
Bab 4
Setelah Rindu puas tertawa sampai merasa lemes dan tenggorokannnya terasa haus, Rindu berdiri lalu berjalan menuju pintu ke luar.
“Mau ke mana” tanya Yasa.
“Sebentar, aku haus mau ambil minum.” Jawabnya.
“Ini minuman untukmu. Kamu kenapa, senyum senyum sendiri?” Tanya Rindu kepada Yasa setelah kembali masuk ke ruangan studio dan menawarkan minuman kemasan merek ternama kepada Yasa.
“ Gak nyangka aja. Perempuan jutek yang aku temui 4 hari yang lalu itu ternyata multi talens, betul-betul bisa menghibur orang lain padahal dirinya sendiri sedang terpuruk.” Mendengar penuturan Yasa Rindu terdiam sejenak.
“Ko malah menghujat? kayak netijen! Jarang-jarang loh aku ngasih pertunjukan geratis.” Ucap Rindu.
“Iya...iya..., terimakasih sudah menghiburku! Sayangnya aku tak punya keahlian menghibur orang lain jadi aku gak bisa balas menghiburmu” ujar Yasa sambari tersenyum.
“Hemmmmp, sama-sama. Aku terbiasa menyendiri ketika ada masalah, dengan memainkan alat musik masalahku teralihkan jadi tidak terlalu repot memikirkan 1 permasalahan sampai setres dan depresi. Aku bukan tipe orang yang suka curhat sana-sini, meskipun temanku banyak.” Jelas Rindu kepada Yasa. Sementara yasa hanya diam namun sorot matanya memperhatikan wajah Rindu dengan tajam. Ketika Rindu menyadari hal itu Rindu menjadi gugup dan salah tingkah.
“Kamu Cantik...” Ucap Yasa.
Deg
Tiba detak jantung Rindu berdetak lebih cepat, hatinya sedikit berdebar tentunya bukan debaran cinta karena dia baru saja mengenalnya.
“Hahahaha..., Aku sudah terbiasa mendengar pujian seperti itu.” Jawab Rindu di sela tawanya sedikit mensiasati kegugupannya.
“Saya serius, bukan rayuan pulau kelapa, apalagi gombal.” Canda Yasa.
“Papanya Alexa, jangan genit-genit! Inget anak...!” ucapnya, masih tetap berusaha menetralisir keadaan. Yasa tidak memperdulikan ucapan Rindu.
Yasa mengambil gitar akustik yang berada di dekat Rindu kemudian menarik kursi lalu memainkannya. Disatu sisi Rindu mengamati lagu apa yang akan di nyanyikan Yasa, tapi Yasa hanya memijat-mijat senar pada grip-grip gitar.
“Kamu bisa main?” Tanya Rindu basa-basi, Rindu tahu kalau seseorang yang ada di hadapannya tidak bisa memainkan alat musik tersebut, karena dari cara Yasa memijat snarpun masih di raba-raba dan tidak menghasilkan nada yang sempurna. Yasa menggelengkan kepala menanggapi pertanyaan Rindu. Dan alhasil Rindu Tergelak tertawa.
__ADS_1
“Kenapa...?” Tanya Yasa.
“Kamu Sendiri kenapa? so’ so’an ngambil gitar, kalau ternyata gak bisa memainkannya.” Rindu balik bertanya.
“Sengaja, biar kamu prihatin dan mau ngajarin aku.” Jawab Yasa sambil mengedipkan matanya. Rindupun kembali gugup.
“Ajarin dong...! ” Pinta Yasa.
kemudian Rindu menggeser kursi nya mendekati Yasa kemudian memetakan jari jari tangan kiri Yasa di antara Grip gitar dimulai dengan ‘Kunci Dasar’ dimana Do \= C, Re \= Dm, Mi \= Em, Fa \= F, Sol \= G, La \= Am, Si \= Bb dan kembali ke nada C.
Kemudian Rindu mengajari tangan kanan Yasa untuk melakukan rythem dengan ketukan 4/4.
Jarak wajah Rindu begitu dekat dengan Yasa ketika harus memetakan jemari Yasa di grip gitar, sehingga hembusan hangat nafas Yasapun beberapa kali dia rasakan berhembus di pipinya. Namun sepertinya Rindu sudah terbiasa dengan situasi seperti ini karena bukan sekali dua kali dia mengajari anak didiknya dari mulai anak anak, remaja bahkan orang dewasa seperti mahasiswa di kampusnya.
Berbeda dengan Yasa melihat bibir Rindu yang melafalkan Nada apalagi untuk nada dasar ‘Do...Do...Do...Do...’ bibirnya terlihat lucu dimata Yasa, seperti ikan ****** yang minta dicium. Rindu yang sibuk memperhatikan dan membenarkan posisi jemari Yasa sementra Yasa sibuk berfantasi dengan ikan cupangnya. Karena Rindu merasa sedikit lelah harus terus terusan membenarkan posisi jari Yasa, Rindupun mendongakkan kepalanya dan jatuhlah tatapan Yasa di mata indah Rindu.
“Kamu Niat Belajar gak sih?” Kesal Rindu, Yasa tersenyum melihat kemarahan perempuan yang ada di depannya. Dan_
Cup
“Maksud kamu apa?” Tiba-tiba Rindu marah, seumur hidupnya baru kali ini ada yang berani kurang ajar terhadap dirinya seperti ini.
“Maaf aku tidak sengaja?” Jawab Yasa gugup.
“Tidak sengaja? Jelas-jelas menciumku dengan sengaja! Keluar kamu...!” Dengan penuh emosi Rindu mengusir Yasa dari ruangan itu. Tapi Yasa masih tertdiam di kursinya dan masih memandangi wajah kesal Rindu.
Akhirnya Rindu menyimpan gitar Elektrik yang ada di pangkuannya, kemudian dia berdiri dan melangkahkan kakinya menuju pintu. Dengan gerak cepat Yasa menyimpan gitar Akustik yang ada di tangannya kemudian melebarkan langkahnya menghalangi lagkah Rindu. Hingga Rindu yang akan keluar pun tertahan karena tubuh Yasa tepat berada di daun pintu dengan posisi menyandarkan tubuhnya di daun pintu menekan pintu dengan tubuhnya dengan kuat hingga pintu sulit untuk di tarik..
"Mau ngapain kamu?" Tanya Rindu, setengah berteriak. Nafas Rindu terasa hangat berhembus di pipi Yasa karena tinggi badan Rindu yang mengimbangi tinggi tubuhnya. Yasa melihat kepanikan tergambar dimata Rindu.
"Kamu mau kemana? Jangan pergi dulu!" Pinta Yasa.
"Awas ih...!"Pinta Rindu namun sialnya Yasa tidak menyingkir juga.
__ADS_1
Yasa terus menatap dalam mata perempuan itu, tanpa mempedulikan permintaannya. Yasa meraih tangan kanan Rindu yang memegangi pegangan kunci dengan tangan kirinya, Rindu berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Yasa. Tangan kanan Yasa meraih pinggangnya menarik lalu mendekapnya.
" Kamu mau ngapain ih...? Lepasin...!" Rindu meronta kian panik. Tangan kirinya menekan kuat dada Yasa berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Yasa.
"Saya pasti lepasin kamu kalau kamu diam tidak meronta-ronta seperti ini" dan Rindupun berhenti meronta.
Yasa melepaskan tangan Rindu dari cengkeraman tangan kirinya, namun kedua tangan Yasa kini malah beralih ke pinggangnya menarik tubuh Rindu lebih erat lagi. Kedua tangan Rindu bertumpu di dada Yasa menekan tubuh Yasa berusaha sekuat tenaga merenggangkan tubuhnya dari tubuh Yasa.
"kamu bilang mau melepaskan aku?" Ujar Rindu sambil mengepalkan tangan yang ada di depan dadanya Yasa. Yasa tersenyum licik. Dan Rindu kembali meronta.
"Please, kamu diem dulu...!" Bentak Yasa. Seketika Rindu terdiam.
“Aku hanya ingin melihat mata indahmu...!” Sambung Yasa setelah Rindu tak lagi meronta.
Berbeda halnya dengan Yasa yang setia menatap tajam ke arah mata rindu, Rindu malah memperhatikan jakun Yasa yang turun naik. Tujuh tahun menjalin hubungan dengan Ervan membuat dia tidak terbiasa memandangi laki-laki lain. Yasa terus menatap dalam mata Rindu, tekanan tangan Rindu di dadanyapun mulai melemah ketika mata Rindu mengarah berbalik menatap Yasa kemudian matanya kembali menatap bagian leher Yasa.
“Kenapa kau tak mau menatapku?” Tanya Yasa.
Bukannya menjawab pertanyaan Yasa, Rindu malah menangis dan menjatuhkan kepalanya di pundak Yasa dimana wajanhnya menghadap ke leher Yasa, Yasa merasakan guncangan kecil dari Tubuh gadis itu, guncangan yang diakibatkan oleh tangisan perempuan yang ada di dekapannya. Yasa memeluknya dan mengelus lembut punggung Rindu. Hangat... Yasa merasakan kehangatan yang selama ini hilang dari hidupnya dan dia dapat merasahan kembali kehangatan nafas yang berhembus di lehernya meskipun dari orang yang berbeda.
“Aku adalah perempuan bodoh, yang terlalu percaya dengan kata cinta. jatuh hati pada orang yang salah. Dan pada saat hati ini kosong, netraku tak mampu menerima siapapun untuk masuk dan menyelinap mengisi ruang hampaku.” Batin Rindu yang kini sedang menangis. Jelas batinnya kini sedang berperang antara logika dan rasa cintanya terhadap Ervan yang masih begitu besar.
Hembusan nafasnya dileher Yasa menciptakan desiran indah pada tubuh Yasa, Yasa mengalihkan tangan kanannya dari punggung Rindu untuk di alihkan menyentuh tengkuk Rindu mengangkat kepala Rindu dari pundaknya. Yasa mengusap jejak air mata dipipi Rindu dengan ibu jarinya.
“Aku tak suka melihat air matamu jatuh?” ucap Yasa.
Bukannya berhenti menangis malah makin deras airmata Rindu keluar dari matanya. Akhirnya Yasa melepaskan tangan kirinya dari pinggang Rindu kemudian di alihkan kedua tangan Yasa intuk menungkup kedua pipi Rindu. Berkali-kali Yasa mengusap air mata di wajah perempuan yang ada di hadapannya. Sementara kedua tangan Rindu yang masih berada di dada Yasa meremas kuat kemeja yang Yasa kenakan.
"Berhentilah menangis...!" Ucap Yasa kemudian mengecup singkat bibir Rindu.
Perasaan Rindu mulai berkecamuk antara harus marah atau membiarkan perlakuan Yasa terhadapnya. Melihat tidak ada perlawanan Yasa pun kembali mencium singkat bibir Rindu hingga beberapa kali, dan akhirnya Yasa merasa tertantang untuk memberikan ciuman yang lebih lalam. Yasa menempel kan bibirnya di bibir Rindu dan memberikan sensasi sensasi ciuman yang menuntut. Awalnya Rindu tidak membalasnya tapi kemudian Rindu membuka mulutnya seolah memberikan akses kepada Yasa untuk memberikan sensasi yang lebih dalam lagi. Yasa melepaskan kan kedua tangannya dari pipi Rindu kemudian meraih tangan Rindu untuk di kalungkan di lehernya, Tidak ada penolakan dari perempuan itu dia mengikuti arahan dari Yasa. Kedua tangan Yasa kini dialihkan kembali ke punggung Rindu meraba dan menekan tubuh Rindu dalam dekapannya hingga ciuman merekapun semakin panas dan bergairah. Yasa menelusup kan kedua tangannya kdalam kaos yang di kenakan rindu hingga Yasaa bisa menyentuh kulit punggung Rindu tanpa kain penghalang. Yasa merenggangkan sedikit tubuhnya ketika tangan kanangnya meraba bagian depan tubuh Rindu mulai dari perut dan berhenti di bagian dadanya, Yasa merabanya dari luar bra dan nampak tubuh Rindu mulai gelisah merespon sentuhan yang di berikan Yasa. Tangan kiri Yasa melepaskan pengait bra yang letaknya di punggung Rindu, Setelah pengaitnya terlepas Tangan kanan Yasa kini bisa sedikit bebas meraba gundukan itu tanpa penghalang, Yasa menangkupnya kemudian menekan nekan bagian tersebut dengan sangat lembut sementara tubuh Rindu makin gelisah. Yasa melepaskan ciumannya nampaklah kekecewaan dari wajah Rindu, dengen cepat tangan Yasa menarik ke atas kaos yang dikenakan Rindu, menarik Bra yang masih menempel lalu menjatuhkannya ke lantai. Percintaan merekapun berlangsung jauh lebih panas, hingga posisi mereka kini tak lagi berdiri. Yasa duduk di kursi sementara Rindu duduk mengangkang di atas paha Yasa. Lenguhan dan desahan terdengar nyaring keluar dari mulut Rindu ketika Yasa mencecapi dan memainkan bagian ujung dadanya dengan mulut dan lidahnya. Ini merupakan kali pertama bagi Rindu, melakukan hal seberani ini.
tiba-tiba permainan terhenti ketika mereka mendengar teriakan perempuan dari arah pintu.
__ADS_1
“-------------------R I N D U....!-----------------------”
" Pake baju kamu! Mama tunggu kamu di luar! Kamu juga" Ucap mamanya Rindu yang kini sedang marah telunjuknya menunjuk wajah mereka berdua.