
Bahkan aku tak bisa mengenalimu sekali ini saja, begitu misterius sifat yang terus kau tunjukan di depan semua orang. Meski begitu sifat pemalu mu adalah rasa bahagiaku yang tidak terkira.
“Pantas atau tidaknya itu tergantung kemauanku.”
Kembali aku bergegas untuk mengikuti langkah kakinya dari belakang. Iring–iringan yang dibuat bersama teman–temannya agak membuatku semakin ragu.
“Gila !, haruskah sekarang ?” Gumamku dalam hati.
Langkahnya semakin cepat bagaikan kilat, menyeret kaki hingga tersendat.
“Gagal lagi aku kali ini, dasar wanita misterius.”
Sebenarnya aku tidak pernah sebodoh itu untuk menjadi penasaran. Berulang kali wanita itu lepas dari kejaran ku. Entah aku yang terlalu terobsesi dengannya atau memang dia begitu mempesona.
“Hai bodoh ?! Sudah berapa kali kau lakukan itu ?.” terdengar suara yang mengagetkanku dari belakang.
“Kau jangan gegabah, apakah kau pantas dibuat seperti ini?, Sudah kubilang dia begitu jauh derajatnya denganmu. Kau hanyalah debu baginya.” Dia melanjutkan ocehannya.
Teti, salah satu teman akrab wanita yang selalu bersikap seperti pahlawan penjaga yang selalu datang entah dari mana munculnya. Nasihatnya acap kali membuat telingaku semakin panas dan membuat otakku semakin mendidih. Walau ku akui dia memang lumayan manis dan perhatian.
Ku belokkan langkahku menuju kursi kosong dekat taman sekolah. Ku sandarkan tubuhku seraya mendongakkan kepalaku keatas sambil memejamkan mata.
“Aku sungguh tersiksa dengan perasanku ini. Andaikan wanita misterius itu tahu.” Gumamku dalam hati.
Teti yang seolah tidak ingin kehilangan jejak ku kembali menghampiriku.
“Woy, kayak ngomong sama batang kayu !”pundak ku ditepuknya.
__ADS_1
“Apaan sih, ngerecokin aja ”ketus ku kepada Teti.
“Plaaaak ... !!!” Tiba-tiba tangannya mendarat kembali dipundak ku.
“Ngomong apa barusan?!” Tanya Teti dengan nada keras.
Tanpa menunggu lama, dia pergi dengan tergopoh-gopoh sembari menunjukkan wajah kesalnya.
“Dasar aneh, kadang baik, kadang kesurupan” ucapku lirih.
Aku terkadang bingung dibuatnya. Seolah-olah dia adalah CCTV di otakku yang selalu mengawasi jalan pikiranku. Sudah beberapa minggu ini aku benar-benar kerepotan dibuatnya. Seperti tidak bisa menghindar dari pandangannya sedetik pun. Apa pun yang kulakukan selalu saja mendapatkan catatan darinya.
Tidak terasa, hampir setengah jam bel pulang sekolah berlalu. Terlihat masih ada beberapa murid yang masih harus menyelesaikan jam ekstrakurikuler, berlalu lalang di halaman sekolah. Aku yang saat itu memang tidak ada jadwal seharusnya bisa langsung bergegas pulang ke rumah. Namun pikiranku masih belum tenang. Aku masih ingin bermalas-malasan di kursi tersebut sambil menikmati pemandangan halaman sekolah yang terhampar dengan berbagai isiannya.
Tiba-tiba terdengar suara dari belakang, “Si tukang khayal belum pulang nih”.
Ku tolehkan wajahku ke belakang sembari menatap tajam “Ba***at, ke mana saja kau hari ini ?” Tanyaku kepada seseorang yang berperawakan kecil kurus berambut ikal yang perlahan menghampiriku.
“ Biaaas ... Bias... Ke mana saja aku, itu bukan urusanmu. Terkecualiii kau kangen dengan wajah tampanku ini , hahahaha... “ seronoknya.
“Hai ba***at, wajah ganteng itu tidak berbau ketiak sepertimu ini” Balasku seraya memegangi bajunya yang kelihatan sudah agak kumuh karena debu itu.
“Hey bung, ini tandanya laki-laki . Selalu berani mengambil risiko dan tidak takut apa pun.”
“Termasuk berani untuk bolos dari semua mata pelajaran hari ini kah?, oh ya besok ditunggu segera di ruangan Bu Asti guru BK tercinta kita. Ingat jangan sampai telat, jam 8 pagi pass !” Timpal ku.
“Dasar, anak rajin yang terlalu rajin ... Seharusnya kamu ga pantes menjadi sahabatku ... hahaha” Ejeknya dengan nada keras.
__ADS_1
Bino adalah sesosok anak laki-laki tangguh yang dipertemukan saat kami baru menginjak kelas 1 SMA. Meskipun dia kerap berbuat seenaknya dan terkesan nakal, namun sebenarnya dia adalah anak yang jenius. Bukan tentang pelajaran, namun tentang pemecahan masalah-masalah kehidupan. Sering kali aku dan Teti meminta wejangan-wejangan kehidupan terhadapnya. Bino terlahir dari keluarga kurang mampu. Namun, karena keinginan sang ibu untuk tetap menyekolahkannya hingga lulus disertai juga dengan kegigihannya bekerja paruh waktu di sebuah restoran sebagai pencuci piring di sana, akhirnya dia tetap bisa melanjutkan sekolahnya hingga hari ini. Sebenarnya aku begitu kagum dengan sosoknya yang tak kenal menyerah itu.
“Eh ... gimana dengan cewek itu ? Udah kamu coba samperin ?” Tanya Bino.
Tiba-tiba aku terdiam menghela nafas, “huuuuuuh...”.
“Begitulah, terkadang apa yang ingin sekali kau dapatkan serasa meragukan buatmu. Kau ragu untuk melangkah, meskipun kau juga tidak tahu hasilnya akan seperti apa” Sembari berbicara dia mencoba untuk duduk tepat di samping ku.
“Ayolah kawan, sudah lama sekali kau cuma hanya bisa mengawasinya. Sebenarnya sebelum 3 bulan kelulusan kita, alangkah baiknya kau utara kan keinginanmu itu untuk berbicara jujur padanya” Kembali Bino melanjutkan pembicaraannya.
Aku yang masih larut dalam kebingungan dan ke tidak beranian merasa semakin tertekan dengan apa yang diucapkan sahabat terbaikku tersebut. Andai dunia tahu tanpa aku harus berbicara, mungkin aku tidak akan selemah ini.
“Tentang Teti, aku lihat tadi dia menangis di depan gerbang sekolah. Ada hal buruk terjadi ? Tanyanya.
“Entahlah, aku terlalu dingin dengannya akhir-akhir ini” jawabku.
"Yah, aku tahu. Sebenarnya dia tidak tega dengan apa yang kau alami. Dia begitu kasihan dengan keadaanmu yang selalu disiksa batin dengan mengagumi tanpa diketahui oleh orang tersebut. Dia sebenarnya mendukungmu, namun ketakutan dia adalah ketika suatu saat kau berjalan dengan wanita misterius itu dan kau akan lebih tersakiti olehnya” Ungkap Bino.
Keylia, nama yang cantik dan mempesona. Entah berapa lama lagi aku terjebak dalam permainan panjangmu. Sudah 2 tahun aku hanya bisa mengamati senyumman manismu. Aku begitu terpesona dengan paras indahmu. Semenjak kau datang ke sekolahan ini, niatku untuk menjadi orang lebih baik semakin kuat. Dilain sisi kau juga melemahkanku dengan keadaanmu yang begitu tak bisa diterima olehku. Aku hanyalah siswa dari orang tua biasa, sedangkan kamu terlahir dari orang tua yang kaya raya. Mendekat sekedar ingin menyapa saja aku tak mampu. Mungkin kau memang terlihat baik, namun aku tidak bisa berbohong bahwa aku memang belum mampu.
“Bung hentikan lamunan itu, percaya saja ketakutan mu hanyalah bagian dari semu. Aku selalu mendukungmu” Bino memberi semangat.
“Menurutmu ?, apakah harus dia ? ,Kenapa harus dia?” ku lontarkan pertanyaan tak masuk akal itu.
“Selama kau yakin, lalu kenapa? Bukankah perasaanmu tidak bisa dibohongi?” jawabnya.
Aku semakin tersadar, bahwa perasaan cinta tidak bisa menyatu dengan logika. Cinta adalah jalan di mana kita bisa mendapat kan nyawa lebih, namun bisa juga mematikan kita. Ketakutan, kekecewaan, perasaan bahagia, perasaan suka, duka menjadi sempurna ketika kita sudah menghambanya.
__ADS_1