
“Ini tiket? Tiket apa?” tanya Narendra melanjutkan perkataan Arashya tadi.
Jevan merebut salah satu tiket yang ada di tangan Eric dan memperhatikan detailnya. “Tiketnya beda banget dan ga terlalu jelas juga. Cuma kaya ini ada inisial ga sih di ujung kertasnya?” tanya Jevan yang membuat semua atensi menuju pada ujung tiket seperti yang dikatakan Jevan.
“Mungkin benar sih, kalau inisial ini semua pasti merujuk ke kita semua. Tapi, ini tiket ada 6 dan inisial J ada 2. So?” Arashya menatap keempat pemuda yang berada di ruangan sama dengannya itu.
“Untuk Kak Jean.” Balas Eric dengan nada dingin dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku almamater yang baru saja dia ambil dari lokernya.
“Jean? Kenapa Jean harus ikut? Bahkan dia ga tahu apa-apa tentang ini,” kata Yohan sedikit tak terima karena nama sepupu menyebalkannya itu disebut.
“Kak Jean secara perlahan terlibat, Kak. Itu semua bermula dari dia jenguk gue ke rumah sakit. Ingat pena Narendra yang aneh itu? Dia bawa jas putih kesayangannya waktu itu. Terus dengan Kak Jean ambil rekaman CCTV dan terakhir Kak Jean juga yang hancurkan pena pengintainya. Itu termasuk keterlibatan dia secara ga sengaja,” balas Eric menatap Yohan memberikan penjelasan.
“Ada baiknya ga sih kalau kita telpon Kak Jean untuk datang ke sini dan bicara tentang ini baik-baik? Gue takut kalau Kak Jean malah marah pas tahu nama dia ikutan masuk dalam kasus ini,” saran Jevan yang diangguki oleh yang lainnya.
“Minta Kak Jean untuk datang ke kafe dekat kampus aja, sekalian kita ke sana sekarang nungguin.” Setelah bicara seperti itu, Eric melangkah menjauh dari mereka untuk berjalan keluar sekolah dan pergi ke kafe yang letaknya tak jauh dari sekolah yang bisa dijangkau dengan hanya berjalan kaki.
“Yang biasanya paling anti sama bolos sekolah, sekarang malah ngajakin bolos. Kalau gue sih gas aja!” Seru Arashya riang dan berlari kecil menyusul Eric.
Narendra, Jevan, dan Yohan saling bertatapan sebentar. Akhirnya Yohan memutuskan untuk mengirimkan sebuah pesan pada Jean tentang pertemuan yang hendak mereka lakukan dan langsung dibaca oleh Jean. Tak lama kemudian, mereka bertiga pun menyusul kedua orang tadi yang telah berjalan mendahului untuk menuju kafe itu.
Sesampainya di kafe, Eric dan Arashya memilih untuk duduk di dekat pintu kaca, lalu menunggu kedatangan yang lainnya. Jevan, Yohan, dan Narendra datang sekitar 5 menit setelah kedatangan Eric. Kemudian terakhir disusul oleh Jean yang datang menggunakan mobilnya. Dia tergesa-gesa masuk dan duduk diantara pemuda yang sudah menunggunya itu.
“So? Who’s can tell me about this case?” tanya Jean terburu-buru dengan sedikit panik.
“Wanna order something?” tanya Eric yang menatap Jean dengan senyuman mengembang di wajahnya. Tangan Eric terangkat untuk memanggil seorang waitress.
“May i help you, sir?” ucap waitress itu pada Eric yang membuatnya tertawa kecil mendengarnya.
__ADS_1
“Yes. Please give me 5 cappucino latte and 1 americano with 8 shots,” kata Eric pada yang waitress yang membolakan matanya terkejut.
“Are you seriously, Sir?! Americano 8 shots?!?!” ucapnya penuh penekanan dan nada tidak percaya.
Lagi-lagi Eric tertawa kecil melihat itu. “Bukan buat gue, Kak. Tapi buat dia,” balas Eric sambil menunjuk pada Narendra yang tersenyum manis.
Pelayan wanita itu menatap horor pada kumpulan remaja dihadapannya. “Saya kira kamu beneran bule, soalnya rambut pirang.” Kata wanita itu sedikit kesal.
“Tapi dia memang di import asli dari LA, Kak. Apalagi kakak saya yang ini, di import langsung dari Polandia,” balas Arashya yang dianggap sebagai gurauan padahal itu sebuah kenyataan.
Segera pelayan itu menyiapkan pesanan yang dibuat Eric dan mengantarkannya pada meja mereka kembali.
“Oke sampai mana pembahasan kita.” Jevan meneguk sedikit minumannya dan fokus kembali pada obrolan mereka sebelumnya.
“Sampai gue disuruh ke sini,” balas Jean menatap datar yang lainnya.
“Kejutannya ada di loker gue.” Lanjut Yohan yang membuat Jean menatapnya bingung.
“And then? Kejutannya apaan memang? Sampai gue harus datang ke sini,” tanya Jean menatap semuanya satu persatu.
Eric menyerahkan sebuah amplop putih itu pada Jean dan diterima dengan baik. “Isinya 6 tiket dan 1 surat. Salah satunya ditujukan untuk J. Itu semua isi inisial kita dan kebetulan inisial J ada 2, berarti lu termasuk ke dalamnya, Kak,” ucap Eric.
Jean mengernyit bingung dengan semua penjelasan itu. Permainan apakah semua ini? Sebenarnya siapa mereka semua yang ada dihadapannya? Bukankah mereka hanya seorang siswa biasa? Tapi kenapa mereka harus bersusah payah dengan hal ini? Pembunuhan berencana? Perampokan? Penculikan? Apa lagi selanjutnya?
“Sebenarnya kalian siapa, sih? Kenapa kalian hobi banget terjun ke masalah kaya gini? Ini menyangkut nyawa kalian juga…” ujar Jean menatap tajam kelimanya.
“Gue cuma hobi mengamati orang doang sama Marka, terus saling adu argumen. Gue disini juga karena Marka hilang,” ketus Yohan.
__ADS_1
“Gue manusia biasa, Kak.” Arashya menjawab secara asal dan mendapat pukulan di lengan kirinya.
“Gue serius. Gue juga tahu lu manusia. Maksudnya kalian itu cuma siswa biasa, ga lebih, kan?” tanya Jean lagi berusaha sabar.
“Siswa biasa kesayangan polisi, Kak.” Jawab Narendra singkat sambil cengengesan.
“Kata gue, lu jadi kesayangan polisi karena bokap lu kepala polisi disini,” balas Jean memutar bola matanya malas. Sedangkan Narendra hanya tersenyum konyol.
Jevan menggelengkan kepalanya lalu menghela nafas panjang. “Kita itu detektif, Kak. Konsultan bahkan. Makanya kita yang nanganin kasus aneh ini alih-alih petugas kepolisian yang terjun langsung,” jelas Jevan pasrah.
Jean hanya merespon seadanya dan mengangguk paham, seperti tidak ada reaksi terkejut atau apapun yang malah membuat anak-anak lainnya terheran-heran.
“Di Polandia juga banyak yang gitu teman gue, cuma bedanya mereka bukan konsultan. Lebih kaya detektif swasta aja. Paling mentok selesaikan kasus biasa kayak masalah rumah tangga dan perselingkuhan gitu. Lumayan cuan buat mereka,” jawab Jean yang menyadari rasa penasaran mereka.
“Oh ya, Kak. Di surat ini tertera kalau kita harus pergi di hari Minggu dan bakal dijemput. Jadi, gimana?” tanya Eric menengahi sambil memperlihatkan isi surat yang telah dia baca sebelumnya.
“Oke aja sih. Firasat gue bilang kalau Marka diculik dan dibawa ke tempat itu sih, apa namanya?” Yohan berusaha mengingat nama tempat yang akan mereka kunjungi lusa besok.
“Apa? Saranjana?” celetuk Narendra yang diiyakan Yohan.
“Iya.”
“Saranjana apaan emang?” tanya Jean sampai memiringkan kepalanya karena tidak tahu.
“Itu sebuah kota terpencil, Kak. Kalau dari artinya Saranjana itu tanah yang diberikan dan dihilangkan.” Kata Jevan menanggapi.
“Gue bakal cari tahu lebih lanjut lagi tentang Saranjana ini ketika kita sampai disana. Gue ngerasa aneh aja, kita bahkan sampai bakal di jemput dan di antar ke tempat itu. Memangnya apa yang bakal terjadi disana,” ucap Eric final.
__ADS_1
Arashya mengangguk, “gue juga ngerasa aneh. Dari artinya lebih merujuk dan mendefinisikan kalau Saranjana itu adalah tempat terkutuk karena sampai dihilangkan,” katanya dan mengakhiri percakapan kali ini.