
Setelah hari kemarin, Di rumah aku selalu kepikiran dengan kata-katanya Raka. Apa maksudnya kalau aku adalah ketakutan terbesarnya?.
Sampai di sekolah, Aku ingin mempertanyakan hal itu padanya. Akan tetapi ia selalu menghindariku dan berpura-pura tak melihatku.
Dan ia sering sekali dekat dengan gadis pikmi itu.
"Rozy, Apa kau pernah menggunakan pistol?" Tanyaku.
"Ha?"
"Hari ini, Mari kita pergi ke rumahku! Aku mau minta pada ayahku sebuah pistol, Eh Tidak! Dua buah pistol, Untukmu juga!" Kataku.
"Buat apa?" Tanya Rozy.
"Kita akan memulai rencana pembunuhan si gadis pikmi ini mulai besok!" Kataku.
"Ah... Baiklah!" Kata Rozy sambil tersenyum.
Sepulang sekolah kami memang langsung pergi ke rumahku.
"Aku pulang!" Kataku.
"Ah... Putriku sudah pulang?" Kata ibu.
Ibuku pun langsung kaget ketika melihat Rozy di belakangku.
"Siapa ini?" Tanya ibuku dengan wajah datar.
Saat aku mau memperkenalkan Rozy, Ia sudah berbicara duluan.
"Saya Rozy! Pelayan nona Nayla! Saya akan berada di sisi nona selamanya dan mendukung nona tanpa pengkhianatan!" Kata Rozy Sambil tersenyum.
"Wah, Aku menyukaimu! Rozy!" Kata Ibu sambil tersenyum.
Ini pertama kalinya ibu tersenyum pada seseorang yang aku bawa ke rumah.
"Sebenarnya kenapa kau membawa Rozy ke rumah?" Tanya Ibu.
__ADS_1
"Aku mau minta 2 pistol! Berikan aku itu! Ada seseorang yang mau aku bunuh!" Kataku.
"Seorang saja? Kenapa gak kelompok?" Tanya ibu.
"Kelompok itu nanti! Sekarang aku harus menikmati masa tenang ini dulu! Aku harus menguasai sekolah secara pelan-pelan bukan?" Kataku.
"Ini baru putriku!" Kata Ibu.
Aku dan Rozy pun pergi ke ruangan kerja ayahku. Aku mengetuk pintu dan laku ayah memberikan izin untuk masuk.
Saat pandangan ayah ke arah Rozy, Ia terlihat tidak senang.
"Saya Rozy! Pelayan nona Nayla!" Kata Rozy.
Raut wajah ayah pun langsung berubah menjadi tenang.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya ayahku.
"Ayah lamgsung tau ya!" Kataku.
"Aku mau 2 Pistol! Terserah yang bagus atau tidak, Yang penting bisa membunuh dengan cepat!" Kataku.
"Siapa?"
"Seseorang!" Jawabku.
"Baiklah!" Kata Ayah.
Ayah memencet sebuah tombol dan muncullah tempat penyimpanan senjata ayah. Padahal sekarang ada Rozy di sampingku, Kenapa ayah tidak merasa Rozy akan berkhianat?.
"Pilih salah satu! Kau juga, Rozy helena!" Kata Ayah.
Aku pun menatap Rozy.
"Bagaimana ayah bisa tau nama lengkap Rozy?" Tanyaku.
"Dia kan yang membunuh orang yang di belakang gedung itu! Dari tatapannya aku tahu kalau dia tidak akan mengkhianatimu!" Kata Ayah.
__ADS_1
"Tentu saja tuan, Saya bersumpah dengan nyawa saya, Kalau saya akan di sisi nona luna selamanya!" Kata Rozy.
"Sudahlah! Skip gak asik! Mari kita pilih senjata yang bagus!" Kataku.
Kami pun memilih senjata yang bagus dan akan memulai rencana kami mulai besok. Setelah memilih senjata, Aku dan Rozy pergi ke kamarku untuk menyusun rencana besok.
"Gila... Tak kusangka besok adalah harinya!" Kataku.
"Bolehkah aku bertanya?" Kata Rozy.
"Apa itu?" Jawabku.
"Kenapa anda ingin sekali membunuh Elsa?" Tanya Rozy.
"Namanya Elsa ya? Em... Mungkin karena dia dekat dengan Raka?" Jawabku.
"Jadi anda menyukai tuan Raka?" Tanyanya lagi.
"Iya! Dia adalah cinta pertamaku!" Kataku.
"Oh"
Aku pun menatap wajah Rozy, Ekspresinya seperti sedih dan kesal.
"ada apa?" Tanyaku.
"Tidak ada! Aku hanya merasa agak kesal! Aku juga pengen punya perasaan spesial denganmu! Andai aku laki-laki!" Kata Rozy.
"Ha?" Kataku.
"Ah... Jangan salah paham! Aku bukannya menyukaimu atau semacamnya! Aku hanya sangat peduli padamu!" Katanya.
"Oh.. Aku paham!" Kataku.
Rozy hanya merasa ingin menjagaku dan takut aku terluka. Sebenarnya kini aku merasa ingin sekali berteman dengannya. Akan tetapi aku terus teringat pada temanku yang kubuat cacat waktu itu. Jika suatu saat nanti dia membuatu marah, Apakah aku akan membunuhnya juga?.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1