
Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 pagi, lorong-lorong Rumah Sakit sudah terlihat sepi.Terlihat Bino sesekali memejamkan mata, sementara Ibu Teti duduk disebelahku dan masih tetap termenung menunggu. Sebenarnya tubuhku terasa sangat lelah untuk terus dipaksakan namun tetap saja kupaksakan hingga nanti Teti terbangun.
“Mas, kamu belum tidur?” Bunyi pesan yang dikirimkan Key.
“Belum, aku masih menunggu temanku di Rumah Sakit. Kamu sendiri? Masih belum bisa merem?” Balasku.
“Mba Teti belum juga siuman mas?” Jawabnya.
“Kamu tahu dari Bino?” Kembali kubalas.
“Iya mas, Mas Bino yang mengabariku. Sebenarnya tadi aku tanya keadaanmu, sepulang dari jalan bareng tadi kamu tidak bisa dihubungi mas. Aku khawatir dengan keadaanmu” Key memberikan keterangan.
“Iya Key, maaf banget ya, bukan maksudku seperti itu. Kamu mungkin juga sudah tahu apa yang terjadi kan?” Aku bertanya.
“Sudah mas, seperti halnya saat kita bertemu di warung tadi. Aku sebenarnya tahu di sana ada Mba Teti sedang mengawasimu Mas. Aku hanya pura-pura tidak tahu agar suasana kita tidak berubah. Maaf ya mas?” Jawab Key dengan memberikan penjelasan yang bisa diterima olehku.
“Lalu, tentang perasaan Teti kepadaku? “ Aku kembali melempar pertanyaan.
“Sudah tahu juga mas, tanpa kamu memberi tahu. Sebenarnya saat kita bertemu, kamu ingin membicarakan masalah ini kan?” Jawab Key.
“ Kamu tahu semuanya dari Bino?” Kataku.
“Kenapa semua harus dari Mas Bino sih Mas? Aku tahu sendiri dari Mba Teti, Mas” Jawab Key kembali.
“Loh , apa-apaan ini, Key?” Ungkapku.
“Mba Teti orang baik Mas, aku tahu itu. Beberapa kali dia bertemu denganku, banyak yang dia katakan padaku. Namun tidak ada satu katapun yang membuatku merasa sakit hati. Dengan sopan, dia berbicara agar menjauh darimu, Mas” Jawab Key.
Sedang terpaku aku dengan pembicaraan melalui pesan whatsapp dengan Key, tiba-tiba
__ADS_1
“Mohon maaf, dengan keluarga Adinda Teti?” Terdengar suara seseorang wanita dengan nada agak keras.
“Iya Suster, saya ibunya” Sembari terbangun dari tempat duduknya Ibu Teti segera menghampiri Suster tersebut.
“Bu, Adinda Teti sudah siuman. Kami sedang mempersiapkan agar segera bisa dipindahkan ke kamar rawat inap ya bu” Suster memberitahu.
“Alhamdulilllaaaaaah ,ya allaaaah... “ Ucap Ibu Teti penuh rasa syukur.
“Bolehkah kami masuk Suster?” Aku menyela.
“Mohon maaf Mas, setelah kami pindahkan saja ya Mas. Kami akan mengurus administrasi dahulu dan segera mencarikan kamar untuk pasien” Jawab Suster.
“Baiklah, terimakasih Suster” Jawabku agak sedikit kecewa.
Aku hanya bisa sedikit melihat keadaan Teti dari balik pintu kaca. Wajahnya masih sangat pucat, tubuhnya terlihat tergulai lemas. Aku melambaikan tangan berharap Teti melihat.
Tapi tanpa diduga, Teti memalingkan penglihatannya dariku. Agak kecewa memang, namun tidak bisa menjadikan itu sebagai alasan. Apapun yang sudah kulakukan, membuatnya menjadi terbaring seperti sekarang.
“Hah ! Ada apa?!” Jawabnya sambil terkaget-kaget.
“Teti udah siuman, ayo bangun sebentar lagi dia pindah ruangan” Kataku.
“Yang bener?! “ Tanya Bino agak tidak percaya.
“Iyaaa benerrr !” Aku meyakinkannya.
Berselang sekitar 15 menit, Teti sudah dipindahkan ke Ruang Rawat Inap. Kami buru-buru segera menyusulnya ke ruangan itu.
“Tetiii, alhamdulillah kamu sudah sadar naaak?” Peluk hangat dari seorang Ibu terhadap anaknya.
__ADS_1
Tangan Ibunya seperti tidak ingin lepas dari genggaman Teti.
Teti seperti belum sanggup menjawab, bibirnya masih sulit untuk mengeluarkan kata-kata. Mungkin butuh waktu yang cukup agar dia bisa kembali sadar sepenuhnya dan tenaganya sedikit-sedikit bisa pulih.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku, hanya pandangan penyesalan yang bisa kuungkapkan. Masih saja lirikannya acuh terhadapku. Seperti benci, namun tidak bisa meluapkannya dengan sesuatu.
“Tenang ...” Bino menepuk pundakku.
“Aku ingin keluar sebentar” Kataku.
“Silakan, biar aku disini dulu menemani Ibu” Kata Bino.
Aku keluar ruangan dan duduk di kursi depan.
“Mungkin aku harus menahan dulu sementara, sepertinya dia belum memaafkan kejadian kemarin” Gumamku dalam hati.
Aku membuka handphone, sudah ada sekitar 12 pesan masuk dari Keylia.
“Mas bolehkah aku berkunjung ke situ?” Salah satu pesannya.
“Jangan dulu, dia masih terlihat marah. Aku takut akan semakin membebani pikirannya, semoga kamu mengerti” Balasku.
“Tapi aku juga khawatir Mas dengan keadaannya” Key memohon.
“Tidak Key, belum tepat untuk sekarang” Balasku.
“Baiklah Mas, jika memang belum sekarang. Namun sebelumnya aku meminta izin jika di suatu kesempatan nanti, aku ingin berbicara dengannya dengan semua permasalahan yang ada. Aku tidak ingin ini terus berlarut-larut Mas” Dia mencoba untuk meyakinkan ku agar suatu saat ingin bertemu dengan Teti.
“Tentu Key, aku juga sepemikiran denganmu . Kita berdoa saja semoga keadaannya terus semakin membaik” Kataku.
__ADS_1
Terkadang ketidak sukaan orang lain terhadap kita, justru menjadikan kita semakin rendah diri dan merangkul dengan perasaan yang begitu hangat agar semua terus berjalan dengan penuh cinta. Suatu pelajaran yang ditunjukan oleh seseorang yang lebih muda dariku,Key.