BIAS

BIAS
KENCAN PERTAMA


__ADS_3

Selepas apa yang terjadi di sekolah, mataku masih saja belum bisa terpejam. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Masih saja kupegang kertas berisikan nomor telepon yang diberikan oleh Key tadi.


“Tidak bisa kutahan, aku begitu kangen ingin mendengar kabarnya malam ini” Mulutku berbicara sendiri.


“ Hai Key, maaf membuatmu menunggu tadi siang di sekolah, ini nomorku Bias” whatsapp pertamaku kepada Key.


Hampir setengah jam aku dibuat cemas, masih menunggu balasan pertama dari Key,


“Apakah kamu marah ? sesuatu telah terjadi. Akan kuceritakan besok saat kita bertemu” Pesan ku selajutnya yang aku kirimkan kepadanya.


Menunggu setengah jam lagi, masih juga belum ada balasan.


Tiba-tiba alunan musik dari pianis terkenal asal Korea ; Yiruma, yang kupasang sebagai nada dering pesanku berbunyi.


“Hai, aku tidak bisa tidur dengan tenang. Aku menunggu kabar darimu sampai selarut ini hingga mataku terlelap sendiri. Mas, kamu baik-baik saja?” balasnya.


Hatiku mulai agak lega, namun tak selega ketika aku bisa bertatap muka dengannya.


“Aku tidak baik-baik saja karenamu, Key. Bisakah besok kita bertemu ? Kuharap besok menjadi hari libur yang menyenangkan bagimu” Kembali ku balas pesan dari Key.


“Yah, tentu, mengapa tidak. Tentukan tempatnya saja mas?, aku pasti datang” Balasnya kembali.


“Aku tidak akan mengajakmu ke sebuah warung pinggir jalan, kamu mungkin akan menyesal. Jadi kamu saja yang tentukan tempatnya,Key?” Balasku.


“Mas, ketika aku memutuskan dekat dengan seseorang, aku juga harus bisa menerima segala yang ada pada dirinya. Termasuk kebiasaan mu atau keadaanmu mas?” Jawabnya kembali.


“Baiklah kalau itu kemauanmu. Warung pinggir jalan dimana aku sering nongkrong bersama teman-temanku. Besok aku kirim Mapnya lewat whatsapp yah” Balasku.


Ternyata tidak seperti yang kupikirkan selama ini, aku mengira dia adalah wanita kaya raya yang enggan untuk berbaur dengan orang sederhana dan mengikuti kesederhanaan yang ada. Sosoknya begitu dewasa, dingin, lembut serta menerima.


“Akankah aku sudah menentukan pilihan?” pikirku.


Hampir Dua jam kami berbalas pesan, tidak ada topik yang tidak menarik yang kami bicarakan ketika kami sedang benar-benar dimabuk cinta.


Sayup-sayup terdengar suara ayam berkokok lewat kedua telingaku. Mataku terasa berat untuk melihat cahaya yang terpancar dari sebuah jendela. Oksigen mulai mengalir lancar ke otakku, tiba-tiba dengan sigap ku ambil handpohone yang ada di sebelahku.

__ADS_1


“Ya ampuuuun, aku ketiduran” Kataku.


Terlihat ada 10 pesan belum terbuka,


“Mas udah bobo ya? Aku masih kangen? Aku ga sabar buat ketemu besok” Sebuah pesan terakhir yang dikirimkannya tadi malam.


“Baiklah, kita lihat. Apa yang akan terjadi hari ini” Gumamku dalam hati.


Bergegas aku menuju kamar mandi, dengan hati serasa berbunga-bunga. Kubersihkan tubuhku, kuberikan wewangian yang ada, kupakaikan baju terbaik yang aku punya.


“Loh nak, mau kemana ? Kamu belum sarapan lho” kata seorang wanita dengan rambut agak memutih dengan badan agak kurus.


“Oh ya bu, maaf hehe... Bias mau pergi ke rumah teman dulu hari ini” jawabku.


“Teti ?, atau Bino?” Kembali Ibu bertanya.


“Tidak Bu, temen Bias yang baru Bu ... Hehehe , Bias pamit ya bu” Aku menjawab seraya menjulurkan tanganku untuk bersalaman kepada Ibu.


“Loh..loh..loh, beneran nih ga mau sarapan dulu? Padahal ibu sudah...” Tanpa menunggu Ibu selesai bicara aku langsung menyelonong pergi agar segera bertemu dengan Keylia.


Dengan langkah cepat, di seberang jalan sudah terlihat ada angkot yang sedang menurunkan penumpang. Tanpa menunggu lama aku pergi ke tempat tujuan dengan menumpang angkot tersebut.


“ga papa, menurut Map yang kamu kirim kayaknya aku hampir sampai Mas, kutunggu yah” Balas Keylia.


“Oke “ Balasku.


Sekitar 15 menit perjalanan, akhirnya aku sampai ke tempat tujuan. Terlihat Keylia sudah berada di pinggir jalan tepat di depan warung .


“Mas,” Dia melambaikan tangan.


“Hay” Balasku.


Tangannya tiba-tiba menyalamiku dengan badan menunduk.


“Eh.. aku bukan orang tuamu” Candaku sambil menarik tangan.

__ADS_1


“Maaaas, kamu kan lebih tua dari akuuu” Balasnya sambil memandang ke arahku.


“Hahaha... Bisa aja kamu, Key” Ku balas juga pandangannya.


Hari ini begitu indah untuk sementara. Beberapa jajanan dan masing-masing semangkuk mie kuah sudah siap untuk dihidangkan. Seperti layaknya kencan pertama bagi muda mudi, dunia seperti tiada berpenghuni. Canda tawa keluar dari mulut kita berdua. Hingga akhirnya ; nada pesan whatsapp masuk,


“Bias, sepertinya kamu sudah menentukan pilihan. Aku turut senang ,dia begitu bahagia bersamamu” Sebuah pesan singkat dari Teti.


Aku segera merespons dengan melihat ke kiri dan ke kanan,


“Kau disini?” Kataku dalam hati.


Tepat di bangku ujung, dengan hodie hitam nan misterius. Ternyata Teti memperhatikan kami berdua dari tadi. Aku tidak tahu bahwa Teti berada di warung itu sebelumnya.


“Ada apa mas? Kok kayak orang bingung mas?”


“Hah, enggak enggaak...” Kataku sembari menyeruput es cendol yang sudah dipesan tadi.


Aku jadi linglung, perasaan yang tadinya bahagia berubah drastis menjadi perasaan yang membingungkan. Ku letakkan handphone ku tanpa membalas pesan dari Teti.


Terlihat Teti menundukan kepala seraya membalikan badannya membelakangi kami.


“Maafkan aku ,Teti” Gumamku.


“Maaas kamu kenapa,kok jadi diem aja? Keylia kembali bersuara.


“Eh, enggak ada apa-apa, Key”. Jawabku.


“Oya mas katanya ada sesuatu yang mau kamu bicarakan?” Tanya Keylia.


“Jangan sekarang Key, aku belum siap mengatakannya padamu” Balasku.


“Maaas serahasia itu kah ?” Key menimpali.


“ Ini tentang kita dan orang lain, jangan sekarang. Aku harap kamu bisa memaklumi” Aku menjawab dengan meyakinkan Keylia.

__ADS_1


“Yah, itu hak mu mas. Aku menghormatinya” Key seperti pasrah dengan jawaban yang aku beri.


Teti memang benar-benar seperti intel bagiku. Dimana ada aku, selalu ada dia mengikuti. Sebegitu besarkah dia begitu ingin tahu keseharianku dengan segala pikiranku.


__ADS_2