
“Maaf soal kemarin, aku tidak berniat membuatmu ...” Sembari menjulurkan tangan kananku .
“Tak usah, tak apa... Aku yang terlalu posesif padamu. Bias ?” Wajahnya menghadap ku dengan tatapan agak sayu.
“Teruskan bila itu sudah jadi keinginanmu. Aku sebagai sahabatmu, berharap terbaik untukmu” lanjutnya dengan nada lirih. Badannya berbalik, kepalanya menunduk sesekali mendongak ke atas menahan air mata yang sepertinya ingin keluar.
Aku tahu dia sangat berat untuk mengatakan itu padaku. Apa pun yang dia katakan, sebenarnya aku sudah tahu sedari dulu bahwa ada perasaan yang sulit diungkapkannya kepadaku.
Perlahan dia pergi menuju kelas dengan perasaan sedihnya. Tidak seperti biasanya dimana dia selalu ingin duduk di kursi belakangku, kali ini keputusannya sepertinya ingin sedikit menjauh. Termenung sendiri dia di kursi paling belakang. Tangannya menyangga bibir tipisnya yang lembut, matanya seakan berkaca-kaca menatap jendela dengan tatapan kosongnya.
“Kenapa kau seakan membuatku semakin bersalah ? Haruskah aku menyakitimu seperti ini ?” gumamku dalam hati dengan penuh penyesalan.
Aku terus saja menatapnya berharap dia sesekali menatapku saat itu juga. Namun sepertinya tidak ada peduli, dia tetap saja dalam lamunannya.
Teti, sahabat perempuan pertama yang aku temui. Masih teringat di dalam ingatanku, betapa konyolnya wajahnya ketika memelas untuk meminta bantuan pada saat kita baru memasuki Masa Orientasi Siswa di sekolahan tersebut. Tingkahnya yang ceria dan lumayan cerewet membuatku nyaman untuk sekedar mengobrol hal-hal yang tidak penting dengannya. Terkadang sifat agak lugunya juga yang membuatku agak mengerutkan dahi; “Kok ada ya orang yang kayak gini”.
Seiring waktu berjalan, sepertinya kenyamanan itu semakin terasa. Semua hal dan kejadian tidak luput dari pengetahuan kami masing-masing dengan selalu berbagi cerita. Namun, satu yang selalu membuatnya agak kurang tertarik untuk membicarakan denganku, yaitu ketika aku membuka topik tentang masalah perasaanku kepada orang lain. Selalu saja dia mengalihkan perhatian, ataupun dia selalu pura-pura sibuk untuk membicarakannya. Yah, sebetulnya tanpa dia mengatakannya pun aku sudah paham apa yang dia rasakan. Namun, aku tidak ingin lebih dari itu. Lebih dari seorang yang saling mengasihi sebagai sahabat. Karena rasa sayang ini terlalu besar untuk dicerai berai suatu saat nanti ketika kami sudah tidak sudi untuk bersama lagi. Sejujurnya, aku juga tidak ingin dia mengatakan apa yang sebenarnya dia rasakan kepadaku. Akan semakin bingung aku mencari jawaban agar dia tidak tersakiti.
“Halooo halooo ada apa lagi niiiih?.” Terdengar suara yang memecah perhatianku.
“Serius amat menatapnya ? Ada apa lagi? Berantem?” Bino yang baru datang, bertanya dengan penasaran.
“Jangan pura-pura bodoh dan tidak tahu.” Jawabku singkat.
“Tepat, seperti apa yang aku pikirkan. Kenapa kau tak utarakan saja perasaanmu yang sebenarnya kepadanya ? Dari pada semakin kau buatnya menangis” ujar Bino.
“Tidak, tidak semudah apa yang kau pikirkan. Ini terlalu rumit untuk dibicarakan bersamanya” Jawabku.
“Kau lihat, betapa cantik wajahnya ketika dia melamun seperti itu ?” Bisiknya sambil menutup mulutnya agar tidak terdengar oleh orang lain.
__ADS_1
“Hei b****at, tanpa kau beritahu aku sudah sadar sebelumnya” Aku bergumam dalam hati.
Aku hanya menjawab dengan senyum tipis kepada Bino tanpa mengatakan sepatah kata pun.
“Sepertinya aku terlalu lancang untuk mengatakan ini, kenapa tidak kau pacari saja dia dan lupakan wanita misterius itu? “ Usul Bino dengan nada agak mengejek.
“Bung, laki-laki sejati lebih tahu apa yang sedang dia jalani” jawabku yakin dengan nada agak sinis.
“ba****an kau ,” Sembari merubah cara duduknya dia tersenyum lepas kepadaku.
Pembicaraan itu kami bagi dengan fokus kami untuk mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung. Sesekali kulihat Teti masih saja dengan lamunannya sepanjang jam pelajaran. Mungkin pikirannya masih saja tetap terpaku dengan apa yang kami alami.
“Teng... Teng... Teng...” Bel pulang berbunyi .
“Teti, tunggu aku” Bergegas aku pergi meninggalkan kelas mengikuti langkah Teti yang berjalan dengan cepat.
Tergesa-gesa aku mengejar langkahnya dengan terhalang banyak siswa yang semakin memadati jalanan. Teti semakin tak terlihat, namun aku tetap menyelinap di antara celah-celah segerombolan siswa yang juga saling berebut untuk berjalan lebih dulu.
“Eh... So..sorr....” Aku terdiam seperti tersendat saat ingin meminta maaf. Aku tidak sadar saat mengejar Teti, tubuhku tiba-tiba menyenggol seorang wanita. Wanita ini sangat tidak asing bagiku, wanginya, tatapan matanya, paras indah wajahnya.
“Siaaal... Kenapa harus dalam waktu seperti ini” Kataku dalam hati.
Dia hanya sedikit menatap ke wajahku dengan sedikit senyum tipis seolah berkata “Aku tidak apa-apa” dengan dilanjutkan dengan tangannya yang refleks untuk mengambil bukunya yang terjatuh.
Jantungku berdegup kencang, keringat dinginku seakan mulai keluar melalui pori-pori kulit, tatapan mataku semakin susah untuk dilepaskan darinya. Tiba-tiba,
“Keylia, panggilanku Key, maaf aku yang salah terlalu lambat berjalan” dijulurkan tangannya.
“Hah??!!” Aku tertegun.
__ADS_1
“Hah??? Hah apa?” Dia menjawab seolah membantu menyadarkan ku.
“Eh... Hah apanya?” Benar-benar semakin gagu aku.
“Mas Bias kan?” Membalikkan pertanyaan.
“Kamu tahu namaku?” Tak mau kalah aku pun melempar pertanyaan sembari ikut menjulurkan tangan kananku untuk bersalaman.
Ini pertama kalinya aku merasakan perasaan yang sangat gila. Bercampur antara kaget, bingung, tidak percaya, grogi, senang yang tidak bisa di luapkan dengan kata-kata. Ku pegang tangan kanannya, untuk pertama kalinya aku menyentuh langsung seorang wanita yang sangat aku kagumi.
“Hey mas, jangan sembunyi-sembunyi lagi,” Tangannya sedikit bergetar, aku tahu dia pun seperti gugup tidak percaya bahwa kita harus bertemu dengan keadaan seperti ini.
Dia kembali tersenyum kali ini dengan senyuman yang lepas dan dengan mata berbinar-binar. Perasaanku seperti lepas tinggi dalam pelukan awan disertai dengan hembusan badai dan diwarnai oleh pancaran-pancaran cahaya aurora. Tubuhnya sigap mengambil semua buku yang terjatuh dengan dilanjutkan dengan langkah kakinya untuk pergi. Terlihat sesekali dia menoleh dengan senyumannya yang sangat hangat kepadaku. Malu-malu tapi mau, aku menggambarkan apa yang terjadi kepadaku dan dia saat ini.
“Ah... Aku sampai lupa dengan Teti” Gumamku dalam hati.
Ku percepat langkahku untuk kembali mengejar Teti yang sudah tidak tahu dimana. Sesampainya di gerbang sekolah terlihat Teti sedang duduk termenung sendiri dengan air mata yang sudah tak tertahankan untuk bergantian berjatuhan. Aku langkahkan kakiku untuk mendekat diri padanya dengan perlahan. Terlihat dia semakin sesenggukan dengan kepalanya menunduk dan kedua tangannya menopang.
Serasa hening dunia ini, aku tidak tahu harus berbuat apa. Rasa iba ku seolah tidak bisa aku tahan untuk berbisik menenangkannya.
“Teti, maafkan aku” lirih ku mendekat dan duduk disampingnya.
Tersentak kaget, dia menoleh ke sampingnya,
“Hei...” sambil mengusap seluruh air mata yang ada di pipi.
“Oh ya, selamat ... Akhirnya momen itu datang” Lanjutnya.
Suaranya parau, dingin dan melemah seakan baru saja menghadapi badai petir. Ku genggam kedua tangannya, ku tatap kedua bola mata itu.
__ADS_1
“Kamu melihatnya? “ tanyaku.
Sambil mengusap kembali air mata yang keluar, ditariknya tangannya dari genggamanku. Tubuhnya berdiri dan matanya menatap mataku dengan tajam. Tanpa sepatah kata pun dia berbalik badan dan berlalu pergi dengan cepat.