ke pangkuan Vera. Aku merentangkan tangannya menyambut Kelvin kemudian memeluk dan menciuminya lalu mendudukan anak keduaku tersebut di paha kiriku. Senyum dan tawa aku mengembang tak henti-hentinya ketika melihat kelucuan-kelucuan yang di ciptakan oleh ketiga anaknya.


"Ver, Guru les Alexa cantik juga ya...?" Tanya Yasa


"Hemmmp..., Kamu suka?" Vera mengiyakan dan balik bertanya.


"Sebagai lelaki normal, aku akui iya...!" Jawabnya datar.


"Seleramu tinggi juga...!" Ujar Vera.


"Entahlah..., Aku cuma berharap di pernikahanku yang kedua istriku bisa menerimaku dan anak-anak dan tidak merasa terpaksa menikah denganku." Penuturan Yasa membuat Vera terdiam.


"Ok... anak-anak papa yang pinter, sepertinya papa harus kembali kerja." Ucap Yasa pada anak-anak nya.


"Yah...papa!" Ucap Alexa dengan nada Kecewanya.


"Besok papa kesini lagi, jemput kamu sama Kelpin." Sahut Yasa kepada Alexa. Dan seruan Yasa disambut Alexa dan Kelvin dengan berhore ria. Kemudian Yasa menciumi anaknya satu persatu, terakhir Yasa mencium Mika yang berada di pangkuan mantan istrinya. Dengan jahil Yasa mengecup bibir mantan istrinya dengan gerakan cepat.


"Inget pah, sebentar lagi aku mau jadi istri orang" Vera mengingatkan Yasa dengan sorot mata tidak suka dengan perlakuan Yasa padanya.


"Istri orang? aku juga orang, berarti kamu istri aku juga! Istri bersama ha-ha-ha." Ucap Yasa.


"Gak lucu. Cepetan pergi sana...! Aku lagi gak mau ribut!" Ujar Vera. Dan Yasa pun pergi meninggalkan rumah mantan istrinya.


Setibanya di caffe aku langsung menuju ke ruangan kerjaku aku hempaskan bokongku di kursi kebesaranku tapi setelah beberapa saat aku duduk dan termenung aku merasa  gelisah, keinginan ku terlalu kuat untuk menemui Rinduku kembali. Tapi aku harus ada alasan yang jelas.


“Ayo Yasa..,berfikirlah ...!” Batin ku yang sedang berfikir keras.


“Laki laki memang. tidak  seru tanpa likunya. Hahaha...” Bisik setan di telingaku.


Muncullah  ide brilianku untuk  membawakan  makanan dari cafe ini aku yakin dia pasti suka, modusku menemuinya tentu  saja  karena aku ingin mengetahui perkembangan Alexa.


Waktu menunjukan jam 16:25 pada saat aku tiba di tempat Rindu. Aku bertanya pada pelayan yang ada di lantai dasar.


" Mba..., Bu Rindunya masih ada?" Tanyaku pada Pelayan toko yang merangkap sebagai kasir dan mengurusi segala pembukuan di toko itu.


"Ada pak, bu Rindu masih di lantai 2, ayo saya antar...!Takutnya bu Rindu sedang istirahat" Sahut pelayan tersebut, akupun mengikuti langkah pelayan yang hendak mengantarkan aku untuk bertemu Rindu.


Tiba di lantai 2 aku terus mengikuti pelayan itu menyusuri ruangan ruangan yang ada di lantai 2 dan terhenti di Studio atau ruangan tempat rindu mengajar les musiknya. Kami (aku dan pelayan toko musik itu) menemukan rindu dengan headsett di kepalanya di studio tersebut. Dia  sedang asik memainkan instumen  gitar dengan genre musik blus, matanya terpejam menikmati permainannya sendiri. pada  saat pelayan akan menyentuh pundak Rindu dengan maksud memberitahukan bahwa ada tamu untuk dia, aku segera menarik lengan pelayan tersebut kemudian aku membuka 5 jari kananku di hadapan pelayan itu sebagai isyarat 'jangan di ganggu', dan aku mempersilahkan pelayan tadi untuk kembali ke pekerjaannya aku masuk ke dalam ruangan dan pintupun aku tutup kembali. aku berdecak kagum melihatnya, karena petikan petikan gitar yang dia mainkan sangat apik dan menakjubkan dengan iringan musik bluss yang mendayu dayu membuat mata jadi ngantuk.


Mataku mengintai ke setiap sudut ruangan ini  dan yah aku merasakan ada kenyamanan dan ketenangan di tempat ini,  mataku terhenti di buku yang terbuka di atas meja kerjanya yang tidak jauh dari tempatku berdiri, kemudian aku duduk di ujung meja sambil meletakan box makanan yang aku bawa dari caffeku. ya... mungkin ini adalah buku catatan Rindu, aku mulai membaca tulisan di buku yang sudah terbuka tersebut tanpa harus mengambil ataupun merubah posisi bukunya, dengan hanya memiringkan posisi dudukku aku sudah bisa membacanya, ini sebuah puisi mungkin curahan hatinya untuk laki laki yang ribut dengannya di caffeku  4 hari yang lalu. Puisi yang tidak terlalu bagus tapi lumayan menyentuh.


Habis rembulanku kau kikis


Tinggal gelap


Hanya pekat


Tinggallah kini aku terdiam dalam tangis


Inikah akhir dari  cerita itu...?


Satu keyakinan yang kubangun dengan peluh


Kau hempaskan hingga runtuh

__ADS_1


Asapun hilang, pergi menjauh


Andai saja kau tinggalkan aku segelas racun


Akan ku teguk,


kuhabiskan


Lalu kubawa sakitku dalam dinginnya kematian


Ini bukan lagi tentang rasa


Ini bukan lagi tentang indahnya kata cinta


Ini bukan hanya tentang aku yang terdiam dalam lara


Tapi tentang aku yang telah kau buat kecewa


Habis rembulanku kau kiis


Tinggal lara


Hanya kecewa


Tinggalah kini aku sendiri dalam tangis.


Begitu dalamkah rasa kecewanya kepada  laki-laki itu? Ada sebentuk keraguan dalam hatiku, seandainya aku menginginkan dia apakah perasaanku akan terbalas? Sepertinya dia sangat mencintai laki-laki itu. Aku kembali menatap Rindu yang masih asik memainkan instumen gitarnya, aku coba menatap wajahnya lewat pantulan cermin besar yang terpasang di dinding seberang . karena posisi aku sekarang ini di belakangnya aku mengamati wajahnya lewat pantulan cermin itu. matanya yang terpejam membuat aku sedikit bergairah. Please...., hilangkan otak mesumku...!. Iringan musik selesai mata rindupun terbuka, mata kami bertemu lewat cermin yang sama, dia terperanjat kaget melihat aku yang sedang menatapnya.


" Hemmmh, ada penyusup rupanya." Ucap Rindu sambil  meletakan gitar di stand gitar.


Kemudian Rindu memutarkan kursi yang dia duduki hingga posisi duduknya kini menghadap aku. Aku tersenyum menatapnya mencoba menyembunyikan  setiap debaran yang ada dan berusaha mengendalikan detak jantungku yang kian cepat dan tak beraturan.


"Bertamu nya ko tidak sopan begitu ya?!"ucapnya ketus.


"Maaf, tadi aku di antar pelayan toko kamu ke ruangan ini, karena permainan instrumen kamu asik banget dan aku ikut menikmatinya jadi aku melarang pekerjamu untuk mengganggu permainanmu." Jelasku.


"Oh iya, masalah mobil_ "


“Aku datang ke sini tidak untuk membicarakan masalah mobil” Aku memotong ucapan Rindu, karena tujuanku kesini bukan masalah mobil.


"Mobilnya sudah aku perbaiki" Jawab ku.


“Ok....! Berapa aku harus menggantinya?” Kini Rindu mempertanyakan biaya service seolaholah kedatanganku kesini adalah ingin meminta ganti rugi.


“Tidak usah menggantinya...! karena kedatanganku kesini juga bukan untuk minta ganti rugi.” Kataku.


" Terus...?"sambil mengerutkan keningnya Rindu memberikan pertanyaan yang sulit untuk di jawab.


"Terus apanya?" tanyaku.


"Terus bapak Yasa terhormat mau ngapain datang  ke sini? Seperti penyusup lagi." Ketusnya lagi.


"Mau ngapain ya...? Ih...kamu kok kepo?" candaku.


"Hey... ini kawasan saya, saya berhak nanya dong!?" Tiba-tiba Rindu menaikan suaranya.


"Saya bawain makan buat kamu, sebagai ucapan terimakasih atas sikap baik kamu terhadap anak saya sekalian mau tanya-tanya perkembangan anak saya" Ucapku mencoba sedikit meredakan emosinya.


"Nyuap nih ceritanya?" Aku Cuma  mengangkatkan kedua bahuku sebagai jawaban antara ya dan tidak.


"Kamu belum makan kan?" Tanyaku  sambil menarik plastik yang berisi box makanan yang ada di sampingku.


'"Blom sih.., Cuma blom laper juga..!"Jawabnya.


“Tapi aku yang laper, ingin memakan kamu.” Batinku dan Argggh ada apa dengan otakku.


"Oh... Tapi nanti makanannya di makan ya, jangan di buang?" pintaku sambil menyimpan kembali box makanan di tempat semula.


"Ada racun nya ga...?" tanya Rindu dengan senyuman khasnya.


"Ada, nanti kalau kamu sudah makan makanan ini. Kamu bakal inget aku terus"


" Hahaha..., itumah guna guna bukan racun." Tawanya begitu renyah dan aku menyukainya.


"Oh salah ya?” ucapku.

__ADS_1


“Aku mau nanya sesuatu, boleh...?” tanyaku.


“Tentang...?” tanyanya sambil memutar mutar kursi yang dia duduki.


“Tentang anakku, masa tentang anak kita.” ucapku. dan aku merasa gemas melihat reaksinya yang menyembikan bibirnya begitu. sepertinya dia syok atau jijik mungkin dengan candaanku.


“Hahahaha, mukanya gak usah di jelek-jelekin begitu nanti jelek bisa beneran. Anakku sepertinya akrab banget sama bu guru cantiknya.” Sambungku.


“Hemmmmp, Seorang pendidik memang harus dekat dengan anak didiknya” Ucapnya.


"Tapi dia tidak pernah cerita apa-apa kan?" Rindu terdiam seperti sedang mengingat ingat.


“Sepertinya tidak pernah, karena biasanya selesai les dia langsung pulang di jemput bu Vera. Tapi tadi  yang menjemputnya bukan Bu Vera, sepertinya yang menjemputnya tadi siang orangnya kurang tanggung jawab hingga telat menjemput anaknya” Sindirnya padaku.


“Oh iya..., Tadi Alexa sempet cerita_” Tiba_tiba Rindu menghentikan ucapannya. Akupun terdiam mengamati wajah Rindu karena penasaran dengan kelanjutan ucapan Rindu, tentang apa yang di ceritakan Alexa .


"Alexa bilang apa?" Tanyaku penasaran.


“Alexa Bilang kalau papanya genit. Hahahaha....!” Akupun ikut tertawa.


“Benarkah Alexa bilang begitu?” Masih dengan tawanya Rindu menggelengkan kepalanya.


“Makanya, kalau sudah punya anak jangan genit-genit! Malulah sama anak...!” Pesannya. Aku hanya tersenyum menanggapi ocehannya.


"Kamu lagi ada masalah dengan keluargamu?" Tanya Rindu.


"Ko tau?" Jawabku sedikit heran.


"Hemmmmp, Cuma nebak" Jawabnya.


"Ya, aku dengan mamanya Alexa sudah pisah." jawabku dan mataku sedikit panas. Entah kenapa setiap mengingat perceraianku, aku selalu merasakan seperti ada benda tajam yang menusuk nusuk di hatiku.


"Kenapa pisah?" aku terdiam sejenak antara iya dan tidak untuk menceritakannya kepada orang yang baru saja aku kenal termasuk Rindu.


"Emmmmp...,Kenapa ya...? Kapan kapan sajalah ceritanya." Jawabku. Dan aku lihat tubuh Rindu yang di lemaskan seperti orang yang mau pingsan dengan lucu nya.


"Halloo..., ini pendengar sudah tegang penasaran mau dengerin  ceritanya malah ga jadi! lagian kamu kok niat banget nyari even buat cerita, pake bilang kapan-kapan.  aku kan Cuma basa basi hehehe" ucap Rindu sambil ketawa.aku menatap wajah Rindu yang sedang tertawa menertawakan aku tapi entah apa yang ia tertawakan.


"Sepertinya bapak Yasa sedang bersedih? Apa saya perlu menghiburnya?" Ucap Rindu sambil mengambil kembali Gitar Elektrik yang tadi disimpannya. Kemudian dia memainkannya, dia menyanyikan lagu yang membuatku sedikit gila. lagu ‘ IMAGINATION by Shawn Mendes.


#Liric a Song


‘Oh, there she goes again every morning it’s same.


You walk on by house I wanna call out your name.


I wanna tell you show beautiful, you are from where I’m standing 


You got me thinking what we, could be,couse I keep craving.


You don’t know it but it’s true can’t get my mouth to say The words wanna say to you.


This is typical of love, can’t wait anymore, I won’t wait


I need to tell you show I feel when, I see together forever.


In my dreams you’re with me, we’ll be everithing I wan’t us to be


And from there, who knows? Maybe this will be the night that .


We kiss for the first time or is that just me and my imagination’


Aku bertepuk tangan setelah dia selesai menyanyikan  lagu, aku sampai terkesiap dengan apa yang ada di hadapanku, suaranya yang bening permainan gitarnya dan ought dia menyanyikan lagu tersebut seperti berapi-api, seperti benar-benar sedang mewakili perasaanku mengungkapkan apa yang sedang aku rasakan. Dan aku inging sekali menjawab setiap lirik yang dia tekankan. Yes... You are  my Imagination.


“Bagaimana, apakah bapak Yasa menyukainya?” Tanya nya padaku.


“Hemmmp, Really  l like that..., ini Luar biasa.” Kataku sambil tersenyum takjub.


“Kasi koin dong! Kalo kamu suka, biar aku lanjutin nyanyinya.” Ucapnya sambil tertawa.


“Aku kasih 1 lagu lagi, ok”sambung Rindu dan aku hanya mengangguk-anggukkan kepala sambil memperhatikannya.


#Liric a Song


‘Ee...Eeh Bang Jono, kenapa kamu gak pulang-pulang’.

__ADS_1


Sumpah mendengarkan lagu kedua aku tergelak tertawa...apa lagi dia bernyanyi dengan genit sambil sedikit menggoyang-goyangkan  kepala dan pundaknya seperti penyanyi dangdut. akhirnya  menghentikan nyanyiannya dan ikut tertawa.


__ADS_2