Bertalu Rindu

Bertalu Rindu
Bab 6 Masih Dalam Cemas


__ADS_3

POP Rindu


Aku sudah 4 hari tidak pergi ke kampus, dengan alasan sakit. Aku memang tidak sedang berpura-pura sakit, aku betul-betul sakit meskipun cuma pening dan tidak enak badan akibat kurang tidur dan terlalu banyak menangis akhir-akhir ini. Tapi alasan yang paling membuat aku enggan mengajar saat ini adalah malas untuk bertemu Revan.


Ya tuhan, bantu aku untuk benar-benar mengikhlaskan Revan. Dia bukan jodohku dia bukanlah laki-laki yang baik untukku, berikan aku kekuatan.


Aku tahu kabar ini akan membuat papa dan mama kecewa. Karena selama ini mamah yang paling rewel dan selalu mendesakku untuk secepatnya menikah, dan mamaku lah yang paling getol mengingatkanku masalah umurku yang sudah menginjak 28 tahun, yang katanya sudah matang, harusnya sudah menikah dan punya anak.


Andai saja aku tidak terlanjur jatuh hati pada Revan mungkin saat ini akupun sudah menikah dan memiliki anak. Aku tidak mengingat-ingat ataupun menghitung berapa banyak lelaki yang datang menemui papa untuk memperistri aku, dan aku selalu menolaknya karena aku sangat mencintai Revan.


Tujuh tahun aku menjalin hubungan dengan Revan dan alasan kami menunda-nunda pernikahan adalah  karena Revan waktu itu masih memiliki kakak yang tidak mau dilangkahi, dan orangtua Revan pun tidak mengijinkan kami untuk mendahului kakaknya itu. sehingga kami harus bersabar menunggu sampi kakaknya Revan mendapatkan jodohnya.


6 Bulan yang lalu kakaknya Revan menikah dan kamipun mulai menyusun langkah menyiapkan pernikahan kami. Tapi Tuhan ternyata berkehendak lain, kebersamaanku selama ini dengan Revan ternyata hanya membuang-buang waktuku saja.


"Woy... Ngelamun! Gak takut kesambet lo?" Teriak Hari mengagetkan ku.


"Kaget, gila...!" Bentaku kepada Hari.


Setelah Yasa pulang aku memang termenung menenggelamkan diri dalam sebuah lamunan panjang. Hari adalah sahabatku orang yang aku percaya untuk mengelola toko alat musik ini. Hari Naik ke lantai 2 setelah dia menutup toko.


"Rindu, Ada apa? Mamah lo tadi keluar kayaknya marah banget, mukanya ditekuk gitu. Mau nanya jadi takut duluan gue!" Tutur Hari .


"Har_, kali ini gua ngerasa jadi mahluk paling **** sedunia." ucapku. Lagi-lagi mataku sulit untuk dibawa kompromi meskipun sudah kutahan, bulir bening itu kembali jatuh.


"Ada apaan sih? Trus kenapa juga lo nangis, kayak gini?" Tanya Hari kepadaku, pastinya dia sangat heran, karena aku bukanlah tipe cewek mellow dan cengeng.


"Gue laper, Har." Kataku.


"Anjay...! Lo tuh aneh banget kayak bayi, laper aja pake mewek. tungguin bentar, gue cari makan dulu!" Ujar Hari.


"Ga usah beli, har_! ambil saja di studio, ada yang bawain gue makan tadi!" Kataku. Haripun mengikuti apa yang aku ucapkan.


Hari memang sahabat baikku spesial pake  banget kalau untuk sahabatku yang satu ini. Aku sahabatan dari SMP, dan mamapun sangat percaya kalo Hari bisa di andalkan untuk menjagaku, mungkin saja sekarang mama sedikit kecewa dan marah kepada sahabatku ini, mengingat seringnya mama menitipkanku pada Hari sementara sekarang ada kejadian seperti ini.


"Ya elah..., nglamun lagi! Kenapa sih lo? Nih nasi kotaknya...!" ujar hari sambil menyodorkan nasi kotak yang di bawakan Yasa untukku tadi.


"Beneran gak ini isinya nasi kotak?" Tanya Hari


"Gak tau juga belum, belum gue buka. Emang kenapa?" Tanyaku.


"Kali aja isinya Tantri Kotak, Hahahaha!" Canda Hari di ikuti gelak tawanya sendiri.


"Becandaan Lo garing!" Kataku sambil membuka nasi kotak.


"Hmmmp nyam-nyam, Ayam bakar Har, Lo udah makan blom?" Tanya ku pada Hari.


"Udah sih. Tapi kalo lo maksa ngajakin gue makan, gak masalah gue pasti makan lagi, Hehehehe." Ucapnya.

__ADS_1


"Ye..., Siapa juga yang mau maksa lo buat makan bareng?" Tanpa menunggu perintah, Hari beranjak  ke pantry untuk mencuci tangan kemudian mengambil 2 botol air mineral kemasan dari coolkas.


"Lo gak cuci tangan? Jorok lo... Cuci tangan dulu sana!" Protes Hari


"Udah lah, nih pake tisyu basah." Kataku sambil menunjuk tisyu basah yang ada di meja.


Aku dan Haripun makan berdua, aku sudah terbiasa makan berdua seperti ini dengan Sahabat koplakku ini meskipun di depan istrinya sekalipun atau di depan Revan karena aku dan  si koplak ini memang sudah seperti saudara.


"Lo tadi kenapa?" Tanya Hari, setelah menyuapkan suapan nasi pertamanya.


"Malu gue?" Ucapku


"Cerita dong!" Pintanya.


"Tadi gue ketauan nyokap lagi_" Aku menggantungkan Jawabanku, karena ini hal yang memalukan untuk diceritakan.


"Lagi_ ngapain, hayoo...?" Pertanyaan Hari sedikit mengintimidasiku meskipun dengan nada bercandanya.


"Lagi ngajarin cowok tadi main gitar, ya... gue ketahuan nyokap lagi ngajarin main gitar." Jawaban bohongku pada Hari.


"Ngajarin main gitar, apa main gigit-gigitan...?" Tanya Hari sambil mengedipkan matanya dengan semirik senyuman jahil. Tentunya Hari tidak akan percaya dengan jawaban asalku yang tidak masuk akal. Sontak pertanyaan Hari membuat  wajahku memanas karena malu.


"Kenapa Lo diem? Curiga gue...!" Timpal Hari lagi. Matanya tajam menatap wajahku sementara bibirnya masih tersenyum jahil.


"Udahlah..., gue malu jelasinnya!" Pintaku kepada Hari. Dan Hari mengangguk-anggukan kepalanya seperti memahami maksudku.


"Please Har..., gua lagi sedih, lo jangan becandain gua dulu!" pintaku.


"Ok... gua serius, lo kenapa? Sampe nangis-nangis kayak tadi?" Tanya Hari meminta penjelasanku. Akhirnya dengan sangat terpaksa akupun menceritakan kronologis kejadiannya dari awal Yasa datang menjemput Alexa.


"Tumben...! Temen gue jadi cewe gampangan begini? Hahaha..."Kata Hari sambil tertawa, setelah aku menceritakan semuanya.


"Please jangan ketawain gue! Gue lagi Hilaf, Gue juga malu banget sama nyokap." pintaku sambil sambil menarik ujung topi bagian depan yang di gunakan Hari.


"Truss...? Truss...?" Nampak hari penasaran masih dengan seringai senyuman jahilnya.


"Jangan trus-trus mulu, nanti gue nabrak!" Kataku saat menanggapi ucapan Hari. Hari pun kembali tertawa.


"Tapi Lo gak sampe_?" Pertanyaan hari menggantung bahasa intinya yang dia maksud di ganti dengan memperagakan gerakan jemarinya.


"Gak lah...!" Protesku menanggapi pertanyaan Hari. Namun tatapan matanya masih menyelidik.


"Tapi itu cowok, janji ke nyokap mau nikahin gue." Ucapku dengan suara lemas.


"Alhamdulillah... Akhirnya sahabat gue nikah juga, Udah lupain tuh si Revan ga bener dia...!" Tutur Hari sambil bersorak ria.


"Tapi lo ga di madu kan?" Tanyanya lagi.

__ADS_1


"Di racun gue! Puas lo?" Kembali Hari tertawa mendengar jawabanku.


"Dia duda Har_!" jawabku pelan.


"Emang kalau dia duda kenapa?" Tanya Hari.


"Bekas orang Har_, gak original lagi, sedih gue. mana anaknya banyak.hik hik hik" aku mewek tapi tidak menangis.


"Hahaha, sebagai seorang laki-laki  gue belain dia dengan keberatan lo, karena cowok itu  gak harus diperhitungkan keoriginalannya. beda sama cewek yang seperti barang pecah. tanpa harus gue jelasin juga, lo pasti paham lah! Truss kenapa lo  baru kepikiran nya sekarang? Kenapa tadi lo mau kissing-kissing dan sebagainya sama dia?" Penuturan Hari dan rentetan pertanyaan dari sahabatku itu kembali menyerangku.


"Entahlah? Gua tadi sempet brusaha brontak, Har_. Tapi sepertinya gue kena hipnotis gitu deh." Aku berusaha memberikan alasan tapi sepertinya alasanku tidak tepat.


"Hahaha, terus gue harus percaya?" Goda hari.


"Seriouse Har_! Gue udah berontak. Tapi pas gua liat matanya gue lemes. sumpah matanya itu bikin hati gua cemas, har_" Aku coba memutar kembali ingatanku untuk menjawab pertanyaan dari sahabatku.


"Hey...! Ga usah sambil di bayangin gitu lah...! Ngeri gue, takut tiba-tiba Lo nyerang gue setelah Lo ngebayangin kejadian tadi. Hahahaha..." Akupun ikut tertawa larut dalam tawa Sahabatku yang super koplak itu. sepertinya jauh dari harapan kalaupun aku memang mabuk atau tak sadarkan diri jika harus menjatuhkan pilihan menjadikan sahabatku sebagai pelampiasan.


"Hahaha...,Gue masih waras. Gue mana selera sama lo!" Kataku masih dengan canda tawa kami .


"Lo bisa aja ngomong begitu. Lo gak nyadar kan? Kalau sekarang ini, lo itu bukan lagi kucing manis yang sedang mengeong dengan lembut, Rindu. tapi lo itu sekarang sedang menjadi harimau yang mengum-ngaum dan siap menerkam mangsanya. Haumm... Haummm...! makanya gue takut." timpal Hari di sela tertawa kami, dimana sahabat koplakku  memperagakan mata, tangan dan mulutnya saat mengaum. Membuat tawaku makin  terpingkal-pingkal karena melihat mimik mukanya yang menggelikan.


"Hahahaha..., Sadis banget tuduhan lo!" Ucapku.


"Tumben makan lo banyak? cape ya... abis olah raga?" Uacap hari sambil memainkan kedua alisnya. setelah tawa kami reda.


"Hari...., Lo tuh jadi temen ko nyebelin banget? "  Protesku. Menyela kejahilan Hari sementara yang di protes hanya tertawa.


"Rindu, gara gara Lo cerita gue mendadak jadi kangen istri gue." ucap Hari setelah membereskan bekas makan kami.


"Kangen istri...? ga salah tuh...? Bukannya tiap hari lo ketemu istri lo di sini?" Kataku pura-pura tidak mengerti arah pembicaraannya.


"Hehehe..., bedalah! Situasinya beda kalau ketemunya disini kita nyari duit, kalau di rumah kita nyari pahala." Jelas hari.


"Terus, apa hubungannya dengan Cerita gue? Tanyaku pada hari.


"Mana bisa gue jelasin, privasi gue itumah. Hehehe...!" Kata Hari sambil tersenyum.


"Har_, yang  nganterin cowo tadi masuk ke studio siapa?" Tanyaku.


"Indah..., Kenapa? Lo mau pecat istri gue?" Aku menggelengkan kepala, andai saja bukan indah pasti besok pagi aku akan habis-habisan memarahinya.


"Atau...Lo mau bilang makasih? karena istri gue, hari ini lo udah merasa melayang layang. Hahahaha..." Goda Hari padaku, yang kembali pada kegilaannya.


"Hari...!Please deh...!" Kataku.


"Udah ah gue mau balik...! Persen gue, pokonya lo gak usah sedih lagi. Lupain si Revan. Sekarang siapin aja mental lo untuk menjadi istri yang baik dan ibu tiri yang baik!" Pesan Hari sebelum pergi meninggalkan toko. Akupun memerintahkan Resti untuk mengecek rolling door dan menguncinya. Resti dan Dinda adalah dua pekerjaku yang menetap dan aku fasilitasi kamar mes untuk di tinggali di Toko ini. Kamar Dinda dan Resti berada di samping kamarku.

__ADS_1


__ADS_2