
Selama seminggu aku habiskan menguntit Raka dari kejauhan agar dia tidak merasakan telah di ikuti. Selama beberapa hari ini aku melihat banyak sekali wanita yang mencoba mendekati Raka. Akan tetapi Raka menolak dengan tegas dan terkadang ia mengabaikan mereka. Aku pun merasa senang dan merasa sudah di perlakukan spesial oleh Raka.
Selama ini aku hanya diam dan mengawasi dengan tenang karena tak ada yang perlu aku khawatirkan. Akan tetapi, Hari ini aku melihat murid dari kelas 10 B Mendekati Raka dan Raka tersenyum kepadanya. Hal itu membuatku kesal dan marah.
Aku pun menahan emosiku itu dan membiarkannya. Akan tetapi, Semakin aku tidak Peduli. Mereka semakin dekat. Bahkan Raka sering menyentuh pipi gadis itu sambil tersenyum. Kini hal itu sudah sangat keterlaluan dan aku pun terbakar api cemburu.
Keesokan harinya, Aku mencoba memberikan gadis itu pelajaran. Tapi aku tak tahu bagaimana caranya. Sampai saat aku sedang berjalan sambil bengong ke belakang gedung sekolah, Aku melihat perundungan di belakang sekolah.
"Hei! Berikan uangmu!" Kata seorang gadis yang merundung.
Orang yang di rundung hanya menurut dan memberikan semua uangnya. Setelah uangnya di rebut, Para perundung itu pun merebut rasnya dan mengelurakan isinya ke dalam selokan kotor. Lalu membuang tasnya ke lubang pembuangan sampah.
"Hahahaha! Ini sangat pantas buatmu!" Kata para perundung.
"Hei! Kalian para sampah!" Kataku.
"Ah.. Siapa sih!"
Mereka pun terdiam saat melihatku, Aku memasang wajah datar dengan tatapan dingin.
"Ah... Nayla rupanya!" Kata mereka.
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa menindas orang yang tak bersalah? Kalian lah yang pantas untuk di buang ke tong sampah! Orang seperti kalian ini adalah calon sampah masyarakat serta Beban bagi keluarga kalian!" Kataku.
Aku pun mendekati si korban dan mengulurkan tanganku.
"Kau tidak boleh lemah seperti ini! Ayo ikut denganku!" Kataku.
Gadis yang di rundung itu pun memegang tanganku dan ikut denganku.
"Jika kalian mengganggunya lagi! Akan ku bunuh kalian!" Kataku.
Aku pun pergi meninggalkan tempat itu. Dan membawa gadis malang itu ke ruang uks.
"Kenapa kau lemah begini?" Tanyaku saat sampai di ruang uks.
"A-anu.."
"Lihatlah! Tubuhmu memar! Sini aku oleskan salep!" Kataku.
Gadis itu menatapku dengan mata berkaca-kaca.
"Te-terima kasih!" Katanya.
"Kenapa kau gagap begitu?" Tanyaku.
"A-anu! Aku dengar kau orang yang sa-sangat kejam dan jahat! Tak kusangka kau sebaik ini mau membantuku!" Katanya.
__ADS_1
"Sebenarnya aku memang kejam! Tapi aku hanya kejam pada orang yang aku benci!" Kataku.
"O-oh... Begitu"
"Berhentilah gagap begitu!" Kataku.
"Ba-baiklah!" Kata gadis itu.
Aku pun tersenyum dengan sikapnya yang begitu manis. Sebenarnya aku tak terlalu peduli dia di ganggu atau tidak. Aku hanya mencoba mendapatkan seorang yang bisa dimanfaatkan.
"Siapa namamu?" Tanyaku.
"Aku? Aku... Namaku Rozy!" Jawabnya.
"Rozy? Tak kusangka kamu punya nama tomboi begitu padahal sikapmu manis begini!" Kataku.
"Ah? Benarkah?"
"Rambut panjangmu itu agak mengganggu! Wajahmu tertutupi!" Kataku.
"Ah... Begitu ya?"
"Sudah! Mari kembali ke kelas masing-masing!" Kataku.
"Terima kasih!" Katanya.
"Jujur saja! Aku gak suka berbohong, Aku membantumu karena suatu alasan!" Kataku.
"Sebenarnya aku mau memanfaatkanmu! Aku mau mencoba menjadikanmu sebuah alat!" Kataku.
"Itu..."
"Kau kan berutang padaku!" Kataku.
Gadis itu pun menunduk dan terlihat sedikit sedih.
"Baiklah! Aku yakin dku bisa di manfaatkan! Apapun itu!" Katanya.
Kami pun kembali ke kelas masing-masing.
Keesokan harinya, Aku berniat mau bertemu dengan Rozy di belakang sekolah. Akan tetapi aku mendengar suara teriakan dari sana dan kebetulan sekolah sedang sepi karena masih awal pagi.
Saat aku datang ke tempat itu, Aku melihat banyak darah berceceran di belakang sekolah. Saat ku lihat siapa yang melakukan semua ini, Aku langsung merinding ketika melihat wajahnya.
"Rozy?" Gumamku.
Aku pun menghampirinya tanpa rasa takut dan melewati tubuh yang tergeletak di tanah itu.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku.
Rozy langsung gemetaran ketika mendengar suaraku, Akan tetapi wajahnya tersenyum senang dan menatapku dengan wajah yang di penuhi cipratan darah.
"Aku membunuh mereka! Kini aku tak akan diganggu lagi oleh mereka! Jadi sekarang aku bisa di manfaatkan olehmu kan?" Tanyanya.
"Kau..."
Wajahnya terlihat sangat menyeramkan dan membuatku sedikit merinding, Tak kusangka gadis yang manis ini mampu membunuh 5 orang yang kemarin merundungnya.
"Pakai apa kau membunuh mereka?" Tanyaku.
Wajahnya terlihat kaget dengan pertanyaanku.
"Kau... Tidak takut padaku yang begini?" Katanya.
"Tidak! Aku kan juga psycho sepertimu! Ku rasa kau akan sangat membantuku!" Kataku.
"Haha.. Haha.." Tawanya.
"Sebaiknya kau bersihkan dirimu dan pergi dari sini! Aku akan membereskan semua ini dengan nama keluargaku! Mulai sekarang, Kau adalah pelayanku, Dan milikku!" Kataku.
Gadis itu pun tersenyum dan mengikutiku ke ruang uks yang kosong.
"Sini aku obati lukamu!" Kataku.
"Terima kasih!" Katanya.
Sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan padanya. Bagaimana bisa seorang yang baru saja kemarin terlihat lemah bisa membunuh 5 orang sekaligus dan hanya mendapatkan luka kecil. Kemampuannya ini hampir sama dengan iblis yang ada di dalam tubuhku, Atau..... Dia juga memiliki kemampuan yang sama denganku?.
"Aku sekarang memiliki banyak pertanyaan padamu! Tapi aku tidak akan bertanya karena aku mungkin tidak akan bisa menerima jawabanmu itu!" Kataku.
Aku tidak bisa terima ada orang yang hampir sama kuatnya denganku.
"Sepertinya... Aku telah kehilangan kewarasanku! Tadi malam banyak sekali yang terjadi! Orang tua angkatku yang kejam menyiksaku di rumah dan di sekolah aku dirundung. Aku sudah lelah pada kehidupan ini!" Katanya.
"Lalu? Kenapa kau masih hidup kalau sudah lelah? Kenapa gak bunuh diri?" Tanyaku.
"Awalnya Aku memang mau bunuh diri, Akan tetapi... kemarin, Setelah bertemu denganmu, Kenapa aku tak jadi psycho aja sepertimu? Kenapa harus aku yang mati? Kan aku yang di siksa! Jadi aku memutuskan untuk membunuh semua yang menghalangi kebahagiaanku!" Kata Rozy.
"Tak kusangka, Gadis baik sepertimu bisa jadi semengerikan ini. Apakah aku dulu juga begitu?" Gumamku.
"Aku... Aku..."
Rozy pun mulai menangis dan tangannya gemetaran ketakutan. Tampaknya dia mengalami depresi karena ini pertama kalinya ia membunuh seseorang.
"Tenanglah! Tak apa!" Kataku.
__ADS_1
Aku pun menenangkannya. Ia mengingatkan aku pada diriku yang dulu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...