BIAS

BIAS
RAHASIA TERBUKA


__ADS_3

“Terimakasih untuk hari ini, mas” Bunyi pesan yang baru saja kubaca dari Keylia.


Lama sudah kunantikan, tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Berkencan dengan wanita idaman, membuat memori tersimpan dalam ingatan.


“Jangan lupa ya?” balasku.


“Lupa? Lupa tentang apa mas?” Dia kembali membalas.


“Jangan pernah lupakan aku, key” Balasku dengan bercanda.


“Tenang saja aku tidak akan pernah melupakanmu mas, apalagi kalau kamu sampai buat salah... Hehehe” Balasnya.


Lumayan membuat lelah hari ini, aku langsung berbaring di atas tempat tidurku. Mataku semakin berat untuk tetap terbuka. Dengan sisa-sisa bau wewangian yang dipakai Keylia, aku terlelap dalam mimpiku.


Tiba-tiba; dering panggilan masuk.


“Hallooo, siapa ini? Kuangkat telepon itu dengan keadaan belum sadar sepenuhnya.


“Posisi lagi di mana? Aku Bino. Datang ke rumah Teti, Sekarang!” Bino berbicara dengan nada tegang.


“Hah !!! Ada apa?!” Aku menjawab dengan nada kaget.


“Jangan banyak tanya, pokoknya kamu cepat saja datang kesini” Jawab Bino.


Waktu menunjukan pukul 08.00 malam. Tanpa banyak basa-basi kuambil handuk dan pergi mandi dengan terburu-buru. Penasaran apa yang sebenarnya terjadi di rumah Teti sekarang.


Sesampainya di depan rumah Teti, terlihat ada beberapa warga yang masih tersisa sedang berkerumun.


“Maaf Pak, ini ada apa ya?” Tanyaku kepada salah satu warga.


“Ini mas, Mba Teti overdosis obat. Katanya sih sehabis pulang tadi tiba-tiba ibunya melihat dia udah penuh busa mulutnya mas” Jawab seorang warga.


Hatiku langsung berdegup kencang, kakiku tiba-tiba lemas bergetar.


“Lantas, dimana dia sekarang Pak ?” Tanyaku penasaran.


“Tadi sih langsung di bawa ke Rumah Sakit mas, tapi entah Rumah Sakit mana . Kurang tau saya Mas” Jawabnya.


Aku segera membuka handphone, terlihat ada pesan masuk dari Bino,

__ADS_1


“Segera datang Ke R.S Daerah, Teti sedang dirawat. Keadaannya masih belum sadar” Bunyi pesannya.


Tanpa pikir panjang, aku langsung menuju ke Rumah Sakit tersebut.


Sesampainya di sana, terlihat Bino beserta Ibu Teti sedang duduk dalam hening menunggu sebuah kepastian dari dokter. Wajah mereka tegang, sesekali mereka berdiri dengan logat kebingungan.


“Bino, apa yang terjadi?” Tanyaku kepada Bino.


“Entahlah, tadi Ibu Teti langsung meneleponku agar segera datang, sepertinya Teti overdosis obat” Jawab Bino.


“Bu, benarkah yang terjadi ?” Aku memastikan kepada Ibu Teti.


“Naaaak...?” Dipeluknya tubuhku, air matanya keluar dari matanya. Tubuhnya lemas kurasa , tidak berbeda jauh dengan apa yang aku rasa.


“Sabar Bu, sabar... semua akan baik-baik saja. Berdoa saja yang terbaik Bu” Aku mencoba menenangkannya sebisa mungkin.


Terlihat Teti masih diruang ICU, belum ada tanda-tanda untuk siuman sampai saat ini. Kami masih sangat berharap Teti tidak separah apa yang kami pikirkan.


Sudah 3 Jam kami disana , masih saja belum ada tanda-tanda Teti untuk sadar. Terlihat diokter yang menangani Teti kembali ke ruangan tersebut,


“Dok, bolehkah kami masuk?” Tanyaku.


“Tapi keadaan anakku bagaimana dok?” Tiba-tiba Ibu Teti menyela.


“Sampai saat ini keadaannya baik dan terkontrol Bu, kita tinggal menunggu anak Ibu siuman saja. Yang sabar ya Bu sambil berdoa ” Jawab dokter.


Tidak ada yang bisa kami lakukan selain berdoa; Mencoba mengeluarkan energi positif. Siapa yang tega melihat seorang Ibu dengan keadaan lemah tak berdaya melihat anaknya belum sadarkan diri.


Ibu Teti, berjuang sendiri dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Suaminya pergi selamanya meninggalkan dua anak perempuan, salah satunya adalah anak sulung bernama Teti. Hidup mereka cukup berat dalam waktu 5 tahun terakhir itu. Untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya, Teti bekerja sampingan sebagai tukang cuci di sebuah laundry dekat rumahnya. Sementara Ibunya bekerja sebagai tukang bersih-bersih yang bekerja di bawah naungan Pemerintah Kota. Tiap pagi jam subuh tiba, Ibunya sudah memulai pekerjaannya. Seperti layaknya anak 7 tahun yang masih suka bermain, Riana adik Teti pun tak lepas dari itu.


“Bino, bisa kita bicara sebentar?” Ajakku.


“Ada apa ? Bisa kan disini?” Jawab Bino.


“Ada hal yang mau aku tanyakan, kita menepi sebentar” Alasanku.


Mencoba menghindar dari Ibu Teti, aku dan Bino mencari tempat untuk mencari sebab dan memaparkan penjelasan. Tepat di bangku pojok ruang Apotek yang kebetulan tidak jauh dari ruang ICU,


“Siapa yang akan tahu kalau akan berakhir seperti ini ? Aku punya alasan dan kau mungkin punya jawaban kenapa dia bisa berbuat senekat itu” Ku coba berbicara dari hati menggali apa yang terjadi pada Teti.

__ADS_1


“Dia berbuat itu karenamu” jawabanya seraya menyodorkan handphone-Nya beserta teks pesan yang dikirimkan Teti ke whatsapp Bino.


“Bino, aku sudah putus asa. Aku melihat Bias bersama wanitanya, aku tidak sanggup melihat itu untuk waktu yang lama. Aku bahagia, namun aku juga terluka” Bunyi pesan yang Teti kirimkan tepat sebelum dia ditemukan dalam keadaan seperti itu.


Aku tertunduk, tidak ada yang aku pikirkan lagi selain kejadian tadi siang. Betapa hancur hati Teti melihat kami bersama, sementara dia benar-benar menjadi pesakitan. Kali ini aku benar-benar menari dalam duka, bersenang-senang dalam luka.


“Maafkan aku,Teti” Kata yang belum sempat aku ucapkan kembali kepadanya.


“Bagaimana menurutmu?” Tanyaku terhadap Bino.


“Aku tidak bisa menyalahkan siapapun. Semua terjadi begitu mengalir, Bias. Hadapi, ketegasanmu dibutuhkan buat mereka. Namun dengan keadaan Teti yang seperti ini ,kau harus menimbang kembali sesuatu yang akan kau putuskan” Jawaban Bino,mencoba untuk sedikit memberikan masukan terhadap keputusan yang akan aku buat.


“Gila !. Aku tidak mengira akan serumit ini. Aku sudah mendapatkan yang aku mau, akankah aku harus melepas yang aku punya ?! Gila !!” Terasa frustrasi aku malam ini.


“Sabar teman, obat pahit ini akan menjadi penyembuh bagimu. Selama ini kau selalu saja berada dalam ketidak pastian. Kehidupan selalu mengajarimu pelajaran yang tidak terduga” Ucap Bino.


“Bagaimana menurutmu bila Key tahu?” Tanyaku kepada Bino.


“Menurutmu dia tidak tahu? Dia wanita yang cerdas, dewasa, dan kau tahu selebihnya” Jawab bino.


Aku agak tercengang mendengar jawaban dari Bino.


“Bagaimana mungkin kau tahu? Sementara kau tidak pernah mengenalnya? Atau kau???” Tanyaku kepada Bino dengan rasa agak curiga.


“Yah, tanpa sepengetahuanmu. Dia selalu mencari-cari tahu tentangmu lewat aku” Jawab Bino dengan jujur.


“Ah gila kau! Sudah berapa lama kau menyimpan ini?” Balasku.


“Cukup lama, bahkan sebelum kau datang untuk memberi tahu aku tentangnya” Bino memberi keterangan.


“Jadi kau juga ikut dalam permainan ini?!” Tanyaku dengan nada agak keras.


“Maaf, aku berharap kau menjadi seseorang yang benar-benar berani. Karena aku sahabatmu, kau bisa jadi lebih baik tanpa perantara seseorang” Jawab Bino seraya menepuk-nepuk dadaku.


“Tentang Teti, apakah kau juga tahu semuanya?” Penasaranku berlanjut.


“Yah, benar. Salah satunya alasan aku tidak berbicara tentang Key kepadamu juga menyangkut perasaan Teti” Jawab Bino.


Sudah cukup terang teka-teki yang selama ini membuatku cukup menguras pikiran. Antara Aku, Keylia, Teti, dan Bino. Kami saling menyembunyikan rahasia yang benar-benar menjadi bom waktu. Namun aku juga tidak akan tahu jika rahasia masing-masing dari kami itu tidak ada. Mungkin saja peperangan akan dimulai dari awal.

__ADS_1


__ADS_2