
Sinar mentari pagi menambah semangat jiwa untuk melakukan rutinitas. Bunyi klakson kendaraan roda dua dan roda empat seolah menjadi pengiring langkahku untuk segera berangkat menuju sekolahan. Terlihat di tempat biasa sudah menunggu angkutan umum langgananku sebagai kendaraannya.
“Halo pagi Pak?,” Sapa ku kepada Pak Sopir yang sudah sangat hafal dengan suaraku.
“Eh mas Bias... pagi juga, oya tadi mas Bino titip salam. Katanya dia ga berangkat ke sekolah hari ini” Jawab Pak Sopir dengan sedikit berteriak.
“Hemmmmm... Mau bolos kemana lagi tuh anak.. “ gumamku.
“Oyaya pak , udah biasa itu pak” Jawabku.
Melihat jam masuk semakin mepet, bergegas ku langkahkan kaki ku ke dalam angkutan umum tersebut, seperti biasa tanpa menoleh kanan kiri aku langsung duduk di kursi dekat pintu.
“Ayooo cepetan Pak ? Nanti terlambat lho” Tegurku kepada Pak Sopir agar segera menyalakan mesinnya dan berangkat menuju sekolah.
“Lah terlambat juga ga papa mas, kan ada temennya di dalem “ Jawab Pak Sopir dengan agak cengengesan.
Aku agak mengerutkan dahi ; “maksudnya?” Dalam hati. Aku mencoba menoleh, dan ternyata tepat disamping kananku sudah duduk seseorang yang seumur hidupku belum pernah kulihat dia menaiki sebuah angkutan umum.
“Keylia ???” Aku refleks meyebut namanya.
“Iya mas,” senyum tipis dengan diiringi sedikit anggukan ditunjukkannya.
“Apa-apaan ini !!!” Kataku dalam hati.
Bagaikan mendapat doorprize hatiku langsung berdegup kencang, adrenalinku semakin bertambah, semangat jiwaku seperti bertambah 1000% dari sebelumnya. Aku tetap menahan senyum agar terlihat tetap berwibawa ; Meski sebenarnya ingin berteriak saking girangnya.
Bunyi mesin mobil yang menyala memecah suasana dingin yang terjadi. Kebetulan memang hanya tinggal beberapa penumpang yang berada di angkutan tersebut.
“Keylia...” Aku mencoba membuka pembicaraan kembali.
“Key aja cukup mas, biar ga canggung” Jawabnya dengan nada sopan.
“Eh iya, Key... Hehe... Tumben naik ini” Pertanyaan basa-basi namun sedikit penasaran terlontar dari mulutku.
__ADS_1
“Kenapa tanya gitu mas? Enggak suka ketemu aku ya?” Jawabnya.
“Enggak...enggggg...nggaak... Maksudku biasanya kan kamu diantar sama mobil pribadi, kenapa harus naik ini ?” Aku kembali bertanya.
“Mas, kadang aku berpikir kenapa harus terus berpura-pura untuk tidak tahu. Sebenarnya bukankah ini yang kita inginkan?” penuh keyakinan dia menjawab.
Sempat terbesit dalam pikiranku betapa dewasanya dia dengan beberapa jawaban dan tingkah laku yang baru saja aku lihat kini. Sejenak ku terdiam, kupandangi wajahnya dengan penuh perasaan seakan aku berbicara tanpa kata padanya bahwa aku mencintainya.
“Kenapa mas? Tetap gamau jujur?” Dia melemparkan pertanyaan yang membuatku tersentak.
“Hah... “ Aku tercengang.
“Jangan buat kembali aku bertanya-tanya mas. Aku sudah menunggu selama ini dengan ribuan kode yang ku alamatkan padamu. Jangan sampai kesempatan ini hilang mas” Matanya menatapku dengan sungguh-sungguh.
“A... Aku sebenarnya, ada hal lain yang tidak bisa aku bicarakan, Key. Namun aku sangat merindukan hal seperti ini” Balasku.
“ Tiga bulan lagi mas, waktu yang sangat singkat” Key kembali bersuara.
“Aku bahagia, sungguh ini tidak akan berakhir” Paparku.
“Key, belajarlah dengan semangat hari ini” Ucapku yang sudah tepat di pintu kelasku.
“Mas, aku titipkan nomor teleponku ya... Barangkali ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan” Dikeluarkannya sobekan kertas dengan tulisan nomor telepon didalam-Nya.
Senyuman tipis khasnya mengiringi langkah kakinya untuk pergi berjalan menuju ke kelasnya. Aku pun hanya sempat membalas senyuman dengan senyuman tanpa sepatah kata.
Aku segera masuk ke kelas, terlihat Teti sudah berada di dalam sana terlebih dahulu. Lagi-lagi Teti duduk di bangku paling belakang.
“Hai Teti,” Inisiatifku untuk menyapa-Nya.
Dibalasnya dengan sedikit senyuman yang agak terpaksa, dengan sedikit mengangkat tangan kanan untuk menandakan dia mendengarku. Aku tidak tinggal diam, ku dekati dia dengan sengaja duduk di depannya tepat.
“Hay, aku meminta maaf dengan semua yang terjadi. Bukan bermaksud mengabaikan omonganmu, aku hanya...”
__ADS_1
“Hanya ingin mengatakan kalau kau sangat mencintainya, iya kan?” Tiba-tiba dia memotong pembicaraanku.
“Dari mana kau tahu semua itu?” Balasku.
“Seperti layaknya kau tergila-gila padanya. Aku pun sama terhadapmu” Teti mulai membuat pengakuan.
“Maksudmu?” Aku bertanya.
“Apa tidak cukup selama ini kutunjukkan segala perhatian terhadapmu. Sebenarnya aku merasa sakit jika harus melihatmu bersama orang lain” Teti menjawab dengan nada lirih dan memelas.
Hanya mampu duduk termenung menghadap ke depan, aku tidak mampu menjawab dengan sepatah kata pun. Sepanjang pelajaran, otak ku masih saja tidak bisa untuk berkonsentrasi. Pikiranku terus saja mengarah terhadap Teti dan Key. Kerumitan ini semakin menjadi dikala terjadi dalam waktu yang begitu singkat.
Selepas bel istirahat berbunyi, aku melihat Key seperti menunggu ku di halaman depan kelas ku. Tidak seperti biasanya, dia hanya duduk sendiri tanpa teman-teman yang biasa menemaninya. Terlihat sesekali dia mengecek handphone nya berharap ada nomor baru masuk. Aku hanya mengintipnya dari balik jendela kelas.
“Kenapa tidak keluar dan menemuinya?” Tanya teti dengan lirih.
“Haruskah ku korbankan perasaan seseorang demi kesenanganku sendiri?” Jawabku dengan tatapan kosong.
“Memang, aku akan sangat merasa sakit jika harus melihat orang yang selama ini ku sayang harus berada dalam genggaman orang lain” Teti menimpali.
“Jadi, benar dugaanku. Selama ini ... “
Belum selesai aku berbicara, Teti memotong
“Iya, aku menaruh perasaan terhadapmu. Itu yang coba aku sembunyikan selama ini. Alasan aku selalu melarangmu untuk melanjutkan perjuanganmu mengenali dia, adalah karena aku tidak mau kehilangan sosok sepertimu” Teti akhirnya mengatakan yang sebenarnya.
Seberapa sakit dan menyedihkannya dia, seperti halnya yang aku alami jika aku mungkin melihat dan harus merelakan Key jatuh kepada orang lain suatu saat nanti. Namun, pilihan tetaplah pilihan. Sebanyak apapun alasan tidak akan membuatmu membohongi perasaanmu sendiri.
Aku membalikkan badan dan pandanganku terhadap Teti,
“Aku bisa mengerti dengan keadaan kita sekarang. Lalu, apakah aku egois jika harus menolak bersamamu ? Apakah jika aku harus berhenti dengan Key, bolehkah aku menganggap kau sebagai orang egois juga?” Aku yang sedang dalam rasa kalut mencoba melempar pertanyan dan berharap Teti menyadari apa yang sebenarnya aku inginkan.
Masih saja belum ada jawaban dari Teti, dia hanya diam dan duduk bersender dengan lamunannya kembali.
__ADS_1
Terlihat Key masih saja menunggu, wajahnya cemas dan mengarahkan pandangannya ke dalam kelasku. Keputusan kurang tepat yang sebenarnya aku lakukan, harus menggantung diantara dua wanita yang berharap padaku.
Sudah setengah jam istirahat, sebentar lagi bel masuk berbunyi. Diluar, Key mulai putus asa. Akhirnya kulihat dia kembali ke kelasnya dengan wajah murung. Sementara di dalam kelas, aku masih saja didalam keheningan bersama Teti.